
Mereka berdua mulai memasuki jalan setapak yang melewati hutan menuju desa selanjutnya. Seperti halnya di desa Cemara Seribu, jarak antar satu desa dengan desa lainnya selalu jauh dan dibatasi oleh hutan, bukit, atau sungai. Bisa dikatakan, jumlah pemukiman manusia jauh lebih sedikit daripada hutan.
Sehingga, untuk melewati hutan tersebut, dibutuhkan waktu 3-4 hari dengan jalan kaki atau 1 hari dengan ilmu meringankan tubuh.
Tak jarang hutan menjadi sarang penyamun meski di dalam hutan itu sendiri merupakan sarang siluman dan binatang buas. Hutan juga merupakan ruang latihan yang baik bagi para pedekar yang ingin mengasah ilmunya. Setidaknya, ia bisa berlatih untuk hidup menyepi, sendiri, mengatasi rasa takut, berhadapan dengan binatang buas, sekaligus berkelahi dengan siluman.
Hal menarik dari hutan sebagai ruang untuk mengasah ilmu beladiri adalah hutan menyediakan banyak mustika alam yang memiliki energi tinggi, misalnya batu mustika merah delima, batu intan, dan lain sebagainya. Menemukan mustika alam ini sama sulitnya dengan mencari mustika siluman. Keduanya memiliki fungsi yang mirip, yakni untuk menambah kekuatan dan kesaktian.
Selain sulit untuk mendapatkan mustika-mustika itu, cara menggunakannyapun juga tak mudah. Artinya, manusia biasa atau bahkan pendekar tak akan bisa menggunakannya, kecuali ia memiliki bakat sejak lahir; bakat untuk mengetahui keberadaan benda-benda itu dan bakat untuk menyerap energinya.
Jalu dan Niken pun juga mendapatkan banyak perkembangan dengan bantuan mustika alam dan mustika siluman. Sementara Batari Mahadewi belum pernah menggunakannya, kecuali mustika dewa yang ia dapat dari dewa penunggu sungai.
Energi dasar dari Batari Mahadewi adalah mustika dewa, karena ia sendiri merupakan senjata yang ditempa dengan menggunakan mustika dewa. Dalam tubuhnya ada energi yang luar biasa, yang hanya bisa muncul jika semua segel energi dalam tubuhnya telah terbuka. Istilah lain dari segel energi ini adalah kunci. Membuka segel energi sama artinya dengan membuka kunci tubuh.
Setiap manusia pada dasarnya lahir dalam keadaan tersegel. Artinya, tidak semua indera yang dimiliki bisa digunakan sepenuhnya. Umumnya, 5 panca indera lah yang bisa digunakan. Sementara indera yang lain, indera ke 6, ke 7, ke 8 dan seterusnya, perlu latihan khusus untuk bisa menggunakannya.
Ada pula manusia yang bisa menggunkan indera ke 6 nya sejak ia kecil, namun ada juga yang harus membuka kunci atau membuka segel energi dalam tubuhnya sebelum ia bisa menggunakannya. Cara yang ditempuh pun bermacam-macam, kadang ia harus melakukan puasa dan serangkaian ritual, atau ia harus melakukan olah tubuh sedemikian rupa sebagaimana yang dijalani oleh para pendekar.
Tak banyak dari para pendekar sakti yang telah membuka inderanya hingga indera yang ke 8, dimana ia tak hanya bisa melihat dunia gaib, namun ia juga bisa berkomunikasi dengan para penghuni dunia gaib. Selain itu, kemampuan fisiknya juga meningkat drastis, ia memiliki penglihatan dan pendengaran yang tajam, ia bisa mengolah tenaga dalamnya, menemukan karakter elemen tubuhnya, lalu menggunakannya sebagai senjata mematikan.
Jalu dan Niken telah memiliki indera ke 8 sehingga pendekar seperti mereka bisa mengelola elemen api dan es dalam tubuhnya sebagai energi yang mematikan. Sementara, Batari Mahadewi sudah mencapai indera ke 10 sejak ia kecil sehingga ia bisa membaca berbagai aksara dewa, siluman, bahasa binatang, bahasa tumbuhan, serta memiliki kekuatan tingkat dewa.
__ADS_1
Kini, setelah segel ke empat dalam tubuhnya telah terbuka, Batari Mahadewi telah memiliki indera ke 12 dimana sebagian dari tubuhnya sudah mulai mengalami perubahan. Kuku-kuku logam berwarna emas yang ada di jemari kaki dan tangannya tak hanya berfungsi sebagai senjata, namun juga menyerap dan mengolah racun sebagai energi.
Bagi Batari Mahadewi saat ini, berurusan dengan pendekar racun bukanlah masalah. Setidaknya, racun yang dikeluarkan oleh musuh justru akan menjadi energi sekaligus boomerang bagi musuhnya.
“Hutan ini tak semengerikan hutan di Lembah Kematian, tapi energi gaib yang terpancar di hutan ini sangat kuat.” Kata Jalu.
“Kakak benar, di Lembah Kematian, kita langsung disambut oleh energi hitam yang jahat. Sementara di sini, hanya energi gaib yang terasa lebih kuat. Mungkin hutan ini menyimpan banyak mustika dan pusaka alam.” Kata Niken.
“Dan seorang pendekar sakti. Dia sembunyi di dalam hutan. Aku tak bisa mengukur sejauh mana kemampuannya. Setidaknya, ia telah berusaha menyembunyikan pancaran energinya, namun masih bisa di rasakan. Hanya ada dua kemungkinan, energinya terlalu besar sehingga ia tak mampu menutupinya, atau ia memiliki kemampuan yang kurang dalam menyembunyikan energi.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, kau betul adik. Setelah memasuki hutan ini, aku bisa merasakan pancaran energinya yang samar-samar itu.” Kata Jalu.
“Lihat batu besar di depan itu! Batu itu memancarkan energi yang sama dengan beberapa bebatuan di padepokan kita.” Kata Niken.
“Boleh juga. Kita sudah lama tak mencari mustika alam.” Kata Niken.
“Kenapa kakak tidak mengambil yang ada di air terjun Hati Suci?” tanya Batari Mahadewi.
“Hahaha, guru melarang kami melakukannya. Di sana tempat suci dan mustika itu sengaja disegel oleh guru di sana untuk memberikan energi pada kita jika ingin bermeditasi di dalam gua.” Jalu menjelaskan.
“Apakah adik pernah mencari mustika alam?” tanya Niken.
__ADS_1
“Aku tidak yakin kakak, tapi aku pernah mendapatkan bola Kristal berwarna biru dan memancarkan cahaya yang diberikan oleh makhluk gaib di dalam sungai. Aku tak tahu apakah itu mustika alam atau bagaimana, yang jelas, aku sudah menyerap energinya dan aku merasa mengalami perubahan dalam banyak hal.” Kata Batari Mahadewi.
“Mustika biru? Hanya mustika dewa yang berwarna biru dan berwarna emas. Mungkin adik telah mendapatkan mustika dewa. Adik sangat beruntung. Mungkin itu sebabnya adik memiliki kekuatan setingkat energi dewa seperti milik guru.” Jalu menjelaskan.
Mereka sampai di batu besar yang menyembunyikan energi dari mustika alam. Jalu berniat untuk mengambilnya. Ia duduk bersila di depan batu itu, lalu memancarkan energinya untuk menarik mustika alam yang tersembunyi di bawah batu besar itu. Tak butuh waktu lama bagi pendekar sekelas Jalu untuk bisa menarik mustika alam itu dengan mudah.
Lima buah batu kecil berwarna merah mulai menampakkan diri. Niken segera menangkapnya sebelum bebatuan itu kembali lagi masuk ke dalam tanah. Setelah ia menangkapnya, lalu ia memancarkan energinya untuk menetralkan energi liar yang menyelubungi ke lima bebatuan kecil berwarna merah itu.
“Lima buah mustika merah delima. Kita sungguh beruntung hari ini.” Kata Jalu.
“Itukah yang kakak maksud sebagai mustika alam? Aku beberapa kali melihatnya, tapi tak pernah mengambilnya.” Kata Batari Mahadewi.
“Ya, inilah bebatuan berharga itu adik. Kita bisa menambah kekuatan kita dengan bebatuan ini.” Kata Jalu.
“Kakak saja yang menggunakannya. Dengan begitu kemampuan kakak bisa meningkat. Aku masih bisa menyerap energi bumi sebanyak yang aku mau.” Kata Batari Mahadewi.
“Tidak banyak tempat yang kaya akan mustika alam seperti ini. Apakah menurut kakak sebaiknya kita mengumpulkan beberapa lagi dan kita pakai untuk meningkatkan kemampuan kita?” tanya NIken.
“Ya, aku pikir juga demikian.” Kata Jalu. Selang beberapa saat sebelum mereka bergerak mencari mustika alam, seseorang dengan energi yang sangat kuat melesat cepat ke arah mereka. Jalu, Niken dan Batari Mahadewi bersiaga penuh menanti serangan yang tak terduga.
Sosok itu telah sampai dan berdiri di depan mereka. Ia adalah manusia yang memiliki penampilan nyaris seperti monster, dan yang paling mencolok perhatian mereka bertiga adalah sosok itu memiliki sebuah mata berukuran lebih besar dari mata manusia normal yang terletak di tengah dahi, tepat diatas tulang hidungnya.
__ADS_1
Terimakasih buat teman-teman yang sampai sejauh ini masih membaca cerita Pendekar Batari Mahadewi. Selama beberapa hari ke depan, up date terbaru akan selalu tersedia. Terimakasih atas like, vote, dan komentarnya. semoga teman-teman selalu dikaruniai sehat, keslamatan, rejeki dan kebahagiaan. Amiiinnn...