Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 293 Merajut Rambut Naga


__ADS_3

Rambut naga itu bukanlah sembarang rambut. Ukuran tiap helainya lebih tebal dari ekor kuda, namun lebih halus dan licin sehingga bisa digunakan sebagai bahan tenun. Tebal namun halus layaknya kain dari benang. Tak disangka, rambut di kepala naga yang mengerikan itu ternyata memiliki tekstur yang lembut dan licin.


Meski begitu, rambut siluman naga tak mudah dipotong. Butuh tenaga dalam besar jika ingin memotongnya dengan menggunakan pedang biasa. Dengan kata lain, hanya orang berkemampuan tinggi saja yang bisa memotong rambut naga sehingga menenun kain dari rambut naga hanya bisa dilakukan oleh pendekar sekelas Nyi Lohita atau lebih kuat dari itu.


Namun rambut naga yang diberikan oleh siluman naga itu jauh berbeda dengan yang lainnya. Rambut itu adalah rambut siluman naga laut kuno. Warnanya merah darah, menandakan usianya lebih dari dua puluh ribu tahun ketika siluman itu masih hidup. Tiap helai memiliki panjang setara dengan sebatang pohon bambu. Tidak ada alat yang bisa memotongnya kecuali kekuatan siluman yang usianya lebih dari sepuluh ribu tahun, para dewa, iblis dengan kesaktian puncak, atau manusia yang memiliki kekuatan dewa.


Gulungan rambut naga pemberian siluman itu telah berubah menjadi sebuah selendang dengan panjang dua kali tinggi badan Nala. Keduanya harus menginap semalam di pulau kecil itu untuk menyelesaikan pembuatan selendang pusaka itu. Batari Mahadewi mencoba mengujinya dengan mengerahkan sedikit kekuatan api miliknya itu dan hasilnya selendang itu tak terbakar sama sekali.


Selebihnya, Nala menyatukan sebuah mustika siluman naga kuno, beberapa mustika dan bebatuan alam sehingga selendang itu tak hanya memiliki kekuatan dan kesaktian, namun juga bersemayam jiwa naga di dalamnya.


“Apakah Nyi Lohita sanggup menggunakan selendang ini, Tari?” tanya Nala.


“Kurasa ia sanggup. Ia pasti akan sangat terkesan dengan hasil karyamu ini, Nala!” Batari Mahadewi tersenyum puas memandangi selendang pusaka ciptaan Nala itu. Awalnya, ia ingin mencoba untuk menggunakan selendang itu berdasarkan ingatannya ketika mengamati Nyi Lohita mempertunjukkan kesaktiannya menggunakan jurus-jurus selendang pusaka. Namun ia mengurungkannya. Ia ingin Nyi Lohita menjadi yang pertama menautkan jiwanya dengan jiwa naga yang bersemayam dalam selendang itu.


“Kapan kau akan memberikan selendang itu?” tanya Nala.


“Secepatnya, lalu kita segera pergi menemui pendekar Seruling Emas, Ki Rangga Suluk. Kita sudah terlalu lama menghabiskan waktu di sini,” kata Batari Mahadewi.


“Kalau begitu ayo berangkat. Jalur cepat dan aku akan menunggumu di tempat biasa,” kata Nala. Batari Mahadewi melingkarkan tangannya ke pinggang Nala, lalu dalam satu kedipan mata ia telah sampai di tepi laut kota pesisir. Untung suasana sedang sepi. Jika tidak, keduanya akan dikira sepasang siluman.


“Sempurna. Tak ada yang melihat kedatangan kita,” kata Batari Mahadewi.


“Hahaha, kau sedikit ceroboh. Tempat ini biasanya ramai. Jika saat ini banyak orang, sudah pasti kau membuat mereka lari terbirit-birit,” kata Nala.


“Tenang saja, sayang, aku bisa mengetahui tempat mana yang ramai dan mana yang tak ada orang. Baiklah, aku pergi dulu.” Batari Mahadewi memberi Nala sebuah ciuman kecil di pipinya, lalu ia melesat pergi ke pulau Perawan. Semakin hari, gadis pujaan hati itu selalu membuatnya semakin sulit menahan diri. Apa boleh buat. Ia hanya bisa menelan ludah sampai tiba waktunya nanti.

__ADS_1


****


Di pulau Perawan, Gadis jelmaan pusaka dewa itu kembali disambut dengan hangat, terlebih ia sudah dikenal oleh para perempuan penghuni pulau itu.


Dua orang pendekar perempuan paruh baya segera mengantarkannya ke pondok kediaman Nyi Lohita. Pondok sederhana itu selalu diselimuti aroma harum dari dupa yang dibakar.


“Cepat sekali kau kembali, nona cantik. Apakah kau berhasil membuatnya?” tanya Nyi Lohita. Ia tak yakin bahwa gadis itu berhasil menciptakan sebuah selendang dalam waktu kurang dari dua hari.


“Hanya bisa jadi seperti ini, bibi. Rekan saya yang menciptakannya,” kata Batari Mahadewi.


“Kenapa ia tak ikut ke sini?” tanya Nyi Lohita.


“Ia laki-laki,” jawab batari Mahadewi.


“Jadi lelaki istimewa itu adalah kekasihmu?” kata Nyi Lohita yang terlontar begitu saja sembari ia memeriksa senjata pusaka yang baru saja ia terima. Batari Mahadewi menjawabnya dengan senyum dan ekspresi wajah agak malu.


“Kami sedang beruntung bisa bertemu dengan siluman naga laut. Siluman itulah yang memberikannya kepada kami,” jawab Batari Mahadewi. “Sebaiknya bibi mencobanya, mungkin bibi butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri dengan selendang itu.”


Tentu saja wanita itu lebih terkejut lagi setelah mendengar jawaban dari Batari Mahadewi. Namun ia tak ingin menanyakannya lebih jauh karena ia merasa tamunya itu enggan bercerita.


Wanita pemimpin perguruan Selendang Merah itu duduk bersila di dipan teras pondoknya sembari memangku selendang pusaka barunya itu. Ia mencoba menghubungkan jiwanya dengan jiwa naga yang bersemayam dalam senjata pusaka yang ada dalam pangkuannya itu.


Cukup lama ia diam dalam hening. Tubuhnya dan selendang pusaka itu sama-sama memancarkan kekuatan yang semakin lama semakin kuat hingga akhirnya Nyi Lohita berhasil membuat selendang pusaka itu bersemayam dalam tubuhnya.


“Bibi berhasil menguasainya,” kata Batari mahadewi.

__ADS_1


“Sepertinya aku berjodoh dengan pusaka ini,” kata Nyi Lohita.


“Bagaimana jika bibi mencoba mengenakan baju pusaka dan mencoba untuk menggunakan selendang itu. Kita bisa mengujinya,” kata Batari Mahadewi.


“Bagaimana kita akan mengujinya nanti?” tanya Nyi Lohita.


“Bibi cukup membuat pertahanan untuk menahan kekuatanku,” kata Batari Mahadewi.


“Kita lakukan di halaman itu?” tanya Nyi Lohita.


“Sebaiknya di tempat yang sangat luas, bibi,” jawab Batari Mahadewi. Pendekar selendang merah itu bersiap. Ia mengenakan baju pusaka pemberian Batari Mahadewi, lalu berjalan menuju ke tempat latihan yang cukup luas. Beberapa murid yang sedang latihan diminta untuk menyingkir dan menonton dari jarak yang cukup jauh.


Nyi Lohita memancarkan seluruh kekuatannya. Selendang pusaka barunya itu menari-nari dan berputar mengelilingi tubuhnya. Kekuatan perempuan itu meningkat beberapa kali lipat. Gelombang kekuatan yang terpancar dari tubuhnya mendorong udara di sekelilingnya sehingga terciptalah sebuah hentakan yang menerbangkan apapun di sekelilingnya.


“Bibi sudah siap?” tanya batari Mahadewi.


“Ya, aku siap,” jawab Nyi Lohita. Perempuan itu belum pernah melihat langsung kekuatan yang dimiliki Batari Mahadewi, sehingga ia hanya bisa menduga-duga, seberapa besar kekuatan gadis cantik yang berhasil mengusir seluruh pasukan Tirayamani dari Mahabhumi itu.


Tentu saja, gadis jelmaan pusaka dewa itu tak akan menggunakan seluruh kekuatannya untuk menguji kekuatan pusaka seperti sebelum-sebelumnya. Ia hanya mengerahkan sebuah serangan dalam wujud bola api dengan kekuatan yang setara dengan kemampuan makhluk iblis berkekuatan sedang.


Bola api itu meluncur dengan cepat dan menghantam pertahanan yang diciptakan oleh Nyi Lohita dengan selendang pusakanya itu. Sebuah dentuman besar menghancurkan seluruh tempat latihan hingga menjadi sebuah kolam yang cukup lebar dan dalam. Nyi lohita masih bertahan dalam kondisi baik-baik saja.


Sudah pasti, serangan singkat itu membuat semua murid Nyi Lohita berhenti bernafas. Awalnya mereka mengira sang guru besar sudah hancur menjadi abu, namun mereka merasa sangat lega begitu melihat sang guru besar masih berdiri dengan anggun.


“Kurasa cukup, bibi. Dengan kekuatan baru yang bibi miliki, maka bibi bisa berhadapan dengan iblis berkekuatan sedang,” kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Aku sungguh tak bisa mempercayainya. Tak hanya soal pusaka ini, tetapi juga kekuatanmu. Kamu tak menyerangku dengan sungguh-sungguh, nona.” Kata Nyi Lohita. Saat itu juga, pendekar selendang merah bisa membayangkan seberapa kuat kelak para pasukan iblis yang akan datang ke Mahabhumi untuk kesekian kalinya.


__ADS_2