
Jiwa Nala memberontak. Sesaat ia berhasil menguasai tubuhnya kembali. Dengan cepat, ia segera mencekik leher sang ratu. Tentu saja ratu Ogha sangat kaget dan ketakutan. Matanya membelalak menahan sakit di lehernya. Cengkeraman tangan Nala sungguh kuat. Sayangnya, belum sempat ia mencelakai sang ratu lebih jauh, sang pangeran kegelapan kembali merebut tubuhnya.
“Ogha!!! Kau tak apa-apa?” pekik pangeran kegelapan, “seharusnya kau tak boleh dekat denganku sementara ini. Nala bisa setiap saat mengambil alih tubuh ini. Hampir saja kau celaka!”
Sang ratu tersengal-sengal nafasnya. Jantungnya berdegup keras. Hampir saja ia mati. Ia sangat kesal dan kecewa. Hal yang sangat ia rindukan dan telah ada di depan mata masih saja belum bisa ia nikmati. Ia membisu, tak mempedulikan kata-kata Andhakara.
“Maafkan aku, ratuku. Aku tahu kau menginginkannya. Akupun demikian. Tetapi aku lebih tak bisa lagi jika harus kehilanganmu. Bersabarlah, kita akan menyusun kekuatan dan mencoba membuka pintu dunia bawah.
Ratu Ogha turun dari ranjang. Air matanya meleleh. Ia berjalan pelan ke arah jendela, memandang keluar. Apa tujuan dari semua ini? Apa tujuan dari kekuasaan jika bahagiapun tak bisa? Perasaan sang ratu berkecamuk.
“Maaf, pangeran. Aku terlalu terbawa perasaan. Jangan khawatir, aku akan selalu menjadi ratumu, mendukungmu dengan nyawaku.”
“Aku percaya padamu, Ogha. Aku tak pernah meragukan kesetiaanmu.”
Sang pangeran berjalan ke arah sang ratu. Ia hendak memeluk wanitanya itu dari belakang, namun ia urungkan. Ia takut kejadian yang baru saja terjadi itu terulang lagi. Ia hanya berdiri di sebelah sang ratu, memandang ke arah yang sama.
“Apakah pangeran tahu, keadaan di luar sana sangat kacau balau sekarang. Pertarunganmu dengan gadis sialan itu telah membuat semua wilayah di bumi ini dilanda bencana.”
“Justru ini kesempatan kita mengumpulkan banyak pasukan kegelapan. Jika mereka kelak menjadi iblis, kita punya tambahan kekuatan untuk membuka pintu ke dunia bawah.”
“Kapan kita akan pergi membangunkan semua iblis yang tersisa?”
“Hari ini kita akan melakukannya!”
Sang pangeran dan sang ratu akan pergi berdua saja. Bail akan menjaga istana. Sang ratu telah menceritakan wilayah mana saja yang belum ia datangi untuk membangkitkan iblis yang terkurung di sana. Keduanya melesat meninggalkan kerajaan hitam, entah kapan akan kembali dengan membawa para iblis yang masih tersisa.
__ADS_1
*****
Sementara itu di khayangan, Kalapati telah mengumpulkan keempat raja raksasa dari empat penjuru kerajaan khayangan untuk berunding di istana pusat.
Bebasnya raja dewa sebenarnya membuat para raja raksasa itu khawatir. Tetapi mereka lebih khawatir jika membuat Kalapati marah. Sehingga, mereka diam saja dengan keputusan maha raja raksasa itu.
Sang raja dewa juga telah mendapatkan kabar bahwa Batari Mahadewi saat ini sedang ada dalam altar Samudra, masih memulihkan diri dari luka paska pertarungan dengan pangeran kegelapan. Raja dewa masih bisa tenang dengan hal itu. Hanya satu hal saja yang membuatnya pusing, bagaimana caranya membawa Batari mahadewi ke khayangan untuk membuka kunci terakhir pada tubuhnya itu? Ia yakin, di altar Samudra itu, kunci energi ke sebelas dalam tubuh Batari Mahadewi akan terbuka.
Turunnya bangsa raksasa ke dunia tengah juga bukan soal bagi sang raja dewa selama Kalapati masih ada di khayangan bersamanya. Justru, kedatangan bangsa raksasa itu akan menekan perkembangan bangsa iblis. Mereka akan bertarung dan saling membunuh.
“Hari ini aku memanggil kalian semua untuk membahas masalah yang pernah kita bicarakan sebelumnya. Sumber kehidupan khayangan telah nyaris habis. Sekalipun aku membebaskan raja dewa sementara waktu untuk memulihkan sumber kehidupan itu, namun jumlah kita semua sudah semakin banyak. Kita tak bisa mengandalkan sumber khayangan terus menerus. Sebagai gantinya, kalian semua akan turun ke dunia tengah dan mendirikan kerajaan baru di sana.” Kalapati mulai memimpin rapat.
“Ini yang sudah kami tunggu-tunggu paduka. Kami sudah tak tahan lagi tinggal di dunia langit,” kata Kalamerah. Sudah pasti dunia khayangan tak akan cocok bagi bangsa raksasa. Asal muasal mereka bukan dari sana, melainkan di dunia tengah. Sehingga, mereka akan benar-benar menikmati hidup jika mereka kembali ke dunia tengah.
“Benar paduka, jika paduka mengizinkan, maka hari inipun kami bersedia untuk bersiap turun ke dunia tengah,” Kalahitam menambahkan. Kalajingga dan Kalahijau mengangguk setuju.
“Jika boleh, hamba dan rakyat hamba akan tinggal di Mahabhumi.” Kalamerah langsung mendahului yang lain. Sebab ia tahu, ketiga raja raksasa lainnya itu juga sudah pasti akan mengincar Mahabhumi.
Permintaan Kalamerah itu jelas membuat yang lain gusar, namun tak berani menunjukkannya di hadapan sang maharaja raksasa Kalapati.
“Bagaimana denganmu, Kalahitam?” tanya Kalapati.
“Jika Mahabhumi telah diminta raja Kalamerah, maka hamba mengingkan Siwarkatantra,” jawab Kalahitam. Pulau itu tak sebesar Mahabhumi, tapi juga bukan pilihan yang buruk.
“Lalu kau bagaimana, Kalahijau?” tanya Kalapati.
__ADS_1
Wajah Kalahijau masam. Hanya ada pulau-pulau lain yang tak terlalu menarik meski jika dilihat dari ukurannya, banyak juga pulau yang jauh lebih besar dari Mahabhumi. “Tak ada pilihan lain, paduka, hamba memilih wilayah Arcandayana.”
“Tinggal kau, Kalajingga,” ujar Kalapati.
“Hamba akan tinggal di Kamalapadma, paduka.
“Baiklah kalau begitu. Aku akan tinggal di khayangan selamanya. Aku akan menggantikan raja dewa. Selanjutnya, urusan kalian di dunia tengah, aku tak akan mencampurinya.” Kata Kalapati.
Tentu saja ucapan sang maharaja raksasa Kalapati itu membuat senang Kalajingga, Kalahijau, dan Kalahitam. Artinya, kelak mereka boleh merebut daerah kekuasaan raja raksasa lainnya. Seperti misalnya, merebut kekuasaan Kalamerah.
Di dunia khayangan, Kalapati terlalu banyak mengatur sehingga keempat raja raksasa itu benar-benar bosan. Mereka memiliki kekuasaan, namun serasa tak punya wewenang penuh.
“Dengan demikian, perundingan ini selesai. Terserah kapan kalian ingin kembali ke dunia tengah.” Kalapati menutup pertemuan itu. Keempat raja raksasa begitu gembira dan ingin segera bersiap-siap turun ke wilayah masing-masing yang telah dibagikan itu.
****
Sementara itu di altar Samudra, Batari Mahadewi mulai membuka mata setelah tidur berhari-hari lamanya. Tubuhnya masih terasa nyeri meski semua luka tubuhnya telah menutup. Kepompong emas yang menyelimutinya telah lenyap. Perlahan ia duduk. Ia mengamati sekelilingnya. Kosong dan sepi. Para dewa sudah tak ada di sana sejak Batari Mahadewi mulai membaik. Mereka berpencar di ruang maha luas itu.
Batari Mahadewi merasakan suasana yang nyaman di dunia dewa yang tersembunyi itu, serasa semua energi yang ada di sana bukan hal asing baginya.
Ia mencoba berdiri. Tubuhnya masih terasa sakit. Perlahan-lahan ia menggerak-gerakkan tubuhnya itu, melawan rasa sakit agar ia terbiasa bergerak. Kemudian ia mencoba berjalan. Perlahan-lahan. Sesampainya di luar altar, ia melihat hamparan bunga yang belum pernah ia lihat sebelumnya dan juga aneka tanaman aneh, namun indah wujud dan warnanya.
Ia melihat sosok berwujud kakek-kakek dengan jenggot yang panjang hingga menjuntai ke bawah. Kakek itu sedang duduk bersila di bawah pohon besar dan rindang berdaun emas. Dengan tertatih-tatih, Batari Mahadewi mendekati sosok kakek-kakek itu. Ia ingin tahu sedang berada di manakah dirinya sekarang.
Ketika Batari Mahadewi semakin dekat, kakek-kakek itu membuka matanya dan tersenyum memandang ke arah gadis jelmaan pusaka dewa itu.
__ADS_1
“Kau sudah bisa bangun, Sang Hyang Maharuna Dewi Shakti! Kemarilah, duduklah di sini,” kata kakek itu ramah.
Batari Mahadewi tertegun. Sejak kapan namanya berubah? Di manakah ini?