
Seharusnya, kekosongan di kerajaan Catrabhumi akan menjadi hal yang diperebutkan oleh para pembesar kerajaan-kerajaan di wilayah barat. Namun mengingat para pasukan Tirayamani kemungkinan besar akan datang melalui jalur yang sama, pada akhirnya tak ada kerajaan yang berminat untuk menguasai wilayah itu.
Satu-satunya kerajaan yang memanfaatkan kekosongan di Catrabhumi adalah kerajaan Catrawana. Beberapa senopati telah diangkat untuk menjadi adipati di masing-masing kota di wilayah Catrabhumi. Dengan demikian, otomatis wilayah itu menjadi wilayah bawahan Catrawana.
Sayangnya, setidaknya dalam waktu dekat, tak banyak rakyat yang mau kembali ke wilayah itu. Dengan sendirinya, wilayah Catrabhumi menjadi tak seramai dahulu. Banyak area persawahan dan pedesaan yang pada akhirnya menjadi hutan.
Raja Segara Biru sudah tak memiliki keinginan untuk menyerang Swargadwipa. Demikian pula dengan kerajaan-kerajaan barat lainnya. Mereka butuh lebih dari sepuluh tahun untuk memulihkan keadaan seperti semula. Hal baiknya adalah, ikatan persaudaraan perguruan aliran putih di seluruh pulau Mahabhumi kembali lagi seperti semula. Mereka semua menyadari satu hal, tanpa kerjasama antara wilayah timur dan barat, maka serangan serupa dari kerajaan Tirayamani tak akan bisa diatasi.
Batari Mahadewi menjadi sosok yang tak terlupakan, setidaknya di kalangan dunia persilatan. Ia menjadi tokoh kunci yang membuat para pendekar dan seluruh kerajaan di Mahabhumi segan dengan kerajaan Swargadwipa.
Ketika para manusia di Mahabhumi sedang sepi huru-hara, sebaliknya, dunia siluman dan iblis mulai menunjukkan tanda-tanda pergolakan.
Bermula dari pertarungan antara Nala dengan dua siluman putih, pada akhirnya perlahan-lahan kehadiran sang pangeran kegelapan mulai tersebar di kalangan siluman hitam. Hal itu bukan karena sang ratu siluman ular merah membocorkan rahasia Nala, namun energi pertarungannya dengan kedua siluman putih tak bisa disembunyikan dari para siluman hitam yang tinggal di hutan tempat pertarungan sang pangeran kegelapan itu.
Sehingga, kini semua kerajaan siluman hitam, terutama yang dulunya pernah dikuasai oleh sang pangeran kegelapan, kini mulai lebih berani lagi menunjukkan diri. Dulunya, setelah kekalahan sang pangeran kegelapan, para siluman dan iblis yang tersisa memilih untuk bersembunyi.
Mereka bahkan takut dengan para pendekar putih. Secara diam-diam, bangsa siluman itu membantu para pendekar hitam untuk mengalahkan para pendekar aliran putih. Namun mengingat para pendekar aliran putih berkembang dengan sangat pesat, maka mustahil bagi bangsa siluman untuk kembali tampil sebagai penguasa. Harapan mereka adalah lahirnya seorang pemimpin aliran hitam yang bisa mengalahkan semua pendekar aliran putih. Hadirnya Nala adalah nafas dan harapan baru, hanya jika jiwa kegelapan dalam tubuhnya telah bangkit.
Batari Mahadewi telah sampai di kota Dhyana yang keadaannya telah kembali seperti semula setelah semua prajurit Swargadwipa ditarik mundur ke kota kerajaan. Kota itu tampak tua dan sepi, dengan para pertapa yang menetap di sana.
__ADS_1
Di altar suci, Batari mahadewi sedang bercakap dengan kakek Agrapana.
“Kau sungguh jauh berbeda. Aku tak bisa lagi memanggimu dengan sebutan gadis kecil lagi, hehehe,” Agrapana terkekeh. Entah kenapa ia merasa tenang setelah melihat perkembangan dari gadis jelmaan pusaka dewa itu.
“Aku tetap senang jika kakek memanggilku gadis kecil. Lagipula, aku adalah anak kecil di hadapan kakek Agrapana yang telah hidup dari masa lalu hingga sekarang ini,” kata Batari Mahadewi.
“Jika kau telah tumbuh menjadi seperti ini, kau telah terlempar ke dunia lain, bukan?” tanya Agrapana.
“Ke dunia tiga rembulan. Apakah kakek pernah mendengarnya?” tanya Batari Mahadewi.
“Hohoho, ku kira hanya dongeng. Ternyata benar-benar ada. Jadi di sana kau memperoleh semua kemampuan barumu ini? Energi yang terkunci dalam tubuhmu hampir terbuka seluruhnya,” kata kakek Agrapana. Kesaktiannya membuat ia bisa melihat hal-hal yang tak mampu dilihat oleh manusia lainnya, termasuk melihat kekuatan yang dimiliki oleh gadis jelmaan pusaka dewa yang ada di hadapannya itu.
“Menarik. Jadi apa yang kau tahu tentang dirimu?” tanya Agrapana.
“Aku adalah pusaka dewa yang hidup sebagai manusia. Aku ditakdirkan untuk melawan raja raksasa yang kelak akan datang ke dunia tengah sebagaimana yang aku lihat di kolam suci waktu itu, kakek,” kata Batari Mahadewi.
“Sudah kuduga. Tak ada manusia yang memiliki energi seperti kamu,” Agrapana mengelus janggutnya yang panjang dan putih, “jadi apa yang kau butuhkan saat ini?”
“Berapa banyak orang yang bisa berlindung di dalam altar suci ini, kakek?” tanya Batari Mahadewi.
“Kenapa kau menanyakan hal itu, gadis kecil?” Agrapana balas bertanya. Dahinya berkerut-kerut, mencoba menghubungkan pertanyaan gadis jelmaan pusaka dewa itu dengan pengetahuan yang baru saja ia dapatkan.
__ADS_1
“Ratu kegelapan telah berhasil membebaskan para makhluk iblis kuno di pulau-pulau lain. Kakek tahu bahwa ini hal yang buruk, kan?”
“Hal ini sungguh pelik. Ketiadaan para dewa membuat ratu itu berani bertindak terlalu jauh,” kata Agrapana.
“Nah, hal ini jugalah yang ingin kutanyakan pada kakek. Kemana kira-kira para dewa bersembunyi saat ini?”
“Ini diluar pengetahuanku, gadis kecil. Jika aku tahu, pasti aku akan menemui para dewa. Tapi yang pasti, tak mungkin para dewa tidak tahu akan hal ini. Dan tak mungkin mereka akan diam saja,” kata Agrapana. Ia terlalu lelah memikirkan banyak hal yang terjadi belakangan ini sehingga ia tak bisa berfikir jernih.
“Kakek dulu pernah mengatakan tentang altar samudera, bukan?” tanya Batari Mahadewi.
“Ya. Sekali lagi, aku tak tahu tempat itu. Aku sudah mengatakan padamu waktu itu,” kata Agrapana, “Tapi, kau mungkin bisa menemukan altar itu di sebuah tempat di tengah laut. Seharusnya altar itu tidak bisa dijamah oleh siapapun kecuali para dewa. Ah, baru kepikiran sekarang. Bisa jadi para dewa saat ini berada di sana,” kata Agrapana.
Batari Mahadewi teringat dengan pulau Emas di dunia tiga rembulan. “Mungkinkah altar samudera itu semacam pulau Emas? Seharusnya aku bisa menemukannya sebagaimana dulu aku dan Nala menemukan pulau Emas,” batin Batari Mahadewi. Gadis itu tiba-tiba tersenyum, seolah mendapatkan inspirasi yang berharga.
“Baiklah kakek, aku tahu apa yang harus aku lakukan,” Gadis jelmaan pusaka dewa itu melesat ke angkasa, lalu pergi ke arah pulau-pulau lain yang pernah ia lewati bersama Nala. Ia bisa saja mencari Nala terlebih dahulu, namun ia urungkan niatnya itu. Entah kenapa, ia berharap Nala yang akan datang padanya.
Sementara itu, di Mahatmabhumi, Nala akhirnya bisa melihat kakaknya. Namun ia harus bertindak cepat sebelum kakaknya itu mati oleh serangan beberapa pendekar yang sedang mengeroyoknya.
__ADS_1