Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 102 Enam Murid Ki Gading Putih


__ADS_3

Ribuan burung hitam yang terbang di atas kota Swargadwipa hanya berputar-putar sejenak, lalu terbang menjauh. Batari Mahadewi adalah salah satu dari sekian pendekar yang menyadari bahwa kawanan burung itu adalah jelmaan pendekar aliran hitam yang datang untuk mengintai kerajaan Swargadwipa. ‘Jika mereka telah melakukan pengintaian, maka mungkin sebentar lagi mereka akan datang ke sini, atau mungkin tidak sama sekali.’ Batin Batari Mahadewi.


Ribuan burung itu berada jauh tinggi di langit sewaktu mereka terbang berputar-putar di atas kerajaan Swargadwipa. Jika mereka terbang rendah, maka pancaran energi hitam akan dapat dengan mudah tertangkap oleh para pendekar yang ada di kerajaan Swargadwipa dan hal itu akan sangat merugikan pergerakan kelompok alirn hitam apabila rencana mereka diketahui oleh pihak kerajaan.


Sayangnya, Mahapatih Siung Macan Kumbang yang telah banyak makan asam garam dalam dunia militer masih bisa mengendus rencana kelompok pendekar aliran hitam yang telah tersusun rapi itu. meski demikian, sang mahapatih masih belum mengetahui seberapa besar kekuatan kelompok aliran hitam tersebut.


####


Sementara itu, di dalam balai latihan khusus, Mahapatih Siung Macan Kumbang ingin mengetahui sejauh mana Jalu telah mengasah kemampuannya selama beberapa tahun menimba ilmu kepada Ki Gading Putih, salah satu sosok pendekar aliran putih yang sangat dihormati oleh pihak keluarga kerajaan.


“Nak Jalu, paman ingin tahu, sejauh mana kamu telah belajar ilmu kanuragan kepada eyang Gading Putih. Maka, di ruangan ini, tunjukkanlah seluruh kekuatan yang ada dalam dirimu. Paman akan melihat dari jauh.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Paman yakin?” tanya Jalu masih bimbang.


“Ya, kenapa tidak.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Maksudku, apakah paman yakin kalau bangunan ini cukup kuat? Mungkin pancaran energiku akan mengundang orang-orang datang ke sini.” Kata Jalu.


“Kita lihat saja. Kalau gedung ini rusak, berarti memang tak layak digunakan lagi sebagai ruangan khusus.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Baiklah kalau begitu, paman.” Jalu kemudian bersiap. Perlahan ia memancarkan energinya hingga batas puncak yang ia miliki. Pancaran energi itu dengan sendirinya memancarkan hawa panas meski Jalu belum mengubahnya dalam wujud api. Mahapatih Siung Macan Kumbang yang melihatnya dari jauh harus juga menggunakan tenaga dalamnya agar tak terdorong oleh pancaran energi yang dikeluarkan oleh Jalu.

__ADS_1


Selang beberapa saat kemudian, Jalu mulai memancarkan api dari seluruh tubuhnya. Mata Mahapatih Siung Macan Kumbang terbelalak melihat pemandangan itu. ‘Tak kusangka anak itu memiliki tubuh api, dan ilmunya hampir mendekati pendekar legendaris. Bahkan kalau hari ini aku bertanding dengannya, aku mungkin akan kalah.’ Batin Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Tembok balai latihan kusus itu bergetar dan mulai menunjukkan retakan. “Cukup, Jalu.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang menghentikan Jalu sebelum pancaran energinya membuat balai latihan khusus itu semakin rusak parah. Beberapa pendekar yang tersebar di perumahan prajurit, termasuk Buyung, Anjani dan Cendana, langsung melesat ke arah balai latihan khusus ketika mereka menangkap getaran energi itu karena mereka mengira telah ada pertarungan serius di sana.


“Adik Jalu!” Kata Cendana. Dialah kakak seperguruan yang paling dekat dengan Jalu dan dia sangat keget mengetahui perkembangan pesat yang dialami oleh adiknya itu. “Kapan kau datang?”


“Kemarin kak Cendana, salam hormat untuk kak Anjani dan kak Buyung.” Kata Jalu memberi hormat.


“Kau hanya sendirian saja? Bagaimana kabar guru?” tanya Buyung.


“Panjang ceritanya, kak Buyung, tapi aku datang ke sini dengan Niken, dan adik baru kita di perguruan, Batari Mahadewi namanya. Mereka berdua sedang di wisma tamu. Sudah sekian bulan kami menjalankan tugas dari guru.” Kata Jalu.


“Kalau begitu, mari kita ke wisma tamu, aku ingin bertemu dengan adik kelima dan adik terakhir.” Kata Anjani.


“Tentu saja, hahaha, silahkan. Aku akan ke wismaku dulu. Sudah dua hari aku tak pulang.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Keempat murid padepokan Cemara Seribu itu berjalan menuju wisma tamu. Niken dan Batari Mahadewi masih ada di ruang tamu, sedang bercakap dengan seseorang yang berwajah tampan. Tentu saja orang itu adalah Pradipa, sang pendekar Bintang Timur.


Niken sangat terkejut dengan tiga orang yang berjalan bersama jalu. Dengan antusias ia berlari menyambut ketiga kakak seperguruannya yang telah lama menjalankan tugas dari guru mereka. Sementara batari Mahadewi hanya diam memperhatikan kelima kakaknya itu. Ia belum mengenal ketiga kakak pertamanya sehingga ada rasa canggung untuk menyambut seperti yang dilakukan oleh Niken. Pradipa pamit undur diri tanpa harus diminta. Ia cukup paham kalau keenam murid ki Gading Putih itu ingin berbincang secara khusus.


####

__ADS_1


Sementara itu, di wilayah lain yang tak terlalu jauh dari kota Swargadwipa, kira-kira tiga hutan yang luas jaraknya, Vidyana dan Nala bertemu dengan dua pendekar aliran hitam yang berasal dari pulau Neraka. Tanpa harus berkenalan lebih jauh, sesama pendekar dari pulau neraka bisa saling mengetahui bahwa mereka berasal dari tanah kelahiran yang sama.


Setelah Vidyana tak mendapatkan hasil dari yang ia harapkan ketika ia mendapatkan banyak mustika alam untuk adiknya, ia tak lagi punya tujuan tertentu. Vidyana dan Nala hanya ingin berkelana saja, dan bertarung dengan pendekar manapun, tak peduli dari aliran hitam ataupun aliran putih.


“Kalian datang kemari apa juga karena undangan khusus?” tanya Bisnu, pendekar Serigala Neraka yang datang ke pulau Mahabhumi bersama dengan rekannya, Raka, sang pendekar Siluman Kupu-Kupu.


“Kami datang kemari atas kehendak kami sendiri.” Jawab Vidyana singkat.


“Apa tujuan kalian?” tanya Raka.


“Bukan urusan kalian.” Jawab Vidyana.


“Tatapan matamu seolah kamu ingin menantang kami. Benarkah demikian?” tanya Bisnu.


“Hanya jika kalian berani menantang maut.” Jawab Vidyana.


“Apakah gadis secantik dirimu bisa bertarung layaknya pendekar pulau neraka?” tanya Raka menghina.


“Kalian bukan apa-apa meski kalian bersama-sama mengeroyokku.” Kata Vidyana. Tak ada nada bergurau dalam ucapannya.


“Kurang ajar! Meski kita berasal dari tanah kelahiran yang sama, di sini jangan kau kira kami segan untuk bertarung dan membunuhmu.” Kata Bisnu. Amarahnya tersulut dengan sikap Vidyana yang ia rasa tak menghormatinya, terlebih, tak memiliki satu tujuan yang sama dengannya, yakni bergabung dengan pendekar Sayap Kematian yang akan memimpin seluruh pendekar dari pulau Neraka yang datang ke Swargadwipa.

__ADS_1


“Kalau begitu, tunggu apa lagi.” Kata Vidyana. Dengan cepat ia melesat ke arah Bisnu dan Raka yang tak menduga Vidyana akan langsung menyerang mereka berdua.


__ADS_2