
Kabar kekalahan para pasukan Tirayamani di Mahabhumi sudah pasti membuat sang ratu Ogha sangat geram, terlebih ketika ia tahu keadaan pasukannya di wilayah lain yang disinggahi oleh Batari Mahadewi. Setidaknya, saat ini sang ratu telah kehilangan lebih dari separuh pasukannya gara-gara gadis jelmaan pusaka dewa itu. Namun hal itu tak terlalu menjadi soal sebenarnya, satu makhluk iblis kuno yang ia bebaskan bisa jadi jauh lebih baik dari seribu pasukan Tirayamani.
Yang pasti, cerita tentang gadis sakti itu telah sampai di telinganya. Ia bahkan telah kehilangan Buma, yang artinya, gadis itu benar-benar sakti dan ia sendiri belum tentu bisa menandinginya.
Waktu itu, setelah sang ratu kegelapan berhasil membebaskan makhluk iblis Mambacha, ia telah berhasil membebaskan beberapa makhluk iblis dari berbagai wilayah. Sayangnya, makhluk-makhluk itu tak mau tunduk pada sang ratu.
Hal itu memaksa sang ratu segera pergi ke wilayah timur dan membebaskan makhluk iblis Bail. Mambacha dengan susah payah akhirnya berhasil membujuk Bail untuk ikut dengan sang ratu.
Seperti yang dikatakan oleh Mambacha, setelah membebaskan Bail, sang ratu kegelapan bisa dengan mudah membuat para makhluk iblis lainnya yang ia bebaskan mau tunduk dengannya. Bail adalah salah satu makhluk iblis terkuat yang dihormati oleh makhluk iblis lainnya.
Kini setidaknya, sudah ada empat makhluk iblis lainnya yang tunduk kepada sang ratu selain Bail dan Mambacha, keempat makhluk itu adalah Jain, Silu, Bara, dan Canu.
Sang ratu menyuruh Jain dan Silu bersama seribu prajurit Tirayamani untuk kembali ke Mahabhumi dalam rangka mencari jejak Batari Mahadewi, lalu menyuruh Bara dan Canu beserta dua ribu pasukan tirayamani pergi ke Siwarkatantra. Sang ratu berfikir, seharusnya gadis yang membantai pasukannya itu kembali ke Mahabhumi, atau melanjutkan perjalanan ke Siwarkatantra.
Dengan menyertakan dua makhluk iblis pada masing-masing kelompok pasukan yang ia tugaskan, ratu kegelapan itu yakin bahwa gadis jelmaan pusaka dewa itu bisa ditaklukkan. Sementara itu, sang ratu masih ingin membebaskan dua lagi makhluk iblis kuat yang bisa diandalkan untuk banyak hal, yakni Sula dan Sulu, dua iblis kembar dari wilayah barat. Setelah itu, ia berencana untuk mengungsikan seluruh prajuritnya ke Mahabhumi dan mendirikan kerajaan baru di sana.
Mahabhumi adalah tujuan akhir dari sang ratu, sebab di masa lalu, Mahabhumi adalah pusat kekuasaannya bersama dengan pangeran kegelapan. Ratu itu punya firasat bahwa di Mahabhumi, ia bisa menemukan jejak mustika sang pangeran kegelapan sehingga kemudian sang ratu bisa menghidupkannya kembali. Ogha belum tahu bahwa pangeran kegelapan telah lahir kembali sebagai Nala.
Sementara itu di Mahabhumi, kehidupan sudah berjalan semakin baik. Hubungan wilayah barat dan timur masih renggang, namun pada akhirnya wilayah barat mengajukan satu permohonan diplomasi baru untuk bekerja sama apabila kelak Tirayamani akan datang kembali.
__ADS_1
Tentu saja, wilayah barat tahu secara rinci bagaimana seorang gadis pendekar Swargadwipa berhasil mengusir para pasukan kerajaan hitam itu sendirian saja. Oleh sebab itulah, dengan cara mencoba membangun hubungan baik kembali dengan wilayah timur, mereka memiliki kesempatan untuk mendapatkan pertolongan secara lebih cepat.
Tak ada alasan bagi wilayah timur untuk menolak niat baik yang terlihat tulus dari wilayah barat itu. Lagipula, kerjasama lebih menguntungkan daripada peperangan.
Hal baiknya, para tetua pendekar putih di seluruh Mahabhumi mulai menjalin berhubungan baik kembali. Tanpa campur tangan dari pihak kerajaan, para tetua itu membentuk semacam organisasi gabungan penanggulangan serangan kerajaan Tirayamani.
Para tetua itu tak bisa berpangku tangan saja, mereka berpencar ke wilayah-wilayah lain di luar Mahabhumi untuk mencari tahu perkembangan situasi yang telah terjadi di sana. Ya, hanya para tetua dan pendekar senior, tak terkecuali ki Gading Putih dan teman-teman seangkatannya.
Sementara, para pendekar muda tetap berjaga di Mahabhumi.
Para pendekar hitam di Mahabhumi serasa mendapat untung dalam situasi seperti ini. Mereka memang tak terlihat, namun bukan berarti mereka akan terus menerus berdiam diri saja. Kabar bahwa para tetua pendekar aliran putih terdengar juga di telinga mereka dan hal itu adalah kesempatan yang baik untuk membalas kekalahan di masa lalu.
Di Swargadwipa, Jalu dan Niken sedang dalam perjalanan dari istana menuju ke kota Dhyana. Mereka berdua tak langsung ke kota itu setelah berpisah dengan Batari Mahadewi. Jalu harus kembali ke istana ketika mendengar berita bahwa ayahnya sakit. Mereka berdua tinggal beberapa hari di sana.
Niken semakin salut dengan keputusan kekasihnya itu. Pada akhirnya, Niken tahu bahwa Jalu dijodohkan dengan putri raja. Jalu juga diberi tawaran untuk memegang jabatan penting sebagai wakil mahapatih. Kedua kesempatan emas itu ia lepaskan demi kebebasan pilihan hidupnya.
Di sebuah hutan lebat menuju ke kota Dhyana, Jalu dan Niken beristirahat. Keduanya menikmati ayam bakar buatan Jalu dan es kelapa buatan Niken. Sungguh hidup sederhana yang sempurna.
“Kita berbakat untuk membuat kedai makan, adik. Bagaimanapun juga, kelapa dingin ini tidak bisa ditemukan di kedai manapun dan hanya kau saja yang bisa membuatnya,” gurau Jalu.
__ADS_1
“Tidak kakak, pelanggan kita pasti kabur gara-gara ayam bakar gosong yang pahit ini. Sudah berkali-kali kukatakan, sebaiknya dipanggang di atas api kayu,” kata Niken.
“Hahaha, tapi kau terlihat menikmati ayam buatanku ini,” bantah Jalu.
“Sepahit apapun, aku bahagia bersama kak Jalu,” kata Niken.
“Kau membuatku gugup, adik,” kata Jalu salah tingkah. Ia selalu salah tingkah jika Niken mengatakan kata-kata semacam itu.
“Kak Jalu menolak perjodohan dan meninggalkan semua kemewahan istana, itu demi aku kan?” tanya Niken.
“Seperti yang kujanjikan padamu,” kata Jalu.
“Kakak tidak menyesal? Putri Kumala luar biasa cantik dan kakak menolaknya,” kata Niken.
“Kaupun cantik, adik. Kenapa kau tak pernah yakin dengan kecantikanmu? Aku mencintaimu bukan semata-mata karena kecantikanmu, tapi karena banyak hal. Terlalu banyak yang membuatku tak akan pernah bisa mencintai orang lain kecuali dirimu,” kata Jalu. Kata-kata gombal yang serius itu terlontar begitu saja dan membuat wajah Niken bersemu merah.
“Apa yang akan kita lakukan di kota Dhyana nantinya?” tanya Niken.
“Menunggu adik Tari datang. Dia berpesan kepada kita agar tinggal di sana, bukan?!” kata Jalu. Sepasang pendekar itu belum tahu bahwa Nala dan kakaknya telah ada di sana dan sedang menjalani tapa selagi tak ada hal yang bisa dikerjakan.
__ADS_1
Ketika mereka hendak melanjutkan perjalanan, mereka merasakan kehadiran energi hitam yang mendekat. Mereka sudah menduga bahwa para pendekar hitam tak akan menyia-nyiakan kesempatan emas ini untuk kembali menampakkan diri ketika jumlah pendekar aliran putih banyak berkurang gara-gara pertempuran pihak timur dan pihak barat, dan absennya para tetua aliran putih untuk sementara waktu.
Jalu dan Niken memasang kewaspadaan. Tak lama kemudian, segerombolan pendekar aliran hitam menampakkan diri. Beberapa diantaranya adalah remah-remah pendekar pulau Neraka yang masih tersisa sejak peristiwa waktu itu.