
Bumi masih terus bergetar. Beberapa siluman naga api kembali bermunculan, menari-nari di dalam kepulan asap gunung Arnawama Agni. Orang-orang yang menyelamatkan diri tak menampakkan tanda-tanda akan kembali.
Batari Mahadewi, Niken dan Jalu masih ada di sana. Ada rasa bimbang dalam benak Batari Mahadewi untuk menangkap salah satu dari siluman naga yang ia lihat itu. Jika satu diusik, maka yang lainnya tak akan tinggal diam. Terlalu bahaya bagi mereka bertiga.
“Ternyata tak semudah itu membunuh seekor siluman naga api di tempat ini. Kak Niken dan Kak Jalu melihat mereka, bukan?” tanya Batari Mahadewi kepada kedua kakak seperguruannya.
“Ya, adik. Beberapa kali aku melihatnya. Kita tak perlu memaksakan diri dan mengambil resiko hanya demi sebuah baju.” Kata Jalu.
“Sebetulnya yang aku khawatirkan hanya satu hal saja, jika raja naga api di gunung ini terusik. Soal siluman naga yang berkeliaran itu tidaklah terlalu sulit.” Kata Batari Mahadewi.
“Kenapa siluman-siluman itu tak mempedulikan kita di sini?” tanya Niken penasaran. Ia teringat peristiwa ketika mereka bertiga diserang ratusan siluman laba-laba di Lembah Kematian.
“Karena mereka tak memangsa manusia. Mereka menyukai sesajian yang dibawa manusia di sini dan mereka juga hidup dengan energi api yang ada di perut gunung itu.” Kata Batari Mahadewi.
“Lihat asap itu, siluman-siluman naga itu sudah tak tampak lagi.” Kata Jalu.
“Ini kesempatan kita. Aku akan bergerak cepat.” Kata Batari Mahadewi. Ia kemudian berjalan ke arah batu besar yang di dalamnya bersemayam seekor siluman naga yang masih berusia muda. Batari Mahadewi menempelkan kedua telapak tangannya di batu itu, menyerap energi yang tersimpan di dalamnya dengan cara yang kasar sehingga membuat siluman naga di dalam batu itu terusik, lalu menampakkan diri.
Batari Mahadewi dengan segera menangkap siluman naga itu dan langsung membawanya terbang menjauh dari gunung Arnawama Agni. Batari Mahadewi tak ingin yang ia lakukan diketahui oleh siluman naga yang lain sehingga ia secepatnya dan tanpa aba-aba pergi meninggalkan gunung api itu, Jalu dan Niken.
__ADS_1
Siluman naga itu telalu lemah bagi Batari Mahadewi. Begitu kedua lengannya mencengkeram leher siluman naga itu, maka makhluk menyeramkan itu sudah tak berkutik lagi. Batari Mahadewi membawanya pergi sejauh mungkin dari gunung Arnawama Agni. Ia tiba di sebuah sungai sepi sambil menenteng tubuh naga itu di pundaknya.
Siluman naga itu berwarna jingga keemasan, berkulit keras namun lentur. Dalam waktu singkat, Batari Mahadewi telah membunuh siluman naga itu, mengambil mustika di dalam tubuhnya, lalu menyimpannya sebagai bekal jika salah satu dari kedua kakak seperguruannya membutuhkannya kelak.
Kulit naga itu tak akan tergores walau dipotong dengan pedang berkualitas bagus sekalipun. Namun Batari Mahadewi dapat dengan mudah menguliti naga itu dengan kuku-kuku logamnya yang runcing itu. setelah kulit naga itu terlepas, dengan sendirinya daging dan tulang siluman naga itu menguap ke udara. Batari Mahadewi menggulung kulit naga itu dan ketika ia hendak beranjak pergi, kedua kakak seperguruannya telah tampak menyusulnya dari kejauhan. Batari Mahadewi menajamkan pandangan matanya, memastikan bahwa kedua kakak seperguruannya itu tak diikuti oleh siluman dari gunung Arnawama Agni.
“Adik berhasil mendapatkannya?” tanya Jalu setelah ia dan Niken tiba di pinggir sungai itu.
“Ya, kak Jalu. Ayo kita bawa kulit ini ke bawah pohon sana. Biar kak Niken leluasa membuat ukuran baju yang pas denganmu.” Kata Batari Mahadewi.
Ketiganya berjalan menuju pohon besar di dekat sungai itu. Tempat itu tampak sepi. Sangat jarang ada penduduk desa yang datang ke sana. Niken membuka kembali buntalan kulit siluman naga yang panjangnya hampir menyamai sebatang pohon kelapa.
“Kulit yang bagus. Ini bisa dijadikan bahan untuk tiga setel pakaian.” Kata Niken.
“Kulit ini keras sekali. Bagaimana memotongnya?” tanya Niken.
“Kakak ukur saja terlebih dahulu. Nanti aku yang akan memotongnya. Akan kubuatkan juga benangnya dari kulit itu.” kata Batari Mahadewi. Jalu hanya tersenyum sambil melihat kedua adiknya yang sibuk dengan kulit siluman naga itu.
“Kak Jalu, kemarilah.” Ujar Niken, “aku akan mengukur tubuhmu.” Niken memasangkan kulit siluman naga itu ke tubuh Jalu, lalu ia membuat tanda pada bagian-bagian yang harus dipotong. Batari Mahadewi memotong kulit itu dengan kuku-kukunya. Niken memandangi saja bentuk kuku dan tangan adiknya yang tak lagi sama seperti dulu. Dalam hati ia kagum dan heran, namun ia juga merasa iba dengan adiknya yang tak menyukai perubahan tubuhnya.
__ADS_1
Setelah Batari Mahadewi memotong kulit naga itu sesuai dengan tanda dan arahan yang diberikan Niken, ia kemudian membuat sayatan-sayatan halus pada sisa kulit naga itu untuk dijadikan benang. Niken kemudian menjahit kulit naga itu, memasukkan benang-benang halus pada lubang-lubang kecil di kulit siluman naga itu yang telah dibuatkan oleh Batari Mahadewi.
Selagi keduanya sibuk membuat pakaian, Jalu telah menangkap beberapa ekor ikan di sungai. Dengan mudah ia mengubah ikan itu menjadi ikan bakar tanpa bumbu. Agak sedikit gosong pada bagian kulitnya, namun daging ikan itu benar-benar matang sempurna.
“Nah, pakaian kakak sudah selesai. Sekarang pakailah.” Kata Niken.
“Jangan mengintip.” Kata Jalu.
Muka Niken memerah, “Pergilah sana cari tempat untuk berganti pakaian!” kata Niken setengah membentak karena ia malu dengan perkataan Jalu barusan itu.
Jalu pergi ke balik pohon, mengganti pakaian lamanya dengan pakaian baru buatan adik-adiknya. Ukurannya pas dan pakaian itu nyaman untuk digunakan bergerak. Anehnya, pakaian itu tidak terasa panas meski terbuat dari kulit siluman naga. Sebaliknya, kulit itu terasa dingin seperti permukaan logam.
“Bagaimana penampilanku?” tanya Jalu.
“Kakak sangat tampan.” Kata Batari Mahadewi sambil melirik Niken yang sedang memandang Jalu layaknya melihat sebuah pemandangan yang segar.
“Sekarang kakak cobalah untuk memancarkan energi api dari seluruh tubuhmu.” Kata Batari Mahadewi. Jalu kemudian memancarkan energinya dengan cara yang tidak seperti biasanya. Ia merasa leluasa tanpa takut pakaiannya terbakar. Dengan pakaian barunya, kini ia bisa mengubah tubuhnya sepenuhnya menjadi api. Pakaian barunya itu tak terbakar sama sekali.
“Bagus sekali, kak Jalu.” Kata Batari Mahadewi. Niken tersenyum puas melihat cinta pertamanya itu kini menjadi jauh lebih kuat dan tangguh dari sebelumnya. Meski Jalu adalah sosok yang mudah membuat para gadis terpesona, namun hanya sedikit perempuan yang bisa menjadi pendamping hidupnya. Seseorang itu hanyalah orang yang berilmu tinggi yang sama-sama memiliki karakter tubuh api, atau sebaliknya, perempuan dengan karakter tubuh es.
__ADS_1
Jalu menyadari kondisinya itu, dan oleh karenanya ia tak mau sembarangan dekat dengan perempuan. Niken pun memiliki masalah yang sama dengan Jalu. Karakter tubuh es yang ia miliki merupakan berkah sekaligus musibah. Tak semua orang bisa dekat dengan Niken. Tubuhnya selalu memancarkan hawa dingin bahkan jika ia tak mengeluarkan energinya. Orang tanpa tenaga dalam tinggi tak akan bisa bertahan lama duduk berdekatan dengan Niken. Setidak-tidaknya, orang itu akan pilek karena tak kuat menahan hawa dingin terlalu lama.
“Nah, setelah kita menghabiskan ikan bakar ini, kita akan melanjutkan perjalanan.” Kata Jalu. Kedua adiknya mengangguk, lalu ketiganya mulai menghabiskan beberapa ekor ikan bakar yang masih tersisa.