
Batari Mahadewi dan Nala terbang melintasi belantara salju. Mula-mula keduanya ingin mengetahui seberapa luas dunia putih yang terhampar di sekeliling mereka. Sejauh-jauhnya mereka terbang, mereka tak menemukan tepi dari dunia itu dan tak menemukan apapun selain hamparan salju.
“Sudah berhari-hari kita mencoba untuk menjelajahi dunia ini dan tak menemukan apapun.” Kata Nala.
“Dan kita tak akan bisa keluar dari tempat ini jika kita tak menemukan sumber energi yang kita cari.” Ujar Batari Mahadewi.
“Sepertinya kita melewatkan petunjuk yang disampaikan nenek itu.” kata Nala.
“Petunjuk?” ujar Batari Mahadewi.
“Bahwa untuk menemukannya, kita harus mengasah perasaan. Terbang berkeliling jelas bukan caranya. Mencoba menangkap pancaran energinya kurasa juga bukan.” Kata Nala.
“Mungkin yang dimaksud dengan menggunakan perasaan berbeda dengan merasakan pancaran energi sumber utama.” kata Batari Mahadewi.
“Lantas perasaan yang bagaimana yang dimaksudkan?” ujar Nala.
“Ketika kita merasakan pancaran energi, kita menggunakan seluruh indera tubuh kita untuk menangkapnya. Perasaan yang dimaksudkan sebagai cara untuk merasakan barangkali adalah perasaan dari hati kita masing-masing. Ini yang kita tak tahu bagaimana caranya. Sebagai petarung, kita tak terlatih menggunakan perasaan dari hati kita untuk menyerang lawan, atau bertahan dari serangan lawan.” Kata Batari Mahadewi.
“Tapi dengan perasaan, kita bisa menentukan nasib lawan kita, dengan perasaan kita juga akan menentukan apakah kita akan bertarung atau tidak. Kadang kita merasa berani, kadang takut, kadang kasihan, kadang ragu, dengan perasaan yang kita miliki itu kemudian kita menentukan langkah apa yang akan kita lakukan.” Kata Nala.
“Kau benar sekali Nala. Aku sepakat denganmu. Kita juga mempunyai perasaan semacam itu. Tapi untuk menemukan sumber energi utama, dengan perasaan apa kita bisa menemukannya?” ujar Batari Mahadewi.
Kedua pendekar itu tak tahu harus berbuat apa lagi. Keduanya turun ke permukaan salju. Nala berjalan beberapa langkah membelakangi Batari Mahadewi. Matanya menatap lurus ke depan dan ia terdiam dalam waktu yang cukup lama, lalu kemudian ia duduk bersila, mengheningkan tubuh dan pikirannya.
Batari Mahadewi tak mau mengganggu Nala. ia biarkan saja lelaki itu duduk bersila, tanpa ia ingin mengajak Nala berbicara lagi. Gadis itu kemudian merebahkan tubuhnya ke hamparan salju yang lembut dan dingin. Matanya menatap ke angkasa. ‘Tak ada matahari di sini, tapi dari mana asalnya cahaya yang menerangi dunia ini? Segala sesuatu bisa jelas terlihat meski semua hanya berwarna putih.’ Batari Mahadewi mencoba untuk tak berfikir apa-apa.
Tubuh Batari Mahadewi dan Nala merasakan sensasi dingin dari alam di sekitar mereka berdua. Dalam suasana sunyi, kenangan-kenangan mereka berdua melintas dalam pikiran. Kenangan atas kehidupan di masa lalu yang telah mereka alami. Keduanya merasakan hal yang sama; kesepian. Keduanya rindu akan suatu hal yang tak mereka tahu. Hanya rindu, entah kepada apa.
__ADS_1
Perasaan kesepian dan rindu yang dialami oleh Batari Mahadewi dan Nala mengantarkan keduanya pada suatu imaji akan kehidupan biasa, imaji bahwa mereka hanyalah manusia biasa yang tak punya kekuatan seperti yang mereka miliki; manusia biasa yang hidup biasa saja di sebuah desa yang sepi bersama beberapa manusia lainnya. Entah kenapa, kedua insan itu punya imaji yang sama.
Imaji sederhana itu membuat keduanya tersadar akan suatu hal; keduanya mencintai kehidupan manusia yang damai. Cinta yang mereka alami itu adalah cinta yang lebih luas dari hasrat tubuh, cinta yang lebih teduh dari keinginan duniawi. Rasa rindu dan rasa kesepian yang mereka rasakan tiba-tiba membuat keduanya merasa bahagia dan tak menginginkan apa-apa. Pada saat itulah, tiba-tiba mereka berdua sudah tak ada lagi dalam dunia belantara salju.
Masing-masing dari kedua pendekar dunia satu rembulan itu berada dalam sebuah kristal es raksasa. Keduanya tak bisa bergerak dan tak bisa melakukan apa-apa. Tubuh mereka membeku. Kedua kristal es yang mengurung Nala dan Batari Mahadewi itu melayang di dunia kosong. Tak ada apa-apa di sana selain kedua kristal es itu. Keduanya terkurung dalam kristal es itu selama tiga tahun lamanya.
Selama tiga tahun dalam kurungan kristal es raksasa itu, tubuh Batari Mahadewi dan Nala tumbuh sebagaimana energi murni dari es terus menerus merasuk dan turut membentuk tubuh mereka. Tiga tahun adalah waktu yang lama, namun di dalam kurungan kristal es itu, Batari Mahadewi dan Nala tak merasakan kehadiran waktu.
Pada waktu yang sama, kedua kristal es itu pecah berhamburan. Batari Mahadewi dan Nala terbebas dan keduanya merasakan kembali tubuh mereka yang jauh berbeda dari sebelumnya, baik ukuran tubuh mereka hingga kekuatan yang mereka miliki. Segel ke delapan dalam tubuh Batari Mahadewi telah terbuka. Begitu keduanya terbebas, keduanya telah berada di suatu tempat di pulau es.
“Sepertinya kita telah berhasil keluar dari dunia di dalam cermin itu, Nala. Lihatlah, langit di angkasa itu adalah langit yang menaungi pulau Es.” kata Batari Mahadewi.
“Kita telah berhasil memiliki kekuatan murni dari energi es, Tari. Tapi di mana posisi kita saat ini?” ujar Nala.
“Apakah kalian berdua lupa? Inilah tempat pertama kalinya kalian menginjakkan kaki di pulau Es.” Tiba-tiba terdengar suara dari belakang Batari Mahadewi dan Nala.
“Hahaha, selamat, kalian berhasil melaluinya. Kini kalian memiliki kekuatan yang jauh lebih hebat dari sebelumnya. Hanya saja, kalian mungkin tak bisa menggunakan kekuatan es dan kekuatan api secara bersamaan. Tapi entahlah, kita tak akan pernah tahu jika tak mencobanya. Apakah kalian mau mencoba menunjukkan kekuatan baru kalian?” tanya sang nenek, roh penjaga sumber energi utama pulau Es.
Batari Mahadewi memancarkan energi es yang ia miliki. Pencapaiannya jauh melebihi pencapaian Ebe atau para manusia pulau Es sebelumnya yang telah berhasil mengambil kekuatan dari sumber energi utama pulau Es. Dengan menggunakan dasar energi dingin, Batari Mahadewi terlihat seperti putri salju. Seluruh tubuhnya memutih, bahkan rambut hitamnya berubah warna menjadi putih.
Hanya dengan memancarkan energinya saja, Batari Mahadewi tanpa sengaja menciptakan hawa dingin yang pekat di sekitarnya. Hawa dingin itu membuat salju di sekitarnya beubah menjadi kristal es yang keras.
“Luar biasa sekali kekuatanmu, Tari. Sekarang aku ingin melihat perkembanganmu, Nala.” kata nenek itu. Nala mengubah tubuhnya menjadi salju dan ia bergerak menyusup lalu melebur menjadi satu dengan salju-salju di sekitarnya. Tak lama kemudian, ia hadir kembali dalam wujud yang mengesankan; ia menggunakan salju di sekelilingnya untuk menjadi satu dengan dirinya, lalu ia berubah menjadi raksasa salju yang sangat besar.
Tak berhenti di sana, Nala membelah dirinya menjadi dua bagian. Pada bagian pertama, ia masih menjadi raksasa salju, sementara bagian kedua, Nala mengubah material salju menjadi material api sehingga yang tampak di depan Batari Mahadewi dan nenek itu adalah dua sosok nala yang berukuran raksasa; Nala salju dan Nala api. Keduanya sama-sama memiliki pancaran energi yang kuat dan seimbang. Perkembangan dan perubahan wujud Nala benar-benar membuat Batari Mahadewi sangat terkesan dengan kemampuan pemuda itu.
“Bagus sekali, Nala. Kini kau sangat luar biasa. Kau mematahkan pendapatku bahwa tak ada yang bisa menggunakan kekuatan api dan es secara bersama-sama. Kau membuktikan bahwa kau bisa.” Kata sang nenek.
__ADS_1
“Terimakasih banyak, Nek, tanpa bantuan nenek maka kami tak akan mungkin mendapatkan kekuatan ini.” Kata Nala.
“Hahaha, tak masalah, cucu-cucuku. Kini perjalanan kalian tinggal setengah lagi. Bukankah kalian harus menuju ke pulau Halilintar?” tanya sang nenek.
“Benar sekali nenek.” Jawab Batari Mahadewi.
“Untuk mendapatkan kekuatan dari sumber energi utama di pulau itu tidak sesulit di pulau Api dan pulau Es sebab kalian telah memiliki dua jenis kekuatan utama dari dunia kami. Sekarang, pergilah ke sana.” Kata nenek itu.
“Tapi kami belum berpamitan dengan tetua Ebe dan semua warga pusat kota pulau Es.” kata Batari Mahadewi.
“Tak perlu. Ebe sudah tahu bahwa kalian ada di sini hari ini. Jadi kalian bisa berangkat sekarang.” Kata nenek itu.
“Baiklah kalau begitu, nenek, kami akan berangkat ke pulau Halilintar sekarang juga.” Kata Nala.
“Selamat tinggal.” Kata Nenek itu.
Batari Mahadewi dan Nala melesat ke angkasa dan terbang ke arah utara untuk menemukan pulau Halilintar. Dengan kekuatan yang mereka miliki, keduanya bisa terbang dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi dari sebelumnya. Hanya dalam waktu tiga hari, akhirnya mereka sampai juga di kepulauan Halilintar.
“Ini merupakan pertama kalinya kita bisa terbang tanpa merasa lelah dan tanpa butuh istirahat. Dalam tiga hari saja kita sudah sampai di pulau ini. Menurutmu, benar di sini kan?” tanya Nala.
“Menurut peta, memang benar inilah letaknya. Tapi pulau Halilintar adalah kepulauan. Lihat gambar ini, pulau yang paling besar ini mungkin adalah pulau utama.” Kata Batari Mahadewi.
“Belum tentu. Hanya selisih sedikit saja dengan pulau-pulau di sebelahnya. Dan kita tak tahu sedang menginjakkan kaki di pulau yang mana jika menurut gambar itu.” kata Nala.
“Kita tak akan pernah tahu jika tak menjelajahi pulau ini. Mungkin kita bisa bertanya kepada seseorang yang kita temui.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, jika memang ada manusia di pulau ini.” Ujar Nala. Keduanya kemudian berjalan menyusuri hutan belantara yang ada di pulau itu. Sesekali mereka berhenti untuk mengambil buah-buahan di hutan, atau mengamati berbagai jenis satwa yang ada di sana. Saat-saat seperti itu terasa sebagai hiburan tersendiri setelah menghabiskan waktu lama di pulau Es tanpa makanan dan tanpa pemandangan yang berwarna hijau.
__ADS_1
Ini dulu ya teman-teman, maunya aku upload 2 chapter sekaligus, tapi sampai jam segini chapter yang satunya belum jadi-jadi. Mampet ide aku. Maafkan, semoga chapter pendek yang ini bisa memberikan sedikit hiburan.