
Pangeran kegelapan benar-benar membiarkan pijaran lahar panas itu menelan tubuhnya. Sang naga iblis terus mengerahkan lebih banyak lagi sehingga terciptalah bola lahar berukuran besar yang membungkus tubuh sang pangeran.
Setelah puas, sang naga iblis mengembalikan lahar itu ke tempat semula. Ia terperanjat ketika melihat sang pangeran masih baik-baik saja.
“Bagaimana bisa?!”
“Kau sudah puas bermain-main?! Kau lupa, kekuatanmu dan kekuatanku serupa. Serangan apimu ini tak bisa melukaiku. Sebaliknya, aku punya kekuatan lain yang tak kau miliki!”
Berkat petualangan Nala dan Batari Mahadewi di dunia tiga rembulan, sang pangeran kegelapan bisa menggunakan kekuatan es dan petir. Sebelumnya, ia hanya memiliki kekuatan api dan lingkaran kegelapan yang membuatnya menjadi iblis tak terkalahkan.
“Buktikan omonganmu itu!” sang naga iblis melesat menyerang Andhakara. Kekuatan api yang ia miliki sungguh luar biasa. Seandainya bukan pangeran kegelapan yang menjadi lawannya, ia sudah bisa menang bahkan sebelum bertarung.
Wujud perempuan penjelmaan sang naga iblis itu bergerak dengan lincah dan cepat. Kedua sosok itu saling beradu kekuatan, kecepatan, dan pukulan. Naga iblis tak lagi menunjukkan ekspresi wajah yang marah. Sebaliknya, ia justru menikmati pertarungan itu.
“Sejak dulu kau memang tangguh, Andhakara!”
“Dan selalu lebih unggul darimu. Kau tak pernah menang melawanku, bukan?!”
“Cih, masih saja sombong. Sudah lama sekali kita tak bertemu, seharusnya kau memelukku!”
“Kau tak lihat ada ratuku di sana!”
“Memangnya kenapa? Dulu sebelum makhluk itu ada bersamamu, kau bisa seenaknya saja bercinta denganku!”
“Sudahlah! Aku ke sini bukan untuk membahas masa lalu!”
“Aku masih kesal padamu. Sejak aku dihukum di sini, kau bahkan belum pernah menjengukku!”
“Menjengukmu selagi sang raja iblis masih berkuasa, akan menjadi masalah besar bagiku. Sejak kapan kau bebas?” Andhakara tahu, sang naga iblis telah terlebih dahulu bebas sebelum ia memanggilnya keluar.
“Setelah sang raja iblis dikalahkan oleh para dewa, beberapa tahun kemudian aku bisa bebas. Tak ada yang tahu aku bisa bebas.”
“Kenapa kau tak menemuiku?”
“Aku datang, Andhakara. Pada hari pesta kebersamaanmu dengan Ogha. Aku ada di antara ratusan ribu iblis yang bersuka ria untukmu. Ingin rasanya kubunuh ratumu saat itu juga. Tapi aku masih menyayangimu. Aku kembali di sini dan tak pernah menampakkan diri lagi.”
__ADS_1
Andhakara merasa bersalah setelah mendengar ucapan Rodra, sang naga iblis. Dulu, Rodra adalah naga perang sang raja iblis. Rodra ingin bertambah kuat untuk membantu sang raja. Suatu hari, ia menelan salah satu pusaka iblis di istana. Kekuatannya bertambah besar, namun sang raja murka dan menghukumnya di neraka ujung dunia.
“Jika aku bisa memelukmu sekarang, maka akan kulakukan. Tapi aku tak bisa melakukannya, Rodra. Bukan karena sang ratu, tetapi jiwa dari tubuh ini yang setiap saat bisa kembali dan mencelakaiku atau orang lain di sekitarku. Jiwaku melemah saat ini dan untuk itulah aku ingin membangun kembali kuil iblis di dunia bawah dan memulihkan jiwaku.”
“Kalau aku membantumu, berarti aku akan sering melihat ratumu itu kan?! Apa kau tak takut aku membunuhnya?”
“Darah iblis abadi telah menyatu dalam tubuhnya. Kau tahu apa artinya itu kan? Kau tak boleh membunuhnya.”
“Andhakara! Kau bahkan memberikan pusaka iblis kepada betina itu! Baiklah! Baiklah! Baiklah! Sekarang apa yang kau inginkan dariku?”
“Ikut denganku!”
“Kau sungguh keterlaluan! Aku tak mau dekat-dekat dengan ratumu itu! “
“Kau bisa mengikutiku dari jauh!”
“Argghhhh!!! Mengesalkan sekali! Ya sudah! Sana kalian pergi lebih dulu.”
“Kau yakin?”
“Kau mau aku membantumu atau tidak?!”
“Dasar cabul! Kenapa kau selalu berhasil membuatku menuruti kata-katamu!” Rodra menggerutu di sepanjang perjalanan.
*****
Di atar samudra, Batari Mahadewi menjumpai sosok yang luar biasa, perempuan dengan rambut panjang yang sedang menata taman.
“Kau sudah bangun rupanya. Senang sekali bertemu langsung denganmu.” Sosok itu menyambut ramah kedatangan Batari Mahadewi. “Aku adalah dewi keindahan.”
“Dewi keindahan?”
“Ya, akulah yang memberikan setengah dari kecantikan padamu. Kau benar-benar tumbuh seperti yang kuharapkan.”
“Terimakasih,” Batari Mahadewi tak tahu harus berkata apa. Tetapi tahulah kini kenapa banyak orang yang menganggapnya sangat cantik.
__ADS_1
Sesuai dengan namanya, dewi keindahan bertugas untuk menciptakan keindahan. Parasnya sudah pasti cantik sempurna. Hanya saja, tak boleh ada satupun dewa yang jatuh hati kepadanya. Sang raja dewa melarang siapapun untuk jatuh cinta kepada sang dewi keindahan, sebab jika itu terjadi, maka para dewa akan bertikai.
Demikianlah, kecantikannya bisa dinikmati siapapun, tetapi tak boleh disentuh. Justru karena itulah, ia selalu tampak cantik bagi semua dewa. Apakah dewi kecantikan bahagia dengan anugrah yang ia miliki? Tentu saja tidak!
Saat Kalapati mengobrak-abrik khayangan, dewi inilah yang membuatnya berhenti mengamuk tanpa kekerasan. Sang dewi menarikan tarian yang indah sehingga Kalapati hanya bisa berdiri membeku, menatap keindahan yang belum pernah ia lihat. Dengan begitu, para dewa yang masih selamat bisa melarikan diri.
Dewi keindahan melarikan diri saat raja dewa bertarung sendirian melawan Kalapati. Setelah tiga hari bertarung, Kalapati berhasil memenjarakan sang raja dewa. Tetapi raja raksasa itu tak melihat lagi keindahan di dunia khayangan.
“Kau belum sepenuhnya pulih kan?” tanya dewi keindahan.
“Ya, tubuhku masih terasa sakit. Belum pernah aku mengalami ini sebelumnya.”
“Yang sakit adalah hatimu, bukan tubuhmu. Kemarilah, aku akan membantu memulihkanmu.” Sang dewi mengeluarkan beberapa butir benda aneh berwarna keemasan dan memberikannya kepada Batari Mahadewi.
“Apa ini?”
“Itu adalah buah kebahagiaan. Makanlah, kau akan merasa lebih baik dari sebelumnya.”
Buah itu sangat keras seperti logam. Batari Mahadewi sejenak ragu untuk memakannya, meski perutnya terasa sangat lapar. Tetapi kemudian ia tetap mencoba memasukan buah seukuran anggur itu kedalam mulutnya. Ia terkejut sebab bisa mengunyah buah itu dengan mudah. Beberapa saat kemudian, ia merasa jauh lebih baik dari sebelumnya.
“Habiskan semua itu,” kata dewi keindahan. Batari Mahadewi melakukannya. Ia memakan buah itu sampai habis. Beberapa saat kemudian, ia merasa pulih. Rasa sakit yang semula ia rasakan di sekujur tubuhnya mendadak sirna. Ia tak percaya dan mencoba untuk menggerak-gerakkan tubuhnya.
“Ajaib sekali! Aku sudah pulih!”
“Hahaha, begitulah.”
Sosok lain tiba-tiba datang. Tubuhnya gagah, rambutnya panjang, dan ia mengenakan pakaian perang. Meski wajahnya cukup tampan, tetapi ada yang janggal di wajahnya. Dewa itu memiliki tiga mata.
“Dewa perang, saatnya kau melatih nona cantik ini,” kata dewi keindahan menyambut kedatangan sang dewa perang.
“Selamat datang, Sang Hyang Maharuna,” sapa dewa perang.
“Panggil aku Tari, nama pemberian ibu angkatku.”
“Baik… baik….hahaha. Galak sekali! Baguslah! Kita akan berlatih di ruanganku. Jangan sampai aku melihatmu menangis lagi! Memalukan!”
__ADS_1
“Apakah para dewa tak pernah menangis?”
Pertanyaan itu membuat dewa perang dan dewi keindahan melongo. Tetapi setidaknya mereka berdua mencoba untuk mengingat, apakah mereka pernah menangis? Kapan itu terjadi?