
Batari Mahadewi berharap Nala segera datang dan menyelamatkan dirinya yang saat itu benar-benar salah tingkah. Pura-pura tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Nala itu sungguh sulit dilakukan. Tetapi, ia sendiri juga tak memiliki alasan kuat, kenapa harus berpura-pura tak terjadi apa-apa.
Vidyana hanya tersenyum menahan tawa melihat Batari Mahadewi tampak gugup. “Tari, apakah kau pernah jatuh cinta?” Vidyana kembali menanyakan hal yang pelik. Mau menjawab jujur ia malu, mau berbohong ia tak bisa. Jalan satu-satunya adalah menjawab dengan pertanyaan serupa.
“Hmm, kalau kakak, apakah kak Vidya pernah jatuh cinta?” tanya Batari Mahadewi.
“Belum pernah. Aku masih belajar untuk terbuka. Selama ini, yang ada dalam pikiranku adalah pertarungan dan kematian. Seumur hidup aku dan Nala tak memiliki teman dan selalu tertutup kepada siapapun. Kami membunuh semua pendekar hitam dan putih yang kami temui. Tak pernah perasaan cinta itu muncul dan entahlah apa itu cinta,” jawab Vidyana.
Tetapi, semestinya ketika orang mengaku tak memiliki perasaan cinta, sesungguhnya ia memiliki perasaan cinta yang sangat besar. Hanya saja, ia berusaha keras menyembunyikannya dan mengubur perasaan itu dalam-dalam. Tetapi perasaan itu tak bisa dikubur dengan cara apapun. Ketika ia merasa kesepian, saat itulah perasaan cinta kembali hadir dalam bentuk kesedihan. Lalu ia bergerak mencari pelampiasan, mencari pertarungan, mencari kematian, sebab cintanya telah patah sejak ia kehilangan kasih sayang dari ibunya, satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia. Cinta berubah bentuk menjadi benci, dan akan kembali lagi menjadi cinta ketika ia bisa merelakan masa lalunya.
“Aku mengenal kak Vidya dari cerita Nala dan beberapa hari ini sejak kita bisa bercerita. Kakak telah merawat Nala sejak ia masih bayi. Kakak begitu menyayanginya. Tanpa cinta dan kasih, kakak tak mungkin melakukannya. Betapapun kakak telah membunuh puluhan atau mungkin ratusan pendekar selama dalam pengembaraan, itu hanya buah dari pilihan jalan hidup kakak sebagai pendekar yang begitu percaya bahwa kehormatan adalah kematian dalam pertarungan, dan kesempurnaan adalah suatu ketika saat tak ada lagi yang bisa mengalahkan kita,” kata Batari Mahadewi.
“Ya, kau benar. Aku telah melupakan bahwa hal itu juga bisa disebut sebagai cinta. Tetapi sekarang Nala telah tumbuh dewasa dan bisa menentukan langkahnya sendiri. Tugasku sudah selesai. Kadang aku merasa sudah tak ada gunanya lagi untuk hidup,” kata Vidyana.
“Kurasa kakak tidak boleh berfikir seperti itu. Nala sangat menyayangi kakak sebagai satu-satunya keluarga yang ia miliki. Jika kakak tak mencintai lagi kehidupan, bagaimana Nala bisa merasakan bahwa dirinya berarti bagi kakak?” sahut Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Lagi-lagi kau benar. Kau sungguh misteri buatku. Lalu, menurutmu, apa yang harus aku yakini atau yang harus aku lakukan saat ini?” tanya Vidyana. Tentu ia tak benar-benar bertanya, hanya ingin tahu sedalam apakah pemikiran gadis luar biasa itu.
“Aku tidak tahu harus menjawab bagaimana. Tetapi jika hal ini dikaitkan dengan situasi dimana kakak merasa tidak bisa jatuh cinta, maka kakak bisa mulai dengan mencintai diri sendiri. Kakak sudah menjalani kehidupan tanpa memikirkan kebahagiaan kakak sendiri. Segala hal yang kakak lakukan adalah untuk kehidupan Nala sejak ia masih bayi. Maka saat ini, sudah waktunya bagi kakak untuk…hmm…mencari pasangan…” Kata Batari Mahadewi sangat berhati-hati dengan kalimat terakhirnya itu.
“Hahaha, apa yang sedang kita bicarakan ini! Kenapa menjadi sangat serius. Tapi ngomong-ngomong, nasehatmu barusan sama dengan yang Nala katakan beberapa waktu yang lalu. Akhirnya aku tahu bagaimana ia bisa mendapatkan pemikiran itu,” kata Vidyana.
“Tapi kakak tak ingin terus hidup dalam kesendirian, bukan?” tanya Batari Mahadewi.
“Entahlah. Lagipula, aku merasa aku ini mengerikan. Aku tidak percaya diri untuk mencoba hal-hal semacam itu,” jawab Vidyana.
“Sebelumnya aku merasa begitu. Setiap kali aku bertambah kuat, bagian-bagian tubuhku berubah menjadi seperti ini. Sejak kecil aku dianggap aneh dan tak memiliki teman. Tapi, ketika aku belajar menerimanya, aku merasa baik-baik saja. Menurutku, kakak sangat cantik. Lelaki manapun yang melihat kakak pasti sulit untuk menolak kehadiran kakak. Jika kakak selalu menyendiri dan mengurung diri jauh dari kehidupan orang banyak, maka sulit juga bagi kakak untuk belajar terbuka, dan akan lebih sulit bagi kakak untuk menerima dan mencintai diri sendiri,” kata Batari Mahadewi.
“Hai kakakku yang cantik, hai say…Tari…aku membawa banyak mustika,” Nala mengeluarkan kantong yang berisi puluhan mustika siluman dengan kualitas bagus.
“Cepat sekali kau mendapatkan ini semua,” kata Batari mahadewi heran. Nala hanya senyum-senyum. Ia tak mau mengatakan bahwa ia telah memanfaatkan kekuasaannya di masa lalu untuk mendapatkan semua mustika itu dengan mudah.
__ADS_1
Di sebuah hutan yang jauh dari Cemara Seribu, Nala menemukan goa yang menjadi istana ratu siluman kalajengking. Siluman itu mengenali Nala sebagai sang pangeran kegelapan yang dahulu kala adalah junjungannya, sekaligus pujaannya. Biasalah, selir ada di mana-mana, waktu itu. Sekarang ini jangan harap! Lagipula, kehadiran Batari Mahadewi yang telah mengisi kesunyian dalam hatinya membuat ia kehilangan selera dengan semua makhluk perempuan lainnya, secantik apapun mereka.
Sehingga, dengan mengakui dirinya sebagai pangeran kegelapan, Nala bisa dengan mudah meminta berbagai jenis mustika siluman yang ada dalam ruang pusaka di kerajaan ratu siluman kalajengking itu tanpa pertarungan. Bahkan sang ratu siluman itu dengan bangga dan senang hati bisa mempersembahkan apa yang dikehendaki sang pangeran. Tentu ada maunya.
“Tidakkah pangeran ingin tinggal di sini barang sejenak?” tanya siluman itu dengan nada yang sangat menggoda. Paras dan tubuhnya jauh lebih erotis daripada siluman ular merah.
“Aku harus bergerak cepat saat ini. Sang ratu mengkhianatiku, aku tidak tahu siapa saja yang masih memegang kesetiaan padaku!” kata Nala. Aktingnya lumayan lah.
“Aku akan selalu setia kepada pangeran!” kata ratu siluman kalajengking. Ya, tentu saja ia akan setia kepada sang pangeran, sebab ia dan berbagai siluman lainnya, yang dulunya adalah selir-selir pangeran kegepalan, selalu menaruh cemburu dan dengki kepada sang ratu.
“Aku tidak meragukanmu. Mungkin aku akan membutuhkan bantuanmu lagi kelak,” kata Nala.
“Dengan senang hati pangeran,” jawab ratu siluman kalajengking.
Dalam sekejab, Nala menghilang sebelum ratu itu minta yang tidak-tidak.
__ADS_1
Tetapi, dari pertemuan itu, dan pertemuan dengan siluman ular merah, Nala memiliki pemikiran untuk memanfaatkan semua siluman yang tunduk padanya agar kelak mau memberikan bantuan lagi jika ia membutuhkannya. Tentu saja, perintahnya akan lebih didengarkan daripada perintah sang ratu kegelapan. Lelaki itu benar-benar terlambat menyadari keberuntungan yang sedang berpihak kepadanya itu.
Jika ia pura-pura ingat, dan dengan ikhlas mau mengakui bahwa ia adalah pangeran kegelapan, tentu siluman dan iblis masih akan patuh kepadanya. Setidaknya, ia masih teringat bagaimana Jain dan Silu bersikap sangat sopan kepadanya. Seharusnya waktu itu ia dengan lantang mengatakan bahwa ia adalah pangeran kegelapan. Maka Jain dan Silu akan berada di pihaknya. Tinggal bilang saja bahwa sang ratu telah mengkhianatinya. Selesai perkara. Tetapi apakah kejadiannya akan semulus yang ia pikirkan saat itu?