
Sosok lelaki bermata satu dan bertubuh tinggi besar yang menyeramkan itu
tampak marah kepada mereka bertiga, terutama pada Jalu dan Niken.
“Kalian…berani-beraninya mencuri mustika itu dari hutanku!” kata lelaki
itu.
“Maaf tuan pendekar, tapi aku rasa mengambil sesuatu dari hutan bukanlah
mencuri. Dan sejauh yang aku tahu, hutan bukanlah milik siapapun.” Kata Jalu.
“Aku sudah lama tinggal dan menjaga hutan ini. Kenapa kalian tak datang
dan meminta izin terlebih dahulu padaku?” Tanya lelaki itu.
“Seperti yang aku bilang, tuan pendekar, kami berfikir bahwa hutan
adalah milik semua orang. Jadi kami tak berfikir bahwa hutan ini ada
pemiliknya.” Kata Jalu tenang.
“Kau lancang. Baiklah, aku tak akan segan membunuhmu!” Sosok lelaki itu
memancarkan energinya dan bersiap menyerang Jalu. Sedari tadi Batari Mahadewi
hanya mengamati dan berusaha mengenali sosok itu lebih jauh.
Tubuh sosok lelaki itu berubah warna menjadi merah. Kini penampilannya
sudah tampak seperti setan yang mengeluarkan aura kematian yang kental. Dengan sangat cepat, ia meluncur ke arah Jalu dan melancarkan serangkaian serangan.
Dengan sigap, Jalu menangkis serangan-serangan itu sambil sesekali
melakukan serangan balasan. Sosok lelaki bertubuh merah itu tak menampakkan
rasa sakit ketika beberapa pukulan api dari Jalu mendarat di tubuhnya. Kemampuan
bela diri lelaki menyeramkan itu tidaklah terlalu baik, namun ia memiliki
energi yang sangat besar.
“Hehehehe….sejauh ini, baru kau lawan yang menarik yang pernah ku temui.”
Kata Lelaki itu. “Namun capakah kau bisa menahan seranganku kali ini?!” Ucap
lelaki itu. Ia mengeluarkan pancaran tenaga dari telapak tangannya yang kini
mengeluarkan cahaya berwarna merah lalu ia mengarahkan tenaga dengan telapak
tangannya ke tubuh Jalu yang jaraknya cukup jauh. Aliran energi yang cukup
besar meluncur deras ke arah Jalu.
Jalu menahan serangan itu dengan perisai api. Ketika cahaya itu
menghantam perisai api milik Jalu, terciptalah sebuah dentuman besar. Jalu
tidak terluka, namun ia terpental jauh ke belakang. Selanjutnya, sosok
menyeramkan itu melontarkan serangan yang sama ke arah Niken yang sedari tadi
menunggu kesempatan untuk mendapatkan giliran bertarung.
Melihat kakak seperguruannya terpental, Niken tak ingin menahan serangan
itu dengan perisai es miliknya, ia lebih memilih untuk menghindari serangan itu
dengan melompat tinggi ke atas. Serangan sosok lelaki itu menghantam pohon dan
pohon itu hancur berantakan. Pada saat yang sama Niken melontarkan kristal es
dari telapak tangannya.
Lelaki menyeramkan itu tak menghindari serangan Niken. Tubuhnya tak
bergeming menerima hantaman kristal es dari Niken.
“Kalian bukan lawanku. Sebaiknya kalian berdua menyerangku bersamaan dan
jangan merasa malu melakukannya.” Kata lelaki itu kepada Niken dan Jalu. Sedari
tadi, lelaki menyeramkan itu tak menganggap Batari Mahadewi sebagai pendekar
yang berbahaya, dan ia tahu bahwa gadis itu tak mencuri apapun dari hutan.
Jalu dan Niken tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mereka berdua
__ADS_1
melakukan kombinasi serangan api dan es dengan energi yang besar. Ke dua
serangan yang bersamaan dari Jalu dan Niken membuat lelaki menyeramkan itu
mulai kewalahan. Ia salah menakar energi lawan tandingnya. Sebelumnya, Jalu dan
Niken belum mengeluarkan energi mereka sepenuhnya untuk menyerang.
Jalu dan Niken menyerang lelaki itu dengan serangan kombinasi yang sangat sulit dihindari. Serangan kombinasi ini telah dilatih lama oleh Jalu dan Niken sewaktu mereka belajar bersama gurunya di padepokan. Gabungan serangan itu tak hanya menghasilkan serangan dengan kecepatan tinggi, namun juga energi yang
jauh lebih besar. Energi panas dan dingin yang silih berganti itu membuat benteng pertahan dalam tubuh lelaki itu rusak sehingga ia beberapa kali terpental dan muntah darah.
“Tuan pendekar, tidakkah sebaiknya kita hentikan pertarungan ini?” tanya Jalu.
Lelaki menyeramkan itu sangat marah. Tahu bahwa ia akan kalah, maka ia
berfikir untuk menyerang Batari Mahadewi dan menjadikannya sandera. Maka ia
melesat cepat ke arah Batari Mahadewi. Sekali lagi ia mendapatkan kejutan.
Batari Mahadewi, tanpa menggunakan jurus apapun, memukul perut lelaki itu
dengan energi besar.
Lelaki itu adalah pendekar kesekian kalinya yang terkecoh dengan penampilan Batari Mahadewi sehingga selagi ia menyerang Batari Mahadewi, ia tidak mempersiapkan diri untuk mendapatkan serangan balik. Akibatnya, satu pukulan saja dengan kecepatan dan energi tinggi telah membuatnya jatuh berlutut kesakitan.
“Pendekar Mata Satu, mohon maaf kami datang ke hutan ini tanpa permisi
sehingga kejadian ini tak bisa dihindari. Namun sekali lagi, kami bukanlah
musuhmu, kami tak ingin mencari masalah. Kami kebetulan lewat dan ingin
mengumpulkan perbekalan untuk perjalanan panjang kami menempuh dunia persilatan.”
Kata Batari Mahadewi.
“Aku tahu tuan bukanlah pendekar golongan hitam dan bukan pula golongan
putih. Tuan pendekar tak pernah meninggalkan hutan ini. Jadi, sebenarnya kita
tak perlu bermusuhan.” Batari Mahadewi melanjutkan kata-katanya, lalu ia
mendekat ke arah lelaki itu, mengalirkan energi besar untuk memulihkan energi
lelaki itu.
sedikit banyak telah mengetahui latar belakang kesaktian dari lelaki itu. Namun
ia tak tahu kenapa lelaki itu tak pernah mau meninggalkan hutan dan berkelana
sebagai pendekar. Ia hanya mengira bahwa lelaki itu pasti malu dengan keadaan
dirinya yang berwajah menyeramkan sehingga ia memilih untuk menjadi sosok yang ditakuti orang, namun sebenarnya ia pernah memiliki hati yang baik.
“Kenapa kau memulihkan aku?” Kata Lelaki itu.
“Karena kita bisa berteman, dan itu jauh lebih baik daripada bermusuhan.”
Kata Batari Mahadewi. “Namaku Batari Mahadewi, den itu adalah kakak
seperguruanku, kakak Jalu dan kakak Niken. Kami dari padepokan Cemara Seribu,
murid Ki Gading Putih.” Batari Mahadewi memperkenalkan diri.
“Aku belum pernah mendengar nama perguruanmu dan juga nama gurumu. Aku tak
pernah keluar dar hutan ini. Kau satu-satunya orang yang mau menganggapku
teman.” Kata lelaki itu yang entah bagaimana ia kemudian menangis. Ia seperti
merasa bahagia, dan tak pernah sebahagia ini sebelumnya.
“Aku bukanlah pendekar. Aku berasal dari desa yang baru saja kalian
lewati. Sejak kecil aku selalu diolok-olok dan disingkirkan, bahkan oleh kedua
orang tuaku karena aku lahir dengan wajah seperti ini. Mereka mengusirku dan di
hutan inilah aku tinggal. Di sinilah aku berteman dengan alam, dengan siluman,
dan semua penghuni hutan. Dari hutan inilah aku memiliki kekuatan seperti ini.”
Cerita lelaki itu.
“Apakah tuan pendekar yang membantai sebagian besar dari warga desa itu?”
Tanya Batari Mahadewi. Jalu dan Niken mula-mula masi merasa was-was, kini
__ADS_1
datang mendekat dan ikut duduk bersama Batari Mahadewi dan lelaki itu.
“Dari mana nona tahu bahwa aku yang membunuh warga desa itu?” tanya
lelaki itu.
“Arwah-arwah mereka itu yang memberiku petunjuk.” Kata Batari Mahadewi. “Kenapa
tuan pendekar melakukan itu?”
“Aku tak ingin melakukannya sebenarnya. Meski mereka mengusirku, aku
tetap menyayangi mereka. Suatu hari, aku datang di desa ketika ada wabah
penyakit menyerang. Aku membawakan mereka obat. Tapi mereka melempariku dengan
batu dan mengusirku. Aku tak bisa lagi menahan diri…dan aku membunuh mereka
semua.” Lelaki itu berhenti bercerita, lalu air matanya menetes membasahi
hidungnya.
“Terimakasih sudah menganggapku sebagai teman. Hanya kalian yang
memperlakukan aku seperti manusia…seperti saat ini…semua orang takut padaku…”
sambung lelaki itu.
“Tuan boleh ikut kami jika mau. Kami tak keberatan.” Kata Jalu
menawarkan. Aku bisa memperkenalkan tuan denga guruku nanti jika tugas kami sudah
selesai.”
“Terimakasih banyak tuan pendekar muda. Tapi aku sudah bersumpah tak
akan meninggalkan hutan ini. Aku akan menjaga dan melindungi semua makhluk di
hutan ini yang sudah kujadikan keluargaku.” Kata lelaki itu.
“Tuan pendekar, mohon maaf. Kami memang tak mengetahui alasan tuan
hingga marah saat kami mengambil benda ini. Jadi batu-batu mustika ini kami
kembalikan. Dan sekali lagi kami mohon maaf.” Kata Jalu.
“Tidak tuan pendekar muda. Aku menghadiahkan itu sebagai tanda pertemanan.
Aku sangat menghargai kalian yang memandangku sebagai manusia. Justru kini aku mohon agar kalian sudi menerima hadiah lain dariku.” Kata lelaki itu sambil
mengeluarkan beberapa mustika merah delima dan mustika intan.
Jalu tak menolak pemberian itu. Ia tak ingin melukai perasaan pendekar
bermata satu yang baru ia kenal itu. “Terimakasih banyak tuan pendekar,
mustika-mustika ini akan kami gunakan sebaik-baiknya.”
Jalu, Niken dan Batari Mahadewi menginap semalam di hutan itu. Lelaki itu
sangat senang sekali karena ia merasa telah sangat lama merindukan suasana
seperti itu, berbicara dengan manusia yang tak memandangnya buruk karena
wajahnya yang buruk. Keesokan paginya, Jalu, Niken dan Batari Mahadewi
berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.
“Terimakasih banyak telah menerima kami bermalam di hutan ini, tuan
pendekar.” Kata Jalu
“Saya yang justru berterimakasih karena kalian mau menginap di sini. Jika
di lain waktu kalian melewati daerah ini, aku akan dengan senang hati menyambut
kalian.”
“Tentu, kami akan selalu mengingat tuan pendekar.” Kata Jalu. Mereka bertiga
akhirnya beranjak dari hutan itu, menyusuri hutan dengan menggunakan ilmu
meringankan tubuh agar segera sampai di desa selanjutnya. Lelaki itu mengingat
mereka bertiga lebih dari seorang kenalan, namun juga sebagai keluarga. Lepas dari
perbuatannya membantai sebagian warga di desanya, ia adalah sosok yang berhati
__ADS_1
lembut yang bertahan hidup dengan seribu goresan luka di hatinya.