Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 42 Final dan Pertarungan Kejutan


__ADS_3

Seusai pertandingan, semua warga kembali ke tempat masing-masing dengan rasa penasaran siapakah gerangan besok yang akan menjadi juara sebagai pendekar muda bergelar di desa Atas Awan. Hari terasa cepat berlalu. Siang telah berubah menjadi petang.


Batari Mahadewi, Niken dan Jalu berbincang ringan seusai menyantap hidangan makan malam bersama Ki Elang Langit. Namun setelah jamuan makan malam itu, Ki Elang Langit pamit meninggalkan mereka karena ada urusan.


“Apakah adik yakin bisa mengalahkan Ki Elang Langit pada pertandingan esok hari?” tanya Jalu kepada Batari Mahadewi.


“Sejujurnya aku bingung, harus mengalah atau bagaimana…” Kata-kata Batari Mahadewi terdengar seperti lelucon, namun ia tak pernah salah dengan ucapannya. Jalu dan Niken masih belum mengetahui perkembangan besar yang dimiliki adik seperguruannya itu.


“Menurutku, adik harus jujur dalam pertandingan. Apabila adik mampu menang, maka jangan mengalah. Jika adik mengalah, barangkali hal itu bisa melukai perasaan orang-orang di sini.” Kata Jalu berpendapat.


“Ada resiko besar jika aku mengerahkan segala yang aku bisa lakukan untuk menandingi paman Elang langit…pertandingan kami bukanlah hiburan…tapi adalah hal yang sangat berbahaya. Semoga para warga yang menonton mau menjauh.” Kata Batari Mahadewi. Ia hendak menceritakan berbagai perubahan tubuhnya mulai dari kuku-kuku anehnya hingga sisik di kedua kakinya sehingga sejak perubahan itu ia mengenakan pakaian yang aneh, namun ia mengurungkan niatnya itu.


“Kak Jalu, tidakkah kakak mulai berfikir untuk memiliki pakaian khusus?” tanya Batari Mahadewi kepada Jalu.


“Maksud adik?” Tanya Jalu.


“Pakaian yang tak bisa terbakar api. Aku yakin sebentar lagi tubuh apimu akan sempurna. Jika hal itu terjadi, maka tubuh kak Jalu tak hanya akan memancarkan hawa panas, namun tiap pori-pori kulit kakak akan mengeluarkan api. Jika itu terjadi, aku khawatir kakak akan selalu telanjang bulat setelah bertarung. Kak Niken dan aku pasti akan malu melihatmu dengan situasi seperti itu.” Kata Batari Mahadewi bergurau dengan nada serius.

__ADS_1


“Hahahaha…itu pasti memalukan.” Kata Niken sembari tertawa terbahak-bahak.


“Hmm…pakaian apa yang bisa kupakai?” tanya Jalu.


“Logam. Tidak ada pilihan lain. Kecuali kakak bisa mengendalikan energi api milikmu itu agar tak keluar melalui pori-pori kulitmu. Maka pakaian kakak hanya akan sedikit hangus dan bau asap. Itupun kalau kakak memakai pakaian dengan bahan kulit. Sungguh sial siapapun nanti yang akan menjadi istrimu harus sering menjahitkan baju untukmu.” Lagi-lagi Batari Mahadewi mengatakan hal itu tanpa rasa bersalah.


Niken masih tertawa geli membayangkan hal yang tidak-tidak. Pipinya merah merona dan ia malu sendiri dengan apa yang ada di kepalanya saat itu. Tapi ia punya ide yang cemerlang. “Ku rasa, kita perlu berburu siluman naga api untuk membuatkan baju khusus buat kak Jalu. Kita akan ambil kulitnya karena kulit siluman itu tahan api.”


“Ya, kak Niken benar. Mungkin tak hanya tahan api, tapi juga kebal senjata dan serangan bertenaga tinggi. Kalau untuk menahan api saja, mungkin tak harus mencari siluman naga api. Kita bisa menggunakan kulit siluman yang lain yang telah berumur lebih dari 500 tahun. Siluman Bebek mungkin menarik. Kak Jalu jadi punya pakaian yang berbulu.” Kata Batari Mahadewi. “Sekaligus menjadi pendekar Bebek Api.” Kali ini Batari mahadewi tak bisa menahan tawanya. Ia tertawa lepas. Sudah lama sekali rasanya ia tak tertawa. Sebagian beban pikirannya mendadak hilang dan ia menemukan kedamaian.


Jalu tak bisa membalas gurauan dan ejekan Batari Mahadewi dan Niken kali itu. Ia hanya bisa ikut menertawakan dirinya sambil menggaruk-garuk kepala. Malam telah larut, mereka bertiga beranjak ke kamar masing-masing.


Keesokan harinya, halaman rumah Ki Elang Langit telah dipadati oleh warga desa Atas Awan yang ingin menonton pertandingan final kompetisi pendekar muda perguruan langit. Mereka tak tahu kalau di akhir sesi pertandingan final itu, Ki Elang Langit akan bertanding dengan Batari Mahadewi.


Seperti sebelumnya, Ki Elang Langit membuka acara itu dan menyampaikan beberapa pegumuman terkait dengan pertandingan final itu. Lalu ia memanggi Adrini dan Pancala untuk memasuki arena pertandingan. Keduanya bertatap muka mengucapkan salam, lalu bersiap memasang kuda-kuda.


Adrini tak mau ambil resiko untuk bertarung pada jarak dekat dengan Pancala setelah mengetahui kemapuan Pancala mengeluarkan pusaran angin melalui mulutnya. Ia juga tak mau jika Pancala mendekat dan menyerangnya terlebih dahulu. Sebagai gantinya, ia menggunakan jurus tapak angin dari jauh.

__ADS_1


Jurus itu mengandalkan energi besar untuk menciptakan dan mengubah angin di sekitar lawannya sebagai pukulan beruntun. Tak terlihat namun menyakitkan. Beberapa kali Pancala terkena pukulan itu, namun ia membalas serangan itu dengan jurus Bangau Menembus Langit. Jurus itu tak mengandalkan kekuatan angin, sebaliknya, jurus itu merupakan salah satu jurus yang bisa menangkal kekuatan angin.


Pancala menyerang Adrini dengan serangkaian gerakan indah dan cepat menembus tiap-tiap hentakan udara yan diciptakan Adrini. Perlahan Pancala mulai mendekati Adrini dan masih tetap melanjutkan rangkaian serangannya. Adrini tak punya pilihan selain bertarung dengan jarak dekat. Ia menggunakan jurus Angin Mengibas Hujan untuk menangkal serangan-serangan Pancala. Keduanya bertukar ratusan jurus dalam waktu yang cukup lama.


Kedua pendekar itu belum menampakkan tanda-tanda siapa yang lebih unggul. Penonton tak bisa berkedip menyaksikan pertarungan yang indah itu, seolah keduanya sedang melakukan atraksi bela diri yang berbahaya.


Sayangnya, kapasitas energi Pancala lebih besar dari Adrini. Sejak tadi Pancala sengaja ingin menguras tenaga Adrini tanpa membuat Adrini tersadar bahwa gerakan-gerakan fisik dalam pertarungan semacam itu juga menguras energi. Dalam hal itu, Pancala telah berhasil membawa Adrini pada tak-tik pertarungannya. Pancala tahu bahwa Adrini sudah memperkirakan bahaya dari jurus nafas pusaran angin miliknya. Ia sengaja seolah tak akan mengeluarkan jurus itu sebagai pamungkas.


Namun ketika energi Adrini sudah semakin menipis, Pancala bisa mengunakan jurusnya itu tanpa perlawanan yang berarti. Dalam jarak yang dekat, saat Adrini melancarkan serangankaian pukulan dan tendangan, Pancala mendapatkan celah untuk melilit Adrini dengan pusaran angin dari mulutnya. Adrini bernasib sama seperti Andaru, tubuhnya terbanting beberapa kali sampai ia menyerah.


Pancala keluar sebagai juara. Ki Elang Langit memberikan pengumuman berikutnya. “Saudara-saudariku, kini desa Atas Awan memiliki satu pendekar muda yang berbakat yang pantas mendapatkan gelar sebagai pendekar Nafas Langit. Gelar ini aku berikan atas keberhasilannya memenangkan pertandingan final ini, serta usahanya untuk menciptakan salah satu jurus yang mengejutkan kita semua sekaligus jurus ini juga memperkaya kita untuk semakin mengembangkan diri.”


“Jalan pendekar adalah jalan yang tak pernah habis kita telusuri. Kita tak boleh berpuas diri dengan apa yang telah kita capai. Kejutan selalu menanti kita di depan. Dan hari ini saya akan membuktikannya. Sebagai pertandingan penutup, hari ini saya akan bertanding dengan tamu istimewa kita, seorang pendekar dari Padepokan Cemara Seribu, Nona Batari Mahadewi.” Kata Ki Elang Langit. Ucapannya itu yang membuat heboh warga desa Atas Awan.


Seluruh penonton kaget tak percaya. Pertama karena mereka akan menyaksikan tetuanya, salah satu pendekar legendaris di dunia persilatan, akan bertarung. Kedua, lawannya adalah seorang gadis kecil. Hal itu terkesan konyol, namun mereka berfikir ulang, tak mungkin sang legenda akan bertarung melawan pendekar biasa saja. Namun mereka masih tak bisa percaya jika Batari Mahadewi memiliki kesaktian yang pantas untuk disandingkan dengan Ki Elang Langit.


Pastinya, bertarung dengan Ki Elang Langit merupakan sebuah kehormatan. Tak satupun dari semua warga yang hadir di sana pernah bertanding dengan Ki Elang Langit dan hanya ada empat orang saja yang seumur hidup pernah menyaksikan Ki Elang Langit bertarung dengan jurus-jurus hebatnya.

__ADS_1


‘Siapa gadis kecil itu? Apakah ini lelucon? Bagaimana bisa….’penonton mulai berceloteh. Batari Mahadewi naik ke atas arena. Ki Elang Langit memberikan satu pengumuman lagi. “Mohon bagi saudara dan saudariku untuk mengambil jarak ketika kami nanti akan melakukan pertandingan persahabatan.” Beberapa penonton menuruti kata Ki Elang Langit, beberapa lainnya masih bertahan karena mereka tak akan pernah menyangka bahwa bahaya ada di depan mata mereka.


__ADS_2