
Batari Mahadewi, Jalu dan Niken membuntuti para pasukan kerajaan hitam Tirayamani hingga ke pelabuhan ujung barat Catrabhumi. Ratusan kapal besar masih berderet-deret memenuhi dermaga. Pelabuhan itu tampak sibuk oleh para pendekar hitam yang terlihat tergesa-gesa untuk pergi meninggalkan pulau Mahabhumi.
“Tapaknya mereka benar-benar berniat untuk pergi dari sini,” kata Jalu. Ia dan kedua adiknya itu memantau pelabuhan dari jarak yang cukup jauh.
“Ya, semoga saja mereka tak berniat untuk kembali lagi,” kata Niken.
“Setelah ini, kita bisa sedikit tenang. Tapi, mungkin dalam waktu dekat, gerombolan itu pasti akan datang lagi,” kata Batari Mahadewi.
“Jika tak bersama ratu mereka, atau para makhluk iblis kuno, pastinya mereka tak akan mau kembali ke sini,” kata Jalu.
“Setelah ini, kemana kita akan pergi?” tanya Niken.
“Kita kembali dulu ke kota Mutiara Biru. Kita bisa lebih cepat memberikan kabar baik ini kepada para tetua yang ada di sana,” kata Batari Mahadewi.
“Adik berniat membawa kami terbang seperti beberapa hari yang lalu?” tanya Niken.
“Tidak kakak, aku punya cara yang lebih cepat lagi,” kata Batari Mahadewi. Jawaban itu membuat kedua kakaknya tampak pucat.
“Hahaha, jangan khawatir. Jika aku tahu pasti tempat yang akan kita tuju, kita bisa sampai di kota Mutiara Biru dalam satu kedipan mata,” kata Batari Mahadewi.
“Benarkah?” tanya Jalu dan Niken bersamaan.
“Tentu saja. Setelah itu, aku akan menemui kakek Agrapana,” kata Batari Mahadewi.
“Adik, kau tak rindu pada ibumu?” tanya Jalu.
“Tentu saja, kakak. Tapi sejujurnya aku khawatir jika ia melihatku dalam bentuk seperti ini. Oleh karena itulah, aku masih memikirkan caranya untuk bertemu ibuku,” kata Batari Mahadewi.
“Dia tahu masa lalumu, adik,” kata Jalu.
__ADS_1
“Aku sangat beruntung. Ibuku menganggapku seperti anaknya sendiri. Jika bukan karena kakek dewa yang mengatakan siapa aku, aku masih menganggap ia sebagai ibu kandungku,” kata Batari Mahadewi. Pikirannya menerawang jauh ke masa kecilnya, ketika ia masih bersama ibunya di desa Cemara Seribu.
“Siapapun dirimu saat ini, kau tetap anak ibumu, Tari. Aku yakin ia selalu merindukanmu, dan berdoa untukmu,” kata Niken.
“Semoga ia baik-baik saja. Aku akan menemuinya sebelum aku memulai perjalanan mencari ratu Ogha,” kata Batari Mahadewi.
Ketiga murid Ki Gading Putih itu meninggalkan Catrabhumi ketika para prajurit kerajaan hitam Tirayamani telah benar-benar pergi meninggalkan Mahabhumi. Kapal-kapal mereka semakin terlihat mengecil, lalu menghilang di balik cakrawala; sebuah garis lurus yang mempertemukan langit dan bumi.
Sementara itu, dibelahan bumi yang lain, ratu Ogha sedang seorang diri berdiri di sebuah kuil kuno Mayatara. Kuil itu tersembunyi di tengah hutan lebat, yang jauh dari peradaban.
Di dalam kuil itu, ada sebuah sumur suci yang dijadikan tempat untuk menyegel salah satu makhluk iblis dari masa lalu. Sebelum datang di tempat itu, ratu Ogha telah membebaskan empat makhluk iblis yang saat ini entah berada di mana.
Ratu Ogha memang berniat menciptakan kekacauan. Ia berharap akan menemukan beberapa makhluk yang bisa ia kendalikan. Dengan demikian, ia memiliki kekuatan dan dukungan penuh apabila para pendekar putih dari seluruh penjuru dunia bergerak melawannya. Ia bisa saja melawan para pendekar itu dengan kekuatannya, tapi ia juga tahu bahwa para siluman putih yang hidup dari masa lalu juga memusuhinya, dan mereka itulah yang justru merepotkan.
Siluman putih tak akan terusik dengan para pendekar hitam, namun ia akan bergerak jika merasakan kehadiran energi dari masa lalu, termasuk yang dimiliki oleh Nala dan ratu Ogha. Dengan kata lain, para siluman putih itu, atau para dewa, akan bertindak jika ada energi jahat yang mencoba merusak keseimbangan dunia.
Itulah alasan sang ratu kegelapan berusaha membangkitkan sebanyak mungkin makhluk iblis dari masa lalu selagi para dewa sudah tak pernah menampakkan diri, sebab para siluman putih akan menjadi halangan untuk menjalankan niatnya.
Sang ratu kegelapan itu mengalirkan energinya melalui tongkat yang ia bawa. Cahaya ungu gelap keluar dari ujung tongkat yang berbentuk kepala ular itu dan merambat masuk ke dalam sumur. Sembari mengalirkan energinya, ratu kegelapan itu merapalkan mantra untuk membangkitkan makhluk iblis yang terpenjara di dalam sumur itu.
Tanah tempat sang ratu berpijak mulai terasa bergetar. Makin lama getarannya semakin kuat dan kemudian, cahaya merah menyeruak dari dalam sumur disertai dengan energi besar yang menghancurkan atap kuil.
Makhluk bertubuh tinggi besar dan berkulit merah telah muncul, melayang perlahan keluar dari dalam sumur. Tiga buah tanduk besar yang mencuat di kepalanya membuat makhluk itu tampak seperti bunglon bertanduk.
“Selamat datang kembali, Mambacha. Aku Ogha, ratu kegelapan yang telah membebaskanmu,” sambut ratu Ogha dengan senyum yang penuh arti.
__ADS_1
“Hahaha, akhirnya tubuhku bisa bergerak lagi. Sungguh menyenangkan. Aku sangat lapar. Tidakkah kau juga membawa sesuatu untuk ku makan, ratuku?” kata Mambacha, salah satu dari makhluk iblis yang sering membuat para dewa kerepotan.
“Aku bisa membawamu menemukan tempat yang banyak makanan untukmu,” kata ratu Ogha.
“Hmm…bagaimanapun juga, aku harus menepati janjiku sendiri kali ini. Aku akan mengabdi kepada siapapun yang membebaskanku dari siksaan yang tak menyenangkan ini. Meskipun kau lemah, apa boleh buat, aku akan mengabdi kepadamu,” kata Mambacha. Ia melangkah mendekati ratu Ogha. Tiap-tiap langkah kakinya membuat tanah bergetar.
Makhluk itu terlihat seperti seekor gajah ketika ia bersujud di hadapan sang ratu. Meskipun ia berkata bahwa ia akan mengabdi kepada ratu Ogha, namun tetap saja sang ratu itu merasa was-was.
Sebelumnya, hanya pengeran kegelapanlah yang membuat para makhluk iblis itu mau menurut. Betapa tidak, pangeran kegelapan adalah perwujudan dari pusaka iblis yang diciptakan para raja iblis di dunia bawah.
“Ratu membebaskanku, tentu ada hal yang ratu harapkan, bukan?” tanya Mambacha.
“Benar, Mambacha. Aku ingin membebaskan semua makhluk iblis yang dipenjarakan oleh dewa di masa lalu. Sebelum kamu, aku sudah membebaskan empat makhluk iblis dari selatan.”
“Siapa saja mereka itu, ratuku?” tanya Mambacha.
“Ermo, Fufu, Karau, dan Catham. Mereka semua pergi entah kemana setelah kubebaskan,” kata ratu Ogha.
“Empat iblis itu tidak terlalu kuat, tapi sangat sombong. Tenang saja, ratuku. Jika kita bisa membebaskan Bail dari timur dan membuat ia mau bergabung dengan ratu, selanjutnya siluman lain yang akan ratu bebaskan pasti akan tunduk di bawah kedali ratuku.”
“Tapi bukankah Bail juga susah dikendalikan?” tanya ratu Ogha.
“Aku akan membantumu. Tapi saat ini, aku butuh makanan, ratuku yang cantik,” kata Mambacha.
“Tentu saja.” sang ratu menyimpan Mambacha ke dalam cincinnya. Makhluk merah sebesar gajah itu berubah menjadi asap dan langsung menyusup ke dalam cincin sang ratu ketika ia membacakan mantra. Setelah itu, ratu kegelapan itu melesat ke sebuah pemukiman yang tak terlalu ramai. Ia melepaskan Mambacha dan menyaksikan makhluk merah itu membantai orang-orang, menghisap darah mereka, dan mengunyah daging serta tulang-tulang mereka layaknya seekor binatang yang kelaparan.
__ADS_1