
Asap hitam mengepul di sekeliling Batari Mahadewi. Namun sebelum asap itu hilang ditiup angin, gadis jelmaan pusaka dewa itu sudah tak ada lagi di sana. Dalam satu kedipan mata, gadis itu telah berada di belakang sang raja, menghujamkan satu pukulan kecil di punggung pemimpin Siwandawala itu.
Cukup satu pukulan kecil untuk membuat sang raja terpental jauh dan menyemburkan darah hitam dari mulutnya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu masih jauh lebih kuat meski segel energi dalam tubuhnya belum semua terbuka.
Sang raja masih sulit untuk menerima keadaannya. Dengan kekuatan besar yang ia miliki, ia berfikir bahwa gadis itu tak akan bisa lagi menandinginya. Jika saja Batari Mahadewi tak terbuang ke dunia tiga rembulan, sudah pasti kekuatan raja itu sulit untuk ditandingi.
Sang raja masih punya satu rencana cadangan, dan hanya satu-satunya harapan baginya untuk melawan Batari Mahadewi. Monster besar itu melesat ke arah anak buahnya, lalu dengan cepat menghisap kekuatan mereka.
Batari Mahadewi tak mau langsung menghentikan kejadian itu. Yang dilakukan sang raja adalah kesempatan yang baik untuk merebut hati para pendekar dan prajurit Siwandawala yang kini sedang lari tunggang langgang dikejar-kejar sang monster yang merupakan junjungan mereka.
Setelah sang raja menyerap kekuatan beberapa pendekar yang dekat dengan jangkauanya, dan setelah semua orang menganggap bahwa raja itu kini adalah monster yang berbahaya bagi siapapun, barulah Batari Mahadewi memulai kembali aksinya.
Gadis jelamaan pusaka dewa itu harus mengeluarkan kekuatan yang cukup besar untuk membuat udara di sekeliling sang raja itu memadat dan membuat raja itu tak bisa bergerak sama sekali. Awalnya, raja itu sempat melawan dan meronta dengan seluruh kekuatan yang ia miliki, namun ia tak bisa lepas dari jeratan itu sebab kekuatannya masih jauh di bawah Batari Mahadewi.
Tak selesai sampai di sana, setelah tubuh sang raja itu tak bisa bergerak, Batari Mahadewi menambah satu siksaan lagi dengan mengubah udara itu menjadi es. Perlahan tubuh sang raja itu membeku dan pada akhirnya terbungkus oleh kristal es bening.
Sang raja itu belum sepenuhnya mati. Ia hanya tak bisa berbuat apa-apa. Dengan keadaan seperti itu, pada akhirnya para pendekar dan prajurit yang sebelumnya pergi menjauh kemudian berbalik arah lagi untuk mendekat dan melihat apa yang sedang terjadi. Mereka lega junjungan mereka yang telah berubah menjadi monster itu akhirnya bisa dilumpuhkan.
Batari Mahadewi berjalan mendekat ke arah tubuh beku sang raja itu. Dengan mata saktinya, gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa mengetahui persis dimana letak masing-masing mustika siluman yang tertanam dalam tubuh raja itu.
Batari Mahadewi menarik paksa mustika-mustika itu dengan kekuatannya dan setelah semua mustika itu terlepas dari tubuh sang raja, seketika itu juga sang raja telah mudik ke neraka, lalu ia akan menjalani proses cuci otak sebentar, lalu akan lahir kembali menjadi seekor Bebek. Hanya dengan amalan yang baik, kelak setelah ia mati disembelih dan dijadikan bebek panggang, ia akan lahir sebagai manusia. Entahlah.
Sejenak, Batari Mahadewi menjinakkan energi siluman pada masing-masing mustika yang ia pegang saat itu. Dari pertempuran melawan sang raja Siwandawala, ia mempelajari cara kerja mustika itu ketika dijadikan senjata. Mustika-mustika itu bisa dikombinasikan satu dengan lainnya untuk menghasilkan kekuatan dan fungsi tertentu.
__ADS_1
Sedari tadi, para pendekar dan prajurit Siwandawala hanya terdiam melihat apa yang sedang dilakukan oleh Batari Mahadewi. Mereka benar-benar tak tahu apa yang harus mereka lakukan. Yang pasti, mereka diam-diam berterimakasih kepada pendekar muda nan cantik itu.
“Raja kalian telah mati. Maaf, aku harus melakukannya. Ini adalah satu-satunya cara menghentikan peperangan. Ketahuilah, siapapun yang kelak akan menjadi raja baru, aku peringatkan, jangan pernah berperang dengan kerajaan lain di Siwarkatantra.”
Batari Mahadewi hendak melesat pergi meninggalkan istana itu, namun salah seorang yang ada di sana memanggilnya.
“Nona, tunggu sebentar,” kata orang itu.
“Ya, ada apa?” tanya Batari Mahadewi.
“Siapakah nona ini?” tanya orang itu.
“Aku sang dewi perang yang ditugaskan dari khayangan,” jawab Batari Mahadewi asal-asalan, namun dengan jawaban itu, semua orang di sana bisa memahami kejadian yang baru saja mereka alami, dan akan menjalankan apa yang telah dikatakan oleh gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Kelak, di Siwandawala, akan ada dongeng baru yang menceritakan kisah tentang turunnya sang dewi khayangan yang datang dan menumpas sang raja durjana. Dalam kisah itu, tidak diceritakan bahwa Batari Mahadewi memulung mustika siluman milik almarhum sang raja.
Batari Mahadewi muncul tiba-tiba di sebuah sungai lebar yang memisahkan Siwandawala dengan Siwandacara. Ia tertawa sendiri ketika mengingat apa yang telah ia katakana kepada orang-orang Siwandawala, ‘dewi perang dari khayangan, lumayan juga,’ pikirnya. Ia masih tertawa. Beberapa ekor kodok menoleh ke arahnya dan menatap gadis cantik itu dengan tatapan curiga, lalu kodok-kodok itu melompat ke sungai. Untung tak ada satu manusiapun yang ada di sana.
‘Ada baiknya aku juga mengumpulkan beberapa mustika siluman atau mustika iblis sebagai bahan senjata. Aku harus menciptakan banyak senjata untuk membantu meredam kekacauan ini,’ batin Batari Mahadewi.
Ia tahu, ia tak bisa juga berburu siluman sembarangan. Tidak semua siluman berbuat jahat kepada manusia. Ia berfikir, baiknya ia mencari siluman yang membuat kekacauan dan meresahkan masyarakat. Semakin kuat siluman itu, maka semakin baik dan berkualitas mustika yang akan diperolehnya.
Sebelum ia melompat menyeberangi sungai, ia menangkap kehadiran energi yang menarik perhatiannya. Batari Mahadewi menajamkan penglihatannya. Ia melihat sosok gajah putih besar dan bersayap lebar sedang terbang melintasi angkasa. ‘Siluman gajah putih yang anggun. Kemana ia akan pergi?’ batinnya.
__ADS_1
Energi siluman putih berbeda dengan siluman hitam. Energi siluman putih bisa setara dengan energi dewa. Hanya karena siluman itu adalah siluman, maka ia bukanlah dewa. Secara esensi demikian. Namun dalam jasa-jasanya, siluman putih bertugas layaknya dewa. Beruntunglah mereka adalah siluman. Jika mereka adalah dewa, Kalapati tak akan membiarkan mereka bergerak leluasa.
Batari Mahadewi hanya memandangi saja makhluk itu terbang menjauh. Ada banyak hal yang tak ia pahami. Setelah siluman itu benar-benar tak lagi terlihat, gadis jelmaan pusaka dewa itu menyeberangi sungai dalam sekali lompatan. Tak jauh dari sungai itu, ia menemukan sebuah kota perbatasan. ‘Ternyata aku sudah sampai di Siwandacara. Tak lama lagi aku akan bertemu dengan guru Udhata,’ batin gadis itu.
Kota perbatasan itu bernama kota Batu Belah yang merupakan kota kecil tanpa pengamanan seketat kota-kota perbatasan pada umumnya. Barangkali karena sungai besar itu menjadi pagar alami, maka penguasa Siwandacara dan pemimpin kota Batu Belah tak harus repot memikirkan benteng yang kokoh untuk berjaga-jaga jika sewaktu-waktu negri Siwandawala akan datang menyerang.
Meski demikian, ternyata kota kecil ini banyak memiliki perguruan beladiri. Di sepanjang perjalanan, Batari Mahadewi banyak berpapasan dengan para pendekar dan ia juga melewati beberapa perguruan beladiri yang cukup besar. Seharusnya, dengan banyaknya perguruan di sana, maka kerusuhan antar murid perguruan beladiri yang ada di sana juga sering terjadi.
Hal itu sudah menjadi sesuatu yang wajar. Tiap perguruan silat, pasti selalu mengunggulkan nama baik masing-masing. Caranya tak lain adalah dengan bertarung.
Kota yang memiliki banyak perguruan besar itu bisa disebut juga sebagai kota pelajar. Di perguruan beladiri, para murid tak hanya akan belajar kanuragan, namun juga ilmu-ilmu lainnya. Maka tak heran jika murid-murid perguruan yang ada di sana berasal dari berbagai daerah lainnya.
Keuntungan dari banyaknya peguruan beladiri di suatu kota, masing-masing akan terus bersaing. Tak akan ada perguruan yang berpuas diri pada satu titik pencapaian. Mereka akan terus menerus mengembangkan diri agar tak ketinggalan dengan perguruan yang lain.
Suatu kebetulan, ketika Batari Mahadewi singgah di kota itu, pertandingan beladiri antar perguruan sedang dilaksanakan. Masing-masing peserta akan mempertahankan nama baik perguruan, serta berusaha untuk mendapatkan anugerah dari kerajaan yang berupa gelar pendekar serta hadiah berupa uang emas.
Pusat kota menjadi sangat ramai. Banyak orang yang datang untuk menyaksikan pertandingan. Dan tentu saja, banyak pedagang yang berkumpul di sana untuk mengais rejeki. Batari Mahadewi tertarik untuk melihat pertandingan itu. Rasa-rasanya, sudah sangat lama ia tak berada di suasana seperti itu.
‘Tak apalah, sesekali merasakan menjadi manusia normal,’ batin gadis cantik itu. Ia melompat cepat ke sebuah pohon tinggi, duduk manis di salah satu cabangnya, dan melihat pertandingan beladiri dari jarak yang cukup jauh. Jika ada orang yang tak tahu menahu dan tak sengaja melihat ada seorang gadis cantik duduk di atas pohon, orang itu pasti akan berteriak histeris.
Namun dari arah yang berlawanan, Batari Mahadewi melihat seseorang yang juga sedang bersembunyi di atas pohon besar dan tinggi, menyaksikan pertandingan dari jarak yang cukup jauh.
Batari Mahadewi menajamkan penglihatannya sehingga ia bisa melihat jelas wajah orang itu. ‘Manusia setengah siluman,’ batin gadis jelmaan pusaka dewa itu.
__ADS_1