
Batari Mahadewi tak sempat berfikir bahwa jika ia menampakkan dirinya di tengah peperangan itu akibatnya bisa berbahaya. Jika Kalapati tahu, maka raja raksasa itu akan segera turun ke dunia tengah. Bagaimanapun juga, sang raja raksasa itu sangat penasaran.
Tetapi waktu itu Kalapati sedang tak ingin melihat bola kristalnya. Ia sedikit kesal dengan raja dewa yang tak menjelaskan pertanyaannya secara tuntas. Seharian ia hanya tidur saja.
Sudah sangat lama rasanya bagi Nala tak menggunakan tubuh yang ia kendalikan sendiri untuk bertarung. Sewaktu Andhakara yang bertempur, ia hanya bisa kesal. Pangeran kegelapan itu tak sepenuhnya lihai menggunakan semua kemampuan yang ada pada tubuh Nala.
Lelaki itu menjelma menjadi naga api yang melesat dan menyambar para raksasa yang sekiranya terlihat kuat. Vidyana dan murid-murid Ki Gading Putih lainnya yang bisa dengan cepat mengenali sosok naga api itu. Nala sudah datang, tetapi dimana Batari Mahadewi?
Sementara itu, Batari Mahadewi langsung bisa tahu siapa pemimpin bangsa raksasa dalam penyerangan itu yang tak lain adalah sang jendral, raksasa terkuat di sana. Kekuatannya setara Bail, makhluk iblis yang saat ini sedang berdiam di suatu tempat jauh dan tersembunyi bersama keluarga Andhakara.
Jendral raksasa itu memang belum turun tangan melawan manusia. Mereka terlalu kecil baginya. Ia hanya memerintahkan pasukannya untuk menyerang titik-titik tertentu. Ia cukup tercengang melihat kehadiran naga api yang ia kira adalah iblis. Ia tertarik untuk melawan naga api itu, namun belum sempat ia beranjak, sang jendral itu lagi-lagi dikagetkan dengan kehadiran Batari Mahadewi yang tiba-tiba muncul di depannya. Sosok itu adalah seorang perempuan yang terlihat kecil jika dibandingkan dengan tubuhnya itu.
“Berani sekali, kau nona kecil! Mau cepat-cepat mati?” kata jendral itu dengan nada congkak.
“Aku bahkan bisa membunuhmu dengan ujung jariku! Jadi kenapa aku harus takut padamu?!” kata Batari Mahadewi tenang.
“Cih!” raksasa itu mengayunkan lengan besarnya itu ke arah Batari Mahadewi. Perempuan pusaka dewa itu hanya menangkis pukulan dahsyat itu dengan telapak tangan kirinya. Pukulan dahsyat itu bahkan tak membuat Batari Mahadewi goyah sedikitpun. Sebaliknya, jendral itu mengerang kesakitan. Tulang tangan kanannya remuk. Ia serasa menghantam benda paling keras di dunia sepanjang karirnya menjadi jendral itu.
“Bagaimana bisa?! Kau bahkan belum memancarkan kekuatanmu!!! Siapa kau sebenarnya?” tanya jendral itu.
__ADS_1
Sebelum kau mati dan rohmu penasaran, aku beri tahu satu hal. Kau cukup beruntung karena sedang menghadapi dewa terkuat di dunia ini! Kau tak layak menjadi lawanku, kecuali raja tertinggi bangsa raksasa!” jawab Batari Mahadewi.
Nona cantik itu mengacungkan telunjuknya ke arah jendral raksasa itu. Sesaat kemudian, cahaya berwarna emas melesat dari ujung telunjuk Batari Mahadewi dan langsung menembus kepala jendral raksasa itu.
Sebelum raksasa yang telah kehilangan nyawanya itu jatuh menghujam bumi, Batari Mahadewi menyambar rambutnya. Tubuhnya yang kecil itu menjinjing tubuh jendral raksasa yang ukurannya lebih besar dari lima ekor gajah.
Dengan cara itu, Batari Mahadewi akan menghentikan pertarungan dengan mudah. “Inikah pemimpin perang kalian? Ia sudah mati. Jika kalian masih sayang nyawa, segera pergi dari tempat ini. Sampaikan pada raja kalian, kuberi waktu sehari untuk meninggalkan pulau ini. Jika tidak, aku akan meratakan istana kalian dan menghancurkan tubuh kalian menjadi debu!”
Suara Batari Mahadewi bisa didengar oleh semua yang ada di sana. Seketika pertarungan berhenti. Semua mencari sumber suara yang baru saja mereka dengar itu. Betapa kagetnya bangsa raksasa itu ketika mengetahui jendral mereka telah mati. Batari Mahadewi melepaskan genggaman tangannya yang mencengkeram rambut raksasa itu. Tubuh besar sang jendral meluncur ke bumi dan remuk setelah menghujam bumi dengan keras.
Para pasukan raksasa ternganga dengan pemandangan yang baru saja mereka saksikan itu. Percaya tak percaya, sang jendral raksasa memang telah mati tanpa sempat mereka sadari kapan jendral itu bertarung.
Beberapa pasukan raksasa meragukan kenyataan itu, mereka melesat bersama-sama ke arah Batari Mahadewi. Dengan cara yang sama, gadis pusaka dewa itu menghadiahkan lubang besar di kepala para raksasa itu dengan cahaya energi yang melesat dari jari telunjuknya.
Bangsa manusia yang ada di sana bersorak-sorai. Mereka lega sebab masih sempat hidup dengan datangnya bantuan yang tak terduga itu. Betapa tidak, terlambat sebentar saja, mungkin bangsa raksasa itu telah membantai semua manusia yang ada di sana.
Hanya saja, dalam serangan kedua yang dilakukan bangsa raksasa itu, Ki Gading Putih terluka parah. Tenaganya sudah habis dalam pertarungan, sehingga baju pusaka itu tak bisa berfungsi lagi menahan serangan raksasa yang menjadi lawannya. Buyung yang saat itu ada di dekat sang guru, langsung membopongnya dan membawanya ke arah benteng.
Buyung memberikan tanda untuk mengabarkan keberadaannya di antara ribuan orang itu kepada Batari Mahadewi. Perempuan pusaka dewa itu langsung tanggap dan ia segera melesat ke sana.
__ADS_1
“Guru terluka parah, Tari!” kata Buyung dengan suara bergetar. “Apakah masih bisa diselamatkan?”
“Tari…kaukah…itu?” suara Ki Gading Putih terputus-putus.
“Benar, guru. Maafkan aku baru bisa datang hari ini. Guru jangan cemas, aku akan berusaha menolongmu,” kata Batari Mahadewi.
“Tidak…panggil saja Nala ke sini untuk menolongku. Kau harus segera pulang ke rumahmu. Ibumu bersikeras tak mau mengungsi dan memilih tinggal di sana sendirian untuk menunggumu. Aku khawatir, ibumu dalam keadaan yang tidak baik-baik saja!” kata Ki Gading Putih bersusah payah untuk menyampaikan hal itu kepada Batari Mahadewi.
Nala segera datang sebelum Batari Mahadewi memanggilnya. Sedari tadi, lelaki itu memang mencari keberadaannya.
“Baguslah kau datang, Nala. Bantu guru, aku akan pergi sebentar menemui ibuku,” kata Batari Mahadewi. Wajahnya terlihat cemas dan ia ingin segera menemui ibunya. Dalam satu kedipan mata, gadis itu lenyap dan muncul di desa Cemara Seribu. Desa itu benar-benar sepi dan terlihat telah berhari-hari ditinggalkan warganya.
Batari Mahadewi lekas-lekas masuk ke dalam rumah. Hatinya berdebar-debar. Tak ada tanda-tanda sang ibu beraktivitas. Lalu perempuan pusaka dewa itu masuk ke dalam kamar ibunya, dan melihat sang ibu sedang terbaring tak berdaya di sana.
Meneteslah air mata nona cantik itu. “Ibu, maafkan aku baru datang sekarang,” perlahan Batari Mahadewi berjalan ke arah ibunya, lalu duduk di sampingnya.
“Kau pulang anakku, ibu sangat senang,” kata Nyi Kunyit.
“Aku akan berusaha menyembuhkan ibu,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Tunggu nak…tunggu…ibu sudah tidak kuat lagi…ibu hanya ingin melihatmu sebelum ibu pergi, anakku, kau adalah kebahagiaan terbesar yang ibu miliki. Jaga dirimu baik-baik…ibu bisa pergi dengan bahagia sekarang…” kata Nyi Kunyit. Pecahlah tangis Batari Mahadewi, ibunya memang sudah terlihat sangat lemah dan tak tertolong lagi. Sepertinya sudah berhari-hari sang ibu itu bertahan hidup demi melihat anaknya sebelum ia menghembuskan nafas terakhirnya.
Sang ibu pergi dengan tenang. Seorang diri Batari Mahadewi mengurus jenazah ibunya, lalu menguburkannya di kuburan desa, bersebelahan dengan kuburan suaminya itu. Perempuan pusaka dewa itu masih belum beranjak dari sana, duduk lama sembari mengingat semua kenangan di masa kecilnya.