
Mambacha dan rekan-rekannya sampai di pulau Tirayamani bersamaan dengan datangnya para iblis kecil yang ditugaskan untuk mencari berita di Mahabhumi.
Banyak berita baru mengejutkan datang bersamaan. Mambacha segera melaporkan apa yang telah ia ketahui kepada sang ratu. Ada rasa senang sekaligus cemas yang tampak pada raut wajah penguasa pulau Tirayamani itu. Ia senang sebab pangeran kegelapan masih hidup, dan cemas sebab saat ini sang pangeran kegelapan berada sebagai pihak musuhnya.
“Jadi kecurigaan hamba waktu itu, sekaligus dengan datangnya para iblis kecil, semakin membuat hamba yakin bahwa pangeran kegelapan saat ini sedang berada dalam pengaruh gadis berkekuatan dewa itu, sang ratu.” Mambacha menyampaikan pemikirannya.
“Bagaimana hal itu bisa terjadi? Apa hubungan gadis itu dengan pangeran Andhakara?” tanya sang ratu.
“Menurut iblis-iblis kecil yang hamba kirim ke Swargadwipa, gadis berkekuatan dewa itu adalah kekasih sang pangeran yang jiwa kegelapannya belum bangkit itu,” kata Mambacha berhati-hati.
Sang ratu terlihat murung. Tangannya gemetar menahan marah.
“Ratuku jangan khawatir. Begitu kita bisa membangkitkan jiwa kegelapan dalam tubuh lelaki itu, maka sudah pasti pangeran kegelapan akan teringat kembali masa lalunya. Hanya saja yang perlu kita pikirkan adalah bagaimana caranya menghadapi mereka jika pada akhirnya mereka menyadari bahwa hamba telah berbohong. Saat ini mereka sedang menuju ke wilayah timur. Hamba tidak tahu kapan mereka sadar telah dibohongi.”
“Sejauh ini apa yang sudah kau lakukan?” tanya sang ratu.
“Hamba menyuruh Sora, Luma, dan Boko untuk berjaga di luar pulau. Mereka akan segera memberi kabar begitu melihat kedatangan sang pangeran dan gadis dewa itu,” jawab Mambacha.
“Lalu bagaimana dengan usaha kita untuk menghimpun kekuatan?”
“Kita akan menundanya dahulu, ratuku. Jika kami pergi, kami khawatir sewaktu-waktu sang pangeran dan gadis sakti itu datang ke sini. Sementara dengan kekuatan yang kita miliki, kita bisa membagi tugas. Sang ratu bersama Bail dan Moro akan melawan pangeran. Sebisa mungkin ratuku harus membangkitkan kekuatannya. Lalu hamba dan Ila dan para pasukan iblis dari pulau pasir akan melawan gadis dewa itu. Jika kita tak membuat mereka terpisah, akan sangat sulit mengalahkan mereka berdua,” kata Mambacha.
“Ya, aku mengerti. Aku akan berusaha secepatnya membangkitkan jiwa pangeran dalam tubuh pemuda itu,” kata sang ratu.
“Akan lebih mudah jika sang ratu berganti penampilan,” ujar Mambacha.
“Maksudmu?” tanya sang ratu.
__ADS_1
“Aku akan merubah wujud sang ratu menyerupai gadis itu. Pasti lelaki itu akan terganggu ketika melawan ratuku,” kata Mambacha.
“Apakah gadis itu terlihat cantik?” tanya sang ratu.
“Gadis itu akan membuat perempuan di seluruh semesta ini cemburu, ratuku,” jawab Mambacha.
“Aku ingin tahu. Lakukan sekarang, Mambacha!” kata sang ratu.
Mambacha mengarahkan kedua telapak tangannya ke tubuh sang ratu. Asap hitam mengepul menyelimuti seluruh tubuh penguasa Tirayamani itu. Lalu dalam sekejap, tubuh sang ratu sudah berubah sama persis dengan tubuh Batari Mahadewi.
Sang ratu kemudian segera bergegas menuju ke cermin untuk melihat penampilan barunya. Di dalam cermin itu terlihat paras perempuan muda yang sangat cantik dengan tubuh yang indah. Ada keinginan dalam diri sang ratu untuk memiliki tubuh itu.
“Kau benar Mambacha. Mulai sekarang aku akan mengenakan wujud ini. Semoga saja lebih mudah untuk melawan pemuda yang menyimpan jiwa pangeran kegelapan itu,” ujar sang Ratu.
“Ratuku, sebentar lagi mungkin kita akan mendapatkan tambahan kekuatan. Aku telah membuat bayangan dari tubuhku untuk mencari para makhluk iblis tingkat delapan yang telah dibangkitkan oleh ratuku. Mereka akan segera ke sini dalam waktu dekat,” kata Bail.
****
Sementara itu, di perjalanan menuju pulau Tirayamani, Batari Mahadewi dan Nala beberapa kali harus menghentikan perjalanan untuk menumpas makhluk iblis yang mereka temui.
Terakhir mereka berjumpa dengan Yura, makhluk iblis tingkat Sembilan yang memiliki tubuh api. Makhluk itu sedikit sulit dilawan, sebab ia sedang mengamuk di tengah kota yang banyak manusianya. Sembari melawan makhluk itu, Nala dan Batari Mahadewi harus bergantian menyelamatkan para penduduk kota dari pijaran api Yura.
Makhluk itu akhirnya hancur ketika Nala melemparkannya ke angkasa dan Batari Mahadewi membelahnya menjadi sepuluh bagian, lalu dengan cepat mengambil mustikanya.
Masih di wilayah itu, Batari Mahadewi dan Nala harus beristirahat sejenak untuk memulihkan kekuatan mereka setelah beberapa kali bertarung dengan iblis.
“Nala, tidakkah sebaiknya kau gunakan semua mustika yang kita dapatkan ini untuk golok pusakamu? Akan merepotkan jika sewaktu-waktu mustika ini jatuh kembali ke tangan para iblis ketika kita bertarung dengan iblis yang kuat!” kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Ya, ada baiknya kita pulihkan diri dahulu di sini, lalu kita akan merombak ulang senjata pusaka ini. Mungkin aku akan menggabungkan tiga pusaka yang kita bawa menjadi satu dan meleburkannya dengan semua mustika yang kita miliki,” kata Nala.
“Akan seperti apa bentuknya nanti?” tanya Batari Mahadewi.
“Sebuah golok pusaka yang besar dan tebal. Dengan begitu, pusaka ini tak akan hancur jika aku mengerahkan seluruh tenagaku untuk menggunakannya,” kata Nala.
“Baiklah, terserah padamu,” kata Batari Mahadewi.
Setelah keduanya memulihkan diri, Nala mulai menggabungkan tiga senjata pusaka yang tersisa menjadi satu bagian. Senjata itu menjelma menjadi sebuah pedang melengkung berukuran besar, panjang, lebar dan sangat tebal. Pedang itu tak memiliki sisi tajam, namun dengan kekuatan Nala yang menggunakannya, tentu pedang itu mampu membelah tubuh iblis yang paling keras sekalipun.
Setelah pedang itu selesai, tak ada acara makan-makan. Kedua pendekar muda itu segera melesat menuju ke pulau Tirayamani yang mungkin sudah tak jauh lagi.
Dalam bola kristal yang disaksikan oleh Batari Mahadewi di altar Gerbang Surga, pulau Tirayamani akan semakin dekat setelah melewati beberapa pulau dan kerajaan yang telah terpampang panji-panji kerajaan hitam itu.
Batari Mahadewi dan Nala telah melewatinya. Namun mereka tak menjumpai satupun kapal-kapal pasukan kerajaan hitam itu yang bersandar di pelabuhan.
“Sepertinya, kerajaan Tirayamani telah menarik seluruh pasukannya dari kerajaan-kerajaan jajahan. Bisa jadi, kita akan mendapatkan sambutan yang cukup meriah di sana,” kata Batari Mahadewi.
“Kali ini jangan ragu-ragu, Tari. Kita habisi saja mereka semua!” ucap Nala.
Keduanya menyeberangi lautan luas. Pulau Tirayamani memang sebuah pulau terpencil yang jauh dari wilayah manapun sehingga keberadaannya seolah-olah memang sukar ditemukan. Terlebih, sang ratu menggunakan kekuatannya untuk membuat pulau itu tak bisa dilihat dengan mata biasa.
Hanya saja, bagi Nala dan Batari Mahadewi, merasakan kekuatan gelap dari pulau itu bukanlah hal yang sulit. Bahkan tanpa menggunakan mata sakti, persepsi mereka berdua bisa menembus kabut ilusi yang menyamarkan keberadaan pulau tersebut.
Ketika mereka berdua semakin dekat dengan pulau itu, tiga sosok iblis telah menanti. Mereka adalah Sora, Luma, dan Boko yang ditugaskan untuk berjaga.
Boko segera melesat ke arah kerajaan dan menyampaikan berita kedatangan tamu yang paling ditunggu itu. Sementara, Sora dan Luma akan berusaha menahan Batari Mahadewi dan Nala selama yang mereka mampu.
__ADS_1