
Sudah sangat lama Batari Mahadewi merindukan saat-saat hangat bersama kedua kakaknya, dimana dia bisa bercanda dan melepas tawa bersama-sama. Hanya saja, bedanya dengan dahulu, kini ketiga pendekar itu terpaut usia yang hampir sama.
“Baiklah, semoga Nala lekas kembali. Aku tak penasaran dengan kemampuan pendekar itu. Aku hanya pensasaran melihat adik jika lelaki itu datang.” Goda Jalu yang bisa menebak gelagat adiknya yang mencurigakan itu.
“Hah? Memangnya kenapa denganku?” tanya Batari Mahadewi.
“Tidak apa-apa, hahaha.” Jalu dan Niken tertawa bersama-sama. Wajah Batari Mahadewi merah merona seperti cabe yang telah matang. Belum pernah ia digoda kakaknya seperti itu meski dulu ialah yang sering menggoda kedua kakaknya ketika kedua pendekar api dan es itu merasa galau dengan perasaan yang mereka alami.
“Apakah setelah ini kakak ingin bersamaku membuntuti pergerakan pasukan kerajaan hitam itu?” tanya Batari Mahadewi dengan nada serius alih-alih ia ingin mengganti topik pembicaraan yang membuatnya merasa malu.
“Ya, sekalian kita bisa menjelajahi Mahabhumi bagian barat. Kita belum pernah melakukan perjalanan sejauh ini. Tapi apa yang akan kita lakukan dengan membuntuti pergerakan pasukan itu? Apakah adik tidak ingin melumpuhkan mereka semua?” tanya Jalu.
“Jika mereka tidak segera enyah dari Mahabhumi, maka aku akan turun tangan. Bagaimanapun, mereka berbahaya. Namun jika mereka bergerak untuk beranjak pergi dari sini, maka biarkan saja.” kata Batari Mahadewi.
“Tapi adik, eee, bagaimana jika kita melakukan perjalanan dengan cara biasa saja. Aku masih belum bisa menikmati perjalanan dengan cara yang sebelumnya adik lakukan.” Kata Niken. Jalu mengangguk setuju dengan wajah penuh harap.
“Tenang saja kakak. Kita lakukan perjalanan seperti biasanya. Lagipula, para prajurit kerajaan hitam yang melarikan diri tadi juga tak bisa secepat itu sampai di Catrawana. Apakah kakak mengetahui seberapa banyak prajurit kerajaan hitam yang tinggal di Catrawana saat ini?” tanya Batari Mahadewi.
“Aku tidak tahu. Tapi sebagian pasukan kerajaan hitam itu memang berada di Catrawana dan Catrabhumi dan menguasai sepenuhnya kerajaan di sana.” Kata Jalu.
“Sekalian saja, kita pastikan kepergian mereka dari sana. Dengan begitu, kekuatan di wilayah barat tidak akan menumpuk di Swargawana. Hal itu tentu akan menciptakan kekacauan di sana.” Kata Niken.
“Mereka sudah semestinya akan berterimakasih atas apa yang telah kita lakukan.” Kata Jalu.
__ADS_1
Ketiga pendekar muda dari Swargadwipa itu melanjutkan perjalanan. Ketika mereka memasuki wilayah Catrawana, pemandangan yang mereka saksikan di wilayah itu sedikit mirip dengan wilayah Swargawana bagian barat. Desa-desa mendadak sepi. Mereka memang tidak berani keluar rumah dan sebagian besar dari mereka telah mengungsi entah kemana. Kedatangan para prajurit Tirayamani memang seperti wabah yang menakutkan.
Namun di Catrawana, suasananya memang lebih mengenaskan. Belum ada satu bulan pasukan kerajaan hitam itu ada di sana, mereka telah banyak menciptakan kekacauan. Para prajurit itu ternyata tidak hanya tinggal di istana Catrawana, namun sebagian dari mereka telah menjarah di berbagai wilayah Catrawana hingga ke pelosok-pelosok desa.
Beberapa pendekar siluman dari Tirayamani memang gemar minum darah atau memangsa bayi untuk menambah kekuatan mereka. Namun yang mereka lakukan tentu lebih dari itu. Mereka juga melampiaskan nafsu bejat mereka pada warga. Sehingga, jika para warga tak mau menjadi korban, mereka harus angkat kaki dari Catrawana, atau bersembunyi ke dalam hutan yang sepi.
“Kakak, kita harus segera menuju ke desa di arah sana.” Teriak Batari Mahadewi. Telinga tajam gadis jelmaan pusaka dewa itu mendengar jeritan minta tolong. Dengan cepat ia melesat ke arah sumber suara, Jalu dan niken mengikutinya.
Benar dugaan Batari Mahadewi, dua orang pendekar kerajaan Tirayamani sedang berbuat ulah. Tampaknya dua pendekar itu belum mendengar kabar tentang kekalahan pasukannya sehingga mereka masih dengan santai berbuat seenaknya di desa-desa.
“Apakah kak Jalu dan kak Niken ingin menguji kekuatan dengan menghadapi dua pendekar hitam itu?” tanya Batari Mahadewi. Ia juga penasaran ingin tahu sejauh mana kedua kakaknya itu berkembang. Tentu saja, dua pendekar hitam itu adalah lawan yang tangguh.
“Baiklah, serahkan dua pendekar itu kepada kami.” Kata Jalu penuh semangat.
“Carilah lawan yang sepadan, dasar curut sampah!” bentak Jalu geram melihat kelakuan dua pendekar kerajaan hitam yang membantai banyak orang di desa itu.
“Hihihi, kalian mau cari mati rupanya. Baiklah, ayo kita bertarung. Rasanya lama sekali aku tak menemukan lawan yang menyenangkan semenjak datang di pulau ini. Kenapa orang-orang di pulau ini sangat lemah!” kata pendekar berambut panjang itu.
“Kau pilih yang mana?” tanya pendekar berkepala botak.
“Aku yang laki-laki itu, kau hadapi saja yang perempuan. Siapa tahu kau bisa memuaskan nafsumu. Dia cukup cantik. Hahahaha!” kata pendekar berambut panjang.
“Lalu bagaimana dengan yang satunya itu?” kata lelaki berkepala botak sambil menunjuk kea rah Batari Mahadewi yang sengaja menyembunyikan kekuatannya.
__ADS_1
“Yang itu sungguh menggiurkan. Kita gantian saja nanti setelah kita bunuh dua lalat sombong ini!” kata pendekar berambut panjang.
Kata-kata dua pendekar hitam itu membuat jalu dan Niken sangat jengkel. Tanpa basa-basi lagi, Jalu dan Niken menyerang kedua pendekar hitam itu.
Namun dua pendekar hitam itu memang lawan yang sepadan bagi Jalu dan Niken. Keempat pendekar itu telah bertukar puluhan jurus mematikan dalam waktu yang singkat.
Ketika dua pendekar hitam itu mengetahui bahwa lawan mereka cukup kuat, maka keduanya berubah wujud menjadi manusia setengah siluman. Tubuh mereka membengkak dua kali lipat dan sosok keduanya terlihat begitu menjijikkan. Aroma busuk yang menyengat keluar dari tubuh mereka berdua.
Melihat hal itu, Jalu juga tak mau kalah. Ia merubah wujudnya menjadi manusia api, sementara Niken memancarkan hawa dingin yang pekat.
Selagi kedua pendekar setengah siluman itu kaget dengan perubahan wujud Jalu, maka Jalu dan Niken tak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Keduanya menyerang dengan jurus-jurus maut yang membuat lawan mereka harus melompat jauh untuk menghindari serangan itu.
“Kurang ajar! Kalian hebat juga. Hmm…ini sungguh menarik!” kata pendekar berambut panjang. Ia melesat menyerang Jalu bertubi-tubi. Namun tubuh api Jalu bukanlah daging yang empuk, melainkan sesuatu yang bisa membakar kulitnya jika ia tak melapisi tubuhnya dengan perisai energi. Keduanya masih saling menyerang dan belum menunjukkan tanda-tanda siapa yang sedang terdesak.
Sementara itu, pendekar berkepala botak terlihat lebih unggul dari Niken. Kepalanya kini tak terlalu botak, setidaknya kepalanya telah ditumbuhi duri-duri beracun ketika ia berubah menjadi manusia setengah siluman. Sementara, kulit-kulit tubuhnya tampak seperti karang yang terjal berwarna hitam. Yang membuat Niken sedikit kesulitan adalah tubuh pendekar itu begitu keras. Serbuan kristal es yang ia hujamkan ke arah tubuhnya hanya bagaikan siraman kerikil.
“Hanya begitu saja kemampuanmu, nona manis? Aku punya sesuatu yang keras untukmu.” Kata pendekar berkepala durian itu sembari meluncur cepat ke arah Niken, mengayunkan rangkaian pukulan dan tendangan yang sulit ditangkis oleh Niken meski ia menggunakan tenaga dalam untuk menahan serangan-serangan itu.
Salah satu kesulitan lain dalam melawan pendekar semacam itu, Niken harus menjaga nafas agar tak menghirup racun yang keluar dari tubuh lawannya. Serangan jarak jauh sebenarnya merupakan pilihan tepat, namun pukulan-pukulan es yang dilontarkan Niken dari jarak jauh tak mengakibatkan dampak apapun pada tubuh lawannya. Sementara, pendekar botak itu selalu berusaha untuk bertarung pada jarak yang dekat.
Niken tak mempunyai pilihan lain selain harus menggunakan jurus aliran hitam yang ia pelajari dari sang pendekar Syair Kematian, yakni jurus Nyanyian Pengantar Tidur.
__ADS_1