
Tengah malam telah lewat. Suasana hutan di sekeliling perkemahan rombongan Swargabhumi itu tampak sunyi dan sayup-sayup terdengar celoteh para prajurit yang sedang berjaga sambil menahan kantuk.
Para pendekar Swargadwipa di bawah pimpinan Pradipa telah menyebar ke berbagai penjuru di sekeliling perkemahan maha luas yang dihuni oleh satu juta lima ratus ribu pasukan Swargabhumi. Para pendekar Swargadwipa itu menanti tanda dari Pradipa dan tujuh pendekar yang mengikutinya yang akan menyerang tenda Mahapatih Hamapadayana sebelum mereka bergerak sesuai dengan tugas masing-masinh.
Seperti yang telah diduga sebelumnya, kewaspadaan rombongan prajurit itu telah ditingkatkan. Prajurit yang bertugas untuk jaga malam semakin banyak. Pradipa hanya mengandalkan satu strategi saja untuk menyusup.
Dalam kelompok pendekar yang dipimpin Pradipa, setidaknya ada sepuluh pendekar yang berasal dari perguruan Arwah Suci. Perguruan itu adalah satu-satunya perguruan aliran putih di Swargadwipa yang memiliki ilmu ghaib sekelas ilmu para pendekar hitam. Bedanya, perguruan Arwah Suci memiliki visi dan misi yang sejalan dengan perguruan aliran putih lainnya. Mereka juga tidak menggunakan senjata racun dalam pertarungan, dan mereka tidak berwujud setengah siluman, sehingga mereka masih mendapatkan kepercayaan sebagai para pendekar aliran putih. Bahkan, para pendekar Arwah Putih sering dimintai bantuan untuk mengusir arwah, mengobati atau membentengi seseorang yang sakit karena terkena ilmu tenung, dan banyak hal yang sifatnya ghaib.
Sepuluh pendekar Arwah Suci yang tergabung dalam tim Pradipa itu juga memiliki keahlian untuk membuat orang tertidur melalui mantra yang mereka baca. Ilmu itu disebut juga sebagai ilmu sirep. Pradipa hanya berharap, mantra penangkal sirep yang dipasang oleh rombongan prajurit Swargabhumi bisa ditembus oleh mantra sirep dari para pendekar Arwah Suci. Jika yang ia harapkan tak terwujud, maka besar kemungkinan usahanya akan gagal mengingat ia dan para pendekar yang ia pimpin hanyalah semut kecil di mata Hamapadayana yang di dukung oleh ribuan pendekar sakti dari wilayah barat serta satu juta lima ratus ribu pasukan pendukungnya.
Sepuluh pendekar Arwah Suci itu menyebar di berbagai penjuru, lalu menjadi yang pertama beraksi untuk membacakan mantra sirep terbaik yang mereka miliki. Mantra sirep itu sangat kuat dan bahkan membuat Pradipa dan pendekar lain yang sedang mengintai merasakan kantuk di pelupuk mata mereka. Namun mereka tak akan tidur, sebab bukan merekalah sasaran utama dari mantra itu.
__ADS_1
Seluruh prajurit Swargabhumi tertidur. Hanya beberapa pendekar sakti saja yang masih terjaga dan dan berusaha sekuat mungkin untuk tak tidur. Merasa was-was karena mereka sadar akan adanya mantra sirep yang menyerang seluruh prajurit Swargabhumi. Meski demikian, para pendekar yang masih terjaga itu juga tak bisa membangunkan para prajurit yang tertidur seperti orang mati. Mereka hanya bersiaga dan menanti hal apa yang akan datang menyerang.
Pradipa dengan diikuti oleh tujuh pendekar sakti yang sekelas dirinya terbang ke angkasa. Mereka langsung menuju ke tenda besar yang dihuni oleh Mahapatih Hamapadayana dan orang-orang penting dalam rombongan itu. Dari atas, Pradipa mengayunkan pusaka Bintang Timur. Pusaka itu memancarkan gelombang energi yang dahsyat mengarah ke tenda Mahapatih Hamapadayana. Beberapa pendekar penjaga yang sedari tadi was-was langsung menahan serangan itu dengan gelombang tenaga dalam yang mereka miliki.
Seketika dentuman dua energi itu menimbulkan ledakan dan bunyi gelegar yang mengagetkan semua orang yang sedang tertidur lelap karena mantra sirep. Dengan setengah sadar karena masih terbawa tidur, semua orang terpancing perhatiannya untuk bergegas ke arah Pradipa dan ketujuh rekan pendekar yang menemaninya.
Pradipa menyerang membabi buta. Dengan pusaka saktinya, ia membuat lawan-lawannya cukup repot untuk mengelak dari serangan berbahaya itu. Dalam sekali sabetan, puluhan prajurit biasa yang berkerumun mengelilinya langsung terbelah dan binasa seketika. Hal itu menjadi pemandangan yang cukup mengerikan, terutama bagi para prajurit rendahan.
Aksi yang dilakukan Pradipa dan rekan-rekannya itu tak hanya menjadi tontonan ribuan atau bahkan ratusan ribu Prajurit yang berdesak-desakan, namun juga Mahapatih Hamapadayana yang terganggu istirahatnya.
Ketika seluruh perhatian terpusat ke area tenda Mahapatih Hamapadayana, para pendekar Swargadwipa yang menunggu aksi Pradipa dan rekan-rekannya kemudia mulai bergerak dengan cepat. Mereka membakar kereta-kereta yang menjadi gudang persenjataan, bahan makanan, merusak kereta pelontar batu, membunuh ratusan gajah dan kuda perang, dan membantai sebanyak mungkin prajurit yang mereka temui.
__ADS_1
Aksi yang mereka lakukan dalam sekejab menjadi perhatian baru, terlebih ketika api menyala di berbagai titik, yang juga merembet ke tenda-tenda prajurit yang membuat suasana dini hari itu terdengar riuh dan mencekam. Hanya kurang dari seratus pendekar Swargadwipa pada malam hari itu telah berhasil membuat kejutan dan kekacauan yang sangat merugikan pihak Swargabhumi.
Pradipa sebenarnya menyuruh para anak buahnya untuk segera meninggalkan arena perkemahan itu begitu mereka selesai menjalankan misi mereka masing-masing. Namun hanya beberapa saja yang menuruti perintah Pradipa, sementara yang lainnya lebih memilih untuk bertarung sampai mati mengingat Pradipa dan ketujuh rekannya itu bernait untuk mengorbankan nyawa demi keberhasilan misi dari serangan kejutan pada dini hari itu.
Pradipa terus mengayunkan senjatanya, menebas apapun yang ada di hadapannya. Ia tak peduli lagi dengan apapun. Beberapa pukulan atau tebasan pedang sesekali mendarat di tubuhnya. Tubuh Pradipa telah basah oleh darah. Beberapa rekan pendekar yang menemaninya mulai berguguran satu demi satu.
Tanpa ragu dan takut sedikitpun, Pradipa terus bergerak. Sesekali ia menghindari serangan lawan, namun dengan cepat ia membalasnya. Pradipa memilih untuk selalu berada dalam kepungan lawan. Dengan begitu ia bisa membunuh sebanyak mungkin lawan dengan sabetan pusakanya yang berbahaya itu. Sementara, lawan-lawannya akan kebingungan untuk menyerang dengan maksimal karena jika mereka menyerang Pradipa dengan energi tinggi dan jika Pradipa berhasil menghindar, maka serangan itu justru akan mengenai orang-orang Swargabhumi lainnya yang mengepung pendekar berparas tampan itu.
Hanya saja, Pradipa bukan seseorang yang memiliki kekuatan abadi. Sebaik apapun ia bertarung pada dini hari itu, maka tenaganya akan habis juga. Darahnya sudah banyak yang tercurah, dan gerakannya menjadi melambat. Sesekali ia jatuh, namun semangatnya seolah membuat tubuhnya tak mau menyerah dengan rasa sakit, dengan serangan lawan yang mulai bertubi-tubi mendarat di tubuhnya.
‘Inikah akhir dari petualanganku? Aku tak akan menyesal. Aku tak pernah menyesali kematian ini.’ Batin Pradipa. Pandangan matanya semakin buram. Rekan pendekar lainnya telah mati mendahuluinya. Dan ketika Pradipa sudah tampak tak berdaya, tak ada seorangpun dari pihak Swargabhumi yang mau memberikan pukulan untuk mengakhiri nyawanya. Bukan karena mereka kasihan, tapi mereka khawatir jika Pradipa masih memiliki sedikit tenaga untuk mengayunkan pedangnya itu. Mereka hanya menunggu Pradipa yang roboh perlahan-lahan. Pedangnya lenyap seperti di telan bumi.
__ADS_1