Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 245 Melawan Raja Siwandawala


__ADS_3

Serangan yang dikerahkan sang Mahapatih untuk Batari mahadewi sekaligus membuat para pendekar yang sedang menonton itu melompat mundur mencari selamat. Mereka mundur bukan karena takut akan terkena percikan energi sang Mahapatih, namun karena Batari Mahadewi masih terlihat baik-baik saja.


“Lumayan, ki sanak. Seranganmu cukup untuk membunuh tikus-tikus sawah. Kau sangat berbakat menjadi petani. Jika kau mau, aku akan membantumu, jika tidak, maka maafkan aku harus mengakhiri kepongahanmu di sini. Masih banyak yang lebih baik yang akan menggantikanmu menjadi Mahapatih,” ucap Batari Mahadewi.


Darah sang mahapatih mendidih mendengar kata-kata itu. Namun lelaki bertubuh tinggi dan besar itu sudah kehilangan akal untuk mencari cara melumpuhkan gadis cantik yang menjadi lawannya itu.


“Jangan diam saja. Kau pilih hidup atau tidak!” bentak Batari Mahadewi.


“Kalian tunggu apa lagi? Serang pengacau ini!” perintah sang Mahapatih kepada para bawahannya yang tadinya ia usir agar menjauh dari pertarungannya.


Para pendekar yang mengepung Batari Mahadewi itu tanggap dan dengan cepat mengerahkan pukulan energi dari berbagai arah. Pukulan itu hanya saling berbenturan satu sama lain dan menghasilkan ledakan yang lebih dahsyat dari serangan sang Mahapatih.


Batari Mahadewi telah ada di belakang sang mahapatih sebelum serangan para pendekar itu menyentuh tubuhnya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu memberikan satu sentuhan lembut dan membuat sang Mahapatih roboh dan tak akan bangun untuk beberapa hari kedepan. Seluruh ilmu dan kecerdasan kanuragannya hilang untuk selamanya. Kelak ia akan benar-benar menjadi seorang petani.


“Patih kalian telah selesai menunaikan tugas. Apakah kalian ingin menyusulnya? Aku ke sini hanya akan berurusan dengan sang raja, bukan kalian semua,” kata Batari Mahadewi.


Melihat gadis cantik itu melumpuhkan sang Mahapatih dengan cara yang sulit dipercaya, para pendekar itu benar-benar grogi. Setidaknya, tak ada satupun dari mereka yang memperlihatkan tanda-tanda akan menyerang Batari Mahadewi.


Beberapa saat kemudian, sang raja Siwandawala dengan ditemani lima puluh pendekar pilihan yang menjadi pengawal pribadinya keluar dari dalam istana setelah mendengar keributan yang baru saja terjadi itu.

__ADS_1


Raja itu, sang Sri Maharaja Gasendra, bukanlah orang sembarangan. Ia bisa menjadi raja karena ia sangat sakti dan tak satupun orang di Siwandawala yang sanggup melawannya, layaknya raja-raja dalam dongeng yang selalu sakti dan tak terkalahkan.


Selain sakti karena kemampuan tubuhnya, sang raja itu juga memiliki berbagai pusaka sakti yang terbuat dari berbagai jenis mustika siluman. Pusaka-pusaka itu ada di cincinnya, gelang, pedang, kalung, hingga mahkotanya. Betapa melelahkan mengenakan aksesoris semacam itu di sepanjang hidupnya.


Batari Mahadewi menyadari keberadaan mustika-mustika itu. Andaikan sang raja itu menyerap semua energi mustika itu, maka ia akan jauh lebih kuat lagi, namun ia akan kehilangan sisi manusianya. Raja itu cukup cerdas untuk menjadikan mustika berbagai jenis siluman itu sebagai cincin dan berbagai perhiasan lainnya. Dengan demikian, tubuh sang raja itu diselimuti kekuatan yang besar, meski tak sebesar jika mustika itu diserap ke dalam tubuh.


Yang sedikit merepotkan, mustika yang dikenakan sang raja itu cukup banyak. Hal itu sama halnya Batari Mahadewi harus menghadapi beberapa siluman kuat sekaligus. Tiap mustika itu setidaknya berasal dari siluman yang berusia lebih dari lima ratus tahun. Mustika-mustika itu kemudian diubah menjadi senjata dalam berbagai bentuk oleh seorang empu yang handal.


Para pengawal rajapun demikian, mereka adalah para pendekar yang ilmunya sedikit di bawah sang Mahapatih. Sebagian besar dari mereka membawa pusaka-pusaka sakti yang telah dilengkapi dengan mustika yang mengandung kekuatan tinggi. Pusaka itu jika digunakan dengan baik, bisa menyulitkan gadis jelmaan pusaka dewa itu. Pantas saja sang raja itu sangat sombong dan berani bertindak sebagai penindas.


“Jadi kaukah pengacaunya?” kata sang raja.


“Menarik sekali. Sudah lama sekali aku tak melihat seseorang yang pemberani. Andai saja aku masih muda dan belum memiliki ratu, akan aku angkat kau menjadi ratuku,” kata raja itu.


“Paduka tenang saja. Setelah aku mengirim paduka ke neraka, di sana paduka akan awet muda dan tak akan pernah mati lagi. Banyak iblis cantik yang akan rela menjadi selir paduka,” kata Batari Mahadewi. Ucapan itu adalah ucapan yang paling tidak sopan yang di dengar raja itu selama lima puluh tahun terakhir ini.


Sudah pasti raja itu sangat murka. Tubuhnya mulai memancarkan kekuatan yang luar biasa. Dengan bantuan berbagai mustika siluman yang menempel di beberapa bagian tubuhnya itu, sang raja memiliki kekuatan yang tidak wajar.


Batari Mahadewi mau tak mau harus menggunakan kekuatan yang cukup besar untuk membongkar perisai energi yang melindungi tubuh raja itu. Bagaimanapun juga, kekuatan yang dimiliki raja Gasendra itu bisa dibilang lebih besar tiga kali lipat dari kekuatan panglima Kera Api yang memimpin pasukan kerajaan hitam Tirayamani sewaktu menyerang Mahabhumi.

__ADS_1


Ketika sang raja itu sudah menunjukkan kekuatannya, para bawahan raja itu kembali bersemangat dan pulih keberaniannya setelah sempat beberapa saat tertelan dalam ketakutan mereka. Lima puluh orang pendekar pengawal raja mulai membentuk formasi berpencar, sementara ratusan pendekar lainnya juga melakukan hal yang sama.


“Baiklah, sepertinya ini akan menarik. Aku akan menunjukkan sesuatu dan semoga kalian tetap bersemangat,” kata batari Mahadewi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu mulai memancarkan kekuatannya. Tubuhnya memancarkan cahaya keemasan dengan selubung pijaran listrik membentuk garis-garis biru keperakan.  Pancaran energi itu membuat semua orang takjub. Namun belum selesai mereka terkagum-kagum, Batari Mahadewi menghentakkan energinya dan membuat siapapun yang berkemampuan rendah terpental jauh. Sisanya yang lumayan kuat terdorong sekian langkah ke belakang. Hanya sang raja yang masih bertahan pada posisinya.


Batari Mahadewi tak terlalu mempedulikan para pesuruh raja itu, sebab mereka sudah pasti tak akan menyerang terlebih dahulu. Gadis jelmaan pusaka dewa itu memusatkan perhatiannya kepada sang raja.


“Lumayan juga kekuatanmu, nona cantik,” kata raja itu.


“Ini belum seberapa, paduka. Aku tak ingin melukai anak buahmu dengan memancarkan kakuatanku sepenuhnya. mereka tak layak untuk mati demi membelamu. Paduka mau bertarung atau hanya menonton kekuatanku saja? kenapa tidak mulai menyerangku?” sindir Batari Mahadewi.


“Baiklah kalau begitu, ayo kita bertarung!” Raja itu melesat cepat ke arah batari Mahadewi dan menghujamkan serangan-serangan dengan kecepatan tinggi.


Batari Mahadewi yang penasaran dengan batas kekuatan sang raja beserta kekuatannya itu hanya memilih untuk menghindar dan mencoba memancing sang raja itu mengerahkan seluruh kemampuannya. Gadis jelmaan pusaka dewa itu juga ingin tahu, seberapa hebat jika mustika siluman dijadikan pusaka sakti, sebab dalam waktu dekat ia akan belajar untuk menciptakannya.


Raja itu bergerak semakin cepat. Tiap-tiap mustika siluman yang melekat di tubuhnya itu menyumbangkan berbagai kemampuan dan jenis kekuatan yang berbeda-beda. Ada yang membuat tubuh sang raja itu tahan dengan berbagai pukulan kuat, ada yang berfungsi untuk menambah kecepatan, ada pula yang digunakan untuk menambah kekuatan pukulan.


Sesekali Batari Mahadewi Mengerahkan beberapa serangan ringan untuk mengetahui reaksi sang raja dan melihat bagaimana pusaka mustika itu bekerja.

__ADS_1


Pertarungan itu berjalan lebih lama dari biasanya dan membuat beberapa bagian di luar istana itu hancur berantakan. Bukan karena Batari Mahadewi, namun karena pukulan-pukulan energi sang raja yang selalu meleset. Batari Mahadewi bergerak seindah kupu-kupu yang tak hanya menggoda, namun juga mengejek lawan-lawannya itu.


__ADS_2