
Setelah satu jam lebih melenting dari celah batu ke celah lainnya untuk mencapai puncak gunung, akhirnya mereka bertiga sampai juga. Dataran di puncak gunung itu lebih luas dari yang mereka duga. Di atas sana telah dibangun sebuah peradaban menakjubkan yang berisi bangunan-bangunan rumit dari bebatuan.
Desa di atas awan bukanlah desa yang kecil. Ada tembok besar yang mengelilingi desa itu dengan dua pintu masuk yang berada di tembok sisi timur dan sisi barat. Di tembok sisi timur itu, mereka menemukan tulisan; Selamat Datang Di Desa Atas Awan yang terpasang di atas pintu gerbang.
“Kurasa kita harus masuk melalui pintu gerbang. Melompati tembok ini akan menjadi masalah buat kita bertiga.” Kata Jalu.
“Kakak benar. Sebaiknya kita berkunjung dan melewati desa ini sesopan mungkin.” Kata Niken. Belum sempat mereka beranjak menuju gerbang, dua orang penjaga telah membuka gerbang dan menyambut kedatangan mereka bertiga.
“Selamat datang di desa kami. Kalau boleh tahu, ada kepentingan apakah yang membuat tuan dan nona pendekar datang kemari?” Tanya penjaga itu.
“Kami hanya ingin melintasi bukit ini sebagai jalan pintas tuan. Kami ingin menuju ke barat. Nama saya Jalu, kedua nona cantik ini adalah adik seperguruan saya, nona Niken dan Batari Mahadewi. Kami dari padepokan Cemara Seribu, murid Ki Gading Putih” Jawab Jalu memperkenalkan diri sesopan mungkin untuk menghindari hal yang tak diinginkan mengingat desa itu dihuni oleh para pendekar tingkat tinggi.
“Bukan maksud kami untuk melarang atau menghalangi perjalanan tuan dan nona-nona sekalian. Namun setiap pendekar yang datang di desa kami adalah tamu bagi kami, dan sudah selayaknya kami menyambut sebaik yang kami bisa mengingat perjalanan menuju desa ini pastinya menguras tenaga.” Kata salah satu penjaga itu.
“Tentu dengan senang hati kami menerima sambutan dari desa ini, tuan. Dan memang rencananya kami akan mencari penginapan apabila diperkenankan.” Kata Jalu.
“Di desa kami tidak ada penginapan tuan. Setiap tamu yang berkunjung akan menginap di rumah tetua desa. Tuan dan nona sekalian sangat beruntung karena pada hari ini dan beberapa hari ke depan, desa kami sedang mengadakan pertandingan kanuragan, jadi tuan dan nona-nona sekalian bisa menyaksikan, atau malah berpartisipasi sebagai peserta tamu.” Kata penjaga gerbang itu.
“Kalau begitu kami sangat beruntung tuan. Memang selain menjalankan tugas dari guru, kami juga sedang menuntut ilmu melalui perjalanan ini.” Jawab Jalu
__ADS_1
“Baiklah tuan dan nona-nona sekalian, mari saya antar menuju rumah tetua desa. Nama beliau adalah Ki Elang Langit, pendiri desa ini.” Kata penjaga itu sembari mempersilahkan dan mengantarkan Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi menuju rumah tetua desa.
Desa Atas Awan merupakan desa yang megah dan memiliki budaya tinggi. Bangunan-bangunan yang mereka miliki tak kalah dengan bangunan di pusat kota wilayah kerajaan. Meski hanya sebuah desa, namun ada 4 kelompok aliran putih yang tinggal di sana, yaitu kelompok Perguruan Langit Timur, Perguruan Langit Selatan, Perguruan Langit Barat, dan Perguruan Langit Utara.
Ki Elang Langit merupakan tokoh tertua yang berada di luar 4 kelompok itu. Ialah yang paling disegani sekaligus satu-satunya yang bisa menjaga keutuhan desa jikalau ada perselisihan diantara 6 kelompok tersebut. Umurnya kira-kira seusia Ki Gading putih dan ia juga merupakan salah satu dari segelintir pendekar yang memiliki kekuatan tingkat dewa.
Kediaman Ki Elang Langit sangat besar dan luas dengan bangunan bertingkat 3 yang dilengkapi dengan 100 kamar tamu. Di depan bangunan tersebut terdapat halaman berlantai batu yang cukup luas untuk menyelenggarakan berbagai acara seperti misalnya acara ritual atau pertandingan antar kelompok.
Yang menarik perhatian Batari Mahadewi adalah sejak tadi ia tak bisa berhenti mengagumi keindahan desa itu serta kekuatan yang tersembunyi di sana. Berbeda dengan Padepokan Cemara Seribu, Desa Atas Awan didirikan dengan pilar-pilar energi yang sangat kuat dan tersegel dengan sempurna.
Pilar-pilar energi itu berfungsi untuk melindungi desa dari serangan siluman dan pendekar-pendekar yang memiliki ilmu dasar kekuatan iblis. Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi bisa sampai di puncak gunung itu karena mereka adalah pendekar putih yang tak memiliki ilmu iblis.
Ki Elang Langit menyambut dan mempersilahkan masuk Jalu, Niken, dan Batari Mahadewi ke ruang tamu yang cukup besar.
“Selamat datang di desa kami. Suatu kehormatan bagi saya karena murid-murid Ki Gading Putih berkunjung ke sini.” Kata Ki Elang Langit.
“Kami sangat mengagumi keindahan dan kemegahan desa ini, paman. Maka tak berlebihan apabila kami mengira kami sampai di khayangan.” Kata Jalu memuji.
“Hahaha…Kalian pintar memuji.” Kata Ki Elang Langit. “Jika kalian datang lebih awal tadi, mungkin masih sempat menyaksikan pertandingan babak penyisihan antar 4 perguruan beladiri di desa ini. Jika kalian ingin menginap beberapa hari di sini, kalian bisa melihat ilmu silat dari desa kami di pertandingan 4 besar besok, dan pertandingan final pada besok lusa.”
__ADS_1
“Ya, kami sangat ingin menyaksikan pertandingan itu, paman. Bagaimanapun juga, kami harus banyak belajar. Tentu ada banyak hal yang bisa kami pelajari di sini.” Kata Jalu.
“Tentu saja. Seorang pendekar tidak boleh berhenti belajar. Hmm…tampaknya nak Batari telah bertemu dengan Pendekar Matahari, apakah tebakan paman ini betul? Tanya Ki Elang Langit kepada Batari Mahadewi.
“Betul paman, pertemuan tak disengaja yang sangat berarti buat saya.” Jawab Batari Mahadewi.
“Nak Batari sungguh beruntung. Berarti saat ini telah ada dua orang di dunia ini yang bisa menguasai Ilmu Matahari. Jika tak keberatan, apakah kalian bertiga berkenan untuk menjadi tamu petandingan pada esok hari. Kamipun perlu belajar. Masih banyak pendekar muda dari desa kami yang belum pernah melihat kehebatan ilmu Tubuh Api milik nak Jalu, ilmu Tapak Es milik nak Niken, dan ilmu Matahari.” Kata Ki Elang Putih.
Jalu dan Niken sangat terperanjat karena tak menyangka tokoh sepuh di hadapan mereka itu bisa dengan mudah mengetahui ilmu yang mereka bertiga miliki.
Tak bisa menahan penasaran, Jalu pun bertanya. “Paman guru sungguh hebat, bagaimana caranya paman bisa mengetahui ilmu kami?”
“Mudah saja, hahaha, kalian akan bisa seperti aku pada waktunya nanti. Tiap ilmu silat tingkat tinggi selalu menampakkan bekas tanda pada tubuh dan aura pendekar yang memilikinya. Namun jika aku tak pernah melihat Ilmu Matahari, Ilmu Tubuh Api dan Ilmu Tapak Es sebelumnya, maka aku juga tak akan tahu bahwa kalian memiliki ilmu itu. Kalau kalian bertemu dengan banyak pendekar dengan berbagai karakter ilmu, kalian akan bisa menebak pendekar mana saja yang memiliki ilmu tersebut.” Ki Elang Langit menjelaskan.
“Nah, jadi kalian bersedia untuk tamu pertandingan besok? Aku akan memilihkan lawan tanding yang setara dengan kalian dari beberapa kelompok yang ada di sini.” Kata Ki Elang Langit. “Namun, untuk nona Batari…barangkali aku tak bisa mencarikan lawan tanding yang tepat buatmu. Maka bila nak Batari bersedia, maka aku sendiri yang akan menjadi lawan tandingmu besok. Kita hanya akan bertukar beberapa jurus saja sebagai hiburan dan pelajaran buat penonton.”
“Saya tak bisa menolak usul paman guru, jadi saya bersedia.” Jawab Batari singkat.
“Hahaha…baiklah, besok akan menjadi kejutan yang menarik untuk semua warga desa di sini. Tapi sepertinya pertandinganku dengan nak Batari sebaiknya besok lusa saja ya. Paman harus latihan dulu biar tidak malu di depan penonton.” Kata Ki Elang Putih merendah sekaligus memang ingin bersiap dulu karena ia tahu seberapa besar kekuatan yang dimiliki oleh Batari Mahadewi, terutama sejak ia mematangkan Ilmu Matahari yang telah ia pelajari.
__ADS_1
“Sepertinya kalian harus beristirahat dahulu, atau jika kalian mau, silahkan jalan-jalan berkeliling desa. Saya persilahkan untuk belajar apapun yang bisa kalian temui dan pelajari di sini.” Kata Ki Elang Langit.