
Tanpa berfikir panjang, Nala langsung naik ke permukaan air, lalu ia melompat dan menjauhi air terjun itu. Mukanya merah padam dan ia sungguh malu dengan hal yang baru saja ia alami itu. Seharusnya, Batari Mahadewi lebih malu lagi, karena entah jelas atau tidak, Nala adalah orang pertama yang melihat seluruh tubuhnya tanpa pakaian.
Setelah Batari Mahadewi selesai berpakaian, ia berjalan menuju tas kayu yang telah berisi berbagai jenis buah-buahan yang didapatkan Nala. Gadis cantik itu melihat ke arah Nala yang bergegas jauh, duduk di atas batu membelakangi air terjun.
“Nala, kemarilah.” Panggil Batari Mahadewi. Nala menoleh. Lelaki itu berjalan mendekati Batari Mahadewi. Mukanya masih merah menyisakan rasa malu dan ia begitu canggung berada di dekat Batari Mahadewi.
“Maafkan aku, Nala, aku terlalu lama berenang di sungai.” Kata Batari Mahadewi pelan.
“Tidak, aku yang minta maaf. Aku sungguh bodoh terjun ke sungai untuk mencarimu. Kalaupun ada apa-apa, tentu kau bisa mengatasinya sendiri.” Kata Nala sambil menundukkan kepalanya, ia masih merasa tak enak untuk menatap wajah Batari Mahadewi.
“Aku senang.” Kata Batari Mahadewi.
“Maksudmu?” tanya Nala heran. Jantungnya kembali berdegub.
“Sudah lama sekali aku tak berenang. Jadi aku senang hari ini. Dan aku senang kau mengkhawatirkanku. Terimakasih.” Kata Batari Mahadewi.
Nala diam tak menjawab. Rasa canggungnya telah pergi. Ia menatap wajah Batari Mahadewi yang tampak memukau dengan rambut panjangnya yang masih basah terurai. Biasanya gadis itu hanya menggelung rambutnya seperti kebanyakan pendekar laki-laki yang berambut panjang.
“Jangan diam saja, makanlah ini. Kau sudah susah payah mencarinya.” Ujar Batari Mahadewi memecah kesunyian. Wajahnya tak menampakkan rasa marah atau kesal karena kejadian yang baru saja terjadi itu.
“Aku sudah makan banyak tadi sewaktu aku mengambilnya dari pohon. Aku sudah mencoba semuanya. Enak dan tak beracun.” Kata Nala.
“Hahaha, memangnya kenapa kalau beracun. Paling-paling aku aku tak akan memakannya. Buah beracun biasanya pahit.” Batari Mahadewi menjejalkan buah-buahan itu ke dalam mulutnya. Wajahnya memancarkan rasa puas karena buah-buahan yang sedang ia makan itu rasanya sangat enak.
Dalam sekejab, gadis ajaib itu sudah menghabiskan setengah tas keranjang kayu yang mereka buat di pulau api itu. Nala tak habis pikir, bagaimana gadis itu bisa menghabiskan banyak makanan, sementara tubuhnya tetap berbentuk bagus. Pikirannya kembali ke beberapa saat yang lalu, ketika ia melihat Batari Mahadewi sedang berenang dengan pelan dan anggun.
“Kau diam saja, apa yang kau pikirkan?” tanya Batari Mahadewi setelah ia memasukkan kembali buah-buahan yang tersisa dalam tas keranjang kayunya itu.
“Ah, tidak. Tidak apa-apa.” Jawab Nala pendek.
__ADS_1
“Kau tak bisa menipuku!” kata Batari Mahadewi.
“Hahaha, kau akan marah kalau aku mengatakan apa yang aku pikirkan.” Kata Nala.
“Baiklah, sepertinya aku tahu apa yang kau pikirkan. Lupakan soal yang tadi. Anggap saja kau sedang beruntung.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, aku akan melupakannya, meski sepertinya aku tak akan bisa melupakannya.” Kata Nala sambil terkekeh.
“Jangan kurang ajar!” kata Batari Mahadewi sambil melemparkan kerikil ke kepala Nala.
####
Kedua pendekar dari dunia satu rembulan itu tak mau berlama-lama di pulau yang sunyi dan damai itu. setelah puas menikmati keindahan alam di sana, keduanya melanjutkan kembali perjalanan menuju pulau Es. Setiap dua atau tiga hari melakukan perjalanan tanpa henti, keduanya turun ke sebuah pulau untuk beristirahat sejenak, memulihkan energi dan melepaskan rasa penat sambil sesekali Nala mencari kristal energi untuk bekal perjalanannya, dan Batari Mahadewi mengisi tas keranjang kayunya dengan buah-buahan.
Pulau terakhir yang dikunjungi oleh Batari Mahadewi dan Nala sebelum keduanya sampai di pulau Es adalah pulau yang bernama Luma. Pulau itu cukup besar yang di huni oleh para manusia yang berkaki panjang dan kokoh. Tentu saja, tinggi para manusia itu tiga kali tinggi manusia dunia satu rembulan. Meski terlihat aneh, namun para manusia pulau Luma adalah orang-orang yang tangguh, terutama dalam hal berlari.
Batari Mahadewi dan Nala harus mendongak ketika mereka berpapasan dengan para manusia pulau Luma. Untungnya, orang-orang di sana sangat ramah, dan tak memiliki masalah dengan kedatangan orang asing seperti Nala dan Batari Mahadewi.
Batari Mahadewi berhenti di depan kedai makan yang terlihat menyajikan masakan yang sangat menggoda dan membangkitkan rasa lapar.
“Kau pasti mau mengajakku makan ke sana kan?!” kata Nala.
“Tentu saja.” kata batari Mahadewi.
“Kau pikir kita punya uang yang dipergunakan di sini?” tanya Nala.
“Ya, aku memikirkannya. Aku berfikir kau akan melakukan sesuatu untukku.” Kata Batari Mahadewi sambil memandang wajah Nala dengan menampilkan wajahnya yang penuh harap, persis wajah polos anak-anak yang sedang memohon sesuatu kepada orang tuanya.
“Baiklah…baiklah, hentikan tatapan matamu itu. Aku akan mencoba menjual sesuatu yang kita bawa.” Kata Nala. Ia segera beranjak untuk mencari tempat dimana ia bisa menjual kristal energi yang ia bawa. Batari Mahadewi bersorak senang penuh kemenangan.
__ADS_1
Nala menuju ke sebuah toko barang antik. Ia menyodorkan bongkahan kecil kristal berwarna emas yang ia dapatkan di perjalanan ke pemilik toko. Wajah pemilik toko itu tampak senang dengan barang yang di bawa Nala dan menukar sekantong uang.
Nala membuka isi kantong itu dan ia menemukan lembaran-lembaran uang dari kulit binatang yang kaku dan keras, dengan warna dan ukuran yang sama, serta aksara pulau Luma yang tak ia pahami. Terdapat satu simbol yang khas dan dibuat sedemikian rupa sehingga uang itu tak bisa digandakan. Dengan kata lain, uang itu hanya dibuat di satu tempat yang sama di bawah naungan penguasa kota.
“Terimakasih banyak.” Kata Nala sambil bergegas pergi meninggalkan toko barang antik itu. Nala segera menemui Batari Mahadewi dan menunjukkan yang ia bawa. Dengan mudah gadis ajaib itu membaca tulisan dan simbol yang ada pada permukaan uang itu.
“Aku tak tahu, dengan selembar uang ini kita bisa mendapatkan apa. Sebaiknya kita coba saja di kedai makan itu.” kata Batari Mahadewi yang sudah tak sabar ingin segera mencicipi masakan yang ia lihat itu. gadis sakti itu memasuki Kedai dan Nala mengikutinya dari belakang.
“Permisi, dengan selembar uang ini, makanan apa yang bisa kami dapatkan?” tanya Batari Mahadewi sembari mendongak ke atas untuk memperhatikan sosok pemilik kedai yang sedang berdiri dan tersenyum menyambut kedatangan tamu asing di kedainya itu.
“Nona bisa mendapatkan semua masakan yang kami miliki hari ini dengan uang itu jika nona membelanjakannya semua. Jadi, pesan saja apa yang nona mau, aku akan mengembalikan sisa uangnya. Tapi, kami sungguh minta maaf, meja dan kursi kami berntuknya seperti itu.” Kata pemilik kedai itu sambil menunjuk meja dan kursi di kedainya. Semuanya berukuran besar dan tinggi. Serasi dengan bentuk rumah para warga pulau Luma yang semuanya tinggi.
“Kami bisa duduk di meja jika diperbolehkan.” Kata Batari Mahadewi.
“Tentu saja boleh, nona. Silahkan pesan apa yang nona ingin makan hari ini.” Kata pemilik kedai itu.
“Kami berdua ingin hidangan terbaik dari kedai ini.” Kata Batari Mahadewi.
“Kalau begitu, silahkan tunggu nona, kami akan segera menyiapkan masakan terbaik yang kami miliki secepatnya.” Kata pemilik kedai itu.
Batari Mahadewi dan Nala menuju ke salah satu meja yang kosong. Beberapa pengunjung kedai yang telah ada di sana memandangi keduanya yang tampak pendek di mata mereka. Beberapa juga menahan tawa ketika Nala dan Batari Mahadewi melompat dan duduk di meja makan, sebab meja dan kursi itu jauh lebih tinggi dari ukuran mereka berdua.
Nala dan Batari Mahadewi tak peduli jika orang-orang di kedai itu menertawakan mereka berdua. Beberapa saat kemudian, makanan yang mereka pesan telah tiba. Jumlah makanan itu jauh lebih banyak dari yang mereka bayangkan, semuanya mengeluarkan aroma yang membuat air liur menetes. Nala makan dengan santai, tapi gadis cantik di depannya itu makan dengan lahap dan seperti orang yang sangat kelaparan. Tak hanya menu miliknya sendiri yang ia makan, namun juga separuh dari jatah Nala.
Setelah makan masakan kedai itu dalam jumlah banyak, Batari Mahadewi tampak puas, ia mengusap-usap perutnya yang kekenyangan. Nala hanya geleng-geleng kepala dan heran. Tak hanya Nala, beberapa pengunjung kedai itu tak menyangka bahwa gadis mungil di depan mereka itu bisa menelan begitu banyak makanan.
Setelah keduanya puas, Nala memberikan selembar uang kepada pemilik kedai tanpa meminta kembalian. Tentu saja pemilik kedai itu sangat senang. Tak jadi masalah bagi Nala, sebab setelah keduanya meninggalkan pulau itu, maka segepok uang yang mereka miliki itu tak lagi berguna.
“Nala, uang kita masih banyak, sayang sekali kalau kita langsung pergi hari ini juga. Bagaimana kalau kita tinggal beberapa hari dulu di pulau ini, menghabiskan uang itu.
__ADS_1
“Kalau hanya beberapa hari, kurasa uang ini tetap tak akan habis. Tapi tak masalah, sisa uangnya bisa kita sumbangkan sebelum kita pergi.” Kata Nala.
“Lihat ke arah sana, sepertinya ramai sekali, ayo kita lihat!” pinta Batari Mahadewi. Keduanya berjalan menuju sumber keramaian yang tak jauh di depan mereka. Di sana terlihat beberapa orang sedang unjuk kebolehan, semacam sirkus keliling. Satu hal yang membuat Nala dan Batari Mahadewi sedikit terbelalak, salah satu pemain dalam acara unjuk kebolehan itu dari jauh terlihat seperti manusia perak.