
Kakek tua jelmaan naga penunggu danau Rembulan Merah itu tanpa pandang bulu menyerang siapapun yang ada dalam jangkauannya dengan menciptakan sulur-sulur air dari danau. Sulur-sulur air itu mirip tali panjang yang bergerak cepat menyambar puluhan pendekar dari kedua aliran, menjerat tubuh mereka, lalu menarik masuk ke dalam danau.
Beberapa pendekar berilmu tinggi bisa menangkis atau menghindari serangan dari ratusan sulur air yang bergerak kesegala arah. Namun bagi pendekar yang masih berilmu rendah, mereka hanya bisa pasrah ketika tubuh mereka terseret masuk ke dalam danau. Tak selesai di sana, energi dan tubuh mereka terhisap hingga tinggal kulit yang membungkus tulang mereka.
Kakek jelmaan naga merah itu seolah kelaparan dan tak terpuaskan dengan puluhan pendekar yang telah ia hisap energi hidupnya. Batari Mahadewi menyadari keadaan itu. Ia tak bisa segera menyerang kakek tua itu karena sulur-sulur air yang semakin banyak jumlahnya itu sungguh merepotkan. Sulur-sulur itu tak hanya terus-menerus mencari korban, namun juga menjadi benteng pertahanan yang mengelilingi kakek tua itu sampai beberapa lapisan.
“Kak Niken, pinjamkan tenagamu!” Teriak Batari Mahadewi. Niken dengan seluruh sisa tenaga yang dimilikinya, mengerahkan hawa dingin dan membuat sulur-sulur air itu membeku. Batari Mahadewi membantunya dengan memampatkan udara di sekeliling kakek tua jelmaan naga itu yang mencoba menahan himpitan udara yang memadat dan mendesak tubuhnya. Ia mengeluarkan hawa panas dari tubuhnya, lalu menghentakkan tenaganya dan membuat sulur-sulur air yang telah berubah menjadi es itu hancur berkeping-keping.
Dengan kecepatan kilat, kakek tua itu menyerang Batari Mahadewi, satu-satunya pendekar muda yang menjadi ancaman serius bagi sang kakek tua itu. Jika ia bisa menumbangkan Batari Mahadewi, maka ia akan dapat dengan mudah melibas sisa pendekar yang ada di sana dan menghisap seluruh energi hidup mereka untuk ia serap ke dalam tubuhnya.
Pertarungan antara Batari Mahadewi dan kakek tua itu terjadi begitu cepat dan tak dapat ditangkap dengan mata biasa. Jalu, Niken, Harimau Merah, Mawar Hitam, Raja Sihir, Pradipa dan seluruh pendekar yang ada di sana hanya bisa melihat. Mereka tak bisa begitu saja melontarkan serangan karena jika luput, maka serangan itu justru bisa mengenai Batari Mahadewi.
“Kemampuanmu tak buruk, gadis kecil. Kau pasti bukan manusia. Entah makhluk apa kau ini tapi terimalah seranganku ini.” Kata Kakek tua itu sambil menghujani Batari Mahadewi dengan pukulan-pukulan tenaga dalam yang memancarkan cahaya merah.
__ADS_1
Batari Mahadewi menahan serangan itu dengan menyilangkan tangan logamnya. Pukulan-pukulan itu tak menyakitkan, namun perkataan yang baru saja diucapkan kakek tua itu sangat mengganggu pikirannya dan konsentrasinya. Kakek tua itu menyebutku bukan manusia? Batin Batari Mahadewi terguncang. Kakek itu satu-satunya makhluk yang bisa meruntuhkan pertahannya secara tak sengaja.
Batari Mahadewi tak menyadari kalau kakek tua itu kini sudah berada di belakangnya, menghujamkan pukulan yang sangat keras yang membuat tubuh Batari Mahadewi meluncur ke bumi, lalu menghantam permukaan tanah hingga tercipta ledakan.
Niken, Jalu dan semua pendekar di sana sangat terkejut. Tanpa pikir panjang, mereka melakukan serangan secara bersamaan ke arah kakek tua itu. hanya dengan satu kibasan tangan, kakek tua itu dengan mudahnya menangkis semua serangan yang datang ke arahnya. Setelah itu, ia menghujani pukulan-pukulan tenaga dalam ke arah lawan-lawannya, seketika semua bubar.
Raja Sihir mengerahkan jurus-jurusnya. Setidaknya ialah pendekar aliran hitam yang terkuat yang ada di sana. Ia menciptakan ilusi berbagai jenis monster yang menyerang kakek tua itu secara bersamaan. Ilusi itu tak hanya angin kosong, raja sihir mengalirkan tenaga dalam dan racun sehingga membuat boneka-boneka ciptaannya itu menjadi senjata yang berbahaya.
Kakek tua itu terlambat menyadari bahwa Batari Mahadewi telah melesat cepat sambil menghunuskan lengan kanannya yang melontarkan jurus tapak petir. Terlambat untuk menghindar, kakek tua itu hanya menahan serangan Batari Mahadewi dengan perisai energi. Ledakan besar terjadi ketika telapak tangan Batari Mahadewi menyentuh perisai energi kakek tua bersisik merah itu. Tubuh kakek tua itu seketika terpental jauh.
Jalu dan Niken yang berada tak jauh dari tempat kakek itu terjatuh segera memanfaatkan kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga, Jalu melontarkan jurus pukulan Api Matahari ke arah kakek tua itu. tubuh kakek tua itu terbakar, namun tak ada tanda-tanda energinya melemah. Selanjutnya, Niken menghujamkan puluhan tombak es ke tubuh kakek tua itu. Sayangnya, kulit kakek tua itu seolah terbuat dari besi yang tak bisa ditembus dengan serangan es Niken.
Dengan tubuhnya yang masih berasap, kakek tua itu membalas Jalu dan Niken dengan pukulan tenaga dalam. Jalu dan Niken terpental ke belakang. Pradipa dengan tiba-tiba muncul dan mengayunkan pusaka sakti miliknya. Pusaka itu hanya ditangkis dengan lengan kosong kakek tua itu, selebihnya Pradipa menerima pukulan telapak tangan dari sang kakek tua dan pukulan itu tak hanya membuat Pradipa terpental jauh, namun juga meninggalkan bekas cakar di dadanya. Beruntung ia hanya muntah darah.
__ADS_1
Batari Mahadewi kembali menjerat kakek tua itu dengan udara. Kini Batari Mahadewi menggunakan energi yang besar untuk membungkus kakek tua itu dalam bola udara yang padat, menghimpitnya hingga kakek itu tak bisa bergerak.
Kakek itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk melepaskan diri dari jeratan udara padat itu. Bola udara yang mengurungnya meledak hebat. Ledakannya membuat semua benda di sekitar itu, bahkan pepohonan, ikut terlontar jauh. Setelahnya, kakek tua itu mulai terkuras energinya. Ia hanya bisa mengisi energi dengan menyerap daya hidup manusia. Butuh waktu untuk melakukannya, sementara Batari Mahadewi masih menjadi ancaman serius.
Batari Mahadewi tak mau menyianyiakan kesempatan itu, ia sekali lagi meluncur ke arah jelmaan naga merah itu dan menghujaninya dengan pukulan-pukulan yang sangat cepat. Beberapa pukulan dapat di tangkis, namun beberapa pukulan juga telah mendarat di tubuh kakek itu. Lengan logam keemasan Batari Mahadewi mampu memberikan efek yang menyakitkan bagi kakek tua itu meskipun tubuh kakek itu kebal dengan serangan Jalu, Niken, ataupun pendekar Raja Sihir.
Harimau Merah dan Mawar Hitam yang sedari tadi hanya menonton, akhirnya ikut memberikan sumbangan serangan. Meski tak sekuat Batari Mahadewi, keduanya memiliki pengalaman bertarung selama bertahun-tahun di dunia persilatan. Serangan kedua pendekar hitam itu menjadi cukup berarti ketika kakek tua itu telah kehilangan banyak tenaga.
Kakek tua itu menjadi bulan-bulanan. Namun ia tak juga menunjukkan tanda-tanda menyerah, sesekali ia melakukan serangan balasan yang masih cukup berbahaya. Pendekar Mawar Hitam menghujani kakek itu dengan ribuan jarum beracun. Ketika energi kakek tua itu melemah, jarum-jarum kecil yang mengandung racun tingkat tinggi itu berhasil menembus kulitnya.
Sekelita kulit kakek tua itu melepuh dan berasap. Kakek tua itu berteriak melolong, dan perlahan ia kembali ke wujud aslinya, yakni seekor naga merah besar yang marah. Melalui perubahan bentuk itu, energi sang naga merah kembali lagi meski tak sepenuhnya. Energi itu cukup menjadi ancaman baru ketika semua pendekar di sana sudah kehilangan banyak energi.
Naga itu menyemburkan asap merah yang sangat tebal. Asap merah itu tak hanya menyamarkan keberadaan tubuh sang naga merah itu, namun juga mengandung racun. Beberapa pendekar yang tersapu dengan semburan asap itu langsung roboh tak sadarkan diri.
__ADS_1