Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 239 Tiba di Pulau Siwarkatantra


__ADS_3

Buma kehilangan kepala untuk kedua kalinya ketika dihajar oleh Batari Mahadewi. Sebelum tubuh monster jelek itu jatuh ke bumi, Batari Mahadewi melesat ke arah Buma, tangan kanannya menghujam jantung monster itu, lalu mengambil sebongkah musika iblis yang tersimpan di sana.


Setelah itu, Batari Mahadewi membakar tubuh Buma hingga menjadi abu. Makhluk itu tak akan pernah muncul lagi untuk selamanya.


Selanjutnya, Batari Mahadewi berusaha dengan keras untuk menetralkan energi iblis pada mustika yang ada dalam genggaman tangannya. Jika ia tidak melakukan hal itu, mustika iblis dalam genggaman tangannya itu kelak bisa lahir kembali menjadi Buma yang berikutnya.


Kini Batari Mahadewi membawa dua mustika yang akan ia jadikan bahan senjata kelak ketika ia sampai di Siwandacara.


Dari negri Kamandapala, Batari Mahadewi harus terbang selama dua hari dua malam untuk sampai di pulau Siwarkatantra. Ia tiba di pulau besar itu sebelum matahari terbit. Luas seluruh pulau itu hampir sama besar dengan Mahabhumi dan merupakan pulau yang dihuni oleh kerajaan-kerjaan yang memiliki peradaban tinggi.


Seperti yang telah diduga oleh pendekar Mata Langit, pulau itu memang belum terjamah oleh pasukan kerajaan hitam Tirayamani.


Batari Mahadewi belum tahu dimana letak kerajaan Siwandacara. Ia berjalan menuju kerumunan para nelayan yang baru saja pulang melaut. Kapal-kapal nelayan mulai berdatangan memenuhi teluk kecil itu.


“Permisi paman, apakah kerajaan Siwandacara masih jauh dari sini?


“Oh, benar nona. Masih jauh. Nona dari mana?” tanya nelayan itu.


“Aku baru pertama kali datang di pulau ini, paman. Aku dari Mahabhumi. Kalau boleh tahu, di sini wilayah apa?” tanya Batari Mahadewi


“Di sini adalah wilayah kerajaan Siwandaraka, nona. Sedangkan Siwandacara berada di daerah utara. Nona masih harus melewati wilayah kerajaan Siwandawala. Butuh satu bulan perjalanan dengan kuda untuk sampai ke sana, nona.” Kata nelayan itu. Ia heran, biasanya orang-orang Mahabhumi yang datang ke Siwarkatantra adalah para saudagar besar, bukan perempuan cantik yang datang seorang diri.


“Baik, paman. Terimakasih banyak atas petunjuknya. Saya mohon diri.” Batari Mahadewi meninggalkan teluk kecil itu. Ia berjalan menyusuri perkampungan nelayan. Dalam benaknya, terbayang kelezatan masakan ikan laut. Gadis jelmaan pusaka dewa yang hobi makan itu berfikir bahwa hal terbaik yang harus dilakukan adalah mencari kedai makan.


Tak sulit menemukan kedai makan di desa nelayan itu, sebab hidung Batari Mahadewi mencium aroma masakan yang mengundang lapar.

__ADS_1


“Saya pesan satu porsi masakan terbaik di sini, bibi,” kata Batari Mahadewi setelah ia masuk di salah satu kedai yang cukup menarik perhatiannya.


“Baik, nona. Mohon ditunggu sebentar, akan kami siapkan.”


Batari Mahadewi mencari tempat duduk yang sepi. Kedai itu lumayan ramai. Banyak pelaut yang mengisi perut mereka setelah semalaman makan angin di tengah laut ketika mencari ikan.


“Ini pesanan nona,” pelayan itu membawakan berbagai jenis masakan ikan laut dan pesanan itu lebih tepat jika dinikmati oleh empat orang. Bukan salah pelayan membawkan makanan sebanyak itu, menu terbaik yang dipesan Batari Mahadewi memang sebanyak yang telah disiapkan oleh pelayan itu.


“Terimakasih banyak. E…bolehkah aku bertanya sesuatu?” kata Batari Mahadewi.


“Silahkan, nona,” sahut pelayan itu.


“Apakah dalam pesananku tidak ada nasi untuk disajikan?” tanya Batari Mahadewi.


“Tidak, nona. Tapi akan kami siapkan segera,” kata pelayan itu. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana nantinya perempuan cantik itu akan menghabiskan semua pesanan. Masakan berbagai jenis ikan laut telah tersaji memenuhi meja makan, ditambah pula dengan nasi.


Tak butuh waktu lama bagi gadis cantik itu untuk menghabiskan semua makanannya tanpa sisa. Sekali lagi pendekar Mata Langit benar soal peradaban di pulau Siwarkatantra. Salah satu cara untuk menilai peradaban manusia adalah dengan mencicipi masakannya.


Rasa yang enak memang relatif. Tetapi meramu berbagai jenis bumbu ke dalam satu jenis masakan untuk membuat masakan itu terasa enak adalah hal yang berbeda. Semakin rumit bumbu yang digunakan, maka semakin bernilai masakan itu.


Bagaimana gadis cantik itu tahu soal bumbu padahal ia tidak bisa memasak? Tentu karena gadis cantik itu memiliki indera yang bagus. Ia bisa mengetahui berapa banyak jenis bahan yang digunakan untuk satu masakan, meski ia tak tahu bahan apakah itu.


Sebutir emas seukuran kerikil untuk membayar semua makanan itu membuat pemilik kedai cukup senang dan mengucapkan banyak terimakasih kepada Batari Mahadewi. Dengan perut kenyang, ia melanjutkan perjalanan ke kota kerajaan Siwandaraka.


Dalam benak gadis jelmaan pusaka dewa itu, ada baiknya ia mampir dahulu ke perpustakaan kota untuk mencari tahu banyak hal tentang seluk beluk budaya di tempat yang baru saja ia singgahi itu.

__ADS_1


Untuk sampai ke kota kerajaan, gadis jelmaan pusaka dewa itu harus melalui beberapa desa dan kota kecil yang selalu dipisahkan oleh hutan yang luas atau sungai dan gunung. Sama halnya dengan di Mahabhumi.


Pastinya, dalam setiap perjalanan seperti itu, gadis jelmaan pusaka dewa itu selalu berjodoh dengan pendekar bodoh yang menantangnya duel. Seperti yang ia alami pada hari itu ketika ia melesat cepat menembus hutan yang gelap.


Batari Mahadewi memperlambat langkahnyaia ingin tahu seperti apa wajah pendekar yang tengah mengejarnya itu. Beberapa saat kemudian, seorang perempuan patuh baya berwajah pucat menampakkan diri. Dari bentuk wajahnya dan pakaiannya saja sudah ketahuan kalau perempuan itu adalah pendekar aliran hitam dari wilayah Siwandaraka.


“Maaf aku harus mengganggu perjalananmu, nona. Aku tak mengira kau masih semuda ini,” kata pendekar perempuan itu.


“Ada perlu apa bibi mengejarku?” tanya Batari Mahadewi pura-pura polos.


“Aku ingin menguji kemampuanku denganmu. Kelihatannya kau adalah pendekar tangguh, berani menyusuri hutan ini sendirian,” kata pendekar perempuan itu.


“Maaf bibi, tapi aku bukan lawan yang bagus untuk menguji kemampuan bibi,” jawab Batari Mahadewi.


“Jangan merendah, nona. Aku tahu kau memiliki kemampuan tinggi meski kau masih muda. Nona boleh membunuhku jika aku kalah,” kata pendekar perempuan itu. Ia tak sadar bahwa Batari Mahadewi tidak bermaksud merendah, melainkan mencoba untuk menyelamatkan nyawa pendekar perempuan itu.


“Apakah aku boleh menolak untuk bertarung denganmu, bibi?” tanya Batari Mahadewi.


“Kenapa? Bukankah kau belajar kanuragan untuk bertarung? Untuk menemukan lawan kuat dan menguji kemampuanmu?” pendekar perempuan itu sedikit menggurui Batari Mahadewi.


“Aku khawatir kita memiliki pemahaman berbeda, bibi. Aku bertarung untuk hal yang sekiranya berguna, bukan untuk menantang pendekar lain demi memuaskan batin.” Jawab Batari Mahadewi.


“Sayangnya kita tak sependapat, nona manis. Aku sudah lama tinggal di hutan ini dan menunggu para pendekar yang datang untuk kuajak bertarung. Jadi, mau tak mau, nona harus bertarung denganku,” pendekar perempuan itu sudah tak sabar. Ia memancarkan energinya dan bersiap untuk bertarung.


“Sebentar, bibi. Sebelum bibi menyerangku, ada baiknya kita tunggu sejenak. Ada orang lain yang sedang menuju ke sini dengan kecepatan tinggi. Sepertinya ia adalah pendekar yang cukup kuat,” kata Batari Mahadewi mengingatkan.

__ADS_1


Benar yang dikatakan gadis jelmaan pusaka dewa itu. Tak lama kemudian, seorang pendekar lelaki berbadan sangat besar dan tinggi telah datang. Ia juga merupakan pendekar aliran hitam, namun sepertinya tidak berteman dengan pendekar perempuan itu.


“Oh, sungguh beruntung aku hari ini, bisa bertemu dengan dua wanita cantik di tengah hutan seperti ini. Maukah kalian melayaniku?” kata pendekar yang baru saja tiba itu.


__ADS_2