
Aryasakti dan pasukannya berhasil menguasai kota Mutiara Biru. Girimaya telah mati, begitu pula dengan para pasukan yang membelanya. Namun harga yang harus dibayar atas kemenangan Aryasakti sangatlah mahal. Pasukannya hanya tersisa sekitar dua puluh ribu prajurit saja dan hampir semua mengalami luka-luka.
Belum sempat Aryasakti memulihkan keadaan dan bernafas lega atas kemenangannya, pasukan Jalu sudah tampak di depan mata. Jalu yang membawa tiga puluh ribu pasukan beserta dua ratus pendekar sakti dengan penuh semangat dan percaya diri mulai menggempur pasukan Aryasakti tanpa halangan sedikitpun.
Aryasakti tak menyangka dengan munculnya serangan yang tiba-tiba itu. Jangankan dengan tigapuluh ribu prajurit yang memiliki kemampuan jauh lebih baik dari pasukan Aryasakti, bahkan jika perlu hanya dengan kemampuan Jalu dan Niken serta dua ratus pendekar yang menemaninya saja sudah bisa mengalahkan Aryasakti dan seluruh sisa pasukannya yang tak sanggup lagi untuk berperang.
Sehingga, Jalu dan pasukannya telah merebut kembali kota Mutiara Biru dalam waktu yang singkat dan hanya sedikit saja prajurit Jalu yang menjadi korban. Selebihnya, pasukan Jalu sibuk untuk membereskan semua kekacauan perang, mengurus para jenazah prajurit Swargabhumi yang berserakan seperti lautan mayat. Mereka semua tak dikebumikan, melainkan dibakar dengan upacara sederhana di luar benteng Mutiara Biru. Doa-doa dilantunkan untuk menghormati arwah para prajurit yang harus mati karena ketamakan rajanya. Asap hitam membumbung ke angkasa dan bau daging bakar menyeruak memenuhi udara. Butuh tiga hari tiga malam untuk membuat jenazah-jenazah itu benar-benar menjadi abu dengan menghabiskan puluhan ribu pohon dan bergentong-gentong minyak untuk menjadi bahan bakarnya.
Mahapatih Hamapadayana benar-benar tak mengetahui apa yang telah terjadi di kota Mutiara Biru. Ia dan para pasukannya masih bertahan di kota Kayu Wangi untuk menanti kabar dari Aryasakti. Tak ada satupun pasukan mata-mata yang mengirimkan kabar. Semua telah dibantai oleh para pendekar Swargadwipa yang tersebar di sepanjang jalur yang menghubungkan kota Mutiara Biru dengan kota Kayu Wangi.
Keputusan Mahapatih Hamapadayana benar-benar bodoh dan salah. Keputusan itu tentu akan membawa malapetaka bagi dirinya dan seluruh pasukannya yang mulai kelaparan karena persediaan makanan mulai menipis. Ia juga tak menyadari bahwa Mahapatih Siung Macan Kumbang telah memberangkatkan satu juta pasukannya mendekati kota Kayu Wangi. Ditambah lagi dengan kelompok pasukan Swargadwipa lainnya yang tersebar di seluruh kota di wilayah kerajaan di Swargadwipa.
Namun bukan berarti pergerakan pasukan Swargadwipa sama sekali tak diketahui. Tak mungkin pergerakan pasukan dalam jumlah besar tak diketahui oleh musuh. Terlebih, dalam situasi seperti itu, para mata-mata Swargabhumi yang telah lama menyusup dalam barisan pasukan Swargadwipa akhirnya memiliki kesempatan untuk pergi diam-diam dan memberikan laporan terbaru kepada Mahapatih Hamapadayana.
Sayang sekali, berita itu terlalu terlambat. Pasukan Swargadwipa sudah sangat dekat, dan hanya berjarak satu hari perjalanan saja untuk sampai di kota Kayu Wangi. Mahapatih Hamapadayana tak bisa menyembunyikan kepanikannya. Terlebih ketika ia tahu seberapa besar kekuatan Swargadwipa yang bergerak mendekat itu. Ia ingat betul bahwa untuk menghabisi sembilan puluh ribu pasukan Swargadwipa di Mutiara Biru waktu itu mengehabiskan dua ratus lima puluh ribu pasukan Swargabhumi.
__ADS_1
Mahapati Mahapadayana segera menggelar rapat darurat bersama ratusan senopati bawahannya. Dalam rapat itu, selain memaparkan situasi yang telah terjadi, Mahapatih Hamapadayana juga menyampaikan maksudnya untuk maju hingga titik darah penghabisan. Ia merasa malu jika harus mundur dan lebih baik mati secara terhormat di medan laga.
Namun keinginannya itu mendapatkan tentangan dari sebagian besar senopati yang dibawahinya. Gagasan Mahapatih Hamapadayana dinilai terlalu memaksakan diri. Sementara perang semacam itu tak harus dilakukan terburu-buru.
“Maaf gusti patih, tapi saya pribadi berpendapat, sebaiknya kita mundur dahulu dan bertahan di Mutiara Biru. Di sana kita lebih dekat dengan kerajaan Swargabhumi dan bantuan akan lebih cepat sampai. Kota Kayu Wangi tak menguntungkan untuk pertahanan kita. Sementara, kota Mutiara Biru jauh lebih banyak memberikan peluang yang membuat kita bisa menang melawan prajurit Swargadwipa.” Kata Senopati Basuraga, salah satu senopati senior yang sangat disegani di Swargabhumi.
“Tidak, Basuraga! Kita harus yakin. Dengan keyakinan yang kuat, maka prajurit kita juga memiliki semangat. Jumlah kita lebih banyak. Ingat itu.” Kata Mahapatih Hamapadayana berkeras hati.
“Memang lebih banyak, gusti, tapi secara kualitas kita tak bisa menutup mata bahwa kualitas prajurit kita masih banyak yang amatir. Tidakkah gusti patih mempertimbangkan jumlah sepuluh ribu pendekar yang mendukung Swargadwipa. Mereka semua para pendekar tangguh yang bisa membahayakan kita semua.” Kata senopati Basuraga mencoba melunakkan hati Hamapadayana.
Semua orang di ruang rapat itu terdiam. Tak lama kemudian, senopati Basuraga berdiri dan melangkahkan kaki keluar. Selanjutnya puluhan yang disusul ratusan senopati lainnya mengikuti jejaknya. Tinggal beberapa senopati saja yang masih bertahan di ruangan itu.
“Bedebah kau Basuraga!” Mahapatih Hamapadayana tak bisa menguasai emosinya. Ia melesat cepat ke arah Basuraga dan memberikan pukulan keras di punggung senopati itu hingga Basuraga terpental jauh dan muntah darah, lalu ambruk tak sadarkan diri.
Tindakan Mahapatih Hamapadayana itu membuat banyak pihak sangat muak padanya. Maka para senopati lainnya yang mendukung Basuraga tak mau tinggal diam. Mereka beramai-ramai menyerang patih mereka sendiri. Patih Hamapadayana mati di tangan para senopatinya yang selama ini telah mendukungnya.
__ADS_1
Kejadian itu sangat mengejutkan semua prajurit Swargabhumi. Mereka semua merasa dalam situasi yang serba tak pasti. Semangat perang mereka telah runtuh bersamaan dengan terjadinya peristiwa itu.
Basuraga telah siuman. Hanya ialah satu-satunya orang yang dituakan dan dihormati oleh semua senopati lainnya beserta para prajurit yang ada di sana. Secara tak langsung, komando kepemimpinan jatuh di tangannya. Basuraga memerintahkan seluruh pasukan untuk kembali ke kota Mutiara Biru secepatnya sebelum pasukan Swargadwipa datang.
Berita kematian Mahapatih Hamapadayana dan keberangkatan pasukan Swargabhumi untuk mundur ke Mutiara Biru akhirnya sampai juga di telinga Mahapatih Siung Macan Kumbang. Berita itu sungguh mengagetkan dan mundurnya pasukan Swargabhumi ke kota Mutiara Biru jelas bukan hal yang ia harapkan. Ia mencemaskan Jalu dan pasukannya yang telah berada di kota itu. Tak mungkin bagi Jalu dan pasukannya untuk menghadapi pasukan Swargabhumi.
Mahapatih Siung Macan Kumbang segera memberangkatkan seluruh pasukannya untuk mengejar pasukan Swargabhumi. Ia tak ingin pasukan Swargabhumi terlebih dahulu sampai di kota Mutiara Biru dan membantai Jalu beserta para pasukannya. Maka ia juga mengutus para pendekar pilihan untuk segera menghubungi para senopati di kota-kota lain yang dekat dengan kota Mutiara Biru, dan menyuruh mereka semua menggerakkan seluruh pasukan yang mereka pimpin untuk segera datang dan bergabung dengan Jalu, meski seluruh jumlah pasukan yang nantinya ada di kota Mutiara Biru tetap hanya seujung kuku bagi kekuatan seluruh pasukan Swargabhumi
Bagi teman-temanku semua yang rindu sama Tari dan Nala, mohon maaf ya jadi agak lama. Rasanya malah tanggung kalau aku tidak menyelesaikan peperangan ini. Mungkin butuh satu atau dua chapter lagi untuk menyelesaikan perang sesi pertama Swargadwipa vs Swargabhumi. Setelah itu, aku akan menghabiskan pertualangan Tari dan Nala di dunia tiga rembulan yang mungkin butuh sekitar empat atau lima chapter lagi. Setelah itu tentu saja Tari dan Nala akan kembali ke Swargadwipa.
Terimakasih banyak ya masih mengikuti karyaku hingga sejauh ini. Terimakasih banyak pula atas semua dukungan yang telah diberikan padaku. Aku tak bisa membalas kebaikan teman-teman selain hanya dengan menulis setiap hari untuk teman-teman semua.
Oh iya, aku malah sampai kelupaan…Selamat menunaikan ibadah puasa ya buat semua teman-teman yang menjalankannya. Semoga kita semua selalu diberikan perlindungan, rahmat, keselamatan, kesehatan, kekuatan, rejeki, keberuntungan, kebahagiaan, dan segala kebaikan dari Tuhan Yang Maha Esa.
Jaga diri baik-baik ya teman-teman. Sampai jumpa di episode selanjutnya.
__ADS_1