
Batari Mahadewi dan Nala bersama-sama melakukan perjalanan untuk membagikan senjata kepada para pendekar sakti di wilayah Mahabhumi. Swargadwipa berada di tengah, oleh karena itu, keduanya akan menyisir bagian barat terlebih dahulu, menuju ke alamat-alamat yang telah dituliskan oleh Ki Gading Putih.
Sebenarnya bisa saja Nala dan Batari Mahadewi membagi tugas, Nala ke arah timur dan Batari Mahadewi ke arah barat. Akan tetapi, bagaimanapun juga Nala adalah pendekar aliran hitam. Tentu saja kehadiraannya ke perguruan-perguruan aliran putih akan mengundang kecurigaan. Meski datang dengan niat baik, namun untuk meyakinkan hal itu bukan perkara yang mudah.
Akhirnya, keduanya akan pergi bersama-sama. Lumayan lah, Nala bisa dijadikan kerbau untuk membawa senjata dan baju pusaka dalam jumlah banyak. Semua barang-barang itu diikat menjadi satu layaknya kayu bakar, lalu digendong di punggung. Nala membawa barang lebih banyak dari Batari Mahadewi. Tentu karena lelaki itu gengsi jika kekasihnya membawa barang yang sama banyaknya dengan yang ia bawa, meski membawa benda semacam itu bukanlah masalah besar bagi Batari Mahadewi.
Ada sekitar empat puluh senjata dan baju pusaka yang mereka bawa. Sepuluh diantaranya merupakan senjata untuk para tetua pendekar, dan tiga puluh lainnya merupakan senjata pusaka dengan tingkat kesaktian lebih rendah, yang tepat untuk para pendekar yang kesaktiannya dibawah para pendekar legendaris.
“Nala, aku ingin menemui teman lama sebelum kita mencari kak Jalu dan kak Niken, serta kak Cendana, Anjani dan Pradipa di Mutiara Biru,” kata Batari Mahadewi.
“Teman lama?” tanya Nala.
“Nanti kau akan tahu. Ia tinggal di hutan seorang diri dan tak mau pergi kemana-mana,” jawab Batari Mahadewi. Gadis itu melesat ke arah barat, menuju ke sebuah hutan sebelum desa Atas Awan. Nala mengikutinya. Dulu, Batari Mahadewi dan kedua kakaknya pernah melintasi hutan itu dan bertemu dengan pendekar Mata Satu, penguasa hutan yang kaya dengan mustika alam.
Tak sulit untuk menemukan sosok berwajah angker itu. Hanya saja, pendekar Mata Satu tidak mengenali lagi gadis imut yang pernah menumbangkannya dengan mudah waktu itu.
“Siapa kau, berani-beraninya datang ke wilayahku!” kata pendekar itu begitu kaget ketika Batari Mahadewi dan Nala tiba-tiba saja telah berada tak jauh darinya.
“Kau lupa padaku?” tanya Batari Mahadewi. Pendekar Mata Satu tercenung lama memandangi gadis jelmaan pusaka dewa itu. Ia berusaha keras mengingat, namun tetap tak berhasil mengetahui siapa dua sosok yang ada di hadapannya itu.
“Aku tak mengenalimu! Jangan berpura-pura, apa yang kau inginkan?” kata pendekar Mata Satu. Ia sudah tak segalak dulu, namun tetap saja tidak juga ramah kepada siapapun.
“Kau benar-benar lupa. Aku temanmu, kau ingat gadis kecil yang mau berteman denganmu dua tahun yang lalu? Dia berjanji akan mengunjungimu, bukan? Sekarang aku datang. Akulah gadis kecil itu, Batari Mahadewi.”
__ADS_1
Pendekar Mata Satu itu bingung, tapi ia yakin bahwa hanya ada satu orang saja yang pertamakali mengajaknya berteman dengan tulus tanpa rasa takut. “Kau gadis itu? tapi…bagaimana bisa kau tumbuh secepat itu?”
“Sulit menjelaskannya, temanku. Tetapi hari ini aku tak punya banyak waktu. Aku ada tugas penting yang harus segera kuselesaikan. Aku mampir kemari untuk memberikan oleh-oleh kepadamu.” Batari Mahadewi menurunkan bawaannya, ia mengeluarkan sebuah pusaka berkekuatan sedang, serta baju pusaka lengkap dengan penutup kepala dan topeng. Ia membuat topeng khusus, dengan satu lubang mata yang ada di tengah, tepat di atas tulang hidung.
“Semoga kau berkenan menerimanya. Ini semua adalah pusaka buatanku,” kata Batari Mahadewi.
“Oh, kau sungguh-sungguh gadis kecil itu. Selain menjadi orang pertama yang mau berteman denganku, kau juga orang pertama yang memberikan hal berharga padaku. Tetapi kenapa kau memberikan pusaka sakti semacam ini kepadaku?” tanya pendekar Mata Satu.
“Aku memberikan kepadamu sekaligus ingin minta bantuan kepadamu,” jawab Batari Mahadewi.
“Aku pernah berjanji waktu itu, akan selalu menolongmu jika kau membutuhkannya. Kesulitan apa yang kau hadapi saat ini temanku?” tanya pendekar Mata Satu.
“Dalam waktu dekat, negri kita akan kedatangan musuh besar. Mereka adalah para makhluk iblis. Jika suatu hari mereka datang, maukah kau membantu kami melawan mereka?” tanya Batari Mahadewi.
“Tentu saja, temanku. Aku sudah banyak berlatih sejak kau pergi waktu itu. Kemampuanku meningkat pesat,” kata pendekar Mata Satu.
“Ya, aku bisa merasakan getaran kekuatan yang besar dari pusak pemberianmu ini,” kata pendekar Mata Satu.
Batari Mahadewi tahu, pendekar Mata Satu adalah pendekar sakti yang luput dari perhatian banyak orang. Setelah sejenak bertukar cerita, dan menguji senjata serta baju pusaka itu, akhirnya Batari Mahadewi dan Nala pamit. Batari Mahadewi sebenarnya ingin mampir ke desa Atas Awan. Di sana banyak pendekar muda yang layak menerima senjata pusaka berkekuatan sedang. Tetapi sayang, gunung yang menjulang tinggi itu penuh dengan mantra penolak energi hitam.
Itu artinya, kekuatan Nala bertentangan dengan mantra di gunung itu. Jika Nala memaksakan diri, maka sudah pasti gunung itu akan hancur. Jadi, gadis jelmaan pusaka dewa itu akan ke sana seorang diri setelah selesai membagikan semua senjata ke seluruh Mahabhumi.
“Kita ke kota Dyana, Nala,” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Baiklah, terserah kamu,” jawab Nala.
“Cara cepat saja, kemarilah dan pejamkan matamu,” kata Batari Mahadewi. Dengan menautkan energinya pada hal-hal yang ada di kota Dhyana, gadis itu menghilang bersama Nala dan sampai di kota kuno para pertapa itu dalam satu kedipan mata.
Jalu dan Niken tak tinggal di altar suci bersama dengan kakek Agrapana, melainkan di balai kota. Bagaimanapun juga, sepasang pendekar Api dan Es itu tetap dianggap sebagai orang penting dari istana sehingga bisa bebas tinggal di sana selama apapun mereka mau. Kakek Agrapanalah yang memberitahu kepada Batari Mahadewi bahwa Jalu dan Niken tinggal di sana.
Sementara Batari Mahadewi pergi menemui kedua kakaknya, Nala meluruskan punggungnya di altar suci sembari berbincang dengan kakek Agrapana.
“Tari, kau baru saja tiba?” tanya Niken.
“Benar, kakak,” jawab Batari Mahadewi.
“Kami mengira kau hanya akan sebentar di Cemara Seribu, ternyata lumayan lama, ya. Mana Nala dan kakaknya?” tanya Niken.
“Nala ada di altar suci, sementara kak Vidya berada di padepokan bersama guru dan kak Buyung. Kami membuat senjata dan baju pusaka di sana. Oleh karena itu kami tak segera kembali ke sini,” jawab Batari Mahadewi. Gadis itu segera membuka buntalan yang berisi senjata dan baju pusaka khusus untuk kedua kakaknya itu.
“Cantik sekali pusaka ini,” puji Jalu.
“Baju pusaka ini juga bagus bentuknya,” kata Niken.
“Nala secara khusus membuat pusaka itu untuk kakak dan menyesuaikan kesaktianya dengan kemampuan kakak. Baju pusaka ini kubuat dari kulit siluman naga berumur lebih dari lima ribu tahun. Jadi ini memang bukan pakaian perang biasa. Kekuatan kak Jalu dan kak Niken bisa meningkat empat kali lipat hanya dengan memakai pakaian ini,” kata Batari Mahadewi.
“Ini sungguh luar biasa. Kau sungguh adik yang berbakti kepada kami,” celoteh Jalu.
__ADS_1
“Hahaha, kami membuat banyak sekali senjata dan baju pusaka. Jadi bukan hanya untuk kakak-kakakku tercinta saja, tetapi untuk banyak pendekar sakti di Mahabhumi. Barang-barang itu ada di altar suci. Kakak mau melihatnya ke sana? Kita bisa bercakap-cakap sejenak di sana sebelum kami melanjutkan perjalanan,” kata Batari Mahadewi.
Ketiga pendekar itu segera menuju ke altar suci, bertukar cerita dan menyusun rencana bersama dengan kakek Agrapana.