Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 199 Kegelisahan Srengenge Ireng


__ADS_3

Para pasukan Swargadwipa masih bersiaga di setiap kota yang ada di wilayah kerajaan yang dipimpin oleh Sri Maharaja Srengenge Ireng. Kota Dhyana, tempat tinggal kakek Agrapana, masih ditempati oleh tiga puluh ribu pasukan yang siaga atas serangan lanjutan kerajaan Swargabhumi. Namun sebentar lagi para pasukan di kota itu, dan kota-kota lainnya akan ditarik ke kota kerajaan atau entahlah. Sang raja dan sang patih belum membuat keputusan yang pasti atas kedatangan pasukan kerajaan hitam Tirayamani yang telah tiba di Catrabhumi.


Raja Srengenge Ireng selalu keluar istana untuk bertemu dengan tokoh-tokoh penting di Swargadwipa dengan penyamaran yang tak pernah dikenali oleh para prajurit sekaligus rakyatnya. Tanpa penyamaranpun, sebenarnya tak banyak yang pernah melihat sosok raja yang diam-diam memiliki kesaktian tinggi itu.


Sang raja mengenakan pakaian pendekar biasa dengan caping penutup kepala serta topeng hitam. Ia tiba di halaman altar suci dan memanggil kakek Agrapana dengan cara khusus yang hanya dirinya dan kakek itu saja yang tahu. Kakek Agrapana keluar dari dalam altar suci dan menyambut sang raja.


“Hanya jika ada urusan yang mendesak saja kiranya paduka akan datang kemari. Adakah yang bisa hamba bantu, paduka?” tanya kakek Agrapana.


“Aku butuh wawasan dari guru Agrapana tentang kerajaan Tirayamani. Apakah guru sudah mendengar kabar kedatangan pasukan kerajaan itu di Catrabhumi?” tanya sang Raja.


“Raden Jalu telah mengutus pengirim pesan dari Mutiara Biru dan mengabarkan hal itu kemarin pagi. Tampaknya kabar itu telah cepat menyebar luas ke berbagai kalangan, terutama di kalangan perguruan silat di seluruh penjuru Mahabhumi.” Kata kakek Agrapana.


“Sebelum datang kemari, aku telah berbicara dengan paman patih dan belum menemukan titik temu pemikiran dan pemecahan atas masalah ini. Kami butuh wawasan untuk mengetahui kekuatan kerajaan itu dan masa lalu dari ratu pemimpin kerajaan Tirayamani yang kabarnya berusia setua guru Agrapana.” Kata sang Raja.


“Ratu itu telah lahir sebelum aku lahir, Paduka. Namun hamba telah berusia muda ketika sang ratu dan pangeran kegelapan yang menciptakan prahara di masa lalu akhirnya membuat para dewa harus turun tangan untuk meringkus mereka. Yang hamba khawatirkan bukanlah soal kekuatan yang mereka miliki saat ini, namun hal lain yang lebih mengerikan dari itu.” kata Agrapana.


“Ceritakanlah padaku, guru.” Pinta sang raja.

__ADS_1


“Sebelumnya hamba ingin mengatakan tentang hal lain terlebih dahulu apabila paduka belum mendapatkan kabar ini. Bahwa, entah kapan di masa depan, akan ada bencana serangan dari bangsa raksasa. Namun pergerakan ratu Ogha ini juga bukan hal yang bisa diremehkan. Di masa lalu, para dewa telah menekan banyak kekuatan jahat seperti kekuatan pendekar dan penyihir hitam, kekuatan pasukan iblis, dan juga kekuatan bangsa raksasa.


Ketiga kubu itu sudah pasti menyimpan dendam kepada para dewa sebab ketika dunia sudah semakin kacau dan terasa seperti neraka, sementara tak ada pendekar aliran putih yang sanggup menangai kekacauan di dunia tengah, maka akhirnya para dewa turun tangan. Mereka menyegel makhluk-makhluk masa lalu yang menjadi tokoh kunci dalam terciptanya kekacauan dan ketidakseimbangan dunia.


Sang pageran kegelapan dan ratu Ogha adalah salah satunya. Namun sang ratu selamat dari maut dan berhasil memulihkan kekuatannya. Nah, ketakutan hamba adalah pengetahuan sang ratu yang bisa membangkitkan kembali makhluk-makhluk pengacau di masa lalu itu.


Sejujurnya, baru kali ini hamba kesulitan untuk merangkai pemahaman atas apa yang akan terjadi di masa depan. Jika sang ratu berhasil membangkitkan makhluk-makhluk di masa lalu, maka kekuatan para makhluk jahat itu akan mempercepat kedatangan raja raksasa Kalapati. Apakah sang raja sudah mengetahui soal keberadaan raja raksasa ini?” tanya kakek Agrapana.


“Sebelum Swargabhumi menyerang, aku sudah bertemu dengan Ki Gading Putih dan sempat membicarakan sedikit tentang hal itu, terutama soal ramalan kolam suci dan gadis kecil yang memiliki kesaktian tinggi itu.” kata sang raja.


“Pada akhirnya hamba memang mengaitkan ramalan kolam suci dengan peristiwa yang tengah terjadi saat ini. Hamba sempat mencari para dewa dalam perjalanan roh yang hamba lakukan, namun hamba tak bertemu dengan para dewa. Sebagai gantinya, hamba menemui para pendekar naga di Mahabhumi. Merekalah yang mengetahui terlebih dahulu bahwa dunia khayangan tempat tinggal para dewa telah dikuasai oleh Kalapati dan bala pasukannya.


Namun jika ratu Ogha membangkitkan mahluk-makhluk sakti di masa lalu, besar kemungkinan raja Kalapati akan terpancing untuk turun. Ia tak mau jika ada yang lebih sakti darinya di dunia ini. Jika sang Kalapati dan para makhluk jahat telah berseteru, mungkin para dewa yang tersisa dan saat ini bersembunyi entah di mana akan menampakkan diri.


Ini akan sangat rumit. Entah siapa yang akan berada di pihak mana untuk saling menguasai. Yang pasti, semua hal yang mungkin akan terjadi akan merugikan bangsa manusia. Manusi adalah pihak paling lemah yang tak akan bisa berbuat banyak, bahkan untuk menyelamatkan diri.” Kata Agrapana.


“Apakah guru tahu, apa tujuan mereka semua menciptakan kekacauan? Terutama yang terjadi di masa lalu?” tanya sang raja.

__ADS_1


“Sederhana saja, paduka. Mereka semua memperebutkan sumber kekuatan dan kekuasaan.” Jawab Agrapana.


“Lantas apa yang akan kita lakukan, guru?” tanya sang raja. Ia merasa hampir putus asa setelah mendengar cerita dari kakek Agrapana.


“Hamba benar-benar tidak tahu, paduka. Hamba berharap, gadis kecil murid pendekar Gading Putih masih hidup dan akan kembali ke sini. Hamba yakin dialah yang bisa menyelesaikan persoalan ini. Di dalam tubuhnya tersimpan kekuatan besar yang terkunci menjadi dua belas bagian. Hanya para dewa yang bisa menciptakan makhluk seperti itu. Dan dalam pikiran hamba, para dewa memang sengaja menciptakan gadis itu untuk menangkal malapetaka dunia selagi para dewa tak bisa berbuat apa-apa.” Kata Agrapana.


“Berarti, sebenarnya kita justru tak perlu mengkhawatirkan keberadaan ratu Ogha dan kebangkitan makhluk iblis di masa lalu karena Kalapati bisa mengalahkan mereka semua?” tanya sang raja. Ia masih tak mempercayai bahwa gadis kecil murid terakhir Ki Gading Putih itu memiliki kekuatan dahsyat yang tersimpan dalam tubuhnya sebagaimana yang telah dikatakan oleh Agrapana.


“Tidak bisa sesederhana itu, paduka. Kita tetap harus menghitung dari awal, bahwa pasukan ratu Ogha merupakan ancaman nyata. Kedua, kemungkinan atas bangkitnya makhluk iblis di masa lalu adalah petaka berikutnya. Lalu kedatangan Kalapati mungkin adalah akhir dari kehidupan manusia. Yang pasti, kita tak benar-benar tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang bisa kita usahakan hari ini adalah melawan ratu Ogha dan pasukannya semampu kita. Jika kita berhasil menghalangi sang ratu agar ia tak membebaskan para pasukan iblis di masa lalu, maka kita masih ada harapan memiliki umur panjang.” Kata Agrapana.


“Tetapi tentang ratu Ogha yang akan membangkitkan para pasukan iblis di masa lalu, bukankah itu masih merupakan kemungkinan yang belum tentu terjadi?” tanya sang raja.


“Paduka benar. Namun, apa tujuan ratu Ogha kembali ke Mahabhumi jika tak ingin membebaskan para pasukan iblis di masa lalu dan dengan begitu, ia bisa kembali menjadi ratu kegelapan di dunia ini? Hamba yakin, ratu itu telah mengetahui ketidakhadiran para dewa di dunia saat ini. Namun hamba tidak tahu apakah ratu itu telah mengetahui bahwa Kalapati adalah penyebab atas ketidakhadiran para dewa. Jika ia tahu, ada kemungkinan ia akan mengurungkan niatnya untuk membangkitkan pasukan iblis dan ia hanya akan menggunakan kemampuannya sendiri untuk menjadi penguasa.” Kata Agrapana.


“Hal ini masih membingungkanku, guru. Ada banyak sekali kemungkinan. Namun, sebelum aku pergi, adakah petunjuk dari guru untuk kulakukan dalam waktu dekat ini?” tanya sang raja.


“Meski kita tak tahu hasilnya, ada baiknya paduka mengumpulkan semua pendekar yang ada di wilayah timur, lalu kita siagakan semua di kota Mutiara Biru. Jika mereka kalah, maka kita semua telah kalah. Paduka hanya punya dua pilihan setelahnya, yakni menyerah atau mati bersama jutaan prajurit yang kita punya. Andai saja para pendekar Naga di Mahabhumi mau ikut membantu, mungkin ceritanya agak sedikit lain. Mereka mungkin sudah tidak peduli lagi jika sekalipun seluruh kerajaan di Mahabhumi hancur.” Jawaban sang kakek itu sekali lagi membuat sang raja merasakan kegalauan yang pelik. Menyerah berarti merelakan diri menjadi budak kerajaan hitam dan hal itu tak lebih baik dari mati sebagai ksatria terhormat.

__ADS_1


 


 


__ADS_2