Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 177 Bertarung Melawan Ratu Halilintar


__ADS_3

“Tetua Samman, kami telah siap dan akan meluncur ke atas untuk memancing ratu Halilintar agar mau mengejar kami. Semoga kami berhasil, namun tak ada salahnya jika tetua memperingatkan semua warga dunia atas untuk bersiap-siap apabila ada hal-hal yang tak diharapkan terjadi di luar kendali kami.” Kata Nala.


“Kalian jangan khawatir, selama kami masih di dunia atas, kami tak akan kekurangan energi dan masih bisa bertahan atau melarikan diri jika ada hal-hal yang membahayakan nyawa kami.” Kata tetua Samman.


Nala dan Batari Mahadewi meluncur ke atas, menembus beberapa lapisan awan yang menutupi kuil suci dari pandangan mata. Udara bertambah semakin dingin.


Tak lama kemudian, keduanya sampai di kuil suci Halilintar. Kuil itu tampak sederhana, tanpa bangunan apa-apa hanya altar dan empat pilar yang menjulang ke atas. sekilas bentuknya mirip dengan altar langit di desa Atas Awan di dunia satu rembulan. Sebongkah kristal energi berukuran sangat besar yang menjadi sumber energi utama pulau Halilintar itu melayang di tengah-tengah empat pilar kuil suci.


Batari Mahadewi dan Nala tak melihat siapapun di sana dan tak menangkap pancaran energi apapun selain pancaran energi kristal halilintar yang berwarna biru terang dengan pijaran-pijaran listrik di sekelilingnya.


“Tidak ada siapapun di sini. Apakah ratu Halilintar sudah tak ada di sini lagi? Atau yang dikatakan oleh warga pulau Halilintar tak sepenuhnya benar?” ujar Nala.


“Tunggu sebentar, Nala, ada yang aneh. Apakah kau memperhatikan patung itu? Itu adalah patung seorang wanita dengan tubuh setengah kalajengking.” Kata Batari Mahadewi yang tak melepaskan pandangan matanya ke arah patung yang mencuri perhatiannya itu.


Patung itu berwujud perempuan dengan baju perang yang melekat di tubuhnya dan sebuah tongkat trisula di tangan kanannya. Sepasang tanduk tumbuh di kepala patung perempuan itu. Yang membuat tampilan patung itu tidak biasa, tubuh bagian bawahnya adalah tubuh kalajengking, lengkap dengan kaki dan ekornya yang terangkat naik melengkung dengan sengatnya mengarah ke depan. Patung itu tampak begitu nyata dan terlihat hidup.

__ADS_1


“Patung yang indah. Siapa pula yang membuatnya? Jangan-jangan…” belum sempat Nala selesai bicara, patung itu bergerak perlahan dan berubah wujud dari yang semula batu menjadi makhkuk yang nyata; seorang perempuan cantik berambut perak dan bertubuh kalajengking yang berkulit hitam mengkilap. Baju tempur perempuan itu berwarna merah dengan trisula berwarna hijau kebiru-biruan di tangan kanannya.


“Kalian makhluk pertama yang datang ke sini setelah ribuan tahun lamanya aku menjaga kuil ini. Aku ratu Halilintar. Apakah kalian adalah suruhan orang-orang di bawah sana?” tanya ratu itu.


“Kami ke sini untuk menyerap energi dari kristal halilintar. Kami membutuhkan kekuatan itu agar kami bisa kembali ke dunia kami. Tentu saja kedatangan kami tak ada sangkut pautnya dengan warga pulau Halilintar. Meski begitu, kami telah banyak mendengar tentangmu dari mereka.” Kata Batari Mahadewi dengan nada yang lunak. Jika ia dan Nala bisa mencapai tujuannya tanpa pertarungan, itu adalah pilihan yang terbaik.


“Dan tentu saja kalian juga tahu kan bahwa aku tak akan mengizinkan siapapun untuk mengambil energi dari kristal ini.” Kata ratu Halilintar. Sesekali tubuh ratu itu memancarkan pijaran listrik yang penuh ancaman.


“Ya, kami tahu akan hal itu. Maka kami akan menantangmu.” Kata Nala tak sabar dengan obrolan basa-basi itu.


“Kau terlalu tua dan lemah untuk mempertahankan kuil ini. Ayo kejar dan lawan kami.” Nala dan Batari Mahadewi memancarkan seluruh energi mereka. Hawa dingin yang pekat membuat keduanya memilih untuk menggunakan tubuh es. Tubuh keduanya menjadi berwarna seputih salju sebagaimana keduanya berada di pulau Es.


Nala dan Batari Mahadewi Melesat menjauhi kuil itu dan untungnya ratu Halilintar yang penasaran itu mengikuti keduanya. Setelah mereka jauh dari kuil suci, mereka mulai bertarung di angkasa.


Meski telah jauh dari kuil suci, bukan berarti ratu itu lemah. Ratu halilintar tetap kuat, ia hanya jauh dari sumber energi yang sewaktu-waktu bisa ia gunakan ketika energinya habis dalam pertarungan. Ratu itu melindungi tubuhnya dengan pijaran listrik di seluruh tubuhnya dan dengan pijaran listrik itu, kadang-kadang ia menyerang dengan pukulan halilintar; kilat menyambar dari tangan dan ekornya mengincar Batari Mahadewi dan Nala yang bergerak dengan lincah di angkasa.

__ADS_1


Para warga pulau Halilintar menyaksikan pertarungan itu dari bawah. Meski mereka tak melihat ketiga sosok yang sedang bertarung, namun kilat yang menyambar-nyambar di angkasa menandakan bahwa pertarungan sudah dimulai. Mereka sangat berharap Batari Mahadewi dan Nala bisa mengalahkan ratu Halilintar yang membuat hidup mereka sengsara itu.


Nala yang membelah tubuhnya menjadi beberapa naga es cukup merepotkan ratu Halilintar, terlebih Nala juga memancarkan energi halilintar yang menyelubungi masing-masing wujud naganya. Ketika Nala berhasil mengalihkan pertahatian ratu Halilintar, Batari Mahadewi bisa dengan mudah melontarkan pukulan petirnya setelah ia memadatkan udara di sekeliling ratu Halilintar dan membuat tubuh manusia setengah kalajengking itu sulit bergerak dengan leluasa.


Sayang sekali, satu hal yang tak diketahui sebelumnya oleh Nala dan Batari Mahadewi adalah bahwa ratu Halilintar itu tak mempan jika diserang dengan pukulan petir. Serangan dengan energi listrik justru malah menjadi energi tambahan bagi makhluk itu.


Senjata ratu Halilintar juga bukan hiasan semata, justru dari trisula itu, monster setengah kalajengking itu bisa menciptakan serangan petir dengan kekuatan yang dahsyat. Kecepatan sambaran dan percabangan kilatnya memaksa Nala berubah ke dalam wujud aslinya. Meski ratu Halilintar tak dapat bergerak cepat, namun serangan kilat yang ia berikan kepada dua lawan tangguhnya itu hanya bisa dihindari dengan kecepatan kilat juga.


Batari Mahadewi dan Nala belum menemukan celah untuk menyerang makhluk itu dari jarak dekat, sebab pijaran listrik di sekelilingnya akan memberikan sengatan yang menyakitkan pada siapapun yang mendekat. Dengan begitu, Batari Mahadewi tak bisa menggunakan jurus perpindahan tubuh dalam sekejab mata untuk mendekati monster itu dan menghujamkan pukulan andalannya untuk mengakhiri ratu Halilintar.


Batari Mahadewi juga gagal melumpuhkan ratu itu dengan serangan badai es yang ia ciptakan. Aliran listrik disekujur tubuh ratu Halilintar dengan mudah menghancurkan tiap butiran es yang meluncur ke arahnya.


Nala mendekat ke arah Batari Mahadewi lalu membisikkan sesuatu, “Bagaimana kalau kita pancing dia ke daratan, kita bisa menggunakan kekuatan api dengan lebih baik dari pada di sini.” Kata Nala. Batari Mahadewi mengangguk setuju.


“Hahaha, apakah kalian sudah kehabisan jurus sehingga harus berbisik-bisik seperti itu?” ratu Halilintar menyindir Batari Mahadewi dan Nala dengan nada congkak dan dingin.

__ADS_1


“Kami masih mempunyai banyak jurus menarik yang harus kau ketahui. Jika kau berminat, ayo ikuti kami.” Kata Batari Mahadewi. Selanjutnya, ia dan Nala meluncur ke bawah menuju ke pulau kecil di kepulauan Halilintar dan ratu setengah kalajengking itu mengikuti mereka.


__ADS_2