
Kelima pendekar hitam itu tampak heran dengan keberanian Batari Mahadewi. Mereka menduga bahwa perempuan cantik yang sedang duduk sendirian itu adalah pendekar yang baru saja menetas dan tak tahu banyak tentang dunia persilatan sehingga berani bersikap seperti itu kepada para pendekar Tirayamani yang menggemparkan dunia.
“Nona manis, besar juga nyalimu memotong pembicaraan kami!”
“Bukankah kalian ingin didahulukan? Aku hanya memberi saran, bukan memotong pembicaraan kalian,” jawab Batari Mahadewi enteng sembari menatap satu persatu mata kelima pendekar yang duduk tak jauh darinya itu.
“Bagus sekali. Aku suka perempuan pemberani, kau tahu siapa kami, nona manis?”
“Dari perilaku kalian, seharusnya kalian ini adalah orang-orang miskin dan tak tahu sopan santun. Pasti kalian tak akan membayar pesanan kalian, bukan?! Itu tandanya kalian tak punya uang. Kalian juga pengecut, memeras orang-orang seperti ini. Jadi, kalian tak lebih berharga dari kotoran kerbau!” jawab Batari Mahadewi sengaja memancing kemarahan orang-orang itu.
Jika para pendekar hitam itu terpancing, maka ada alasan untuk membuat keributan dengan mereka. Jika sudah terjadi perkelahian, maka Batari Mahadewi akan membiarkan mereka hidup dan lari meminta bantuan. Dengan demikian, ia akan memiliki lawan yang lebih banyak lagi.
Dengan kata lain, ia ingin memperalat kelima pendekar culun itu untuk memancing kedatangan para pendekar Tirayamani yang ada di sana sehingga tak perlu repot-repot untuk mencari mereka ke segala pelosok Kamandapala. Namun yang terpenting bukanlah itu, Batari Mahadewi berharap yang ia lakukan bisa memancing sosok jahat yang sedang berada di wilayah itu dengan cara yang wajar.
“Kalian marah? Tentu saja. Jika mau menantangku, kita bertarung secara terhormat di tempat lain. Silahkan pilih tempat yang kalian suka. Sekarang, atau setelah makan nanti. Tak masalah buatku!” Kata Batari Mahadewi. Hanya karena ia adalah perempuan, sulit bagi siapapun juga mempercayai tindakannya itu.
“Hahaha, anak ingusan sepertimu mau menantang kami!”
“Jika kalian takut, tak masalah. Lupakan tantanganku!” Batari Mahadewi semakin berusaha membuat kelima pendekar hitam itu terpancing emosinya.
__ADS_1
“Memangnya kau siapa sehingga kami harus takut denganmu! Kami hanya menertawakan kebodohanmu!”
“Aku putri dewa. Semestinya kalian bersujud dihadapanku sekarang!” Tak akan ada yang percaya dengan Batari Mahadewi sekalipun ia berbicara jujur. Kelima pendekar hitam itu semakin tertawa terbahak-bahak karena mereka mengira baru saja mendengar lelucon yang bodoh yang hanya akan diucapkan oleh anak kecil untuk menakut-nakuti orang.
“Baiklah tuan putri yang cantik. Ayolah, ikuti kami. Kita akan bertarung. Jika kami menolak tantanganmu, mau ditaruh di mana muka kami! Jangan salahkan kami jika kami nanti akan mempermalukanmu!”
Kelima pendekar itu keluar kedai dan berjalan menuju ke sebuah tempat terbuka yang tak jauh dari kedai itu. Sementara, Batari Mahadewi masih dengan santainya berjalan menemui pemilik kedai. Hal itu semakin membuat kelima calon korbannya merasa kesal.
“Mohon maaf, paman. Terimalah ini,” gadis jelmaan pusaka dewa itu memberikan sebutir emas kecil, “Tolong simpan makananku, jika sempat aku akan kembali lagi.”
Di tempat terbuka itu, kelima pendekar Tirayamani berteriak untuk mengumumkan kepada banyak orang bahwa mereka akan mempermalukan orang yang telah berani berbuat lancang. Batari Mahadewi yang berjalan dengan santai tanpa rasa takut sedikitpun. Orang-orang berdatangan karena penasaran.
“Baiklah, cukup aku saja yang meladenimu, tuan putri. Sepertinya akan menyenangkan! Hahahaha…” Selagi salah satu dari pendekar itu maju sambil mencemooh Batari Mahadewi. Namun bersamaan dengan tawanya yang membahana itu, Batari Mahadewi telah melayangkan tinjunya dengan cepat dan tepat mengenai mulut pendekar itu hingga semua gigi depannya berhamburan di tanah.
Hal itu sangat mengagetkan semua orang. Betapa tidak, gadis jelmaan pusaka dewa itu tak menunjukkan tanda-tanda memiliki pancaran energi yang kuat. Pendekar yang baru saja kehilangan semua gigi depannya itu mengerang kesakitan sambil memegangi mulutnya yang berlumuran darah. Selama sebulan kedepan, ia tak akan bisa bicara apa-apa.
Melihat hal itu, satu lagi pendekar hitam maju. Kali ini ia sedikit melakukan persiapan. Ia melesat dengan cepat ke arah Batari Mahadewi. Lagi-lagi, tinju gadis jelmaan pusaka dewa itu mendarat diperut pendekar itu. Ia roboh dan tak sadarkan diri. Dijamin, dalam waktu tiga bulan, pendekar apes itu akan mengalami diare parah yang tak ada obatnya. Ususnya telah rusak.
Tiga pendekar hitam yang tersisa mulai waspada. Hal itu bukanlah kebetulan. Melumpuhkan satu pendekar Tirayamani bukanlah perkara mudah yang bisa dilakukan oleh seorang pendekar tingkat tinggi sekalipun.
__ADS_1
Sayangnya, ketiga pendekar hitam itu masih gengsi untuk menyerang gadis cantik itu secara bersama-sama. Salah satu dari ketiga orang itu menyerang Batari Mahadewi dengan pukulan beracun.
Batari Mahadewi tidak menghindar. Namun sebelum pukulan itu mendarat di wajah cantiknya, tangan kirinya dengan cepat menangkap tinju pedekar hitam itu, lalu meremasnya hingga terdengar gemeletak tulang patah. Selanjutnya, Batari Mahadewi memelintir tangan itu hingga seluruh tulang lengan pendekar itu hancur. Lebih baik begitu daripada harus diare selama tiga bulan, atau tak bisa mengunyah makanan dengan nyaman seumur hidup.
“Kalian berdua sebaiknya mencari bantuan. Aku menunggu kalian di sini. Jika aku tidak ada di sini, mungkin aku masih makan di kedai itu! Sampai jumpa nanti,” kata Batari Mahadewi sembari berjalan santai menuju ke kedai itu, melanjutkan misi makan dengan enak yang sempat tertunda.
Orang-orang yang menonton segera bubar. Mereka khawatir dua pendekar hitam yang tersisa akan mengamuk dan melampiaskan kekesalan mereka kepada orang-orang itu. Peristiwa yang baru saja terjadi itu merupakan hiburan yang menyenangkan bagi semua orang yang menonton. Pendekar Tirayamani dipermalukan oleh seorang perempuan.
Tak butuh waktu setengah hari untuk membuat puluhan pendekar Tirayamani datang mencari Batari Mahadewi. Kali ini tak ada satupun orang yang berani menonton.
Batari Mahadewi melesat jauh ke angkasa, lalu terbang mencari tempat yang jauh dari pemukiman. Puluhan pendekar hitam itu juga melesat mengikutinya, “Jangan lari kau perempuan sial!”
Gadis jelmaan pusaka dewa itu berhenti di sebuah hutan. Beberapa saat kemudian, puluhan pendekar hitam telah sampai dan mengepungnya dari segala jurusan.
“Kalian ternyata takut denganku?! Baguslah. Asal kalian tahu, aku telah melumpuhkan lebih dari tiga puluh ribu rekan kalian yang datang ke Mahabhumi. Tentu kalian tak mempercayainya. Jadi silahkan maju bersamaan!” tantang Batari Mahadewi.
“Kau membual, nona muda! Inilah akhir dari hidupmu!” Awalnya hanya lima pendekar saja yang maju secara bersama-sama menyerang Batari Mahadewi dengan kekuatan penuh. Hanya butuh satu hentakan saja untuk membuat kelima pendekar itu terpental jauh.
Hal itu cukup untuk membuat sisa pendekar lainnya langsung berubah wujud menjadi makhluk setengah siluman dan bersama-sama menyerang Batari Mahadewi.
__ADS_1
Dalam waktu singkat, hutan itu riuh dengan suara lolongan dan pekik kesakitan. Batari Mahadewi sengaja menyiksa lawan-lawannya yang sudah tak berdaya itu untuk memancing aura jahat yang membuatnya ingin datang ke pulau itu. Gadis cantik itu yakin, usahanya akan berhasil.