
Batari Mahadewi sekali lagi melemparkan pendekar Tengkorak ke angkasa, lalu dengan cepat ia menyusulnya ke atas, menghujamkan pukulan keras sehingga tubuh pendekar Tengkorak jatuh menghujam danau sehingga tercipta gelombang besar menyapu tepi danau.
Meski pendekar tengkorak tak mati, setidaknya ia merasakan rasa sakit yang belum pernah ia alami sebelumnya. Apa boleh buat, pendekar Tengkorak harus hidup lagi dan menerima serangan-serangan Batari Mahadewi yang seolah energinya tak ada habis-habisnya. Biasanya, pendekar Tengkorak bisa mengalahkan lawannya ketika energi lawannya telah habis. Namun pertarungan dengan Batari Mahadewi sesungguhnya membuat ia memilih untuk lari saja seandainya ia bisa lari.
Tubuh pendekar Tengkorak memang kembali utuh dan ia hidup lagi. Namun tekanan batin dan trauma akan rasa sakit yang ia derita setelah mendapatkan serangan bertubi-tubi membuatnya serasa ingin pensiun sebagai pendekar. Batari Mahadewi merasa sudah cukup mempermainkan pendekar Tengkorak sekaligus menakut-nakuti para pendekar aliran hitam yang menyaksikannya bertarung.
Maka, Batari Mahadewi kembali melakukan serangan untuk mengakhiri pertarungan itu. Ia memadatkan udara di sekitar pendekar Tengkorak, seolah udara itu berubah menjadi benda padat yang membuatnya tak bisa bergerak. Lalu Batari Mahadewi mengeluarkan salah satu jurus pamungkasnya, jurus Tapak Petir. Tubuh Batari mahadewi diselimuti oleh pusaran angin dan aliran listrik. Ia memusatkan energi listrik itu ke telapak tangan kanannya. Tubuhnya meluncur cepat kearah pendekar Tengkorak lalu menghujamkan telapak tangan kanannya ke dada pendekar yang bernasib naas itu.
Seketika, tubuh pendekar Tengkorak hancur menjadi debu. Tak selesai sampai di sana, Batari Mahadewi menciptakan pusaran angin raksasa yang menerbangkan debu-debu dari tubuh pendekar Tengkorak ke segala penjuru. Setelah itu, suasana danau menjadi sunyi. Semua menunggu, apakah pendekar Tengkorak bisa hidup lagi setelah jasadnya tak ada lagi.
Beberapa saat setelah semua menunggu, pendekar Tengkorak tak pernah kembali lagi. Tak ada yang tahu apakah ia telah musnah atau melarikan diri. Pendekar Harimau Merah, Mawar Hitam, dan Raja Sihir kebingungan dengan situasi yang mereka hadapi. Melihat jurus-jurus Batari Mahadewi, nyali mereka menjadi ciut.
“Apakah kita mundur saja atau memaksakan diri?” Tanya pendekar Raja Sihir.
“Sungguh kali ini aku kehilangan akalku.” Kata Harimau Merah.
“Tu…tunggu dulu! Lihat, apa itu yang bergerak di danau!” seru pendekar Mawar Hitam sambil menunjuk sosok besar yang muncul dari dasar danau.
Tanah sedikit berguncang ketika tiba-tiba ada sosok raksasa yang memancarkan cahaya merah terlihat dari dalam danau. Pancaran energi dari makhluk itu sangat besar. Permukaan air danau bergelombang tak habis-habis dan gelembung udara mulai bermunculan di seluruh permukaan danau.
Semua orang tak menyangka akan kejutan itu. Semua bersiap siaga, entah untuk lari atau bertahan di sana dan melihat hal yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup. Sosok yang memancarkan cahaya merah itu menampakkan diri. Seekor naga penunggu danau Rembulan Merah. Naga itu telah tertidur di dasar danau sejak danau itu tercipta. Pancaran energi Batari Mahadewi telah membangunkan sosok monster itu.
__ADS_1
Batari Mahadewi melompat menjauhi danau. Jika naga itu membuat ulah dan menyerang semua orang, Batari Mahadewi ragu jika ia bisa mengalahkan naga itu. Ia memilih untuk mundur dan mengamati apa yang akan dilakukan oleh naga besar itu.
Tak hanya Batari Mahadewi saja yang menjauh. Semua pendekar yang ada di sana juga memilih untuk mencari tempat yang aman. Tak ada lagi minat untuk bertarung antara pendekar aliran hitam dan aliran putih. Semua pihak masih menerka, naga itu akan menyerang siapa.
Perlahan-lahan naga itu naik ke permukaan danau. Tubuhnya besar dan panjang, melingkar mengelilingi permukaan danau. kepalanya menggeliat, lalu memandang ke sekeliling dengan tatapan marah karena keributan sekitar danau telah mengusik tidurnya.
Jalu dan Niken melesat menemui Batari Mahadewi. Pradipa telah menghilang entah kemana. Semua pendekar mundur seratus lompatan ke belakang. Ada rasa ingin meninggalkan danau sekaligus ingin melihat hal yang terjadi selanjutnya.
“Adik, apa yang harus kita lakukan?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.
“Kita tunggu dulu, kak Jalu, aku tak akan membiarkan naga itu memakan banyak korban. Pilihannya adalah menidurkan dia kembali atau membunuhnya. Jika ia dibiarkan, bisa saja naga itu akan membunuh semua penduduk di sekitar sini.” Kata Batari Mahadewi.
“Adik yakin bisa membunuhnya?” Tanya Niken.
“Jika kami berdua bersama adik, apakah cukup?” tanya Jalu.
“Kurasa tidak cukup. Aku butuh bantuan dari setidaknya 5 pendekar tingkat tinggi untuk melawan naga itu.” Kata Batari Mahadewi.
“Tadi aku bersama pendekar Bintang Timur di sini. Dia yang telah menolongku dan menemaniku sampai di sini. Tapi aku tak tahu di mana dia sekarang.” Kata Niken.
“Pendekar Bintang Timur?” tanya Jalu. Ia sedikit penasaran.
__ADS_1
“Panjang ceritanya, kak Jalu. Setelah malam ini berlalu, aku akan menceritakan semua hal sejak aku dibawa pendekar Syair Kematian.” kata Niken.
“Sebentar, aku akan menemui tiga pendekar hitam yang sejak tadi ada di sana itu. Sepertinya mereka pimpinan dari aliran hitam yang membuat serangan ini.” Kata Batari Mahadewi. Ia lalu melesat menuju ke arah Harimau Merah, Mawar Hitam, dan Raja Sihir.
“Maaf ki sanak, ni sanak, sementara kita lupakan dahulu soal pertarungan. Aku bisa melumpuhkan naga itu, tapi aku butuh bantuan. Apakah kalian bisa membantuku?” tanya Batari Mahadewi tanpa basa-basi. Kedatangannya yang tiba-tiba itu sudah membuat kaget, ditambah pertanyaannya yang mencengangkan itu. ketiga pendekar itu terdiam sejenak. Saling pandang. Menandakan bahwa mereka sama sekali tak punya ide apa-apa.
“Apa keuntungannya kami membantumu?” Harimau Merah membuka suara.
“Apa pula keuntungan bagiku datang ke sini? Lalu tiba-tiba naga itu muncul dan aku ingin melawannya? Jika kalian berniat untuk pergi, mungkin tak semudah itu. Tak ada jaminan bahwa naga itu akan membiarkan siapapun meninggalkan danau ini.” Kata Batari Mahadewi.
Naga itu mulai bergerak lagi. Ia menggoyangkan tubuhnya dan seketika ombak besar menyapu daratan. Para pendekar sibuk menghindar dari ombak besar yang merobohkan dan menghanyutkan pepohonan di sekitar danau itu. Naga itu terbang perlahan ke atas danau, lalu tubuhnya perlahan menyusut, berubah wujud menjadi seorang kakek tua berkulit merah yang bersisik seperti naga, berjenggot panjang dengan rambut terburai acak-acakan. Matanya menyala berwarna merah darah.
“Kalian berani-beraninya mengusik tempatku! Aku tak akan membiarkan satupun dari kalian keluar hidup-hidup dari sini.” Kata sosok tua itu. Suaranya menggelegar ke segala penjuru. Membuat semua pendekar yang ada di sana bergidik ngeri.
Batari Mahadewi kembali mendesak tiga pendekar hitam di hadapannya itu. “Tak ada pilihan lain, kalian tahu benar resikonya jika tak bekerjasama denganku. Tentu kalian tak ingin kehilangan semua anggota kalian, bukan?!”
“Baiklah. Kita akan bekerja sama.” Kata Harimau Merah.
“Kalau begitu, aku akan menemui naga itu dan mengajak beberapa pendekar aliran putih untuk membantu.” kata Batari Mahadewi. Ia melesat menuju ke arah naga merah yang berwujud kakek tua itu.
“Maafkan kami, kakek. Kami sungguh tak tahu kalau danau ini adalah tempat tinggal kakek.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Bukan berarti aku bisa memaafkan kalian. Aku tak akan bisa tidur lagi sebelum menenggak darah kalian semua.” Kakek tua itu memancarkan energinya yang pekat. Energi yang kental dengan hawa kematian. Ia bukanlah pendekar aliran hitam atau putih. Energinya sama dengan energi siluman. Manusia setengah siluman jauh lebih berbahaya dibanding dengan siluman. “Bersiaplah untuk mati!” Teriak kakek itu.