
Aku ada karena kamu
Kamu ada karena aku
Kita adalah sepasang cermin
Melalui tubuhmu, aku bisa mengenal aku
Melalui tubuhku kamu bisa mengenal kamu
Meski kita tak sepenuhnya bisa saling mengenal
Aku tak sepenuhnya aku
Kamu tak sepenuhnya kamu
Isi tak sepenuhnya isi
Kosong tak sepenuhnya kosong
Sebab isi adalah kosong
Dan kosong adalah isi
Sebab kenyataan tak sepenuhnya nyata
Dan kebenaran tak sepenuhnya benar
Ketika mata tak lagi melihat cahaya
Ketikan pikiran tak mampu memahami
__ADS_1
Maka biarkan perasaan menuntun jalanmu
Apa kabarnya Batari Mahadewi dan Nala di dalam ruang meditasi Seribu Cermin milik kuil suci pulau Es? kedua pendekar dunia satu rembulan itu telah enam bulan lamanya berada di dalam ruang meditasi. Tubuh kedua pendekar itu terbalut kristal es bening.
Batari Mahadewi dan Nala telah berhasil membuka pintu energi dingin dalam tubuh mereka sehingga keduanya tak hanya bisa menyerap energi dari hawa dingin, namun juga menciptakannya; mengubah udara menjadi es. Dengan demikian, keduanya telah siap untuk melanjutkan perjalanan ke tahap berikutnya, yakni menyerap energi utama di pulau Es.
“Kalian berdua, bukalah matamu.” Terdengar seruan suara nenek-nenek yang meyuruh Batari Mahadewi dan Nala menyelesaikan meditasi mereka. Ketika dua pendekar dari dunia satu rembulan itu membuka mata, betapa terkejutnya mereka karena melihat sosok nenek-nenek yang tak asing bagi mereka; ia adalah manusia pulau es pertama yang bertemu dengan keduanya.
“Bukankah nenek adalah yang kami temui di pemukiman sepi waktu itu?” tanya Batari Mahadewi penasaran.
“Benar sekali, Tari. Aku ada di mana-mana. Aku roh penunggu sumber energi utama pulau Es. Aku tahu kalian akan berhasil sampai di sini. Dan selanjutnya, aku akan membimbing kalian untuk menemukan sumber energi utama itu. Sekarang ayo ikuti aku.” Nenek tua itu masuk ke dalam salah satu cermin es di dalam ruangan itu. Tubuhnya menembus masuk, seolah cermin es yang keras itu adalah air. Batari Mahadewi dan Nala mengikutinya dan keduanya tidak menyangka bahwa mereka juga bisa melakukan yang dilakukan oleh nenek itu.
Setelah keduanya masuk ke dalam cermin, keduanya melihat sebuah dunia yang serba putih tertutup salju. Tak ada apa-apa di sana selain salju. Bahkan di angkasa yang terlihat adalah salju, bukan langit. Sejauh mata memandang hingga ke titik terjauh, yang terlihat adalah warna putih.
“Selamat datang di belantara salju. Di sinilah tempat sumber energi utama pulau Es berada.” Kata nenek itu.
“Aku masih tak menyangka bahwa nenek adalah roh penjaga sumber energi utama pulau Es. pantas saja kami tak bisa merasakan pancaran energi nenek, hanya sedikit saja yang kami tangkap, itupun ketika nenek menunjukkan kepada kami cara nenek mengubah salju menjadi pedang es.” ujar Nala.
“Bolehkan aku bertanya, nenek?” tanya Batari Mahadewi.
“Silahkan.” Ujar nenek itu.
“Kenapa nenek tak menghentikan kekacauan yang ditimbulkan oleh monster salju itu?” tanya Batari Mahadewi.
“Itu bukan lagi urusanku, Tari. Aku tak lagi berhak mencampuri kejadian yang terjadi di saat ini. Aku hanya akan menunjukkan jalan kepada siapapun yang kupilih sebagai manusia-manusia yang berhak mendapatkan energi dari sumber utama.” kata nenek itu.
“Jadi nenek memilih kami berdua untuk saat ini?” tanya Nala.
“Ya. Kalian mampu melakukannya, dan kalian benar-benar membutuhkannya untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik di dunia kalian.” Kata nenek itu.
“Lalu apa yang harus kami lakukan selanjutnya, nek?” tanya Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Sekalipun aku memberi jalannya, namun kalian sendiri yang akan melewatinya. Berhasil atau tidak, kalian sendiri yang menentukannya.” Jawab sang nenek, “yang harus kalian lakukan adalah merasakan pancaran energi dari sumber utama. Kalian tak akan pernah melihat wujudnya, namun kalian bisa merasakannya. Tentu ini adalah hal yang tidak mudah, sebab hanya dengan membuka perasaan kalian, maka kalian akan menemukannya.” Kata nenek itu.
Batari mahadewi dan Nala mencoba mencerna apa yang baru saja dikatakan oleh nenek itu. Tentu saja, apa yang mereka bayangkan tentang sumber energi utama di pulau api berwujud semacam sumber energi utama di pulau api. Ternyata, yang mereka pikirkan berbeda jauh dengan kenyataan yang mereka hadapi saat ini.
Tapi mendengar kata-kata nenek itu, pada akhirnya keduanya paham, kenapa keduanya harus meditasi sekian lama dalam ruang seribu cermin; untuk belajar tak mempercayai apa yang mereka lihat sebagai kebenaran.
Justru dengan perasaan, maka segala hal tak akan tampak sebagai kenyataan atau ilusi, baik atau buruk, hitam atau putih. Perasaan jauh di luar bahasa, jauh di luar makna. Perasaan adalah hal yang paling awal yang dimiliki manusia ketika ia dilahirkan untuk berkenalan dengan dunia, sebelum ia bisa melihat, sebelum ia mengenal bahasa, sebelum ia mengenal dirinya sendiri, atau merasa perlu untuk mengenal dirinya sendiri.
“Baiklah, aku akan meninggalkan kalian berdua di sini. Belajarlah menajamkan dan menggunakan perasaanmu untuk menemukan apa yang kalian cari.” Kata nenek itu yang kemudian menghilang begitu saja.
“Apa yang akan kita lakukan Tari?” tanya Nala.
“Entahlah. Hmm…apa kabar, Nala. Rasanya lama sekali kita tak bercerita.” Ujar Batari Mahadewi.
“Begitu kita membuka mata, kita langsung dijak ke sini oleh nenek itu. Ya, kurasa kita lama sekali berada dalam ruang meditasi itu.” kata Nala.
“Sekarang kulit kita serupa dengan kulit manusia salju jika kita menggunakan energi es sebagai dasar kekuatan kita.” Kata Batari Mahadewi.
“Aku ingin melihat kemampuanmu setelah kau berhasil menguasai ilmu es, Tari.” Kata Nala.
“Aku juga ingin melihat bentuk barumu, Nala.” kata Batari Mahadewi.
“Kau duluan.” Kata Nala.
“Tidak, kau duluan.” Kata Batari Mahadewi. Tentu dengan cara bicara yang membuat Nala selalu mengalah dan menuruti permintaannya.
Nala mencoba untuk menggerakkan salju di sekelilingnya sebagaimana ia menggerakkan material tanah atau api, lalu mengangkat salju itu dan menciptakan bentuk-bentuk tertentu. Nala menambahkan energinya dan membuat bentuk salju yang ia ciptakan mengeras menjadi kristal es bening. Kemudian lelaki itu menciptakan lagi bentuk baru yang lain, yakni patung salju yang berbentuk sama persis dengan Batari Mahadewi, dan ia mengeraskannya menjadi kristal es.
Batari Mahadewi tak bisa menyembunyikan rasa senang ketika ia melihat Nala membuat patung dirinya, persis dari ujung kaki hingga tiap helai rambut gadis sakti itu. Ia tak menyangka bahwa Nala memiliki kemampuan yang lain; kemapuan untuk menciptakan sebuah karya seni yang terlihat hidup dan nyata, meski itu hanya sebuah patung.
“Kau tahu, Tari… aku bisa membuka pintu energi dingin dalam tubuhku ketika aku memikirkanmu.” Kata Nala sambil memandang wajah patung Batari Mahadewi yang baru saja ia ciptakan itu.
__ADS_1