
Yuri memimpin arah perjalanan menuju ke gunung es utara. Hanya ia yang tahu tempat tinggal Samara, sang iblis kekelawar putih. Semua wilayah di sana tertutup salju putih yang tebal. Yuri menuju ke sebuah gunung tertinggi di pulau itu. Jika tempatnya masih sama, maka Samara ada di sebuah goa yang terletak di salah satu sisi dinding vertikal di gunung es yang menjulang tinggi itu.
Yuri melayang di salah satu sisi gunung itu, lalu ia menemukan sebuah dinding ilusi yang menjadi pintu masuk goa itu. Setelah membaca mantra, pintu itu terbuka. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan luas dengan sebelas peti mati dari es. Siluman kelelawar cenderung suka berdiam diri di dalam peti mati itu. Mereka hanya akan keluar jika hendak mencari makan, yakni darah.
Melihat peti-peti itu, Yuri sudah menduga bahwa Samara menjadikan anak-anaknya sebagai iblis kelelawar. Tetapi pastinya tak akan lagi murni, sebab darah pangeran kegelapan mengalir di tubuh anak-anaknya.
Hanya Andhakara saja yang mengikuti Yuri masuk ke dalam goa itu. Ratu Ogha dan Rodya memilih untuk menunggu di luar dan keduanya berjauhan. Tak mau mendekat satu sama lain. Selama perjalananpun, mereka tak ada yang saling dekat satu dengan lainnya.
“Kenapa mereka tak mau keluar, Yuri?” tanya pangeran Andhakara.
“Jika kita datang tetapi mereka tetap berada dalam peti, artinya mereka sedang dalam tidur panjang. Semua peti itu telah dilapisi pelindung, jadi kita tak bisa sembarangan menyentuhnya.”
“Lalu bagaimana?”
“Aku bisa memanggil kakakku.” Yuri mengeluarkan suara yang hanya bisa dipahami oleh para iblis kelelawar dan juga para kelelawar sungguhan.
Beberapa saat kemudian, salah satu peti yang ada dalam ruangan itu memancarkan cahaya merah. Terlihat indah sekali, seperti cahaya yang terpancar dari dalam bongkahan es. Pintu peti itu mulai terbuka perlahan. Sosok Samara yang terlihat seperti hantu pucat itu mulai keluar; sosok hantu pucat yang tak kalah cantik dengan Yuri, dengan sorot mata yang tajam dan dingin.
Sejenak Samara mengamati tubuh pemuda yang sedang bersama Yuri itu. Kemudian, sang iblis kelelawar putih itu mulai mengenali bahwa tubuh pemuda gagah itu adalah pangeran Andhakara dalam wujud barunya.
“Yuri, bisakah kau meninggalkan kami berdua sebentar?” pinta Samara.
“Baik, kakak.” Yuri keluar meninggalkan goa itu. Yuri selalu menghormati kakaknya, meski dalam urusan asmara dengan Andhakara, keduanya adalah saingan.
Samara menatap Andhakara dengan tatapan yang sulit dipahami.
“Kenapa kau tak mengatakan bahwa kau mengandung anak-anakku?” Andhakara membuka percakapan.
“Iblis kelelawar adalah kasta rendah dalam bangsa iblis. Sekalipun kami kuat, namun kami dianggap rendah. Kau adalah pangeran. Kau tahu apa yang akan terjadi jika raja iblis atau bahkan semua iblis di kasta tinggi tahu bahwa aku mengandung anakmu? Mereka akan membunuhku dan anak-anakku. Sampai hari ini, kami terus bersembunyi di tempat yang tak akan dikunjungi oleh para iblis.”
“Bolehkah aku melihat anak-anakku?”
“Apakah kau akan membawanya?”
“Aku akan membawamu juga. Sekarang akulah penguasa tertinggi bangsa iblis. Tak akan ada yang mengusikmu, terlebih anak-anak kita.”
__ADS_1
“Sejak kapan kau bebas?”
“Beberapa waktu yang lalu Ogha berhasil menemukanku dalam jiwa pemilik tubuh ini. Aku harus bangkit kembali Samara. Aku butuh kekuatanmu dan kekuatan anak-anak kita.”
“Untuk apa?”
“Membuka pintu dunia bawah”
“Jika kau berniat membangkitkan raja iblis, aku tak akan membiarkan anak-anakku ikut denganmu!”
“Tidak. Akulah yang akan menjadi raja iblis. Kelak anak-anak kita akan mewarisi kekuasaanku. Iblis kelelawar tak akan lagi berada di kasta terendah.”
Ucapan Andhakara menjadi harapan bagi Samara. Meski iblis, namun ia adalah ibu yang ingin anak-anaknya bernasib baik.
“Baik, Andhakara. Yang kulakukan ini adalah demi anak-anakku. Jangan kaget, kekuatan mereka mungkin setara denganmu. Mereka mewarisi seluruh kemampuanmu dan kemampuanku.”
Samara membangunkan anak-anaknya. Sepuluh peti yang masih tertutup rapat itu akhirnya memancarkan cahaya yang berbeda-beda. Perlahan-lahan pintu masing-masing peti itu terbuka. Sepuluh anak-anak Andhakara menampakkan diri. Enam iblis laki-laki dan empat iblis perempuan. Semua berwajah sangat rupawan.
“Anak-anakku, inilah ayah kalian yang telah bangkit kembali. Beri hormat kepadanya!” Samara selalu menceritakan hal baik tentang Andhakara sebagai sosok pahlawan iblis yang akhirnya gugur di medan perang. Kala itu, anak-anak samara masih berumur sepuluh tahun saat perang besar terjadi. Kini, umur mereka telah seribu tahun lebih. Sehingga, berdasarkan cerita sang ibu, kedatangan Andhakara merupakan suatu hal yang membanggakan bagi anak-anaknya.
“Mulai sekarang, ikutlah aku pulang ke istanaku. Sebelum kita bisa membuka pintu penghubung ke dunia bawah, kita hanya akan tinggal di istana yang jelek. Kita akan bersama-sama membangun kembali dunia iblis.” kata Andhakara.
“Baik, ayah,” kata anak-anak itu bersama-sama.
“Ayo kita keluar dan bertemu dengan ibu kalian yang lain.”
“Maksud ayah adalah bibi?” tanya Andhikari.
“Kalian juga boleh memanggilnya dengan sebutan bibi,” jawab Andhakara. Sang pangeran tak mau ambil pusing. Ia keluar dari goa es yang sangat dingin itu diikuti oleh Samara dan sepuluh anaknya.
Yuri, Ogha, dan Rodya tertegun melihat anak-anak Andhakara yang semua berparas rupawan, mewarisi paras ayah dan ibunya, sekaligus kekuatan keduanya. Entah kenapa, sepuluh anak Andhakara itu membawa suasana teduh, yang bahkan melunturkan semua api cemburu para wanita Andhakara.
Mereka berkumpul, saling memperkenalkan diri dengan suasana yang lebih enak untuk pertama kalinya. Lega juga si Andhakara. Nasibnya terselamatkan oleh keberadaan anak-anaknya.
Mereka bergegas menuju ke istana hitam untuk menyusun kembali segala rencana yang akan mereka jalankan.
__ADS_1
****
Sementara itu, di khayangan, suasana di sana menjadi sepi setelah hampir semua bangsa raksasa turun ke dunia tengah.
Di istana pusat, Kalapati hanya tinggal berdua dengan sang raja dewa. Mereka lebih terlihat seperti teman daripada musuh. Raja dewa cukup cerdik untuk mengambil hati Kalapati.
“Bagaimana caranya kau memantau seluruh makhluk di dunia tengah dan bawah dari khayangan ini?” tanya Kalapati.
“Aku bisa melihat apa yang ingin kulihat melalui kolam suci ini. Seperti yang kau lihat, pekerjaanku adalah duduk di sini,” jawab raja dewa.
“Apakah aku juga bisa melihatnya?” tanya Kalapati.
“Apa yang ingin kau lihat? raja dewa balas bertanya.
“Bangsaku. Apa yang sedang mereka lakukan saat ini?” tanya Kalapati.
“Duduklah di sini, aku akan membantumu untuk melihat mereka!”
Saat Kalapati duduk di pinggir kolam, raja dewa menghubungkan pikirannya dengan pikiran Kalapati. Dengan begitu, sang maharaja raksasa itu bisa melihat apa yang dilihat oleh raja dewa. Kalapati merasa sangat senang. Tak rugi ia membebaskan raja dewa.
“Mungkin nantinya, bangsa manusia akan melakukan perlawanan,” kata raja dewa.
“Ya, akan menjadi hiburan yang menarik. Lagipula, membosankan sekali jika aku tidak melakukan apa-apa. Ternyata inilah yang membuatmu tidak pernah bosan menjadi raja dewa ya?”
“Hahaha, begitulah. Kau bisa melihat bangsamu setiap saat, tetapi aku butuh waktu untuk menciptakan alatnya. Jika kau mau, aku akan menggunakan ruanganku itu untuk menciptakannya. Selama aku di sana, kau harus berjaga. Jangan sampai ada yang masuk ke dalam.” Kata raja dewa.
“Berapa lama?” tanya Kalapati.
“Tujuh hari tujuh malam untuk membuat bola dunia yang bisa kau gunakan untuk memantau bangsamu.”
“Bola dunia?”
“Kristal bulat bening yang dulu pernah kau hancurkan ketika kau menyerang khayangan,” kata raja dewa.
“Baiklah. Kau boleh membuatnya.”
__ADS_1
Raja dewa masuk ke dalam ruangannya. Setelah bebas, Kalapati tak pernah mengizinkannya pergi kemanapun, kecuali di dekat kolam suci. Hanya karena iming-iming bola dewa, maka raja raksasa itu berhasil dibodohi. Raja dewa memang akan membuatkan bola dewa. Namun ia juga akan pergi ke altar samudra. Tujuh hari waktu yang cukup banyak baginya untuk melakukan banyak hal.