Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 169 Pertarungan Dengan Pendekar Tiga Naga Kembar


__ADS_3

“Bagaimana kita akan bertarung kali ini? Kalian yang tentukan caranya.” Tantang Jalu sekaligus mencoba untuk membaca pikiran lawannya.


“Kami ada tiga dan kalian hanya berdua. Kami tak mau dianggap sebagai pengecut. Jadi mari kita bertarung satu lawan satu.” Kata pendekar yang berjubah merah.


“Kalau begitu aku menantangmu. Yang lain akan menjadi penonton.” Kata Jalu mengambil keuntungan dari yang ditawarkan oleh musuhnya. Setidaknya, ketiga lawannya itu belum benar-benar mengetahui kemampuan Jalu.


“Aku terima tantanganmu.” Kata pendekar berjubah merah itu.


Pendekar berjubah merah itu memancarkan seluruh energinya. Seluruh tubuhnya memancarkan cahaya berwarna merah, serasi dengan warna jubahnya. Sebuah pedang besar dan panjang bercahaya merah muncul dari tangan kanannya.


Jalu juga tak berniat menyembunyikan kemampuannya. Ia pancarkan semua kekuatannya, lalu seluruh tubuhnya memancarkan api yang berkobar-kobar, membuat malam di padang rumput itu menjadi semakin terang, meski jika bulan tak hadir sekalipun.


Pancaran energi dan perubahan wujud Jalu menjadi manusia api sudah pasti membuat ketiga lawannya kaget. Mula-mula, ketiganya hanya mengira jika Jalu hanya memiliki kekuatan api dan mereka tak mengira kalau Jalu bisa berubah wujud menjadi manusia api.

__ADS_1


Meski ragu, namun pendekar berjubah merah itu tak bisa menjilat ludahnya kembali. Hal terbaik yang bisa ia lakukan adalah bertarung, apapun hasilnya. Dengan kecepatan tinggi, ia mengayunkan pedangnya yang besar itu dengan lincah dan indah; jurus pedang naga membelah bayang-bayang.


Jalu mengimbanginya dengan menciptakan pedang energi yang memancarkan cahaya biru yang dihiasi lidah api berwarna merah dan jingga yang bergerak menari-nari. Pendekar api itu tak begitu mengenal baik tentang ilmu pedang, sehingga yang ia lakukan hanyalah menangkis, mengayun, memainkannya sesuai dengan perasaannya, mengalir seirama dengan tubuhnya yang bergerak mengimbangi gerakan jurus-jurus lawannya.


Hanya karena energi Jalu yang telah sepenuhnya pulih itu jauh lebih besar dari energi lawannya, maka sehebat apapun permainan pedang pendekar berjubah merah menyerang, Jalu bisa dengan mudah menangkisnya. Sementara, pertarungan dari jarak dekat jelas sangat tak menguntungkan bagi lawan Jalu, sebab tubuh pendekar api itu memancarkan hawa panas yang menyengat, dan akan terasa lebih menyengat lagi pada jarak yang sangat dekat.


Pendekar berjubah merah itu sangat tertekan dengan ketenangan dan kekuatan Jalu yang bahkan bisa dikatakan tak memahami ilmu pedang. Sementara itu, pendekar Tiga Naga Kembar sangat dikenal dengan permainan jurus-jurus dari ilmu pedang naga yang mengerikan.


Jalu tak ingin berlama-lama untuk terus bertarung dengan cara seperti itu. Dengan salah satu dari jurus ilmu matahari yang diajarkan oleh batari Mahadewi, yakni jurus cahaya menembus samudera, Jalu menciptakan cahaya yang membutakan mata lawannya dalam sesaat. Ketika lawannya tak bisa melihat, Jalu dengan kecepatan tinggi menghantamkan pukulan matahari ke dada pendekar berjubah merah. Pendekar itu terpental jauh dengan luka bakar yang parah di dadanya. Ia tak bangun lagi. Kedua saudara kembarnya begitu terkejut sekaligus marah melihat kekalahan adik mereka.


Lalu dua pendekar dari tiga Naga Kembar itu secara bersama-sama menyerang Jalu dan keduanya tak peduli jika disebut sebagai pecundang. Niken tak mau menganggur lama. Ia melepaskan beberapa kristal es  ke arah pendekar yang berjubah hijau. Pendekar itu langsung menghindar begitu merasakan adanya serangan yang mengarah ke tubuhnya. Ia menatap Niken, lalu dengan cepat menyerang gadis berkekuatan es itu.


Pendekar berjubah hijau itu menyerang Niken dengan dua bilah pedang energi yang menyala di kedua tangannya. Setiap ayunan pedang sekaligus merupakan lontaran energi yang bisa menghancurkan lawan di jarak yang jauh sekalipun. Berbeda dengan Jalu, Niken sama sekali tak berminat menciptakan pedang es untuk menandingi lawannya. Niken lebih leluasa menyerang dengan energi dingin, pukulan es, ataupun menciptakan ribuan kristal es keras dan tajam untuk dilontarkan ke arah lawannya.

__ADS_1


Pendekar berjubah hijau itu terus menerus menyerang Niken dengan kecepatan tinggi. Pijaran energi yang terpancar dari pedangnya bahkan memiliki kekuatan yang setara dengan pedang pendekar Bintang Timur, Pradipa, yang akan menghancurkan apapun yang dikenainya. Niken tak mau mengambil resiko menangkis pedang itu dengan perisai esnya, sekalipun mungkin energinya bisa menahan gempuran dari sepasang pedang pendekar berjubah hijau.


Niken melompat ke atas dan ia menghujani lawannya dengan kristal es yang keluar dari kedua telapak tangannya. Pendekar berjubah hijau itu menagkis serangan Niken dengan perisai energinya. Namun lama kelamaan, di sekelilingnya telah menumpuk gundukan es yang semakin banyak dan tinggi. Niken mengerahkan energinya untuk membuat tumpukan es itu menjadi semakin rapat dan padat dan mengunci tubuh pendekar berjubah hijau itu dengan cengkeraman es hingga membuatnya sulit bergerak.


Niken mengakhiri petarungan itu dengan menghujamkan jurus tapak es. Dari atas ia meluncur ke bawah, telapak tangannya tepat mengenai kepala pendekar berjubah hijau dan seketika lawannya itu mati dalam keadaan membeku. Meski Niken memiliki banyak jurus baru seiring dengan berkembangnya kekuatannya, namun ia lebih cenderung untuk memilih bertarung dengan cara-cara sederhana yang tak banyak menghabiskan energi. Ia merasa lebih puas apabila bisa mengalahkan lawannya dengan sedikit tenaga karena justru di sanalah letak seni beladiri.


Jalu masih bertarung menghadapi pendekar berjubah hitam yang merupakan pendekar terkuat diantara Tiga Naga Kembar yang tersohor di Swargabhumi itu. Niken lebih memilih untuk menyaksikan saja pertarungan Jalu sebab sudah kelihatan jelas siapa yang sedang terpojok dalam pertempuran itu.


Jalu tak memberikan kesempatan bagi pendekar berjubah hitam itu untuk membalas serangan. Pemuda bertubuh api itu terus menerus melontarkan pukulan-pukulan api yang menerjang pertahanan lawannya. Tentu saja pijaran api itu meninggalkan hawa panas yang menyiksa sekaligus menguras energi lawannya untuk terus bertahan.


Jalu mengakhiri pertarungan dengan jurusnya yang bisa digunakan untuk serangan jarak jauh, yaitu jurus lidah matahari menyapu bumi. Dengan jurus itu, Jalu menciptakan pijaran api yang sangat besar melesat cepat dan menghantam pertahanan lawannya. Energi besar itu menghancurkan pertahanan lawannya sekaligus membakar tubuh pendekar berjubah hitam.


Selebihnya, bau daging semerbak terbawa tiupan angin malam yang mengundang kedatangan para serigala hutan yang kelaparan. Ketika Jalu dan Niken pergi dari tempat itu, sekelompok serigala hutan datang dan menemukan menu makan malam yang cukup memuaskan. Jalu dan Niken melesat menuju kota Dhyana yang telah mereka tinggalkan dalam beberapa hari itu.

__ADS_1


__ADS_2