Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 14 Misteri Pencuri Mayat


__ADS_3

“Nama yang anggun untuk sebuah desa.” Kata Niken, "sebelum hari gelap, sebaiknya kita segera menemukan penginapan. Setelah melewati lembah ini, aku ingin beristirahat dengan enak."


Jalu dan Batari Mahadewi meyetujuinya. Lalu ketiganya mulai berjalan memasuki desa itu. Mereka bertemu dengan seorang paruh baya yang tampak seperti petani yang berjalan menuju arah berlawanan. “Bukankah bapak itu berjalan ke arah lembah kematian” tanya Jalu.


“Iya, aku baru menyadarinya.” Balas Niken. Ketika mereka menengok ke belakang, bapak itu sudah tak tampak lagi.


Sungguh aneh, batin Batari Mahadewi, aku bahkan tak bisa merasakan energinya.


“Kalian lihat di depan sana? Sepertinya itu adalah sebuah kedai. Sebaiknya kita mampir. Siapa tahu kita bisa menemukan penginapan di sana.” Kata Jalu memecah keheningan setelah sejenak ketiganya masing-masing


memikirkan seorang bapak-bapak yang baru saja lewat itu.


“Baiklah, kita ke sana.” Niken menyetujui.


Ketiganya kemudian bergegas menuju kedai itu, memesan makanan dan minuman hangat. Kedai itu tidak terlalu ramai. Selain mereka bertiga, ada beberapa orang yang makan di sana. Semua tampak seperti orang-orang yang sedang melakukan perjalanan.


Di meja pojok warung itu, ada dua orang lelaki yang sedang becakap. Lelaki yang bertubuh besar terlihat seperti seorang pendekar pengelana. Pakaiannyapun tidak sebagus lelaki yang duduk di sebelahnya yang bertubuh sedikit gemuk. Jelas dari penampilan serta gerak-geriknya, ia bukanlah seorang pendekar.


Pemilik kedai itu mengantarkan makanan dan minuman ke meja Batari Mahadewi. “Silahkan dinikmati tuan dan nona, sepertinya kalian bukan orang sini ya?” tanya pemilik kedai beramah tamah.


“Betul paman. Kami akan melakukan perjalanan ke arah barat, perbatasan negri ini dengan negri seberang.” Kata Jalu.


“Wah, jauh sekali. Ngomong-ngomong, kalian tadi sampai di sini berarti melewati lembah itu?” tanya pemilik kedai.


“Betul sekali paman, kami baru saja melewati hutan itu. Ada apa memangnya paman?” tanya Jalu pura-pura tak mengerti tentang lembah itu.


“Kalian beruntung bisa sampai sini. Tak seorangpun orang sini yang mau mendekat ke lembah itu. Sejak beberapa puluh tahun yang lalu, setiap kali warga sini mencari kayu atau binatang buruan di sana, tidak ada yang pernah kembali. Dan sejak itu kami tidak pernah mendekati wilayah itu.” Kata Pemilik kedai itu, “Tidakkah kalian berjumpa dengan makhluk aneh atau sesuatu yang aneh dalam hutan itu?” tanya pemilik kedai penasaran.


“Hutan itu memang menyeramkan, tapi untunglah kami tidak tersesat dan selamat sampai di sini.” Kata Niken menyembunyikan pengalaman yang baru saja mereka alami.


“Apakah paman tahu penginapan terdekat? Kami ingin bermalam sebelum melanjutkan perjalanan besok pagi.” Kata Jalu.


“Tak jauh dari sini, ke arah sana, kalian bisa menemukan beberapa penginapan. Sepertinya banyak yang kosong, mengingat belakangan ini tak banyak pengembara yang melintasi desa ini.” Kata pemilik kedai.


Selagi pemilik kedai berbicara dengan Jalu dan Niken, Batari Mahadewi sibuk mengawasi lelaki yang tampak seperti pendekar dengan seorang rekannya yang duduk di pojok kedai itu.

__ADS_1


Ada sesuatu yang aneh yang tertangkap oleh Batari Mahadewi. Lelaki itu tak memiliki energi yang besar, tapi ia memiliki aura kematian yang kuat, dan sedikit bau amis. Tentu saja hanya Batari Mahadewi yang mampu merasakan hal itu. Ia diam saja dan memang demikianlah ia, seorang gadis yang tak banyak bicara.


Seusai makan, mereka bertiga melanjutkan perjalanan untuk menemukan penginapan yang telah diceritakan oleh pemilik kedai. Tak lama mereka berjalan, akhirnya mereka menemukan penginapan itu. Seperti yang dikatakan oleh pemilik kedai, penginapan itu sepi.


Penginapan itu tidak terlalu besar dan tak terlalu kecil. Hanya mampu menampung 15 tamu saja apabila masing-masing tamu memesan satu kamar.


Jalu memesan dua kamar tidur, satu untuknya dan satu lagi untuk Niken dan Batari Mahadewi.


“Sepertinya anda dalam perjalanan jauh.” Kata pemilik penginapan.


“Betul sekali paman. Kami sangat lelah dan mungkin ingin segera istirahat setelah ini.” Kata Jalu.


“Baik Tuan, ee…sekedar memberi tahu, kami juga menyediakan sarapan dan siap untuk pesanan tambahan. Tentu…ee…ada biaya tambahan untuk makan.” Kata pemilik penginapan itu.


“Tidak masalah.” Kata Jalu sambil tersenyum.


“Ee….maaf tuan, satu hal lagi yang ingin kami sampaikan sebelum rombongan anda beristirahat, kami harap tuan dan nona-nona ini berhati-hati. Kami tidak bisa sepenuhnya memberikan jaminan keamanan diluar kemampuan kami.” Kata pemilik penginapan.


“Boleh kami tahu, ada apa yang sedang terjadi di sini?” kata Jalu menyelidik.


“Berarti pencuri itu mencuri tulang belulang manusia di pemakaman?” Jalu menjadi penasaran.


“Betul. Tapi kami tidak tahu apa motifnya dan apa gunanya mengambil tulang dari kuburan.” Kata pemilik penginapan.


“Apakah tidak ada yang berusaha menangkap pencuri itu?” tanya Jalu.


“Kami sudah mencoba, tapi setiap kali kami berjaga atau menjebak pencuri itu, dia tak pernah datang. Begitu kami tidak berjaga, pasti akan ada satu atau dua kuburan yang telah kehilangan penghuninya.” Jawab pemilik penginapan.


“Baiklah paman. Terimakasih banyak atas informasinya. Kami pamit istirahat dulu.” Kata Jalu menyudahi percakapan itu.


“Silahkan tuan. Selamat beristirahat.”


Mereka beranjak menuju kamar. Sebelum jalu masuk ke kamarnya mereka bertiga menyempatkan diri membahas cerita pemilik penginapan itu.


“Aku baru dengar ada pencuri mayat. Apa gunanya tulang-belulang itu? Apakah laku dijual?” Jika tidak berharga, apakah mungkin pencuri itu terus melakukan hal yang sama dengan cara yang menurutku butuh keahlian.” Kata Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Aku pernah mendengar dari guru kalau terkadang pendekar sakti akan menyimpan ilmunya dalam tulang belulangnya. Dengan kata lain, tulang-tulang itu bisa berguna untuk menambah kesaktian.” Niken menjelaskan.


“Ya, dan bisanya orang-orang yang menginginkan ilmu seperti itu, dengan cara mencuri, adalah pendekar golongan hitam.” Jalu menambahkan.


Batari Mahadewi mengangguk tanda paham. “Berarti, besar kemungkinan kuburan yang dicuri itu adalah makam pendekar atau setidaknya orang yang bisa bela diri?” tanya Batari Mahadewi.


“Itu yang perlu kita tahu. Menarik sekali. Apabila benar kuburan itu adalah kuburan pendekar, artinya di masa lalu banyak pendekar yang terbunuh dan dikuburkan di sini. Jika bukan, lantas apa artinya tulang belulang yang dicuri itu? Apakah tidak sebaiknya kita tinggal di sini untuk sementara waktu dan mengungkap misteri ini?” Usul Jalu.


“Sepertinya menarik.” Niken menyetujuinya.


“Aku juga sepakat.” Kata Batari Mahadewi.


“Baiklah, kita istirahat dulu. Besok kita cari tahu informasi lebih banyak.” Kata jalu mengakhiri percakapan tersebut.


Keesokan harinya, Batari Mahadewi, Jalu dan Niken berjalan-jalan menyusuri jalanan kecil di desa itu. Desa Air Kehidupan bukanlah desa kecil seperti desa Cemara Seribu. Desa itu sangat luas dan memiliki pusat perekonomian desa yang mirip dengan perkotaan.


Dengan kata lain, di desa itu banyak terdapat pusat perbelanjaan, sekolah, klinik pengobatan, dan yang menarik adalah di desa itu terdapat sebuah tambang emas. Tentu saja desa ini sudah seperti kota. Banyak pendatang yang menetap di sana untuk mencari kehidupan yang lebih baik.


Yang mengherankan mereka bertiga adalah bahwa di desa itu juga banyak pendatang berkulit putih dan bermata sipit yang membawa serta kebudayaan mereka di desa itu. Keberadaan mereka sangat khas dan selalu menarik perhatian. Mereka mendirikan toko yang menjual berbagai macam jenis kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah tangga, obat-obatan, hingga keperluan pendekar.


Selain mendirikan rumah makan dan penginapan, mereka juga mendirikan kuil yang megah. Sehingga di desa itu, mereka bertiga menemukan dua kebudayaan yang berbeda hidup bersama-sama, kebudyaan lokal, pendatang lokal, dan pendatang berkulit putih.


Batari Mahadewi sangat tertarik melihat aksara dari kebudayaan berbeda yang baru saja ia kenali itu. Entah bagaimana namun ia tak pernah kesulitan untuk mempelajari dan memahami aksara-aksara itu.


Karena rasa penasaran, mereka akhirnya mampir di rumah makan warga pendatang yang bagi mereka merupakan tempat yang menarik. Selain tempatnya yang berbeda, masakannya juga baru kali itu mereka temui. Mereka memesan beberpa jenis makanan yang mereka tidak tahu bagaimana bentuknya.


Di rumah makan itu, Batari Mahadewi mencuri dengar percakapan para pengunjung di sana. Beberaa diantaranya adalah orang-orang kulit putih yang berbicara dengan bahasa berbeda, mirip dengan kicauan burung dengan nada-nada tinggi dan rendah, dengan tempo cepat yang kaya akan intonasi dan penekanan.


Batari Mahadewi memahami percakapan itu, namun ia tak yakin kalau bisa juga berbicara dengan cara itu. Dari percakapan tersebut, ia tahu bahwa yang mereka bicarakan adalah pencurian mayat yang terjadi lagi semalam. Batari Mahadewi menceritakan hal itu kepada kakak seperguruannya.


“Bagaimana jika setelah ini, kita melihat kuburan yang dijarah pencuri itu? Hanya ada satu kuburan di desa ini yang menjadi incaran pencuri.” Jalu memberi usul.


“Aku sepakat. Tanpa itu, kita tak bisa menganalisa lebih jauh.” Kata Niken.


Setelah sarapan makanan asing yang ada beberapa yang mereka sukai dan sebagian lainnya membuat mereka memejamkan mata, lantas mereka mencari kuburan yang dijadikan sasaran pencurian.

__ADS_1


__ADS_2