
Batari Mahadewi dan Nala melihat dua sosok pendekar yang akan melakukan pertarungan besar itu dari lantai tiga. Keduanya sudah sangat siap untuk turun tangan langsung apabila Ki Rangga Suluk berada pada posisi terdesak.
Pendekar hitam Tirayamani itu tak main-main dengan serangannya. Ia tahu bahwa seruling emas yang manjadi pusaka lawannya itu akan menjadi masalah baginya. Maka, ia berusaha untuk bergerak cepat, melakukan serangan-serangan jarak dekat sehingga menyulitkan Ki Rangga untuk meniup serulingnya.
Tetapi Ki Rangga bukanlah pendekar yang mengandalkan senjata seruling saja. Pertarungan dengan tangan kosong juga merupakan keahliannya. Tiap-tiap gerakannya merupakan kombinasi jurus bertarung dengan tarian. Sehingga dalam menangkis atau membalas serangan, semua gerakannya seolah-olah tertata rapi dan menjadi sebuah tontonan yang luar biasa. Seperti sebuah tarian yang mematikan.
Kakek tua itu cukup bisa diandalkan untuk menangani seorang pendekar Tirayamani. Meski pendekar hitam itu telah berubah wujud menjadi manusia setengah siluman, namun Ki Rangga adalah pendekar yang termasuk dalam jajaran tetua pendekar di Mahabhumi yang sanggup melawan siluman berumur seribu tahun dengan tangan kosong.
Hanya saja, yang namanya pendekar hitam pada umumnya akan selalu melakukan kecurangan jika ia sudah mulai terdesak. Selain melontarkan beberapa jurus racun kepada para pendekar yang menjadi penonton, ia juga menyambar salah satu pendekar yang ada di sana untuk dijadikan sandera. Sebenarnya agak percuma juga menyelamatkan sandera itu, sebab begitu pendekar hitam itu menyergapnya, racun dalam tubuhnya telah mengenai sanderanya. Racun yang cukup mematikan dan sulit dicarikan penawarnya.
“Jadi pendekar Tirayamani adalah seorang pengecut seperti ini? Menyedihkan sekali!” kata Ki Rangga Suluk kesal. Bagaimanapun juga, melihat seorang muridnya dijadikan sandera membuatnya banyak kehilangan fokus. “Aku tak akan membiarkanmu lari!” sambung Ki Rangga Suluk.
“Jika kau berani mengejarku, orang ini akan mati dengan cara mengenaskan!” ancam pendekar hitam itu.
“Kau tetap akan membunuhnya. Jadi untuk apa aku melepaskanmu!” balas Ki Rangga Suluk.
Pada saat itulah Batari Mahadewi melesat turun untuk segera mengobati para pendekar yang telah terkena serangan racun. Ia tak bisa menunggu terlalu lama dan membuat para korban itu tak tertolong. Kedatangannya menjadi perhatian Ki Rangga Suluk dan pendekar hitam Tirayamani itu. Betapa tidak, gadis itu dengan tenang saja melangkah gesit dan menyembuhkan para pendekar yang sedang tersiksa racun itu satu per satu.
__ADS_1
Selagi semua mata masih terpaku pada pemandangan ganjil yang dilakukan oleh Batari Mahadewi, Nala telah ada dibelakang pendekar hitam Tirayamani, memegang kepala manusia setengan siluman itu dan membuatnya lenyap untuk selama-lamanya. Tak ada dentuman dan ledakan energi yang menghebohkan untuk mengirim pendekar hitam itu ke neraka. Hanya sentuhan telapak tangan Nala. Dan itu justru lebih menghebohkan.
Kejadian itu terjadi begitu cepat dan tak seorangpun yang benar-benar bisa mencerna situasi yang telah terjadi itu. Semuanya tercengang. Bagaimana bisa manusia setengah siluman itu dengan mudah menjadi abu?
Beberapa pendekar yang sebelumnya terkena serangan racun pulih dengan cepat. Meski masih lemah, tapi sudah tak ada racun sama sekali di dalam tubuh mereka.
“Terimakasih, tuan dan nona, atas bantuannya. Bolehkan saya tahu, siapakah tuan dan nona ini?” tanya Ki Rangga Suluk.
“Justru kami yang harus berterimakasih kepada paman. Orang-orang itu tak jadi mengambil barang kami. Bagaimanapun juga, kami merasa bersalah karena gara-gara keberadaan barang kami itulah, pendekar hitam itu berulah. Saya Nala, dan ini rekan saya, Tari.” Nala menunjukkan sikap sangat bersahabat. Ia tahu, para pendekar yang ada di sana memandang dirinya sebagai pendekar hitam. Untung saja, dialah yang melenyapkan remah-remah dari pasukan Tirayamani itu.
“Tidak, tuan tidak salah sama sekali. Orang-orang semacam itu memang harus dibasmi. Sekali lagi, terimakasih banyak atas bantuannya,” kata Ki Rangga Suluk.
“Benar, Nona,” jawab Ki Rangga Suluk.
“Sebuah kebetulan. Kedatangan kami di kota kerajaan ini adalah untuk bertamu ke sanggar paman guru,” kata Batari Mahadewi.
“Wah, ini sungguh sebuah kehormatan, mendapatkan tamu dua orang hebat. Tetapi, hari ini ada hal yang harus saya kerjakan, nona Tari. Jadi mungkin saya akan menyuruh dua murid saya untuk menemani tuan dan nona ke sanggar saya. Saya harap tuan dan nona tak keberatan menunggu saya di sana,” kata Ki Ranga Suluk.
__ADS_1
“Tentu saja tidak, paman. Baiklah, kalau begitu kami akan bersiap,” kata Batari Mahadewi.
Nala kembali lagi ke kedai untuk membayar makanan dan mengambil barang bawaannya yang menjadi biang kekacauan pada hari itu.
“Permisi paman, apakah sebatang emas ini cukup untuk membayar makanan kami sekaligus semua pelayanan yang kami dapatkan?” kata Nala sembari menyodorkan emas sebesar kepalan tangan yang ia baru saja ia ciptakan dari batu yang ia temukan di luar kedai tadi.
“Ini lebih dari cukup, tuan. Mohon maaf atas kekacauan ini. Semoga tuan masih berkenan kembali lagi ke sini kapan-kapan,” kata pemilik kedai itu menunjukkan sikap sangat hormat karena dua hal, yang pertama karena Nala adalah pendekar hebat yang baru saja melenyapkan pendekar Tirayamani dengan mudah, kedua, Nala membayar dengan emas berukuran besar yang bahkan tak mungkin diberikan oleh seorang pejabat kerajaan kaya yang pernah makan di sana.
“Ya, jika kelak kami lewat, kami pasti mampir lagi. Nona cantik itu suka rasa makanan dari kedai ini,” kata Nala. Setelah itu ia mengangkat kotak misteri miliknya dan menggendongnya di punggung dengan tali rambut siluman naga yang masih tersisa. Baik pendekar gagah dan kotak itu sama-sama menjadi misteri bagi semua orang yang ada di sana, terlebih bagi beberapa pendekar yang bekerja di kedai itu sebagai penjaga keamanan, sebab mereka sebelumnya pernah mencoba menggeser kotak itu dan memindahkannya ke ruang dalam untuk mempermudah penjagaan, namun tak sanggup membuat kotak itu bergerak sedikitpun.
Nala dan Batari Mahadewi berjalan bersama dua murid Ki Rangga Suluk menuju ke sanggar seni yang didirikan oleh pendekar seruling emas itu.
Berita tentang kejadian di kedai itu menyebar dengan cepat dan akhirnya sampai juga di telinga para pendekar hitam lainnya yang sedang tersebar di kota kerajaan Mahatmabhumi. Yang mereka tahu, Ki Rangga Suluk lah yang membantai rekan-rekan mereka di depan kedai itu. Mereka memang sedang akan merencanakan sesuatu dan menghimpun kekuatan. Namun kejadian itu membuat mereka geram dan ingin membalas dendam.
Maka para pendekar hitam itu segera mengadakan rapat. Tentu saja yang pertama di bahas adalah keberadaan Ki Rangga Suluk yang akan menjadi hambatan besar atas pergerakan mereka di Mahatmabhumi. Jika kakek tua itu bisa menghabisi salah satu pendekar Tirayamani tanpa masalah, maka untuk mengalahkannya diperlukan lebih banyak lagi pendekar kuat.
Yang pasti, mereka mencemaskan kekuatan dari seruling emas. Hanya para pendekar hitam papan atas saja yang bisa bertahan dari serangan seruling emas itu.
__ADS_1
Setidaknya, masih ada sekitar lima pendekar Tirayamani yang masih hidup dan ada dalam kelompok itu dan kelima pendekar itulah yang akan diandalkan untuk membunuh Ki Rangga Suluk.