
Batari Mahadewi tertarik dengan perkataan pendekar Mata Angin tentang pusaka kuno yang menurut pendekar itu merupakan senjata sakti untuk menghadapi para pendekar hitam.
“Dari mana paman tahu soal pusaka itu?” tanya Batari Mahadewi.
“Ada banyak pusaka sakti di dunia ini dan setiap pusaka itu awalnya merupakan milik seorang pendekar. Pusaka yang paling sakti adalah pusaka buatan para dewa. Tidak banyak jumlahnya dan aku tak tahu benda itu ada dimana. Pusaka berikutnya adalah pusaka yang di dalamnya terdapat mustika dewa. Konon, pada jaman dahulu, saat para dewa bertarung dengan bangsa iblis, banyak sekali dewa yang mati. Setiap dewa yang mati akan melepaskan mustika dewa miliknya. Siapapun yang mendapatkannya, akan memperoleh kekuatan dan kesaktian. Mustika itu juga bisa dibuat untuk senjata sakti.
Selain itu ada juga mustika iblis dan mustika siluman, namun kekuatannya tak sebagus mustika dewa. Dulu di pulau ini hiduplah seorang pendekar sakti yang memiliki pusaka dengan kekuatan mustika dewa. Setelah pendekar itu mati, pusakanya menghilang.
Aku bisa mencarinya dengan ilmu Mata Langit. Tapi untuk menemukan lokasinya, bukanlah hal yang mudah. Aku sudah sebulan di sini. Setiap malam aku diam-diam menjelajahi berbagai tempat di pulau ini. Aku harus memperingatkanmu, bahwa pulau ini juga dihuni banyak pendekar sakti dari aliran hitam. Nona, apakah kau berniat untuk membalas dendam kepada para pendekar hitam itu?” tanya pendekar Mata Langit.
“Sebenarnya aku hanya ingin tahu kenapa para pasukan hitam itu ada di sini. Aku membuntuti mereka karena ingin menemukan ratu mereka. Aku penasaran dengan ratu itu yang konon merupakan ratu kegelapan di masa lalu,” kata Batari Mahadewi.
“Kau benar, ratu itu adalah ratu kegelapan di masa lalu. Aku tak tahu pastinya, namun belakangan ini, ratu itu mulai menyerang wilayah-wilayah lain. Dulu, tak ada satupun kerajaan yang mau berhubungan dengan kerajaan Tirayamani. Hanya kerajaan Mandaraloka yang berani menjalin kerjasama dengan kerajaan itu. Raja Mandaraloka bukanlah raja yang sakti, namun ia adalah raja yang cerdas, serta memiliki kemampuan untuk menciptakan obat-obatan yang dibutuhkan oleh para pendekar hitam. Aku tak tahu obat apa itu. Oleh karenanya, pulau ini tetap aman dan tak seorangpun dari pendekar aliran hitam itu berani menyakiti orang-orang Mandaraloka. Apakah kau pendekar dari Mahabhumi yang ditugaskan untuk memata-matai pasukan itu?” tanya pendekar Mata Langit.
Bagaimanapun juga, pendekar Mata Langit bukanlah pendekar sembarangan. Meski terlihat lebih muda dari Ki Gading Putih, namun Batari Mahadewi bisa melihat bahwa pendekar itu memiliki kemampuan yang jauh lebih sakti dari Ki Gading Putih. Oleh karena itulah, ia berani mendekati para pasukan kerajaan hitam Tirayamani.
Batari Mahadewi berfikir, tak ada salahnya untuk mencari tahu banyak hal dari pendekar itu sebab lelaki tua itu tampak memiliki banyak pengetahuan tentang kehidupan-kehidupan di wilayah lain.
__ADS_1
“Ya, bisa dibilang aku adalah mata-mata, paman. Setelah kami semua dari Mahabhumi berhasil mengusir para pasukan kerajaan hitam itu, kami tak bisa bersantai. Kami tak mau kejadian itu terulang lagi.” Batari Mahadewi belum ingin mengatakan hal yang sebenarnya. Ia harus berhati-hati dalam setiap langkah yang ia tempuh, sebab ia sama sekali tak banyak memiliki pengetahuan tentang berbagai kehidupan yang berbeda-beda, khususnya di luar pulau Mahabhumi.
Bukan tak mungkin bahwa di belahan dunia lain, di pulau-pulau lain, banyak kebudayaan yang mungkin saja lebih unggul jika dibandingkan dengan peradaban di Mahabhumi.
“Aku ingin memberitahu satu hal kepadamu. Ratu itu bisa membangkitkan iblis. Saat ini ratu itu sedang mencari wilayah-wilayah tempat para pasukan iblis dipenjarakan oleh para dewa, lalu ia akan membebaskannya. Namun, iblis itu juga bisa dikalahkan. Salah satu caranya adalah dengan menggunakan pusaka kuno yang saat ini sedang aku cari. Pusaka itu adalah pusaka yang memiliki mustika dewa yang bisa melumpuhkan iblis itu.” Kata pendekar Mata Langit.
“Jika saat ini paman hendak mencari pusaka seperti itu, apakah ada pendekar lain yang seperti paman?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya, Seharusnya para pendekar saat ini mulai bergerak. Kerajaan Tirayamani adalah ancaman bagi siapapun. Jika semua kerajaan bersatu, pasti tidak sulit untuk menghancurkan kekuatan kerajaan Tirayamani. Tentu saja hal itu tidak mungkin. Lagipula, siapa yang akan memimpin? Para pendekar sakti harus menyikapi hal ini dengan cara lain. Ketika kekuatan kerajaan tak bisa diandalkan, tekat dan darma bakti tiap pendekar saktilah satu-satunya harapan.” Kata pendekar itu.
“Tidakkah kau mau membantuku?” tanya pendekar itu.
“Maksud paman?” tanya Batari Mahadewi.
“Kau juga memiliki mata istimewa. Mungkin jika kau membantu, aku bisa lebih mudah mendapatkan pusaka kuno yang tersembunyi di sini,” kata pendekar Mata Langit.
“Ah, pendekar ini juga jeli melihat mataku,” batin Batari Mahadewi. Ia merasa sulit untuk menolak permintaan pendekar itu, meski ia sendiri tak ingin terlalu lama berada di sana.
__ADS_1
“Aku khawatir tak bisa membantu paman sampai tuntas. Tapi selama beberapa hari ke depan aku ada di sini, aku bisa membantu paman. Apakah paman setiap hari ada di pelabuhan ini?” tanya Batari mahadewi.
“Ya, siang hari aku akan ada di sini. Malam hari aku menjelajah pulau ini. Jadi jika kau mau bertemu denganku, tentu kita bisa bertemu di sini,” kata pendekar itu.
“Baiklah, paman. Aku juga harus mencari tahu banyak hal. Besok kita bertemu lagi di sini.” Batari Mahadewi beranjak meninggalkan pendekar itu. Ia berjalan meninggalkan pelabuhan, dan mulai menjelajah dari satu kota ke kota lainnya.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu ingin tahu keadaan di kota kerajaan Mandaraloka. Dalam benaknya, barangkali di sana jauh lebih ramai dibandingkn dengan kota-kota pinggiran di pulau Mandara.
Kota-kota di Mandaraloka hanya dipisahkan oleh hutan. Anehnya, di pulau itu sama sekali tak ada lahan pertanian. Hal itu membuat Batari Mahadewi bertanya-tanya, bagaimana orang-orang bertahan hidup?
Di sebuah hutan yang sepi, Batari Mahadewi mencari tempat yang paling tersembunyi. Ia tahu dan membenarkan perkataan pendekar Mata Langit bahwa banyak pendekar yang berkeliaran di pulau Mandara, baik di dalam kota ataupun di hutan. Setidaknya, selama berjalan kaki, ia telah berpapasan dengan beberapa pendekar hitam. Ia sama sekali belum bertemu dengan pendekar putih, kecuali pendekar Mata Langit di pelabuhan itu.
Di salah satu sudut hutan yang tersembunyi itu, Batari Mahadewi kembali membuka semua inderanya. Ia ingin mengetahui lebih banyak hal dari tempat itu. Tentu saja, sejak kecil Batari Mahadewi bisa melihat hantu, namun tidak semua hantu atau roh halus bisa diajak berkomunikasi; tidak semua makhluk halus itu bisa melihat Batari Mahadewi. Hanya ketika mereka berada dalam satu lintasan gelombang energi yang sama, maka mereka bisa berbicara dengan Batari Mahadewi.
Kadang-kadang, dari roh-roh halus itu Batari Mahadewi tahu banyak hal. Sementara, jejak energi yang membekas di berbagai bidang di sekitarnya, tak sepenuhnya bisa memberikan informasi yang ia butuhkan, kecuali jika jejak energi itu masih baru.
Di saat sunyi seperti itu, Batari Mahadewi ingin melacak masa lalu dari pulau Mandara. Dengan demikian, ia bisa memahami kenapa di pulau itu tak ada desa, tak ada petani, dan sejak kapan ada kerajaan di pulau itu. Meski tentu ia tak akan bisa mendapatkan jawaban yang utuh, tapi petunjuk kecil seperti itu akan selalu berguna.
__ADS_1