
Batari Mahadewi terhenyak oleh kata-kata kakek dewa itu. Rasa penasaran akan kediriannya sedikit banyak telah terkuak.
“Aku adalah pusaka dewa?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, kaulah pusaka dewa itu yang ditakdirkan untuk melenyapkan raja raksasa di duniamu. Kau istimewa. Kau adalah pusaka dewa sekaligus manusia. Kau pusaka dewa yang memiliki tubuh, perasaan, dan pikiran manusia. Aku senang sekali sewaktu kau datang ke dunia ini. Di sini aku bisa membantumu tanpa khawatir akan diketahui oleh Kalapati. Sementara para dewa di duniamu tak akan bisa menampakkan diri sebagaimana aku. Jika Kalapati tahu ada dewa yang lolos darinya, maka ia akan mengejarnya.” Kata kakek dewa.
“Lantas bagaimana dengan aku, kakek?” tanya Nala masih penasaran dengan dirinya. Sebab, ia dan Batari Mahadewilah yang berhasil membuka pintu langit dan akhirnya terbuang di dunia tiga rembulan.
“Kau mirip dengan Batari, namun berasal dari hal yang berbeda. Batari diciptakan dari energi dewa dan menjadi pusaka dewa. Lantas para dewa mengubah wujudnya menjadi manusia. Sedangkan kau berasal dari mustika iblis yang diciptakan oleh para iblis. Kau lebih dahulu ada daripada Kalapati. Dulu kau adalah pangeran kegelapan yang dilahirkan oleh para iblis melalui mustika iblis yang mereka ciptakan.
Lalu para dewa mengubah kembali wujudmu menjadi mustika iblis, dan kau lahir kembali sebagai manusia dengan kekuatan murni dari iblis. Sebagai manusia, kau bisa mengendalikan energi iblis di dalam tubuhmu. Tapi entah sampai kapan kau bisa bertahan. Kau tak akan menjadi jahat dan berbahaya selama kau masih dalam keadaan seperti ini. Jika ada yang berhasil membuka kunci energi iblis dalam tubuhmu, maka kau akan sepenuhnya kembali menjadi pangeran kegelapan.” Kata kakek dewa.
Nala pun juga merasakan hal yang sama seperti yang dialami oleh Batari Mahadewi. Kenyataan bahwa keduanya bukan sepenuhnya manusia merupkan suatu pukulan tersendiri.
“Akan aku ceritakan lagi tentang banyak hal yang tak kalian ketahui. Dunia satu rembulan adalah dunia yang pertama kali ada. Kehidupan di sana jauh lebih rumit jika dibandingkan dengan dunia-dunia lainnya. Itulah mengapa, jumlah dewa di dunia kalian sangat banyak dan dipimpin langsung oleh raja dewa. Sementara di dunia ini, hanya tinggal aku saja. Aku adalah peleburan dari beberapa dewa yang ada di dunia tiga rembulan. Aku satu tapi aku ada dimana-mana. Aku yang menolong kalian tanpa kalian sadari ketika kalian menyerap energi dari pulau Api, Es, dan Halilintar.
Para dewa di dunia kalian telah melakukan banyak tugas yang berat. Sebelum kehadiran Kalapati, dunia kalian dikuasai oleh para penyihir jahat dan para iblis. Para dewa harus bekerja keras untuk menciptakan keseimbangan, menekan kekuatan para iblis, bangsa raksasa, dan juga para makhluk dari zaman sihir hitam masih berkuasa. Salah satunya adalah menyegelnya dalam bentuk-bentuk tertentu, sebagaimana yang kau alami, Nala.” kata kakek dewa sembari mengarahkan pandangan matanya kepada Nala.
__ADS_1
“Kenapa kakek dewa tidak menghentikan Varak, Vauran, dan ratu Halilintar jika mereka menyulitkan kehidupan di dunia sini?” tanya batari Mahadewi.
“Mereka itu adalah makhluk-makhluk yang tercipta secara tidak sengaja. Di dunia kalianpun lebih banyak jumlahnya. Makhluk seperti Varak itu bukan apa-apa di masa lalu dunia satu rembulan. Di sinipun, bahkan aku tak perlu ikut campur untuk mengurung Varak atau makhluk jahat lainnya. Itulah sebabnya, seperti yang kukatakan, ada banyak dewa di dunia kalian yang salah satu tugasnya adalah menekan kekuatan-kekuatan jahat seperti itu.” kata kakek dewa.
“Jadi aku hanya salah satu hal saja di masa lalu yang membuat kekacauan?” tanya Nala.
“Ya. Ada yang jauh lebih berbahaya dari pangeran kegelapan di masa lalu. Semua telah tersegel rapi dan tak akan mudah meloloskan diri sebagaimana Varak.” Jawab Kakek dewa.
“Jika aku bisa lahir kembali, artinya ada kemungkinan makhluk lain yang lebih tua dariku bisa dibangkitkan atau lahir kembali?” tanya Nala.
“Oh, kakek dewa, jika kakek tahu semua hal ini, kenapa kakek harus membiarkan kami berlama-lama di sini?” tanya Batari Mahadewi.
“Membuka kunci energi didalam tubuhmu bukanlah hal yang bisa cepat selesai dilakukan, Tari. Kau sendiri mengalaminya, bahwa butuh satu hingga dua tahun untuk menyerap energi dari sumber utama di dunia ini. Lagi pula, di sini kalian bisa cepat membuka kunci energi. Aku tak menjamin di dunia kalian, maka kalian sudah bisa mencapai tahap ini. Bisa kau bayangkan, Tari, jika para dewa tak mengunci energimu atau mungkin para dewa langsung mengubahmu menjadi manusia dewasa, apa jadinya?” tanya kakek dewa.
“Aku tak mengerti, kakek.” Kata Batari Mahadewi.
“Belum tentu kau akan memiliki sifat seperti ini. Kau dididik oleh manusia yang baik dan sederhana sehingga kau menjadi seperti ini. Jika dalam tubuh bayi kau memiliki energi yang sangat besar, apa jadinya? Kau malah akan jadi malapetaka. Demikianpun jika kau langsung bersosok manusia dewasa, tanpa ada yang mendidikmu, kau hanyalah makhluk yang berbahaya.” Jawaban kakek itu tak hanya membuat Batari Mahadewi paham, sekaligus membuat Nala mengenang kembali perjalanan yang ia alami bersama kakaknya, lalu perjalanannya bersama Batari Mahadewi yang telah banyak membuatnya berubah. Nala yakin ia tak akan menjadi pangeran kegelapan seperti di masa lalunya.
__ADS_1
“Aku mengerti, kakek.” Kata Batari Mahadewi. Ada rasa lega sekaligus kegelisahan yang muncul bersamaan dalam benaknya.
“Kau heran bukan dengan kemampuanmu memahami segala bahasa dan bahkan bisa melacak masa lalu dari tanda-tanda yang tertinggal pada sesuatu? itulah salah satu kemampuan yang dimiliki dewa, sebagaimana aku bisa tahu asal-usulmu dengan membaca guratan tanda dan energi pada tubuhmu. Namun saat ini sejujurnya aku tak tahu banyak tentang apa yang tengah terjadi di dunia kalian. Sejak raja dewa di dunia terkurung oleh kekuatan Kalapati, aku tak bisa lagi berhubungan dengannya, dan tak tahu lagi apa yang terjadi di sana.” Kata kakek dewa.
“Jadi selama kami disini selama hampir delapan tahun ini, maka di dunia kami belum genap setahun, bukan?” tanya Batari Mahadewi.
“Benar. Jadi tenang saja. Sepertinya ini memang takdir. Kalian datang di tempat yang tepat untuk mempercepat proses kalian menguatkan diri untuk menghadapi bencana di masa depan dunia kalian. Jika kalian kembali ke dunia kalian nantinya, sudah pasti tak akan ada yang kenal dengan kalian lagi, namun kalian masih kenal baik dengan dunia kalian. Tentunya tak banyak perubahan selama satu tahun tanpa kalian di sana.” Kata kakek dewa.
“Kenapa kakek memasang banyak patung itu jika sudah tahu kamilah yang datang ke sini?” tanya Batari Mahadewi sedikit kesal.
“Oh, ku kira kalian butuh hiburan, jadi kubuatkan patung-patung itu buat kalian. Hahaha, aku suka keindahan. Bagaimana patung-patung itu? bagus bukan?!” kata kakek dewa.
“Hahaha, sudah kuduga!” kata Nala.
“Apakah kalian masih ada pertanyaan lain? Jika tidak, aku akan antar kalian untuk menyempurnakan kekuatan yang telah kalian dapat di pulau Api, Es, dan Halilintar dengan cara menyerap energi utama dari kristal Emas.” Kata kakek dewa.
Batari Mahadewi dan Nala tak mengajukan pertanyaan, sebab begitu banyak pertanyaan yang tersimpan di kepala mereka dan keduanya tak tahu harus bertanya apa. Kakek dewa itu kemudian mengajak Batari Mahadewi dan Nala memasuki kuil suci, pintu menuju sumber energi utama pulau Emas.
__ADS_1