
Siluman Naga air itu tak bisa menggunakan seluruh energinya untuk bertarung dengan Kisara dan Wisa. Ia harus menggunakan separuh kekuatannya untuk menjaga agar air terjun Berkah Langit itu selalu mengucur deras sebab itulah janji yang ia ucapkan seribu tahun yang lalu kepada seorang pendekar yang ia cintai sebelum pendekar itu meregang nyawa.
Dengan demikian, pertarungan dengan dua pendekar pulau Neraka yang semestinya mudah bagi siluman naga itu kini menjadi sulit. Batari Mahadewi, Niken dan Jalu segera bergegas ketika menyadari apa yang telah mereka lihat itu.
Jika sang siluman naga tewas, setidaknya ada dua hal yang mengerikan. Pertama, air terjun Berkah Langit mungkin tak akan mengalir. Dampaknya, dua sungai yang mengapit kota Berkah Langit akan mengering. Kedua, mustika siluman dalam tubuh sang siluman naga akan jatuh ke tangan para pendekar pulau Neraka itu.
Jika hal itu terjadi, maka siapapun yang menyerap energi dari mustika siluman tersebut akan memiliki kekuatan dan kesaktian yang setara dengan pendekar legendaris. Karena dua alasan itulah, Batari Mahadewi tak mau tinggal diam.
Kisara yang telah berubah wujud menjadi jutaan lebah beracun terus menerus menyerang siluman naga air tanpa henti. Sesekali sosok nenek tua itu menyapukan energinya dan membuat sebagian lebah beracun itu hancur, namun lebah-lebah itu seolah tak ada habisnya.
Wisa yang memiliki kekuatan tiga siluman seribu tahun bisa menjelma menjadi ketiganya dalam satu bentuk. Terlihat aneh memang, tapi tubuhnya kebal terhadap semua serangan dengan energi yang berada dibawah energinya. Ketika jutaan lebah jelmaan Kisara menjauh, Wisa melontarkan serangan-serangan yang membuat tubuh sosok nenek tua jelmaan siluman naga air itu terpental jauh dan menabrak bebatuan besar di sungai hingga bebatuan itu hancur berkeping-keping.
Wisa melesat dan mencengkram leher siluman naga air itu dengan tangan besarnya yang berbulu duri landak. Siluman itu memekik kesakitan dan sesaat sebelum Wisa merobek jantung siluman itu dengan kuku-kukunya yang tajam, Batari Mahadewi melontarkan tenaga dalamnya dari jarak jauh. Tenaga dalam yang terlihat seperti petir menyambar bumi itu melesat cepat dan menghantam kepala Wisa. Seketika tubuh siluman naga air itu terlepas dari cengkraman Wisa.
Kisara, Wisa dan Lasa sangat kaget atas kehadiran Batari Mahadewi, Jalu dan Niken yang tak mereka sadari itu. Jalu memberi kejutan dengan serangan apinya yang menghanguskan ribuan lebah yang terbang melayang-layang di atas permukaan sungai itu. Ribuan lebah yang hangus itu jatuh dan hanyut terbawa aliran sungai.
Kisara dan Wisa kembali ke wujud mereka.
“Siapa kalian? Berani-beraninya ikut campur urusan kami.” Kata Kisara.
__ADS_1
“Kalian yang siapa! Berani-beraninya datang kemari!” Kata Jalu.
“Kami pendekar pulau Neraka.” Kata Kisara.
“Baguslah, sebentar lagi kami akan mengirim kalian pulang ke neraka.” Kata Jalu.
Jalu memancarkan energi penuhnya. Tubuhnya menyala layaknya manusia api. Hanya sedikit pendekar aliran putih yang bisa mengalami perubahan wujud seperti Jalu sehingga bagi pendekar pemula, Jalu tampak seperti pendekar aliran hitam.
Kisara memenuhi tantangan Jalu. Ia memancarkan energinya, lalu menyerang Jalu dengan bola-bola energi dari kedua telapak tangannya. Jalu menyapu bola-bola energi itu dengan mudah melalui lidah api dari kedua tangannya. Tak hanya menangkis, Jalu juga semakin mendekat untuk mengerahkan serangan ke arah Kisara.
Melihat kekuatan Jalu yang semakin ganas menyerang Kisara, Lasa melompat dan hendak menyerang Jalu dari belakang. Dengan segera Niken menghadang pendekar Perayu Kematian itu.
“Kau akan mengalami pengalaman terburuk hari ini.” Balas Niken.
“Oh, benarkah?” Lasa kemudian mengerahkan energinya dan mulai membaca mantera untuk menguasai kesadaran Niken. Sayang sekali, Niken sudah telebih dahulu memahami jurus aliran hitam semacam itu dari pendekar Syair Kematian sehingga Lasa benar-benar jengkel karena hari itu mantra-mantranya seolah seperti jurus yang sama sekali tak berguna. Padahal, mantra-mantra itu cukup ditakuti di kalangan pendekar pulau Neraka.
“Hanya itu? bagaimana kalau kau mencoba bertahan dari jurusku!” tantang Niken.
“Hmm…apa yang kau punya? Kukira kau hanya beruntung saja hari ini bisa lolos dari seranganku.” Kata Lasa.
__ADS_1
“Dengarkan baik-baik nyanyianku ini.” Kata Niken. Gadis berdarah dingin itu kemudian melantunkan lagu sunyi yang merampas kesadaran Lasa. Pendekar mantra itu sungguh tak berkutik dengan jeratan energi yang berubah menjadi gelombang bunyi yang terus mendesak pertahanannya, lalu menyusup melalui gendang telinganya, dan merampas kesadarannya.
Lasa diam mematung dan berusaha melawan. Beruntung ia masih memiliki pemahaman tentang berbagai jurus ilmu hitam yang menyerang kesadaran lawan sehingga ia tak langsung terbuai dalam mimpi indah, melainkan hanya diam tak bergerak dan tak bisa berbuat apa-apa. Dalam kesempatan seperti itu, Niken menciptakan sebuah tombak es dan menancapkannya di jantung Lasa. Seketika Lasa binasa dalam keadaan berdiri.
Wisa memandang curiga gadis kecil yang ada di hadapannya itu. Setidaknya hantaman energi dalam bentuk petir yang mengenai kepalanya masih terasa nyeri. Dengan begitu ia bisa memperkirakan kekuatan gadis kecil yang belum mengatakan sepatah katapun itu padanya.
Wisa mencoba untuk menjelajahi kekuatan Batari mahadewi. Dalam bentuknya sebagai manusia pada saat itu, Wisa bergerak dengan kecepatan tinggi menyerang Batari Mahadewi. Wisa menghantamkan pukulan ke arah Batari Mahadewi, namun seketika sosok murid terakhir Ki Gading Putih itu tiba-tiba telah berada di belakang Wisa dan memberikan tepukan kecil di punggungnya yang membuat Wisa terpental jauh dan muntah darah.
Wisa kembali menjelma dalam bentuk monster agar tubuhnya mampu menahan serangan Batari Mahadewi. Sayangnya, keputusannya benar-benar salah. Batari Mahadewi melesat dan menghujamkan cakar logamnya itu dan seketika tubuh Wisa telah dihiasi dengan beberapa cakaran panjang dan cukup dalam sehingga membuat darahnya keluar.
Wisa sangat marah bercampur frustasi. Ia memancarkan seluruh energi yang ia miliki sehingga terciptalah sebuah dorongan kuat yang sempat membuat Jalu dan Kisara berhenti sejenak untuk melanjutkan pertarungan. Ia berharap ledakan dari gelombang energi yang ia pancarkan itu akan membuat Batari Mahadewi gentar.
Sayangnya, gertakan Wisa hanya bisa membuat ratusan serangga dan ikan-ikan sungai menjauh. Batari Mahadewi hanya tersenyum. Gadis kecil itu mengangkat kedua tangannya yang telah diselubungi oleh aliran listrik. Kedua tangan itu mengarah ke tubuh Wisa dan tiba-tiba kilatan petir dari tangan Batari Mahadewi menyambar tubuh Wisa. Tubuh dalam wujud monster itu hancur sebagian dan sejenak setelah itu Wisa kembali ke wujud semula. Pendekar Tiga Siluman itu merintih kesakitan. Batari Mahadewi berjalan mendekatinya. Gadis kecil itu menempelkan telunjuk tangan kanannya di kening Wisa dan seketika seluruh energi hitam dan segala kemampuan bertarung yang dimiliki Wisa akhirnya sirna.
Tinggal Kisara yang masih tersisa. Wajahnya pucat pasi dan ia tak bisa berbuat banyak menghadapi Jalu. Ia mengutuk kemampuannya yang hanya bisa menjadi lebah yang sama sekali tak berdaya menghadapi api meskipun ketika berhadapan dengan pendekar lain, ia masih berada di atas angin. Maka berhadapan dengan Jalu, Kisara sama sekali tak berniat untuk berubah menjadi jutaan lebah yang mungkin akan hangus terpanggang dalam sekali serangan.
“Bagaimana kisanak? Apakah kau masih ingin bertarung?!” ujar Jalu.
“Bedebah kau!” kata Kisara. Pendekar pulau Neraka itu lalu memejamkan matanya, kemudian cahaya merah dan hitam keluar dari tubuhnya.
__ADS_1