
Batari Mahadewi dan Nala melanjutkan perjalanan. Mereka melewati pasar yang sangat ramai. Para warga yang tampak mirip satu sama lain itu berjejalan memenuhi jalan sambil membawa belajaan yang beraneka rupa bentuk dan warnanya.
“Lihat deretan toko itu. di sana ada toko perhiasan. Mari kita lihat, apakah ada sesuatu yang kita miliki yang setara dengan perhiasan di sana.” Kata Batari Mahadewi.
Kedua pendekar muda dari dunia satu rembulan itu memasuki toko perhiasan. Beberapa penjaga toko tampak bersiaga dengan kedatangan orang asing di toko itu.
“Ada yang bisa kami bantu, tuan dan nona.” Tanya pelayan toko.
“Bolehkan kami melihat-lihat perhiasan?” tanya Nala.
“Silahkan.” Kata pelayan toko itu. Semua perhiasan di pajang berderet-deret dalam meja kaca yang panjang. Sebagian besar perhiasan itu berasal dari bebatuan alam yang beraneka warna. Nala melihat pajangan perhiasan yang memancarkan cahaya emas dan perak di salah satu meja kaca yang dijaga oleh beberapa pelayan.
“Sepertinya kita tak salah. Apa yang kita miliki pasti berharga mahal. Coba kita tanya kepada salah satu penjaga, berapa harga kalung yang paling kecil itu.” kata Nala.
“Silahkan memilih, tuan. Ini perhiasan terbaik dari koleksi yang kami miliki.” Kata pelayan itu.
“Berapa harga yang paling kecil ini?” tanya Nala.
“Ini seharga seribu keping kristal bening, tuan.” Kata pelayan toko itu.
“Oh, terimakasih. Kami tak memiliki uang sebanyak itu. tapi bisakah kami menjual sesuatu di sini?” tanya Nala.
“Apa yang hendak tuan jual?” tanya pelayan toko itu. Nala mengeluarkan satu kristal keemasan yang paling kecil yang ia bawa. Ia menaruhnya di kantong yang terpisah dengan kristal lain yang mereka bawa sehingga Nala tak perlu memperlihatkan harta karun yang sedang mereka bawa selama ini. Kristal-kristal yang awalnya hanya mereka gunakan untuk menambah kekuatan.
__ADS_1
“Benda kecil ini, kira-kira berapa harga yang pantas?” tanya Nala sambil menunjukkan kristal keemasan yang ukurannya jauh lebih besar dari perhiasan terbesar yang di jual di toko itu.
“Sebentar, kami panggil pemilik toko dulu, tuan. Silahkan menunggu di ruang tamu yang ada di dalam. Mari ikuti kami.” Nala dan Batari Mahadewi mengikuti pelayan itu memasuki ruang tamu. Tak lama kemudian, pemilik toko datang menemui mereka. Sosok tua itu tersenyum.
“Apa yang tuan dan nona bawa untuk di jual?” tanya pemilik toko itu.
“Kami hanya memiliki ini.” Nala menunjukkan kristal emas dalam genggaman tangannya.
“Oh, besar sekali. Biasanya kami menerima perhiasan ini dalam potongan kecil. Ini masih utuh dan belum ada bekas potongannya. Berapa harga yang tuan dan nona minta?” tanya pemilik toko itu.
“Berapa harga terbaik yang bisa paman berikan untuk benda ini?” Batari Mahadewi balik bertanya. Dalam urusan jual beli, gadis jelmaan pusaka dewa itu lebih punya karisma untuk mendapatkan keuntungan. Bahkan jauh lebih lihai dari Niken dan Jalu sewaktu mereka dalam perjalanan di dunia satu rembulan.
“Sungguh sulit menilai benda ini dengan uang. Tapi, siapa tahu tuan dan nona cocok dengan harga yang kuberikan. Aku bisa membeli ini dengan lima puluh ribu keping kristal bening.” Kata pemilik toko.
“Bagaimana jika paman berbaik hati memberikan harga tujuh puluh lima ribu keping?” tanya Batari Mahadewi.
“Baik, paman. Kami terima.” Kata Batari Mahadewi.
Pemilik toko itu masuk ke dalam ruangaan untuk menyiapkan uang.
“Untuk apa uang sebanyak itu, Tari. Merepotkan saja.” Kata Nala yang memang tak tertarik dengan uang.
“Aku hanya ingin tahu soal harga. Itu saja. Kita bisa dermakan uang ini di jalan kalau kita bertemu gelandangan.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
Pemilik toko itu keluar sambil membawa dua kantong besar berisi uang. “Ini uangnya. Silahkan dihitung dahulu.” Kata pemilik toko itu.
“Tidak perlu, paman. Kami percaya kepada paman.” Kata Nala. Ia tak peduli jika jumlah uang dalam kantong itu tak sesuai.
Nala menggerutu di sepanjang jalan sebab ia yang harus membawa dua kantong besar berisi banyak uang itu. Ketika kedua pendekar muda itu keluar toko dengan membawa dua kantong besar, hal itu mengundang beberapa mata untuk mengikuti keduanya.
Sesampainya di jalan yang sepi. Beberapa orang yang mengikuti kedua pendekar muda itu secara terang-terangan menampakkan diri. Mereka berjumlah sepuluh orang. Semua berbadan besar dan tinggi, masing-masing membawa senjata yang berbentuk sama dengan golok yang ada di dunia satu rembulan.
“Baguslah kalian menampakkan diri. Kami sudah menanti kalian muncul sejak tadi.” Kata Nala.
Perkataan pendekar muda itu sedikit banyak membuat terkejut gerombolan orang yang berniat merampok itu.
“Serahkan kantong yang kalian bawa jika kalian masih ingin hidup!” gertak salah satu perampok itu.
“Kenapa di mana-mana sama saja. Selalu kalimat itu yang diucapkan perampok kalau mau merampok. Kau mau ini? Terimalah!” Nala melemparkan dua kantong uang yang ia bawa ke arah dua orang perampok yang ada di depannya. Lemparan bertenaga dalam itu membuat kedua perampok langsung mati begitu kantong uang itu menghantam dada mereka.
Delapan sisa perampok lainnya saling berpandangan. Keringat dingin menetes dari wajah mereka yang tiba-tiba pucat. Nala berjalan dengan santai mengambil dua kantong uang itu. “Ada lagi yang menginginkan kantong ini?” Tanya Nala.
Delapan perampok itu mudur perlahan, lalu berbalik arah dan lari secepat kilat. Sayang sekali Nala sedang ingin iseng. Ia menjerat kaki para perampok itu dengan tanah yang mereka injak. Permukaan tanah itu bergerak dan membentuk tangan yang menangkap kaki-kaki para perampok yang melarikan diri itu.
Seketika para perampok itu jatuh tersungkur. Wajah mereka menghantam tanah. Nala mengubah tanah yang menjerat kaki mereka itu menjadi batu. Dengan begitu, para perampok itu akan sangat kesulitan untuk melepaskan diri ketika mereka sadar dari pingsan.
Sejak tadi, Batari Mahadewi hanya menonton. Ia akui, Nala lebih agresif dalam bertarung. Mungkin jika Nala masih seperti yang dulu, maka lelaki itu sudah pasti akan mencabut nyawa lawan-lawannya.
__ADS_1
“Ayo kita lanjutkan perjalanan. Sepertinya gedung sekolah itu sudah semakin dekat. Kau harus menyumbangkan uang ini di sekolah itu. aku tak mau seperti orang bodoh yang membawa kantung semacam ini.” Kata Nala sambil bersungut-sungut. Batari Mahadewi tertawa cekikikan melihat tampang dari sahabatnya itu.
“Terserah kau, tuan muda. Uang itu milikmu. Jadi kau yang harus membawanya. Sisakan sedikit untuk membelikanku makanan. Selera makanku di kota ini sedang bagus-bagusnya.” Kata Batari Mahadewi menggoda Nala.