Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 321 Rahasia Di Antara Dewa Perang Dan Dewa Penempa Senjata


__ADS_3

Sosok yang disebut kelelawar iblis itu melayang sebentar, keluar dari peti, kemudian turun beberapa langkah di hadapan Andhakara.


“Kenapa kau kemari!” sang kelelawar iblis itu menyeringai, memperlihatkan kedua taringnya yang biasanya ia gunakan untuk menghisap darah.


“Begitukah kau menyambutku? Ketus sekali!” kata Andhakara. Ia menampilkan jurus senyuman pemikat perasaan yang biasanya ia gunakan untuk menjerat iblis-iblis betina.


“Tubuhmu yang baru itu, lumayan juga. Eh…tidak, sedikit lebih baik dari yang dulu! Tak mungkin kau ke sini untuk bilang kalau kau rindu padaku kan? Aku sudah melupakanmu. Jangan harap kau mendapatkan apapun dariku kali ini!” sudah pasti kelelawar iblis tak akan pernah lupa sakit hatinya sekalipun ia mengatakan bahwa ia sudah melupakan masa lalunya.


Sebab, karena sakit hati yang ia rasakan itulah ia tak pernah lagi keluar dan bertemu dengan iblis-iblis lainnya di kerajaan iblis di dunia bawah. Ia memilih untuk menyepi di dalam goa bersama dengan jutaan kelelawar yang tinggal di sana.


“Kenapa kau harus semarah itu padaku? Lagipula seharusnya kau tahu, aku berhubungan dengan iblis-iblis lainnya!” kata Andhakara.


“Aku tahu soal itu dan maklum. Tetapi kenapa harus kakakku juga yang kau sakiti! Kau tak tahu kan apa yang terjadi dengannya?” nada kelelawar iblis kembali meninggi.


“Kenapa dengan Samara?!” Andhakara penasaran.


“Aku tak bisa memberitahukan padamu!”


“Di mana dia sekarang, Yuri?” Andhakara semakin dibuat penasaran. Dulu, sang pangeran memang mengencani Yuri dan Samara sekaligus. Kedua kakak beradik itu tak tahu sama sekali bahwa mereka mencintai sosok yang sama, iblis yang berbeda dengan iblis-iblis lainnya, sang pangeran kegelapan.


“Dia pergi entah di mana…sudahlah, katakan apa maumu?” kata Yuri, sang kelelawar iblis.


“Jiwa iblisku sangat lemah saat ini, Yuri. Beberapa waktu yang lalu aku bertarung dengan dewa yang tangguh. Dia punya taring sepertimu, menggigit leherku dan menghisap jiwa iblisku. Kini, jiwa pemilik tubuh ini setiap saat bisa kembali menguasai tubuh ini. Akan sangat berbahaya bagi iblis-iblis lainnya nanti.”


“Jadi kekacauan beberapa waktu yang lalu kau penyebabnya?”

__ADS_1


“Semua iblis yang sudah dibangkitkan Ogha telah musnah. Tinggal Bail saja yang tersisa di kerajaanku. Sementara aku belum membangkitkan iblis lainnya.”


“Ogha masih hidup?”


“Hanya dia yang bisa membangkitkanku, tentu saja dia masih hidup!”


“Seharusnya kau tak usah bangkit lagi! Bangsa iblis tak perlu bangkit lagi! Kau terlalu tamak ingin menguasai dunia, Andhakara! Sekalipun para dewa saat ini tidak pernah terlihat lagi, tetapi bangsa raksasa berada pada kekuatan puncaknya! Aku tahu itu semua. Sudahlah, nikmati saja kehidupan barumu dan tak usah berulah lagi!”


“Tampaknya kau senang sekali jika aku musnah! Aku kemari karena kupikir kau akan senang dengan kehadiranku. Kupikir kau mau melanjutkan hal yang tak kita selesaikan di masa lalu. Baiklah, Yuri. Maaf mengganggumu. Kau tetap sosok yang berbeda bagiku, memiliki tempat tersendiri dalam hatiku. Tapi…” Andhakara tak melanjutkan jurus rayuan gombalnya, tapi justru itulah seninya. Ia memperlihatkan senyumnya yang paling menawan, lalu berjalan meninggalkan Yuri.


“Tapi apa?!” gentian Yuri yang terpancing. Bagaimanapun juga, ia sangat mencintai Andhakara. Cinta itu sudah terlanjur tumbuh bukan hanya di hati saja, melainkan sampai di tulang sumsum.


“Maaf Yuri, aku selalu mengecewakanmu. Bahkan mungkin jika kau keluar goa ini, kau akan sangat marah padaku. Ogha dan Rodya sedang bersamaku.” Andhakara memainkan jurus yang kedua, tarik dan ulur. Tentu Yuri kembali marah. Tetapi hal itu sudah diperhitungkan dengan matang oleh Andhakara.


“Bajingan kau Andhakara! Aku bisa memaafkanmu dengan Ogha, tetapi kenapa kau juga membawa Rodya!” Yuri naik pitam. Ia sangat membenci Rodya, iblis betina yang setiap perkataannya selalu menyakitkan itu.


“Aku tak tahu kepada siapa harus minta tolong. Aku hanya ingin memulihkan bangsa iblis, membuka kembali pintu ke dunia bawah, menghidupkan kembali kuil api iblis, memulihkan jiwaku, hanya itu saja Yuri. Apa yang bisa ku lakukan? Aku tahu ulahku ini tak hanya membuatmu marah, tetapi juga Ogha dan Rodya. Semua marah padaku.”


“Tak tahu malu!”


“Ya, kau benar! Aku pantas dihina. Tetapi aku punya alasan kenapa aku mencintai kalian semua. Aku ingin membagikan tubuhku tak hanya untuk satu iblis perempuan saja. Aku pangeran kegelapan, aku ada untuk kalian semua. Aku juga sakit mengetahui kau sakit. Jika kau ingin memiliki sepenuhnya, akupun demikian. Aku tak mau berbagi perasaanku. Tetapi aku tak bisa, Yuri. Aku pangeran kegelapan.”


“Bedebah sial! Kenapa kau selalu membuatku menangis, Andhakara! Tidakkah kau ingin memelukku sebentar saja?!” Yuri mulai meleleh. Ia benar-benar merindukan Andhakara, satu-satunya yang sanggup memberikan kenikmatan yang tak bisa didapatkan dari siapapun juga.


Dulu, sebelum perang antara bangsa dewa dengan bangsa iblis pecah, Andhakara hanyalah pangeran iblis yang nakal. Meski ia berasal dari kekuatan para iblis, namun sejak ia tercipta, ia selalu berada di sisi sang raja iblis dan tinggal di kerajaan layaknya putera raja.

__ADS_1


Setelah tumbuh besar, selama ratusan tahun ia menghabiskan waktunya untuk bermain-main dengan para iblis dan juga siluman perempuan. Tak ada yang sanggup menepiskan rayuan dan godaannya. Perempuan-perempuan itu meleleh hingga tak sedikit yang rela menyerahkan nyawanya untuk sang pangeran kegelapan.


“Yuri, jika aku bisa, aku ingin lebih dari sekedar memelukmu. Aku rindu memberikan hal yang paling kau nikmati. Tetapi percayalah, selama jiwa iblisku lemah, kau akan ada dalam bahaya jika aku memelukmu. Pemilik jiwa ini adalah pembantai iblis. Kau pun tak akan sanggup menandinginya. Aku akan sangat senang jika kau mau kembali padaku, bergabung denganku. Tapi aku tak bisa memaksakan kehendakku, Yuri. Kau akan berulang kali kecewa padaku.”


“Aku akan membantumu, Andhakara. Ada hal yang perlu kau ketahui. Kau masih punya harapan. Samara telah melahirkan sepuluh anakmu!”


“Apa?!!!” Andhakara sangat terkejut.


****


Di altar Samudra, Batari mahadewi telah beberapa hari bertarung dengan bayangannya sendiri. Saat ia tak sanggup lagi bertempur, lalu ambruk tak sadarkan diri, seketika juga bayangan itu hilang. Tubuh Batari Mahadewi kembali diselubungi kepompong emas.


Kepompong emas itu dengan cepatnya menyerap segala sumber energi yang ada di sekitarnya. Selalu seperti itu jika Batari Mahadewi sedang dalam kondisi kritis. Sehingga bisa dikatakan, gadis pusaka dewa itu tak akan pernah mati jika tubuhnya tak hancur menjadi debu.


Sang dewa perang membiarkan tubuh Batari Mahadewi di sana. Ia keluar dari ruang latihan itu, lalu bertemu dengan dewa penempa senjata.


“Bagaimana latihannya?” tanya dewa penempa senjata.


“Tak buruk, aku tak menyangka kita berhasil menciptakan senjata seperti itu,” jawab dewa perang.


“Jika kita bisa mengendalikan senjata itu, maka semua rencana yang pernah kita bicarakan bisa tercapai,” kata dewa penempa senjata.


“Hati-hatilah dengan ucapanmu itu, jangan sampai terdengar oleh dewa-dewa yang lain!” dewa perang memperingatkan.


“Tenang saja, di ruangan ini, tak akan ada yang bisa mengetahui pembicaraan kita.”

__ADS_1


“Usaha kita masih jauh dari berhasil. Raja dewa sungguh cerdik, membuat senjata ini menjadi manusia yang memiliki akal dan perasaan. Kau masih memiliki kesempatan untuk mengubahnya. Kita mungkin akan menempanya kembali selama dua atau tiga kali lagi. Saat itulah kesempatanmu. Tetapi jika kau gagal, dia akan menjadi malapetaka yang lebih mengerikan dari Kalapati.” Kata dewa perang.


__ADS_2