Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 160 Apakah Cinta sejati Itu Ada?


__ADS_3

Malam semakin larut, Batari Mahadewi belum bisa memejamkan matanya, sementara Nala memang tak akan tidur, sebab dalam tidurnya ia tak akan bisa mengendalikan kesadarannya dan pada saat itulah pangeran kegelapan yang terkunci di dalam tubuhnya akan berusaha mengambil alih dirinya; kesadaran yang ia miliki saat itu.


Semakin Nala bertambah kuat, maka semakin kuat pula bayang-bayang gelap yang tersembunyi dalam jiwanya. Pada malam hari, ketika hampir semua manusia tenggelam dalam setiap mimpi mereka, maka Nala hanya duduk bersila. Kadang ia hanya menyatukan dirinya dengan alam, mengalirkan segala perasaan dan pikirannya, dan menajamkan inderanya. Namun sesekali ia juga melatih pikirannya; mengingat kembali semua pertarungannya, mengoreksi kelemahannya, serta memikirkan cara-cara baru untuk menaklukkan lawan dengan cepat.


Di alam terbuka, Nala tak pernah melihat Batari Mahadewi tertidur. Di tempat-tempat lain yang mereka singgahi, mereka selalu berpisah ruangan. Baru kali ini saja ia satu ruangan dengan Batari Mahadewi. Nala melirik gadis cantik yang tengah berbaring di ranjang itu. Ia tahu gadis itu belum tertidur.


“Kau belum berhasil tidur, Tari?” tanya Nala.


Batari Mahadewi membuka matanya, lalu ia tertawa kesal. “Ya, sungguh sial sekali. Tidur di kamar mewah dengan ranjang yang empuk ternyata tak semudah yang aku kira. Kalau kau mau, kau saja yang tidur di ranjang, aku duduk di situ.”


“Aku tak mau tidur.” Kata Nala.


“Kau takut bayangan gelap itu mengganggumu?” tanya Batari Mahadewi.


“Semakin aku bertambah kuat, semakin kuat pula bayangan itu ingin merebut kesadaranku. Aku sama sekali tidak takut dan tak peduli dengan keselamatanku. Aku hanya cemas, jika aku kalah dengan bayangan hitam itu, kekuatanmu saat ini tak akan bisa menghentikanku. Aku berkata yang sesunguhnya.” Kata Nala. Ia memang benar-benar berkata serius. Wajahnya terlihat sedikit tegang.


Batari Mahadewi bangkit dari posisi tidurnya, lalu ia duduk di tepi ranjang sembari menggelung rambutnya seperti penampilannya sehari-hari.


“Apakah aku bisa menolongmu, Nala?” tanya Batari Mahadewi.


“Bagaimana caranya, Tari? Aku sendiri sungguh tak tahu.” Jawab Nala. “Ah, sebaiknya kita tak membicarakan hal ini. Kau punya sesuatu yang menarik untuk dibicarakan?

__ADS_1


“Hal menarik? Hmm…apa yang menarik menurutmu?” tanya Batari Mahadewi.


“Hahaha, kau malah berbalik menanyaiku! Tak ada pastinya. Kalau begitu, apakah kau punya hal tidak menarik untuk dibicarakan?” tanya Nala.


“Hahaha, kita seperti orang bodoh! Hmm…dulu aku pernah bertanya kepadamu, dan sekarang aku akan menanyakan hal yang sama. Apa yang akan kau lakukan setelah kita kembali ke dunia kita?” tanya Batari Mahadewi.


“Aku akan menemanimu melawan bangsa raksasa yang kau ceritakan itu. Jika tidak, mungkin aku akan mencari kakakku.” Jawab Nala.


“Jika kau mencari kakakmu, setelah bertemu dengannya, apa yang akan kau lakukan? Apakah kau akan mengikutinya terus seperti sebelumnya?” tanya Batari Mahadewi.


“Itu yang aku tak tahu. Sejujurnya, aku seolah tak memiliki tujuan hidup untuk diriku sendiri. hanya ada dua pilihan saja, membantumu, atau menjaga kakakku yang terlalu tergila-gila dengan pertarungan demi kematian yang terhormat. Dulu aku juga berfikir seperti itu, hidup untuk berkelana mencari kematian yang terhormat, lalu aku bertemu denganmu, bertarung denganmu, tapi kini kurasa itu adalah hal yang bodoh.” Jawab Nala.


“Ceritakan padaku, hal menarik apa yang kau pelajari?” tanya Nala.


“Salah satunya tentang tujuan hidup. Tubuh kita ini adalah tubuh hewan. Tanpa campur tangan dari pengetahuan yang diajarkan kepada kita dari orang lain, maka kita adalah hewan yang tujuannya hanyalah bertahan hidup dan berkembang biak. Tapi kita juga punya pikiran yang membuat kita bisa melampaui hewan, bahkan iblis atau dewa sekalipun, atau lebih buruk dari ketiganya. Kita punya perasaan yang menjadi jembatan untuk menyeimbangkan tubuh dan pikiran kita.” Kata Batari Mahadewi.


“Jadi…eee…lalu soal tujuan hidup tadi?” tanya Nala.


“Tujuan hidup yang kita bicarakan saat ini adalah tujuan hidup dalam pikiran manusia. Apa yang membuat kita memiliki tujuan? Tentu saja adalah hal-hal di luar diri kita, hal-hal yang membuat kita bergerak karena menginginkannya. Justru perasaanlah yang diam-diam menggerakkan pikiran dan tubuh kita. Kau akan memiliki tujuan jika kau mencintai sesuatu atau mengharapkan sesuatu yang belum kau dapatkan. Kau tak akan pernah mendapatkannya.” Kata Batari Mahadewi.


“Sungguh? Maksudku, kita tak akan mungkin mendapatkan apa yang kita inginkan?” tanya Nala tak mengerti dengan apa yang dituturkan oleh Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Kita pasti memiliki keinginan bukan, keinginan atas suatu hal yang kita harapkan atau kita cintai, atau apalah istilahnya. Keinginan itulah yang mendorong tubuh dan pikiran kita bergerak, terus bergerak untuk mendapatkannya. Setelah kita mendapatkan apa yang kita mau, keinginan kita sudah tak lagi di sana. Keinginan kita tiba-tiba berada di balik hal yang kita dapatkan. Selalu seperti itu, sehingga keinginan kita seolah tak pernah padam. Justru karena itulah, justru karena kita tak benar-benar mendapatkan apa yang kita inginkan, maka kita tetap terus bergerak dan melangkah, menciptakan hal baru, menciptakan kehidupan, menciptakan makna baru.” Kata Batari Mahadewi.


“Jadi, jika ada seseorang yang mengatakan bahwa ia bahagia dengan apa yang ia peroleh, berarti dia bohong? Atau hanya pura-pura bahagia?” tanya Nala. Lelaki itu tak benar-benar bertanya, hanya ingin tahu apa yang ada dalam pikiran gadis yang belakangan ini selalu menyita pehatiannya itu.


“Kebahagiaan, kesenangan, kecemasan, ketakutan, dan segala perasaan kita, hanyalah sesaat.” Jawab Batari Mahadewi.


“Bagaimana dengan cinta? Apakah hanya sesaat juga?” tanya Nala.


“Kita akan terus jatuh cinta jika kita tak mendapatkan apa yang kita cintai. Yang dialami oleh pasangan sehidup semati, pasangan yang setia hingga mati, itu adalah kesepakatan, itu adalah janji; sebab keduanya memiliki tujuan cinta yang sama. Hanya jika mereka teguh untuk setia pada janji, maka mereka bisa bertahan hingga kematian memisahkan mereka. Dan di saat kehilangan, maka cinta itu hadir kembali; cinta yang serupa seperti ketika salah satu yang ditinggalkan merasa jatuh cinta untuk pertama kalinya.” Kata Batari Mahadewi. Gadis itu menguap, lalu beranjak kembali ke ranjang, mencoba keberuntungan agar berhasil tidur.


“Tunggu, kau tak bisa meninggalkanku dengan pertanyaan yang masih mengganjal di kepalaku!” kata Nala sedikit jengkel.


“Sudahlah Nala, kita lanjutkan besok lagi. Pertanyaan-pertanyaan seperti itu tak akan pernah ada habisnya untuk dijawab.” Kata Batari Mahadewi.


“Cinta sejati! Bagaimana dengan cinta sejati?” tanya Nala dengan semangat menggebu-gebu.


“Itu hanya dongeng, hanya kiasan para pujangga untuk melukiskan perasaannya atas cinta yang tak pernah ia dapatkan, sehingga cinta sejati seolah-olah ada. Coba kau ingat-ingat, dari mana kau mendapatkan kata itu? dari orang lain, bukan?! Dari orang-orang yang belum mendapatkan apa yang ia cintai bukan?! Lalu ia mencoba mendapatkannya dengan cara mengatakan bahwa cintanya adalah cinta sejati…Engkaulah cinta sejatiku, wahai pujaan hatiku… Kau jangan pernah menjadi seperti itu, Nala.” kata Batari Mahadewi.


“Tapi seandainya orang yang kau cintai mengatakan kepadamu seperti ini; Kekasihku, kaulah cinta sejatiku… Bukankah kau senang mendengarkannya?” ejek Nala.


Batari Mahadewi tak menjawab. Ia pura-pura tertidur pulas. Malam semakin jauh menyeret keduanya kedalam kesunyian, dan keduanya tiba-tiba memikirkan tentang cinta; Nala memandang tiga rembulan di angkasa, Batari Mahadewi memandangi tembok yang ada di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2