Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 244 Menggagalkan Perang


__ADS_3

Pendekar Angin Utara tak perlu mengantarkan Batari Mahadewi hingga ke gerbang benteng perbatasan. Begitu gadis itu berpamitan, dalam satu kedipan mata, Tahagatara sudah tak melihat lagi sosok nona cantik yang sebelumnya ada di depannya itu.


‘Sungguh pendekar yang luar biasa. Semoga kelak aku bisa bertemu dengan nona itu lagi, dan melihatnya bertarung dengan sungguh-sungguh,’ batin pendekar Angin Utara.


Batari Mahadewi telah ada di sebuah hutan luas yang terbentang di sebelah utara kota Gerbang Naga yang merupakan tempat bermukimnya lima ratus ribu pasukan Siwandawala. Meski para pasukan itu belum terlihat karena berada jauh di tengah hutan, namun Batari Mahadewi mampu mendengarkan riuhnya suara mereka semua.


Yang perlu dicari hanya satu saja, sang pemimpin perang yang memegang kendali atas lima ratus ribu prajurit itu. Pendekar Mata Angin tak tahu menahu soal siapa yang menjadi pemimpin perang itu. Bisa jadi ia adalah sang Mahapatih, namun juga bisa bawahannya. Namun yang pasti, siapapun yang menjadi pemimpin perang prajurit Siwandawala, selalu memiliki kesaktian tinggi dan pengalaman memimpin yang tak diragukan lagi.


Gadis jelmaan pusaka dewa itu juga tahu bahwa sebagian pasukan pengintai Siwandawala telah tersebar di beberapa titik tepi hutan dan bertugas untuk mengawasi siapa saja dari Siwandaraka yang menyusup ke dalam hutan. Sayang sekali, mereka tak sadar bahwa Batari Mahadewi telah berada di antara mereka.


Bukan hal sulit untuk melumpuhkan para prajurit pengintai itu sekalipun masing-masing dari mereka merupakan pendekar yang lumayan sakti. Hanya saja, Batari Mahadewi benar-benar tak mau mencelakai banyak orang.


Maka gadis jelamaan pusaka dewa itu bergerak tanpa terlihat untuk mendekati perkemahan prajurit. Setelahnya, ia memantau dari sebuah tempat yang tersembunyi untuk mencari tahu dimana letak tenda pemimpin pasukan itu.


Ia membuka seluruh inderanya dan berusaha mencari tahu. Hanya butuh tenang untuk memilah semua hal yang tertangkap oleh inderanya. Betapa tidak, dalam kondisi seperti itu, bahkan ia bisa mendengarkan riuhnya suara semut di dalam tanah, atau suara gemericik air sungai bawah tanah. Jika dilakukan terus-menerus, segala hal yang tertangkap oleh inderanya itu membuat Batari Mahadewi pusing. Maka itulah, gadis itu lebih memilih untuk menggunakan kemampuannya itu seperlunya saja.


Batari Mahadewi dalam waktu singkat telah mengetahui keberadaan sang pemimpin pasukan Siwandawala. Lelaki tinggi besar dengan muka sangat garang itu sedang berkeliling memeriksa persiapan para prajuritnya. Tak ada hal lain yang membuat gadis itu harus menunggu lagi, dalam sekejap ia telah berada di depan pemimpin pasukan itu.


Tentu saja semua orang yang ada di sana sangat tercengang dengan kehadiran Batari Mahadewi yang tiba-tiba saja muncul tepat di depan sang pemimpin perang Siwandawala.


“Siapa kau dan apa maksudmu?” tanya lelaki tinggi besar itu.


“Kau pemimpin pasukan ini kan?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, memangnya kenapa?” tanya lelaki itu.


“Kalau aku mengalahkanmu hari ini, artinya pasukanmu tak akan jadi menyerang, benar begitu?” tanya Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Kau pikir siapa dirimu! Hanya perempuan kecil! Kau pikir bisa mengalahkanku?” bentak lelaki itu. Para pasukan membuat formasi kepungan yang mengelilingi Batari Mahadewi dan pemimpin mereka itu.


“Aku bisa membunuhmu dan seluruh pasukanmu hari ini juga. Tapi jika dengan kematianmu saja maka anak buahmu bisa selamat, maka aku akan membunuhmu!” ancam Batari Mahadewi dengan nada dingin.


“Hahahaha, ya baiklah. Buktikan omong kosongmu itu.” Begitu selesai lelaki itu bicara, Batari Mahadewi telah mengangkatnya terbang tinggi ke langit, lalu melemparkannya ke bawah dengan keras. Para prajurit yang berada di sana seketika gemetar melihat pemimpin mereka mati mengenaskan dalam sekali serangan.


“Aku mewakili Siwandaraka. Siapapun yang masih ingin menantangku, kupersilahkan. Jika tidak ada, kuperintahkan kalian untuk pulang. Jika tidak, kalian akan bernasib sama dengan pemimpin kalian ini.” Batari Mahadewi mengucapkan kata-katanya dengan tenaga dalam sehingga suaranya bisa didengar oleh sebagian besar rombongan pasukan itu.


Para prajurit itu kebingungan. Tentu saja, mereka hanya mematuhi perintah atasan. Di atas pemimpin mereka yang telah mati itu, ada atasan lain yang menunggu di istana.


Namun tiba-tiba ada suara yang memerintahkan para prajurit untuk menyerang Batari Mahadewi secara bersama-sama. Suara itu berasal dari wakil pemimpin perang itu yang berinisiatif untuk mengambil tindakan cepat.


Namun belum sempat para prajurit yang mengepung Batari Mahadewi itu melangkahkan kaki, gadis jelmaan pusaka dewa itu mengangkat ratusan prajurit yang mengepungnya secara bersama-sama, lalu melemparkan mereka hingga jauh. Suasana yang terjadi di barisan para prajurit itu menjadi semakin gaduh.


Para prajurit itu sangat ketakutan. Lawan mereka adalah monster yang tak masuk akal. Gadis itu bahkan tak bergerak sama sekali untuk menjatuhkan ratusan prajurit dalam waktu yang sama.


Gadis sakti itu kemudian menoleh ke arah wakil pemimpin perang. Hanya dengan mengandalkan tenaga dalam saja, Batari Mahadewi menyeret lelaki itu hingga ke hadapannya.


“Kalian tak perlu khawatir. Setelah ini aku akan menemui raja kalian dan membunuhnya. Kalian tak perlu mengorbankan nyawa untuk berperang. Hiduplah dengan tenang bersama keluargamu dan orang-orang tercinta yang menunggu kalian pulang. Sekarang bereskan semua barang kalian dan pergilah pulang. Aku akan tetap di sini sampai kalian benar-benar pergi. Jika ada yang melawan, maka aku tak segan-segan mengirim kalian ke neraka,” ancam Batari Mahadewi


Kalimat itu begitu menggembirakan sebetulnya bagi semua prajurit. Mereka hanya menjalankan tugas dan mengorbankan nyawa hanya demi ambisi bodoh raja mereka. Namun tak satupun dari para prajurit itu yang bersorak sorai karena gembira. Mereka segera mengemasi semua peralatan sebelum gadis itu berubah pikiran dan membunuh mereka semua.


Tak sampai setengah hari, para prajurit itu selesai berkemas dan kemudian mulai berangkat menuju ke kerajaan mereka. Rombongan lima ratus ribu pasukan itu bergerak lambat seperti seekor ular raksasa yang panjang. Dalam waktu dua hingga tiga minggu kedepan, para pasukan itu akan tiba di kerajaan Siwandawala. Ketika mereka kembali, pasti mereka kaget dengan perubahan yang telah terjadi jauh-jauh hari sebelum mereka sampai di sana.


Ketika semua prajurit itu telah benar-benar jauh dari perbatasan, Batari Mahadewi melesat ke angkasa dan terbang menuju ke kerajaan Siwandawala. Tak butuh waktu lama untuk sampai di kerajaan itu dalam perjalanan dengan kecepatan kilat. Andaikan Batari Mahadewi adalah pendekar hitam yang jahat, pastinya ia adalah monster yang berbahaya bagi semua umat manusia.


Kota kerajaan Siwandawala jauh lebih besar dan megah dari Siwandaraka. Benteng berlapis-lapis di kota kerajaan itu menandakan bahwa di masa lalu, negri itu suka berperang dan siap diserang kapan saja. Batari Mahadewi tak terlalu menikmati perjalanan ekstra cepat itu. Yang ada di benaknya hanyalah cepat sampai di wilayah istana kerajaan.

__ADS_1


Dan benar saja, di luar tembok istana, kurang lebih lima ratus ribu prajurit tengah mengadakan latihan. Mereka dipersiapkan sebagai pasukan gelombang berikutnya yang akan menggempur Siwandaraka.


Batari Mahadewi sampai di pelataran istana tanpa halangan apapun. Dalam sekejap, ratusan pengawal istana yang rata-rata adalah pendekar berkualitas tinggi datang dan mengepung Batari Mahadewi. Tak lama kemudian, sang Mahapatih menyusul dari lapangan latihan keprajuritan.


“Nona, di sini tempat terlarang dan tidak boleh sembarangan orang masuk. Apakah nona salah alamat?” tanya sang Mahapatih.


“Tidak. Aku datang untuk membunuh raja kalian. Aku tidak membela siapa-siapa. Aku hanya ingin agar perang tidak terjadi. Tapi selagi raja kalian masih hidup, sepertinya perang tak akan bisa dihentikan. Apakah ada yang keberatan dengan kedatanganku?” tantang Batari Mahadewi.


“Raja adalah junjungan kami, menghina raja sama artinya dengan menghina kami,” kata Mahapatih.


“Hanya penjilat yang bisa berkata demikian. Jika raja kalian orang bijaksana, maka ia pantas menjadi junjungan dan panutan. Tapi kalian tahu kan seperti apa raja kalian itu? Baiklah, tak usah banyak bicara. Silahkan maju bersama-sama.” Batari Mahadewi berkata dengan nada dingin. Keberaniannya membuat semua orang yang mengepungnya menjadi sedikit segan. Terlebih, gadis itu mengatakan kebenaran.


“Lancang sekali kau. Cukup aku saja yang akan membunuhmu!” kata Mahapatih. Ia sangat murka mendengar kata-kata Batari mahadewi. Dengan segenap kemampuannya, ia mengerahkan seluruh pancaran energinya untuk menekan mental gadis cantik di depannya itu.


“Minggir kalian semua!” Mahapatih yang sedang marah itu menyuruh semua bawahannya untuk memberikan ruang bagi ia dan lawannya untuk bertarung dengan leluasa. Tentunya, sang patih itu ingin pamer kekuatan. Mumpung lawannya hanya perempuan.


Batari Mahadewi hanya tersenyum sinis. Ia berniat usil untuk menjatuhkan mental para pendekar Siwandawala.


Sang Mahapatih menyerang Batari Mahadewi dengan pukulan-pukulan energi berkekuatan penuh untuk melampiaskan kemarahannya. Di satu sisi, ia terlihat sebagai pecundang juara. Andaikan yang menantang itu bukan Batari Mahadewi, pasti sudah mati konyol dengan serangan sang mahapatih itu.


Batari Mahadewi tak menghindari rangkaian serangan berkekuatan tinggi yang meledak di tubuh dan sekelilingnya itu. Batari Mahadewi masih utuh dan baik-baik saja. Hal itu membuat jantung sang Mahapatih hampir copot sebab ia mengira lawan kecilnya itu tak sempat menghindari serangannya dan sudah hancur akibat serangan itu.


“Coba lagi, Ki sanak. Kerahkan semua kemampuanmu. Aku tak akan menghindar sedikitpun. Jika aku sampai terluka karena seranganmu, maka kau boleh memperlakukanku semau-maumu. Namun jika tidak, sebaiknya kau jadi petani saja!” sindir Batari Mahadewi.


“Tidak mungkin! Kau pasti mempermainkanku. Ilmu sihir apa yang kau pakai?” kata Mahapatih itu kalut.


“Siapapun yang ada disini yang bahkan hanya memiliki ilmu rendah saja tahu aku tak menggunakan ilmu sihir apapun. Kau benar-benar memalukan,” Jawab Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Keparat kau! Terima ini!” Mahapatih itu benar-benar ingin menghacurkan Batari Mahadewi hingga menjadi abu. Ia mengerahkan salah satu jurus pamungkasnya. Pukulan energi yang ia kerahkan menyapu seluruh tubuh Batari Mahadewi hingga membuat tembok benteng istana yang jauh beberapa langkah di belakang gadis cantik itu jebol.


Sayang sekali, Batari Mahadewi masih berdiri dengan manis dan bersiap untuk menghina Mapatih itu dengan kata-kata yang lebih menyakitkan lagi.


__ADS_2