
Batari Mahadewi tak menyangka bahwa yang menyambutnya adalah dua orang yang sudah berusia tua. Wajah mereka tampak ramah, mungkin karena mereka tak menangkap hawa jahat sebagaimana yang dimiliki oleh pendekar aliran hitam dari kehadiran gadis jelmaan pusaka dewa itu, atau mungkin karena dia hanyalah seorang perempuan muda.
“Selamat datang di perguruan kami, nona. Adakah yang bisa kami bantu?” tanya salah satu dari dua orang itu.
“Terimakasih, kakek. Saya bermaksud untuk bertemu dengan guru Udhata. Nama saya Tari, dari Mahabhumi,” balas Batari Mahadewi sembari memperkenalkan diri.
“Nona telah menempuh perjalanan yang sangat jauh. Mari silahkan masuk dan beristirahat dahulu di dalam.” Dua pendekar tua itu mempersilahkan Batari Mahadewi memasuki perguruan. Ruangan itu tampak sepi dan damai. Tak banyak orang yang tingggal di sana. Yang mengesankan, dinding-dinding kayu di ruangan itu bertorehkan aksara rahasia yang merupakan sajak-sajak ciptaan sang guru besar.
Salah satu dari pendekar itu pergi untuk menyiapkan suguhan, satunya lagi menemani Batari Mahadewi.
“Kalau boleh tahu, apakah nona akan memesan pusaka kepada guru kami?” kata pendekar itu.
“Bukan, kakek. Saya hendak belajar membuat senjata. Hanya jika guru Udhata mau menerima saya sebagai murid,” jawab Batari Mahadewi.
“Apakah nona pernah membuat senjata sebelumnya?” tanya pendekar tua itu.
“Belum pernah sama sekali, kakek. Tapi saya bisa mencari bahan-bahan terbaik untuk membuat senjata pusaka. Oleh karena itu, saya ingin memanfaatkan berbagai bahan yang saya miliki untuk membuat senjata,” jawab Batari Mahadewi.
“Guru sudah lama tidak membuat senjata pusaka. Saat ini beliau juga masih sedang bertapa. Kurasa nona datang di waktu yang kurang tepat. Meski demikian, nona bisa belajar dari saya. Saya adalah satu-satunya murid guru Udhata yang belajar membuat senjata. Nama saya Tagama,” kata kakek pendekar itu.
“Saya akan sangat senang sekali jika kakek Tagama mau mengajari saja membuat senjata pusaka,” kata Batari Mahadewi. Ia memang berharap bisa berguru langsung dengan Udhata, namun tetap tak jadi masalah siapapun yang bisa mengajarinya.
“Jadi bahan apa yang nona maksudkan itu?” tanya kakek Tagama.
__ADS_1
“Saya memiliki satu mustika iblis dan Sembilan mustika siluman,” jawab Batari Mahadewi.
Kakek Tagama memandangi mustika iblis yang dibawa oleh tamunya itu, lalu ia mengambilnya untuk merasakan kekuatannya serta menilai mutunya.
“Ini benar-benar mustika iblis yang sangat bagus. Bagaimana nona bisa mendapatkan mustika ini?” tanya Tagama heran. Mustika semacam itu sangat langka dan ia sendiri hanya pernah melihat satu kali ketika ia masih muda. Saat itu guru Udhata meleburkan mustika iblis semacam itu ke dalam sebuah palu pusaka yang menjadi salah satu senjata pusaka guru Udhata.
“Saya mendapatkannya di sebuah pulau sebelum saya sampai di Siwarkatantra. Mustika ini adalah sumber kekuatan makhluk iblis Buma. Iblis itu belum sepenuhnya pulih setelah dibangkitkan oleh sang ratu kegelapan pemimpin negri Tirayamani,” jawab Batari Mahadewi.
“Jadi nona bertarung dengan iblis itu?” tanya Tagama. Kakek itu masih belum paham tentang ratu kegelapan beserta komplotannya yang telah disinggung oleh Batari Mahadewi.
“Benar, kakek,” jawab Batari Mahadewi. Mendengar jawaban itu, barulah sang kakek bisa menilai seberapa tangguh kekuatan tamu yang akan belajar padanya itu. Awalnya ia mengira Batari Mahadewi adalah pendekar biasa berkekuatan tinggi sehingga nona cantik itu berhasil sampai di perguruan Tongkat Langit.
“Dan nona juga telah menghilangkan hawa jahat yang ada dalam mustika-mustika ini?” tanya Tagama.
“Benar, kakek,” jawab Batari Mahadewi. Ia kagum juga dengan kemampuan orang itu yang bisa mengetahui soal hawa jahat dalam sebuah mustika dengan energi hitam.
“Itu hanya sebuah kebetulan saja, kakek,” kata Batari Mahadewi.
“Hmm…bolehkah aku tahu, apa tujuan nona belajar membuat senjata? Sepertinya nona tak membutuhkan senjata apapun untuk bertarung.” Tanya kakek Tagama.
“Ini berhubungan dengan pergerakan pasukan Tirayamani yang saat ini telah menguasai berbagai wilayah. Sungguh sulit melawan mereka tanpa memiliki benda-benda sakti ini. Saya akan menciptakan beberapa pusaka sakti yang akan saya berikan kepada pendekar-pendekar sakti yang akan saya pilih nantinya,” jawab Batari Mahadewi.
Gadis jelmaan pusaka dewa itu menceritakan lebih banyak lagi kejadian-kejadian yang ia ketahui berkaitan dengan kekuatan kerajaan Tirayamani hingga rencana ratu Ogha untuk membangkitkan berbagai makhluk iblis kuno di seluruh penjuru dunia.
__ADS_1
Kakek Tagama yang seumur hidup belum pernah meninggalkan gunung Tiang Langit itu hanya manggut-manggut mendengarkan cerita tersebut. Beberapa saat kemudian, kakek Sata, rekan kakek Tagama masuk sembari membawa minuman hangat.
“Semoga nona terbiasa dengan minuman ini. Kami semua di sini hidup hanya dengan meminum minuman ini,” kata kakek Sata. Ia mendengar percakapan Tagama dan Batari Mahadewi selagi ia berada di dapur.
“Terimakasih kakek,” kata Batari Mahadewi sembari menyeruput minuman hangat yang memiliki aroma rempah-rempah yang kuat. Setelah minuman itu menyentuh lidahnya dan melewati kerongkongannya, barulah Batari Mahadewi menyadari bahwa secangkir minuman itu terbuat dari puluhan bahan yang kaya akan berbagai nutrisi yang dibutuhkan tubuh.
Rasa minuman itu memang pahit, namun Batari Mahadewi bisa langsung merasakan tubuhnya yang menyerap nutrisi dalam secangkir minuman itu. Gadis jelmaan pusaka dewa itu langsung merasa segar.
“Minuman yang sungguh luar biasa, kakek. Bahkan jauh lebih bagus kualitasnya dari sebutir mustika alam untuk memulihkan kekuatan,” puji Batari Mahadewi.
“Ya, tapi kalau dalam perjalanan, mustika alam jauh lebih mudah digunakan, nona. Untuk membuat minuman ini, butuh peralatan khusus. Peralatan itu dibuat oleh guru Udhata. Jadi, minuman ini hanya bisa dibuat di sini,” kata kakek Sata.
“Berarti guru Udhata tak hanya ahli senjata, namun juga ahli membuat berbagai peralatan lainnya,” kata Batari Mahadewi berkomentar.
“Benar sekali, beliau lebih suka menciptakan berbagai benda daripada bertarung sebagai pendekar. Ia hanya bertarung dengan para siluman untuk mencari bahan pusaka yang akan ia buat,” kata kakek Sata.
“Nona ini kebalikannya, Sata. Lihat mustika yang ia bawa. Nona Tari lebih suka bertarung dan mengumpulkan mustika seperti ini, tapi belum dipergunakan sama sekali, hahaha,” kakek Tagama mencairkan suasana.
“Wah, ini semua mustika bagus dan sudah dimurnikan. Biasanya pendekar akan tergoda untuk menggunakannya sebagai sumber kekuatan, tidakkah nona pernah mencoba menggunakan mustika semacam ini untuk menambah kekuatan?” tanya kakek Sata.
“Pernah, kakek. Sekali dari dunia sini, dan empat kali dari dunia lain,” jawab Batari Mahadewi. Dua pendekar tua itu mengerutkan dahi mereka, mencoba untuk mencerna kata-kata gadis jelmaan pusaka dewa itu.
Ya, Batari Mahadewi tak pernah sekalipun menyerap energi dari mustika alam ataupun mustika siluman. Ia pernah menyerap energi mustika dewa sebelum ia diangkat murid oleh Ki Gading Putih. Selebihnya, ia dan Nala menyerap empat sumber energi utama di dunia tiga rembulan.
__ADS_1
Namun pada dasarnya, Batari Mahadewi diciptakan dari separuh mustika yang dimiliki oleh masing-masing dewa khayangan di dunia satu rembulan. Dan sejak Batari Mahadewi menjelma menjadi manusia, dan ditemukan oleh Nyi Kunyit, para dewa benar-benar bersembunyi. Mereka menjadi lebih lemah dari iblis sebab separuh mustikanya telah berada di tubuh Batari Mahadewi.
Kelak ketika dua belas segel energi dalam tubuh gadis itu telah terbuka, maka tak akan ada lawan lagi bagi Batari Mahadewi di dunia satu rembulan, kecuali sang Kalapati.