
Akhirnya, kisah ini bisa kuselesaikan. Seperti yang kujanjikan pada teman-teman semua bahwa aku bertanggung jawab untuk menulis kisah ini sampai tamat.
Batari Mahadewi adalah novel pertamaku. Banyak sekali cacat dalam cerita ini. Tetapi aku tak akan memperbaikinya. Akan aku jadikan catatan pribadiku dan bahan pelajaran agar kelak aku tak terjerumus pada kesalahan yang sama dalam menciptakan alur cerita. Setiap kubaca, jika ketemu yang salah, pastinya kesal kan, hahaha, dengan begitu aku akan tetap menjadi orang yang rendah hati. Mudah-mudahan. Narsis amat yak!
Aku sangat bersyukur, kisah yang jauh dari sempurna ini masih bisa diterima oleh teman-teman semua.
Tentunya, kisah ini tak akan pernah menjadi seperti ini tanpa dukungan dari banyak pihak. Maka melaui penutup ini, izinkan aku menyampaikan rasa terimakasih.
Terimakasihku yang pertama adalah untuk author Novita Budi Lestari. Dia ini istri tercinta yang sering banyak memberikan masukan, teguran, ciuman, semangat, dan cinta tanpa batas agar aku tetap semangat. Istriku ini juga menulis, judulnya AMBERLEY. Karya apik itu sudah tamat teman-teman. Rugi kalau tak dibaca. Kadang kami bertengkar ketika mendiskusikan cerita dalam kisah Amber dan Gian di sana, sebuah romance remaja dengan lika-liku cinta yang unik. Percaya tak percaya, bahasa penulisan di AMBERLEY lebih enak dibaca daripada Batari Mahadewi. Novi lebih telaten nulis dan ngedit daripada aku.
You are the best, beib. Kisah ini tamat juga akhirnya. Ga nyangka ya, suamimu yang serabutan ini akhirnya lulus jadi penulis novel.
Terimakasih kedua kupersembahkan untuk teman-teman pembaca semua. Hanya karena kalian saja aku mau menyelesaikan kisah ini. Hanya karena kalian aku juga dapat rejeki. So, thank you very much. Percaya tak percaya, aku sering mempertimbangkan masukan, saran, dan kritik teman-teman semua untuk menentukan chapter-chapter berikutnya. Tapi kalau saran untuk mengedit, kadang aku malas, hehehe, maafkan. Pokoknya, terimakasih atas segala bentuk support dan semangat yang diberikan padaku baik dalam bentuk like, komen, vote, tips, doa, pujian, makian, dan apapun itu. Semua menjadi berkah bagi saya.
__ADS_1
Terimakasih ketiga kuberikan kepada kak Jo. Dia adalah pembaca legendaris di Noveltoon/Mangatoon. Suatu hari, dia nemu karya Batari Mahadewi, lalu masuk ke grup chatku, kasih banyak dukungan dan ancaman agar aku nulis sampai tamat. Entah bagaimana caranya, kak Jo merelakan waktunya untuk mengumpulkan poin dan ngevote Batari. Dia di podium paling atas pada vote Batari. Nah, kak Jo ini akhirnya juga merelakan dirinya untuk menjadi admin di GC ku. Thanks kak Jo, maaf aku terlalu sibuk dan jadinya dirimu seorang yang ngurusin GC. Hanya kisah sederhana yang telah tamat ini yang bisa kuberikan padamu.
Terimakasih keempat kuberikan kepada teman-teman Author noveltoon. Ada banyak sekali nama. Jadi jika aku tulis beberapa nama, maka akan menimbulkan tanda tanya bagi yang tak tertuliskan namanya. Berkat mereka semua aku bisa belajar banyak. Makasih ya brothers and sisters.
Ucapan terimakasih yang special, tentunya untuk Platform Mangatoon dan Noveltoon atas kesempatan bagiku untuk belajar dan berkarya di sini, serta untuk rejeki yang diberikan padaku.
Berkat Mangatoon/Noveltoon, akhirnya aku memberanikan diri menulis novel. Sebelumnya, aku hanyalah seorang penyair gagal, teatrawan payah, lightingman pertunjukan yang takut kesetrum, guru bahasa inggris yang selalu buka google kalau ada murid yang tanya, "Pak, ini artinya apa?" dan akhirnya aku menyerah menjadi guru. Resign, lalu benar-benar menyiapkan hati dan memberanikan diri untuk menempuh jalan kepenulisan untuk hidup.
Mungkin ada satu atau dua dari pembaca Batari yang ingin jadi penulis suatu hari nanti. Sebagai hal yang bisa kubagikan, menulis itu sama dengan membaca. Percaya tak percaya. Seorang penulis itu menggunakan kata-kata untuk menyampaikan yang ada di kepala. Sementara membaca itu memasukkan kata-kata ke dalam kepala untuk membayangkan peristiwanya.
Apakah menulis itu melelahkan? Kegiatan menulis itu tampaknya hanya duduk diam dan mengetik saja. Tetapi rasa lelahnya berbeda. Jika aku mememasang lampu pertunjukan yang masing-masing beratnya 5-10 kg, membawa dari bawah ke atas dengan menaiki tangga kecil selama 12 jam kerja penuh per hari, maka setelah proyek itu selesai aku bisa langsung tidur nyenyak. Tapi menulis sebanyak 5 chapter sehari atau sekitar 5000 kata, pasti kepalaku berputar-putar ketika hendak tidur.
Belum lagi kalau mendapatkan komentar yang sedikit menyentil hati, hahaha, rasanya nyut-nyutnya bisa berhari-hari.
__ADS_1
Tetapi kemudian aku lebih memilih menulis dengan penghasilan sedikit yang jika beruntung, masih bisa digunakan untuk menyambung hidup selama beberapa hari. Menulis tak sedekar cara untuk mencari nafkah, tak sekedar mencari kesenangan, namun ada hal yang bagiku penting.
Seumur hidup, aku mengkonsumsi banyak cerita, banyak kisah dari berbagai hal, baik dalam kehidupan sehari-hari ataupun dalam dunia fiksi (Novel, film, komik, dsb). Yang kurasakan ketika sedang menikmati kisah-kisah itu, aku sendiri seolah selalu menempatkan diri dalam dunia cerita itu. Banyak fiksi di kepala yang terlanjur mengendap. akan berbahaya bagi perkembangan psikologisku sendiri apabila aku tak mengeluarkannya dalam bentuk karya. Tiap orang tidak sama, tentu saja, tetapi setiap kali menulis baik puisi, novel, atau artikel, ada perasaan nyaman setelahnya. Ya mirip orang curhat lah.
Tetapi, dari semua hal yang kupelajari, latihan terbaik untuk menulis novel atau prosa panjang, selain membaca tentu saja, adalah dengan menulis puisi. Ketika aku menulis puisi, aku berusaha dengan keras untuk memelintir makna kata, atau menggunakan susunan kata dengan cara yang tidak biasa.
Misalnya begini; Malam ini aku melihatmu menyeruput secangkir air mata bulan yang sejak beberapa hari yang lalu ku simpan di kulkas. Kau bilang rasanya terlalu sendu. Kau menyuruhku menambahkan beberapa biji bunyi matahari yang mendidih di dapur.
Nah, beberapa kalimat di atas terkesan tidak wajar bukan? Kalau aku sih kadang butuh latihan semacam itu. Tujuannya untuk merentangkan imajinasiku selebar-lebarnya. Itu yang pertama. Selanjutnya, aku merasa bisa lebih bersahabat dengan kata-kata.
Ini penutup aja kok panjang sekali ya?! hahaha, sengaja. Biar genap seribu kata. Ada perasaan sedih ketika harus mengakhiri kisah ini. Artinya, aku akan berpisah dengan kegiatan menulis Batari Mahadewi yang selama tujuh bulan ini mewarnai hari-hariku.
Kadang aku menulis saat suasana hati sedang enak. Kadang sebaliknya. Belum tentu kalau menulis dengan suasana hati enak itu bisa menghasilkan chapter yang enak dibaca. Bahkan, aku sering mengalami menulis saat pikiran sedang kacau, tetapi hasilnya memuaskan. Setidaknya buatku sendiri.
__ADS_1
Jadi, menulis ya menulis saja. Tidak perlu menunggu ide datang. Tidak perlu menunggu suasana hati sedang enak. Biarkan tiap-tiap kata yang bertemu menjadi kalimat itu akan mengantarkan kita pada kalimat-kalimat selanjutnya yang membentuk alur cerita. Seperti halnya menjelajah hutan yang asing, pilih saja jalan yang disukai tanpa harus benar-benar tahu kemana perjalanan akan berakhir. Sebab yang terpenting adalah menikmati segala suka dan duka dari menempuh perjalanan itu.
Akhir kata, terimakasih banyak semua. Mohon maaf apabila ada hal yang kurang berkenan dari keberadaan saya di dunia ini. Sampai jumpa di karyaku yang lain.