Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 91 Undangan Dari Mahapatih Swargadwipa


__ADS_3

Malam berlalu, dugaan Anjani, Buyung, dan Cendana belum terbukti. Hingga menjelang pagi, tak ada satupun yang mencarinya. Namun ketika mereka bertiga hendak mencari sarapan, di luar telah menunggu selusin prajurit kota dengan seorang pimpinannya.


Pemimpin dari selusin prajurit yang menunggu di luar penginapan itu mendatangi ketiga murid pertama Ki Gading Putih.


“Selamat pagi, tuan dan nona. Mohon maaf, barangkali kedatangan kami sedikit membuat tidak nyaman tuan dan nona. Kami menjalankan perintah langsung dari Mahapatih Siung Macan Kumbang untuk menyampaikan undangan kepada tuan dan nona agar berkenan datang menemui beliau di wisma tamu keprajuritan.” Kata pemimpin prajurit tersebut.


Ketiga murid Ki Gading Putih itu saling berpandangan dan tampak seperti sedang berdiskusi tanpa kata.


“Baik tuan, kami akan datang menghadiri undangan mahapatih. Tapi kami tidak tahu dimana letak wisma tamu keprajuritan.” Kata Buyung.


“Kami memang diutus juga untuk menjemput tuan dan nona untuk berangkat ke sana sekarang. Apabila tuan dan nona telah siap, kita bisa berangkat.” Kata pemimpin prajurit itu.


“Ya, kami sudah siap.” Kata Buyung.


“Mari tuan dan nona, silahkan naik ke kuda yang kami persiapkan.” Kata pemimpin prajurit itu. Mereka akhirnya berangkat menuju wisma tamu keprajuritan yang terletak di balik tembok yang keenam. Butuh waktu selama empat jam dengan perjalanan menaiki kuda untuk sampai ke sana. Mungkin jika ketiga pendekar padepokan cemara seribu itu tak menaiki kuda, mereka akan lebih cepat sampai di sana. Dan yang terpenting, pantat dan tulang punggung mereka tak menderita.


“Astaga, besar sekali wilayah kota kerajaan ini. Andaikan ada musuh menyerang dan memasuki gerbang pertama, masih butuh waktu empat jam perjalanan bebas hambatan agar mereka bisa sampai di gerbang ke enam.” Kata Buyung.


“Mungkin karena inilah, kerajaan Swargadwipa belum pernah diserang oleh kerajaan manapun selama beberapa puluh tahun ini.” Kata Cendana.


“Memangnya kerajaan ini pernah diserang?” tanya Anjani.

__ADS_1


“Entahlah, aku tak tahu sejarah kerajaan ini.” Balas cendana.


Mereka akhirnya sampai juga di wisma tamu keprajuritan. Wilayah di balik tembok keenam itu hanya berisi perumahan para prajurit, gudang senjata, lapangan untuk latihan tempur, dan beragam fasilitas untuk pertahanan kerajaan Swargadwipa.


“Silahkan masuk, tuan dan nona. Silahkan menunggu di sini. Jangan sungkan menikmati suguhan yang ada.” Kata pemimpin prajurit itu mengantarkan tamu Mahapatih memasuki wisma tamu. Pemimpin prajurit itu kemudian meninggakan mereka bertiga.


“Astaga, aku tak megira akan selama ini. Perutku sudah sangat lapar. Naik kuda sungguh menyiksa. Lebih baik aku berlari. Mungkin jauh lebih cepat sampai di sini.” Kata Cendana.


“Hahaha, seharusnya tadi kita sarapan dahulu.” Kata Buyung, “ya sudahlah, mari kita makan.”


“Megah sekali wisma tamu ini. Dan hanya kita bertiga yang menjadi tamunya saat ini.” Beberapa pelayang mengantarkan makanan dan minuman lainnya ke tempat ketiga murid Ki Gading Putih itu menunggu kehadiran sang Mahapatih.


“Aku juga belum pernah.” Kata Cendana.


“Akupun demikian. Hanya guru yang telah bertemu dengannya, dan beberapa kali diundang ke sini.” Kata Buyung.


Selang beberapa saat kemudian, sang Mahapatih datang seorang diri menemui Buyung, Anjani, dan Cendan. Tubuh mahapatih itu segarang namanya. Perawakannya tinggi besar di atas rata-rata, otot-ototnya menonjol, dan wajahnya lebar sehingga menandakan kesan yang sangar dan mengerikan. Namun dalam situasi biasa, Mahapatih merupakan seseorang yang ramah dan halus tutur katanya, sangat berlawanan dengan penampilannya.


“Maafkan saya yang harus membuat tuan-tuan dan nona pendekar menunggu lama di sini. Saya Siung Macan Kumbang yang telah mengundang tuan-tuan dan nona sekalian. Kalau boleh tahu, siapakah tuan-tuan dan nona pendekar ini?” tanya Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Terimakasih banyak atas undangannya, gusti patih. Sungguh suatu kehormatan bagi kami mendapatkan undangan ini. Kami ketiga murid pertama Ki Gading Putih dari padepokan Cemara Seribu. Nama saya Buyung, kedua adik saya ini adalah Anjani dan Cendana.” Kata Buyung.

__ADS_1


“Astaga, sungguh saya mohon maaf atas ketidaktahuan saya. Tanpa sengaja saya mengundang tamu penting, murid dari pedekar sepuh yang sangat saya hormati. Maka hari ini adalah kehormatan bagi saya bisa bertemu dan berkenalan dengan kakak seperguruan keponakan saya, Jalu.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Kamilah yang merasa terhormat, gusti patih.” Kata Buyung.


“Saya sungguh senang dengan hal ini. Sejujurnya, setelah peristiwa kebakaran semalam, beberapa telik sandi kerajaa mengabarkan kepada saya, bahwa nona Anjani lah yang telah memadamkan api di sana. Dengan demikian, undangan ini secara khusus adalah ungkapan terimakasih kami atas bantuannya memadamkan kebakaran kemarin malam. Selain itu, sebetulnya memang ada hal yang ingin saya sampaikan secara pribadi kepada kalian.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


Sang Mahapatih itu sejenak menghela nafas, “Belakangan ini, telik sandi kerajaan menyampaikan berita-berita buruk, terutama soal kedatangan para pendekar aliran hitam dari wilayah kerajaan lain, dan juga dari pulau Neraka. Saya yakin hal ini akan berkenaan dengan keamanan kerajaan. Rasa-rasanya, tidak mungkin jika pergerakan para pendekar aliran hitam itu semata-mata hanya untuk balas dendam. Apakah kalian juga mendengar kabar soal hal ini?” tanya Mahapatih Siung Macan Kumbang.


“Sejauh yang bisa kami ketahui sementara hanya soal pergerakan pendekar aliran hitam yang mulai berbuat kekacauan, gusti. Selebihnya kami belum memiliki kabar apa-apa.” Jawab Buyung.


“Dalam waktu dekat, jika perkiraanku benar, maka kerajaan swargadwipa akan diserang oleh para pendekar aliran hitam. Tentu saja ada kerajaan lain di belakang mereka, saat ini kami masih mencari tahu siapa tokoh di balik mereka.” Kata Mahapatih Siung Macan Kumbang.


 


 


Chapter ini sampai di sini dulu ya teman. Sebelum pindah ke chapter selanjutnya, mohon bantuan like dan kalau sempat meninggalkan jejak di kolom komentar. Terimakasih banyak teman-teman. Happy Reading.


 


 

__ADS_1


__ADS_2