
Hewan melata yang bertubuh sangat besar dan berbentuk aneh itu terus mendekat. Kelima matanya memancarkan cahaya merah, dan dua taring besar di mulutnya yang menyerupai capit kepiting itu tak henti meneteskan air liur yang kental. Ketika cukup dekat, binatang itu menyemburkan cairan dari mulutnya dan cairan itu membasahi tubuh Nala dan batari Mahadewi.
Keduanya pendekar dari dunia satu rembulan itu langsung terlonjak kaget dan melompat sejauh mungkin sambil mengibas kan cairan lengket di sekujur tubuh mereka berdua.
“Ini menjijikkan.” Kata Batari Mahadewi dengan suara keras agar suaranya tak tenggelam oleh suara air terjun yang langsung jatuh ke danau itu.
“Dan beracun!” ujar Nala juga dengan suara keras. Keduanya langsung menceburkan diri ke danau untuk membersihkan cairan lengket itu dari tubuh mereka.
Binatang jelek itu tak tinggal diam. Ia melesat ke air untuk menangkap Batari Mahadewi dan Nala sebagai makanannya. Dengan mudah, kedua pendekar itu berhasil melumpuhkan binatang jelek yang kedatangannya sungguh mengagetkan itu.
“Kekuatannya tak seberapa, tapi bentuknya sungguh mengagetkan. Dan aku tak menyadari kedatangan binatang itu.” kata Nala kesal.
“Orang biasa yang kena cairan itu pasti sudah mati.” Tambah Batari Mahadewi.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Nala.
“Ya, tubuhku kebal racun, kau tahu itu kan.” Kata Batari Mahadewi.
__ADS_1
“Hah…lalu kenapa setiap kali kita menemukan buah-buahan aneh, kau selalu menyuruhku memakan duluan?” tanya Nala.
“Agar aku tahu seberapa besar kau perhatian padaku.” Kata Batari Mahadewi sambil tertawa menggoda Nala. Sesekali gadis cantik itu mengajak bergurau untuk mengurai ketegangan setelah lolos dari maut. Sesekali pula ia memang berniat untuk mencari tahu, apakah lelaki di depannya itu masih kaku dan dingin sifatnya, meski sejauh ini Batari Mahadewi sering membuatnya tertawa.
Nala hanya tersenyum masam, lalu lelaki jelmaan pangeran kegelapan itu mengacak-acak rambut Batari beberapa kali sebelum ia duduk bersila untuk memulihkan energinya. Batari Mahadewi melakukan hal yang sama. Suara air yang terjun ke danau bawah tanah itu membuat suasana tak sesunyi yang seharusnya.
“Energi di tempat ini lebih murni dari yang ada di permukaan tanah.” Kata Batari Mahadewi.
“Kurasa kita semakin dekat. Aku bisa merasakan pancaran energi dari sumber energi utama pulau Api. Lihat ke arah sana, ada sebuah lubang kecil. Mungkin itu jalur yang harus kita lalui.” Kata Nala.
“Ya, aku juga merasakan pancaran energi murni ini berasal dari arah sana.” Kata Batari Mahadewi. Pemuda dan pemudi itu lalu melanjutkan penelusuran. Mereka merayap di jalur goa yang semakin sempit dan panas.
Kristal raksasa itu terlihat indah namun menawarkan kematian bagi siapapun yang datang mendekat, kecuali mereka yang memiliki kekuatan tinggi. Ruangan itu juga dipenuhi dengan gas beracun yang berasal dari uap kawah yang mendidih.
Batari Mahadewi dan Nala membentengi tubuh mereka dengan perisai energi berbentuk selubung bola, lalu keduanya mendekat ke arah kristal raksasa yang ada di tengah ruang itu. Dengan posisi melayang dan dalam perisai energi berbentuk bola raksasa, Batari Mahadewi dan Nala tak mau berlama-lama untuk segera memulai tahap-tahap yang telah di ajarkan kakek Zotha untuk menyerap energi murni dari sumber utama pulau Api itu.
####
__ADS_1
Sebulan telah berlalu sejak Batari Mahadewi dan Nala berada di dalam goa. Sementara di pusat kota pulau Api, sesekali geromblan kecil manusia perak sudah mulai menyerang. Namun pasukan kerajaan bisa dengan mudah memadamkannya.
Zotha dan ketujuh penjaga kuil Api Suci tak pernah meninggalkan kuil itu demi menjaga keamanan di kuil itu. Zotha yakin, kedua tamunya itu akan menjadi pendekar yang luas biasa apabila mereka berhasil menyelesaikan proses mereka di bawah tanah. Jika keduanya berhasil, maka Zotha tak perlu khawatir lagi akan serangan manusia perak yang datang secara serempak, entah kapan itu akan tejadi.
Zotha tau, para manusia perak itu berasal dari satu sumber energi, yakni sosok legendaris yang di masa lalu telah dipenjarakan dalam sebuah kitab dongeng yang tersimpan di pulau Emas. Hanya saja ia tak tahu bagaimana makhluk pengacau di masa lalu dunia tiga rembulan itu akhirnya bisa lepas.
Zotha juga tahu, sebagian dari kekuatan makhluk itu telah melebur menjadi satu tubuh dengan Batari Mahadewi. Hanya saja ia tak pernah menyinggungnya. Jika makhluk itu masih menciptakan serpihan-serpihan dari dirinya dalam bentuk manusia perak, artinya kekuatan makhluk itu belum pulih sepenuhnya setelah ribuan tahun terkurung dalam kitab dongeng.
Oleh karena itulah, makhluk itu ingin mengambil kekuatan dari pulau api dan dengan kekuatan itu, ia bisa mengambil sumber energi utama dari pulau lainnya. Keempat sumber energi utama di dunia tiga rembulan itu saling berhubungan, dan untuk menguasai keempatnya, harus dimulai dari energi di pulau Api, lalu pulau Es, pulau Halilintar dan terakhir adalah pulau Emas.
Kedatangan Batari Mahadewi di pulau merupakan kejutan bagi makhluk itu sebab di dalam tubuh gadis itu tersimpan energi utama dari dunia satu rembulan. Sayang sekali, ia begitu ceroboh dengan menyusupkan sebagian dari dirinya yang berwujud pedang kembar, jelmaan sepasang sayap dari manusia perak yang telah di bunuh oleh Batari Mahadewi.
Makhluk itu mengira, dengan menyusupkan bagian tubuhnya yang sangat penting itu, ia bisa mengambil alih semua kekuatan yang tersimpan dalam tubuh Batari Mahadewi sehingga makhluk itu bisa memulihkan energinya secara penuh. Kenyataannya, ia malah kehilangan bagian tubuhnya yang sangat penting itu. Oleh karenanya, para manusia perak yang ia kirim di pulau Api bersikeras untuk mengejar Batari Mahadewi dan merebut kembali sebagian dari kekuatannya.
Makhluk yang belum menampakkan wujudnya itu masih berusaha untuk memancing kekuatan kerajaan Api dengan cara menghancurkan desa-desa kecil melalui manusia-manusia perak yang ia ciptakan. Dengan begitu, ia bisa mengikis perlahan kekuatan pasukan kerajaan di luar wilayah kerajaan.
Hal itu pun sebenarnya tak luput dari perhatian Zotha, sang guru besar yang merupakan manusia tertua di pulau itu. namun ia juga berada dalam situasi yang dilematis. Zotha tahu, lawannya itu sangat cerdik dan licik. Jika ia keluar dari kuil, ia khawatir hal itulah yang diinginkan oleh makhluk itu.
__ADS_1
Bagaimanapun juga, Zotha belum bisa mengetahui keberadaan makhluk itu. Zotha telah kehilangan Xima karena ia terpancing oleh muslihat makhluk itu. Kakek tua itu tak mau mengulang kesalahan yang sama dengan meninggalkan kuil suci. Sementara, manusia-manusia perak itu bisa dengan leluasa menghancurkan desa-desa kecil di pulau Api.
Para pasukan kerajaan yang dikirim ke berbagai desa sebagai kelompok-kelompok kecil itu justru akan mempermudah para manusia perak untuk menghabisi mereka. Dengan demikian, usaha untuk mengikis kekuatan kerajaan Api bisa dibilang masih berhasil dengan baik dan tinggal menunggu waktu saja bagi makhluk pengacau dunia tiga rembulan di masa lalu itu untuk bisa menghancurkan pusat kota pulau Api dengan mudah.