Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 34 Pendekar Yang Terbuang


__ADS_3

Sosok lelaki bermata satu dan bertubuh tinggi besar yang menyeramkan itu


tampak marah kepada mereka bertiga, terutama pada Jalu dan Niken.


“Kalian…berani-beraninya mencuri mustika itu dari hutanku!” kata lelaki


itu.


“Maaf tuan pendekar, tapi aku rasa mengambil sesuatu dari hutan bukanlah


mencuri. Dan sejauh yang aku tahu, hutan bukanlah milik siapapun.” Kata Jalu.


“Aku sudah lama tinggal dan menjaga hutan ini. Kenapa kalian tak datang


dan meminta izin terlebih dahulu padaku?” Tanya lelaki itu.


“Seperti yang aku bilang, tuan pendekar, kami berfikir bahwa hutan


adalah milik semua orang. Jadi kami tak berfikir bahwa hutan ini ada


pemiliknya.” Kata Jalu tenang.


“Kau lancang. Baiklah, aku tak akan segan membunuhmu!” Sosok lelaki itu


memancarkan energinya dan bersiap menyerang Jalu. Sedari tadi Batari Mahadewi


hanya mengamati dan berusaha mengenali sosok itu lebih jauh.


Tubuh sosok lelaki itu berubah warna menjadi merah. Kini penampilannya


sudah tampak seperti setan yang mengeluarkan aura kematian yang kental. Dengan sangat cepat, ia meluncur ke arah Jalu dan melancarkan serangkaian serangan.


Dengan sigap, Jalu menangkis serangan-serangan itu sambil sesekali


melakukan serangan balasan. Sosok lelaki bertubuh merah itu tak menampakkan


rasa sakit ketika beberapa pukulan api dari Jalu mendarat di tubuhnya. Kemampuan


bela diri lelaki menyeramkan itu tidaklah terlalu baik, namun ia memiliki


energi yang sangat besar.


“Hehehehe….sejauh ini, baru kau lawan yang menarik yang pernah ku temui.”


Kata Lelaki itu. “Namun capakah kau bisa menahan seranganku kali ini?!” Ucap


lelaki itu. Ia mengeluarkan pancaran tenaga dari telapak tangannya yang kini


mengeluarkan cahaya berwarna merah lalu ia mengarahkan tenaga dengan telapak


tangannya ke tubuh Jalu yang jaraknya cukup jauh. Aliran energi yang cukup


besar meluncur deras ke arah Jalu.


Jalu menahan serangan itu dengan perisai api. Ketika cahaya itu


menghantam perisai api milik Jalu, terciptalah sebuah dentuman besar. Jalu


tidak terluka, namun ia terpental jauh ke belakang. Selanjutnya, sosok


menyeramkan itu melontarkan serangan yang sama ke arah Niken yang sedari tadi


menunggu kesempatan untuk mendapatkan giliran bertarung.


Melihat kakak seperguruannya terpental, Niken tak ingin menahan serangan


itu dengan perisai es miliknya, ia lebih memilih untuk menghindari serangan itu


dengan melompat tinggi ke atas. Serangan sosok lelaki itu menghantam pohon dan


pohon itu hancur berantakan. Pada saat yang sama Niken melontarkan kristal es


dari telapak tangannya.


Lelaki menyeramkan itu tak menghindari serangan Niken. Tubuhnya tak


bergeming menerima hantaman kristal es dari Niken.


“Kalian bukan lawanku. Sebaiknya kalian berdua menyerangku bersamaan dan


jangan merasa malu melakukannya.” Kata lelaki itu kepada Niken dan Jalu. Sedari


tadi, lelaki menyeramkan itu tak menganggap Batari Mahadewi sebagai pendekar


yang berbahaya, dan ia tahu bahwa gadis itu tak mencuri apapun dari hutan.


Jalu dan Niken tak menyia-nyiakan kesempatan itu, mereka berdua

__ADS_1


melakukan kombinasi serangan api dan es dengan energi yang besar. Ke dua


serangan yang bersamaan dari Jalu dan Niken membuat lelaki menyeramkan itu


mulai kewalahan. Ia salah menakar energi lawan tandingnya. Sebelumnya, Jalu dan


Niken belum mengeluarkan energi mereka sepenuhnya untuk menyerang.


Jalu dan Niken menyerang lelaki itu dengan serangan kombinasi yang sangat sulit dihindari. Serangan kombinasi ini telah dilatih lama oleh Jalu dan Niken sewaktu mereka belajar bersama gurunya di padepokan. Gabungan serangan itu tak hanya menghasilkan serangan dengan kecepatan tinggi, namun juga energi yang


jauh lebih besar. Energi panas dan dingin yang silih berganti itu membuat benteng pertahan dalam tubuh lelaki itu rusak sehingga ia beberapa kali terpental dan muntah darah.


“Tuan pendekar, tidakkah sebaiknya kita hentikan pertarungan ini?” tanya Jalu.


Lelaki menyeramkan itu sangat marah. Tahu bahwa ia akan kalah, maka ia


berfikir untuk menyerang Batari Mahadewi dan menjadikannya sandera. Maka ia


melesat cepat ke arah Batari Mahadewi. Sekali lagi ia mendapatkan kejutan.


Batari Mahadewi, tanpa menggunakan jurus apapun, memukul perut lelaki itu


dengan energi besar.


Lelaki itu adalah pendekar kesekian kalinya yang terkecoh dengan penampilan Batari Mahadewi sehingga selagi ia menyerang Batari Mahadewi, ia tidak mempersiapkan diri untuk mendapatkan serangan balik. Akibatnya, satu pukulan saja dengan kecepatan dan energi tinggi telah membuatnya jatuh berlutut kesakitan.


“Pendekar Mata Satu, mohon maaf kami datang ke hutan ini tanpa permisi


sehingga kejadian ini tak bisa dihindari. Namun sekali lagi, kami bukanlah


musuhmu, kami tak ingin mencari masalah. Kami kebetulan lewat dan ingin


mengumpulkan perbekalan untuk perjalanan panjang kami menempuh dunia persilatan.”


Kata Batari Mahadewi.


“Aku tahu tuan bukanlah pendekar golongan hitam dan bukan pula golongan


putih. Tuan pendekar tak pernah meninggalkan hutan ini. Jadi, sebenarnya kita


tak perlu bermusuhan.” Batari Mahadewi melanjutkan kata-katanya, lalu ia


mendekat ke arah lelaki itu, mengalirkan energi besar untuk memulihkan energi


lelaki itu.


sedikit banyak telah mengetahui latar belakang kesaktian dari lelaki itu. Namun


ia tak tahu kenapa lelaki itu tak pernah mau meninggalkan hutan dan berkelana


sebagai pendekar. Ia hanya mengira bahwa lelaki itu pasti malu dengan keadaan


dirinya yang berwajah menyeramkan sehingga ia memilih untuk menjadi sosok yang ditakuti orang, namun sebenarnya ia pernah memiliki hati yang baik.


“Kenapa kau memulihkan aku?” Kata Lelaki itu.


“Karena kita bisa berteman, dan itu jauh lebih baik daripada bermusuhan.”


Kata Batari Mahadewi. “Namaku Batari Mahadewi, den itu adalah kakak


seperguruanku, kakak Jalu dan kakak Niken. Kami dari padepokan Cemara Seribu,


murid Ki Gading Putih.” Batari Mahadewi memperkenalkan diri.


“Aku belum pernah mendengar nama perguruanmu dan juga nama gurumu. Aku tak


pernah keluar dar hutan ini. Kau satu-satunya orang yang mau menganggapku


teman.” Kata lelaki itu yang entah bagaimana ia kemudian menangis. Ia seperti


merasa bahagia, dan tak pernah sebahagia ini sebelumnya.


“Aku bukanlah pendekar. Aku berasal dari desa yang baru saja kalian


lewati. Sejak kecil aku selalu diolok-olok dan disingkirkan, bahkan oleh kedua


orang tuaku karena aku lahir dengan wajah seperti ini. Mereka mengusirku dan di


hutan inilah aku tinggal. Di sinilah aku berteman dengan alam, dengan siluman,


dan semua penghuni hutan. Dari hutan inilah aku memiliki kekuatan seperti ini.”


Cerita lelaki itu.


“Apakah tuan pendekar yang membantai sebagian besar dari warga desa itu?”


Tanya Batari Mahadewi. Jalu dan Niken mula-mula masi merasa was-was, kini

__ADS_1


datang mendekat dan ikut duduk bersama Batari Mahadewi dan lelaki itu.


“Dari mana nona tahu bahwa aku yang membunuh warga desa itu?” tanya


lelaki itu.


“Arwah-arwah mereka itu yang memberiku petunjuk.” Kata Batari Mahadewi. “Kenapa


tuan pendekar melakukan itu?”


“Aku tak ingin melakukannya sebenarnya. Meski mereka mengusirku, aku


tetap menyayangi mereka. Suatu hari, aku datang di desa ketika ada wabah


penyakit menyerang. Aku membawakan mereka obat. Tapi mereka melempariku dengan


batu dan mengusirku. Aku tak bisa lagi menahan diri…dan aku membunuh mereka


semua.” Lelaki itu berhenti bercerita, lalu air matanya menetes membasahi


hidungnya.


“Terimakasih sudah menganggapku sebagai teman. Hanya kalian yang


memperlakukan aku seperti manusia…seperti saat ini…semua orang takut padaku…”


sambung lelaki itu.


“Tuan boleh ikut kami jika mau. Kami tak keberatan.” Kata Jalu


menawarkan. Aku bisa memperkenalkan tuan denga guruku nanti jika tugas kami sudah


selesai.”


“Terimakasih banyak tuan pendekar muda. Tapi aku sudah bersumpah tak


akan meninggalkan hutan ini. Aku akan menjaga dan melindungi semua makhluk di


hutan ini yang sudah kujadikan keluargaku.” Kata lelaki itu.


“Tuan pendekar, mohon maaf. Kami memang tak mengetahui alasan tuan


hingga marah saat kami mengambil benda ini. Jadi batu-batu mustika ini kami


kembalikan. Dan sekali lagi kami mohon maaf.” Kata Jalu.


“Tidak tuan pendekar muda. Aku menghadiahkan itu sebagai tanda pertemanan.


Aku sangat menghargai kalian yang memandangku sebagai manusia. Justru kini aku mohon agar kalian sudi menerima hadiah lain dariku.” Kata lelaki itu sambil


mengeluarkan beberapa mustika merah delima dan mustika intan.


Jalu tak menolak pemberian itu. Ia tak ingin melukai perasaan pendekar


bermata satu yang baru ia kenal itu. “Terimakasih banyak tuan pendekar,


mustika-mustika ini akan kami gunakan sebaik-baiknya.”


Jalu, Niken dan Batari Mahadewi menginap semalam di hutan itu. Lelaki itu


sangat senang sekali karena ia merasa telah sangat lama merindukan suasana


seperti itu, berbicara dengan manusia yang tak memandangnya buruk karena


wajahnya yang buruk. Keesokan paginya, Jalu, Niken dan Batari Mahadewi


berpamitan untuk melanjutkan perjalanan.


“Terimakasih banyak telah menerima kami bermalam di hutan ini, tuan


pendekar.” Kata Jalu


“Saya yang justru berterimakasih karena kalian mau menginap di sini. Jika


di lain waktu kalian melewati daerah ini, aku akan dengan senang hati menyambut


kalian.”


“Tentu, kami akan selalu mengingat tuan pendekar.” Kata Jalu. Mereka bertiga


akhirnya beranjak dari hutan itu, menyusuri hutan dengan menggunakan ilmu


meringankan tubuh agar segera sampai di desa selanjutnya. Lelaki itu mengingat


mereka bertiga lebih dari seorang kenalan, namun juga sebagai keluarga. Lepas dari


perbuatannya membantai sebagian warga di desanya, ia adalah sosok yang berhati

__ADS_1


lembut yang bertahan hidup dengan seribu goresan luka di hatinya.


__ADS_2