Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 340 Kalahijau


__ADS_3

Setiap kali ratu Ogha mengerahkan jiwa-jiwa iblis yang merasuki manusia ataupun raksasa, kekuatannya semakin berkurang. Dia tak mengatakan kepada siapapun bahwa kekuatannya kini tinggal separuh. Kekuatan itu akan kembali apabila ia mengambil jiwa-jiwa iblis yang telah ia keluarkan. Namun, keuntungannya, ketika jiwa-jiwa iblis itu berkembang biak dengan sendirinya, dan jika ia menginginkannya kembali, maka kekuatannya akan kembali beberapa kali lipat lebih banyak.


Ogha menyadari hal itu ketika ada manusia atau raksasa iblis yang mati di dekatnya. Kekuatan gelap itu kembali padanya, lalu ia gunakan kembali untuk menjerat korban-korban yang baru.


Beberapa orang yang telah terasuki jiwa iblis di wilayah Kalahijau segera menyebar. Mereka menularkan jiwa-jiwa iblis itu dengan cara menggigit atau mencakar korban yang baru. Semakin hari, kekuatan manusia atau raksasa yang terpapar jiwa iblis itu akan semakin meningkat. Pada tingkatan tertentu, mereka akan benar-benar menjadi iblis yang mandiri, bukan mayat hidup seperti korban-korban yang baru itu.


Andhakara mengajak keluarga kecilnya itu untuk menunggu di pelabuhan selatan Arcandayana dan menanti kedatangan para pasukannya yang dipimpin oleh Bail. Dalam banyak hal, membawa pasukan sebesar itu akan berguna sekali, minimal untuk cadangan kekuatan dengan cara memangsa mereka semua.


Yang terjadi di dalam benteng, dalam waktu singkat jiwa-jiwa iblis itu telah menular ke banyak orang atau raksasa yang lemah jiwanya. Sudah pasti hal itu menimbulkan kekacauan. Tanpa diperintahkan, para ksatria raksasa segera mengejar dan membasmi makhluk-makhluk terjangkit itu secepatnya.


“Kita telah kecolongan! Bahkan kita tak tahu siapa yang datang ke wilayah kita dan menyebarkan jiwa-jiwa iblis ini,” kata Kalahijau.


“Menurut hamba, pasti penguasa iblis yang diam-diam telah datang kemari. Sebab, ketika hamba dan pasukan hamba berkeliling, kami bahkan tak menemukan keberadaan mereka,” kata jendral perang Kalahijau.


“Berarti, mereka pergi begitu saja setelah menebarkan jiwa iblis! Mereka tak tahu bahwa kita sudah memiliki banyak persiapan untuk menangkal hal-hal seperti ini!” kata Kalahijau.


“Lalu apa yang harus kami lakukan, paduka? Kami siap kapanpun jika paduka ingin kami mengejar mereka,” kata jendral itu.


“Jangan gegabah, penguasa kegelapan itu bukan makhluk yang lemah. Ia bahkan bisa mengalahkan Kalahitam dan kalajingga dengan mudah. Kalau kita mencari mereka, kitapun tak tahu mereka ada di mana. Lagipula, jika kita meninggalkan wilayah ini, tak akan ada yang berjaga sama-sekali. Sial! Tak ada pilihan lain selain menunggu mereka menyerang kita!” kata Kalahijau.


Semua raksasa yang berkumpul di istana itu hanya bisa diam dan bingung. Menunggu jelas bukan pilihan tepat. Sang raja raksasa itu menyadari kegelisahan bawahannya itu. Sebagai raja, ia malu jika terlihat lemah dan pasrah.

__ADS_1


“Begini saja, aku akan mencari mereka bersama sepuluh pengawal utamaku. Untuk keamanan di wilayah ini, kuserahkan padamu. Persiapkan pasukanmu, jika aku mengirimkan pengawalku padamu, artinya kau harus mengerahkan semua pasukanmu untuk membantuku. Sebaliknya, jika penguasa kegelapan itu datang sewaktu aku pergi, segera kirimkan anak buahmu untuk mencariku.” Raja Kalahijau memberikan solusi. Bukan solusi bijak, namun daripada tidak ada sama sekali.


Setelah siap, Kalahijau melesat ke angkasa, diikuti sepuluh pengawal terbaiknya. Mereka tak tahu akan mencari iblis itu di mana, namun Kalahijau mencoba peruntungannya. Di angkasa itu, ia menggunakan indera penciumannya yang tajam untuk mengendus aroma iblis berdasarkan arah angin yang membawanya.


Ia memang merasakan aroma itu, tetapi bisa saja arah yang akan ia tuju salah, sebab angin itu tak tentu darimana datangnya. Setidaknya, kali ini ia mengambil keputusan tepat untuk melaju ke arah selatan meski ia tak yakin bahwa keputusan itu tepat. Ia hanya mengandalkan angin yang membawa terbang aroma iblis itu.


Kalahijau bertubuh kecil dan ramping. Bahkan lebih kecil dari ukuran raksasa normal. Tetapi ia memiliki kekuatan dan kecepatan tinggi, yang membuatnya layak menjadi raja, bersejajar dengan ketiga raja raksasa lainnya.


Semakin ke selatan, Kalahijau semakin yakin arahnya telah tepat. Aroma iblis semakin kuat tercium oleh hidung tajamnya. Kalahijau tahu, mereka ada di pelabuhan. Sudah pasti menunggu kedatangan rombongan pasukan iblis. Maka ia menyuruh kelima pengawalnya untuk segera memanggil bala bantuan. Ia sendiri tak berani mendekat, hanya berdiam di sana, mengawasi pergerakan musuhnya dengan indera penciumannya itu.


Sayangnya, Kalahijau tak mengetahui, bahwa Andhakara bisa merasakan pancaran kekuatannya meski ia berada pada jarak yang cukup jauh.


“Apakah pangeran tidak butuh bantuan? Sangat berbahaya jika jiwa Nala itu mengganggumu sewaktu kau bertarung!” Ratu Ogha mencemaskan suaminya itu.


“Tidak. Aneh sekali, jiwa Nala tak pernah memberontak jika aku bertarung. Tapi kalian bersiap saja. Jika aku terdesak, aku akan ke sini. Lagipula, aku tak akan mati oleh raksasa semacam itu!” kata Andhakara yakin.


Sang pangeran kegelapan melesat cepat ke arah utara, memberikan kejutan kepada Kalahijau dan lima pengawalnya itu. Kalahijau dan lima raksasa yang mengawalnya itu sungguh-sungguh terkejut. Mereka tak menyangka bahwa iblis dengan aura pekat itu bisa mudah menemukan keberadaan mereka.


“Kalian mencariku kan?” tanya Andhakara.


“Apakah kau penguasa iblis tu?” tanya Kalahijau.

__ADS_1


“Benar sekali! Apakah kau takut sekarang? Aku bisa mengampunimu jika kau mau menerima syaratnya!” kata Andhakara. Tentu jika ia bisa memilih, ia tak ingin melenyapkan bangsa raksasa, melainkan mengubah mereka semua menjadi iblis. Dengan begitu ia memiliki kekuatan yang cukup untuk membuka pintu penghubung dunia tengah dan dunia bawah.


“Hahaha, sombong sekali! Jika aku takut aku tak akan kemari. Kau tahu, yang kau lakukan di wilayah kami beberapa waktu yang lalu telah gagal!” kata Kalahijau.


“Jika kau tak takut, kau tak akan bersembunyi di sini. Pasti kau memanggil bantuan, kan? Hahaha, bodoh sekali. Yang aku lakukan di sana adalah untuk memancing kalian semua. Jadi, apakah aku gagal?” kilah Andhakara.


Kalahijau geram. Ia merasa dipermainkan. “Kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa! Sekarang bersiaplah!” Kalahijau mulai menunjukkan kekuatannya. Tubuhnya diselimuti warna hijau dengan pijar listrik di sekelilingnya. Rupa-rupanya ia adalah raksasa yang memiliki kekuatan petir.


Kelima pengawal Kalahijau melakukan hal serupa. Masing-masing memiliki kekuatan yang berbeda-beda. Dalam posisi siap, mereka menyeringai penuh ancaman. Mata bengis dan taring besar mereka menjadi peringatan kepada siapapun agar berhati-hati.


Ancaman itu hanya ditanggapi dengan senyuman dingin Andhakara. Sang pangeran itu juga mengerahkan kekuatannya. Hawa kegelapan yang pekat menyeruak dari tubuhnya. Kekuatan besar dari sang penguasa iblis itu bahkan tak bisa ditakar oleh para raksasa itu.


Dengan cepat, Andhakara melesat dan memukul jatuh ketiga pengawal Kalahijau dalam waktu yang sama. Ketiga pengawal itu meluncur deras dan jatuh menghantam bumi. Hal itu cukup membuat Kalahijau terbelalak. Ia bahkan tak bisa melihat dengan cermat, bagaimana sang penguasa iblis itu menjatuhkan ketiga anak buahnya.


“Jika sewaktu-waktu kalian menyerah, segeralah katakan padaku!” Andakara kembali melesat dengan kecepatan kilat, menghantam kedua perut anak buah Kalahijau dalam waktu yang sama. Pukulan itu membuat mereka langsung pingsan dan jatuh meluncur dari angkasa. Tinggallah Kalahijau sendirian.


Wajah Kalahijau semakin terlihat geram. Ia berharap, jendral dan seluruh pasukannya segera datang, meski tampaknya mustahil untuk mengharapkan mereka datang dengan cepat.


Andhakara memang berniat untuk bermain-main. Ia bertarung dengan tak sungguh-sungguh. Ia sungguh menikmati ketakutan yang tersirat di kedua mata lawannya itu.


“Ayo, tunggu apa lagi! Giliranmu menyerangku!” tantang Andhakara.

__ADS_1


__ADS_2