Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 232 Hadiah Untuk Pendekar Mata Langit


__ADS_3

Batari Mahadewi ragu untuk menceritakan hal yang sebenarnya. Ia tak ingin orang lain memandang dirinya berlebihan. Hal itu akan menciptakan jarak yang terlalu renggang dan membuatnya tak merasa nyaman. Akhirnya, Batari Mahadewi tak mengatakan kejadian yang sebenarnya.


“Aku mendapatkannya dari kakek pertapa di Swargadwipa. Karena mustika ini adalah mustika siluman, meski kekuatan jahatnya telah hilang, aku tak mau menggunakan kekuatannya. Aku hanya menyimpannya saja. Ketika paman bercerita soal senjata itu, aku teringat dengan mustika ini.” Kata Batari Mahadewi.


“Ya, apalagi mustika ini mungkin saja sebelumnya dimiliki oleh siluman berumur tua. Energi jahat dari mustika ini bisa saja muncul lagi. Mustika semacam ini hanya cocok untuk dijadikan senjata. Dengan begitu, kita bisa mengendalikannya. Tapi jika sudah masuk ke dalam tubuh, suatu hari bisa jadi kitalah yang bisa dikuasai oleh kekuatan mustika ini. Para pendekar hitam itu, mereka hanya menggunakan mustika siluman biasa, namun wujud mereka menjadi setengah siluman,” Kata pendekar Mata Langit.


“Jika kita memiliki banyak mustika semacam ini, artinya kita memiliki kesempatan bagus untuk mengalahkan kekuasaan kerajaan Tirayamani, apakah begitu menurut paman?” tanya Batari Mahadewi.


“Untuk sementara, iya. Namun senjata seperti ini memang tidak boleh jatuh ditangan orang yang salah,” kata pendekar Mata Langit.


“Aku berniat untuk menjadikan mustika ini sebagai sebuah senjata. Jadi aku memerlukan bantuan paman untuk menemukan seorang ahli senjata yang bisa mengolah bahan ini menjadi sebuah senjata yang bagus,” kata Batari Mahadewi.


“Kau harus pergi ke pulau Siwarkatantra. Pulau itu adalah pulau besar dengan peradaban tinggi. Kabar sementara, pulau itu belum diserang oleh kerajaan Tirayamani. Letaknya di sebelah utara dan sangat jauh dari sini. Ada banyak kerajaan di sana, sebagaimana di pulau Mahabhumi. Carilah kerajaan Siwandacara. Jika keadaannya masih sama, di wilayah Siwandacara terdapat sebuah gunung tinggi dengan puncak es. Di puncak gunung itu terdapat satu perguruan yang bernama Tongkat Langit yang dipimpin oleh guru Udhata. Dialah sang pembuat pusaka terbaik yang aku tahu,” kata pendekar Mata Langit.


“Guru Udhata dari perguruan Tongkat Langit di kerajaan Siwandacara. Aku akan mengingatnya,” kata Batari Mahadewi.


“Kau akan ke sana?” tanya pendekar Mata Langit. Baginya, pulau itu sangatlah jauh dan butuh waktu berbulan-bulan menaiki kapal besar untuk bisa ke sana.


“Ya paman, aku juga ingin belajar membuat senjata,” jawab Batari Mahadewi. Lelaki itu mengerutkan dahi, tampak berfikir, namun ia mengangguk juga.


“Kurasa kau bisa. Kau seorang pendekar berilmu tinggi, jadi perjalanan jauh seperti itu tentu bukan masalah buatmu,” kata pendekar Mata Langit.


“Apakah paman masih akan tinggal di sini mencari pusaka itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, aku masih penasaran. Kapan kau akan berangkat?” tanya pendekar Mata Langit.

__ADS_1


“Setelah aku menemukan senjata itu untuk paman. Semoga aku beruntung dan bisa mendapatkannya,” jawab Batari Mahadewi.


“Kau sudah dapat petunjuk?” tanya pendekar tua itu.


“Belum, paman. Semoga saja ada petunjuk. Baiklah paman, sampai jumpa nanti,” Batari Mahadewi melenting dengan cepat meninggalkan pendekar Mata Langit yang sedang memancing itu.


Beberapa hari kemudian, Batari mahadewi akhirnya berhasil mencari tahu banyak hal tentang pulau dan kerajaan Mandaraloka. Gadis jelmaan pusaka dewa itu mengerti penyebab kerajaan yang diintainya itu aman dari serangan kerajaan Tirayamani. Pulau Mandaraloka yang kaya akan tanaman untuk bahan candu menjadi satu-satunya sumber pencaharian sebagian besar orang yang tinggal di sana.


Seluruh proses pembuatan candu dengan berbagai tingkatan kualitas dikerjakan di dalam istana. Hal itu dirahasiakan. Sekalipun orang-orang Tirayamani bisa melihat proses pembuatannya, namun otak mereka tak sampai untuk menciptakan produk serupa. Hanya para ahli obat yang bisa melakukannya.


Di ujung tenggara pulau itu terdapat sebuah gunung purba. Tak terlalu besar dan tak terlalu tinggi. Hanya ada pepohonan, hewan, dan kesunyian saja di gunung itu. Beberapa siluman? Tentu saja. Batari Mahadewi tertarik datang ke gunung itu karena ia menangkap pancaran energi yang menarik.


Kedatangan gadis jelmaan pusaka dewa itu membuat para siluman kecil lebih memilih untuk menyingkir. Dengan mata saktinya, Batari Mahadewi bisa melihat sebuah kuil kuno yang tertimbun tanah di lereng gunung itu. Dari sanalah sumber energi unik yang dirasakan oleh Batari Mahadewi itu berasal.


Pusaka sakti semacam itu bisa menghilang atau muncul dengan sendirinya. Seolah memiliki jiwa dengan raga sebuah senjata. Batari Mahadewi hanya perlu mengalirkan tenaganya dan menghubungkannya dengan pusaka sakti yang berada di bawah tanah itu. Dalam waktu singkat, pusaka itu telah ada di tangan Batari Mahadewi. Sebuah pedang cantik dengan kepingan mustika dewa di dalamnya.


Mustika dewa di dalam senjata itu tidak utuh, hanya kepingan kecil, dan entah bagian lainnya berada di mana. Meski demikian, pusaka itu memiliki kekuatan yang besar yang tak mungkin bisa digunakan oleh pendekar pemula, sebab benda itu bisa menghisap energi siapapun yang menggunakannya. Tanpa kemampuan yang tinggi, menggunakan senjata semacam itu sama halnya dengan bunuh diri.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu cukup puas dengan temuannya itu. Ia yakin pendekar Mata Langit bisa menggunakannya dengan baik. Ada aksara rahasia yang tersimpan di dalam senjata itu, yang isinya adalah petunjuk serta jurus-jurus yang harus dikuasai oleh pendekar yang akan menggunakan pedang itu dengan selamat.


Batari Mahadewi memiliki rencana lain selain memberikan pusaka itu kepada pendekar Mata Langit sebelum ia meninggalkan Mandaraloka. Rencana kejutan yang akan membuat geram para pasukan Tirayamani.


Di sebuah teluk yang sepi, Batari Mahadewi bertemu dengan pendekar Mata Langit.


“Inikah pusaka yang paman cari?” tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Benar sekali. Ini adalah pusaka kuno yang bisa digunakan untuk melawan para pasukan iblis. Bagaimana kamu mendapatkannya?” tanya pendekar Mata Langit.


“Apakah paman sempat mengunjungi gunung di sisi tenggara pulau ini? Di sanalah aku mendapatkannya,” kata Batari Mahadewi. Pendekar Mata Langit itu tak percaya bahwa pendekar perempuan di hadapannya itu bisa menemukan pusaka sakti yang belum ia temukan selama sebulan lebih ia berada di pulau itu.


“Kau sungguh berjodoh dengan pusaka ini. Tidakkah kau ingin memilikinya?” pendekar Mata Langit menyerahkan kembali pusaka sakti itu kepada Batari Mahadewi.


“Tidak paman, aku tak menggunakan senjata apapun. Ini untuk paman. Aku yakin paman adalah orang yang tepat untuk memilikinya. Ada kitab rahasia di dalam pusaka ini yang harus paman pelajari terlebih dahulu,” kata Batari Mahadewi.


“Ya, aku bisa melihatnya. Tapi tak mungkin aku mempelajarinya di sini. Setelah ini, mungkin aku akan mencari pulau sepi untuk mempelajari kitab rahasia itu,” kata pendekar Mata Langit.


“Setelah ini, aku akan pergi ke Siwandacara. Semoga kita bisa berjumpa kembali paman,” Ucap Batari Mahadewi.


“Terimakasih atas hadiahmu yang luar biasa ini nona,” Ucap pendekar Mata Lagit.


“Sama-sama paman, terimakasih atas petunjuk yang paman berikan.” Batari Mahadewi meninggalkan pendekar tua itu. Seperti yang telah ia rencanakan, gadis pusaka dewa itu mampir sejenak di pelabuhan. Dengan kecepatan kilat, ia berhasil membakar seluruh kapal yang ada di sana tanpa dilihat oleh siapapun.


Batari Mahadewi telah jauh meninggalkan Mandaraloka ketika orang-orang Tirayamani dan Mandaraloka sedang panik dan berusaha memadamkan kapal-kapal mereka. Api begitu besar dan dengan cepat melahap kapal-kapal kayu raksasa yang berderederet memenuhi pelabuhan itu.


Atas kejadian itu, imbasnya para pasukan Tirayamani tak bisa pergi kemana-mana dalam waktu lumayan lama, hingga mereka selesai membangun kapal-kapal yang baru.


Pendekar Mata Langit hanya bisa geleng-geleng kepala menyaksikan peristiwa itu. Hanya ia saja satu-satunya saksi yang melihat Batari Mahadewi membakar seluruh kapal itu dengan sangat mudah. Akhirnya ia tahu, kenapa gadis sakti itu bisa mendapatkan pusaka sakti dengan mudah dan kenapa gadis itu tak membutuhkan senjata.


 


 

__ADS_1


__ADS_2