Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 270 Melawan Bara dan Canu


__ADS_3

Batari Mahadewi telah bertemu berbagai pendekar sakti, memberikan senjata buatannya dan membuat lagi yang baru. Cukup mudah baginya untuk mencari bahan senjata terbaik yang tak akan mungkin bisa didapatkan oleh ahli senjata lainnya.


Kini gadis jelmaan pusaka dewa itu telah sampai di wilayah paling barat dari pulau Siwarkatantra setelah ia menjelajahi semua wilayah lainnya.


Sebelum sampai di sana, Batari Mahadewi sudah tahu dari wilayah lain bahwa pasukan Tirayamani telah datang ditambah dua makhluk Iblis Bara dan Canu yang telah mengubah wilayah Maisatantra menjadi neraka.


Kedatangan Batari Mahadewi di wilayah paling barat itu bukan lagi untuk mencari pendekar yang akan dihadiahi sebilah pedang, namun untuk menumpas makhluk-makhluk keji yang masih ada di sana itu.


Batari Mahadewi terbang pelan mengitari langit Maisatantra layaknya burung elang yang mencari mangsa. Begitu mata saktinya menangkap kehadiran orang-orang Tirayamani itu, ia langsung melesat ke bawah, menyambar orang-orang itu dan menghilangkan kekuatan mereka seketika.


Entah sudah berapa ratus pendekar yang telah menjadi korban Batari Mahadewi. Gerakannya yang halus dan cepat untuk melumpuhkan lawan-lawannya membuat kedatangannya belum disadari oleh pendekar Tirayamani lainnya yang belum menjadi korban, tak terkecuali Bara dan Canu.


Keberadaan pasukan Tirayamani yang menyebar ke berbagai pelosok Maisatantra membuat Batari Mahadewi butuh waktu lama untuk melakukan operasi pembersihan secara total. Gadis jelmaan pusaka dewa itu benar-benar harus berkeliling di jalur udara, menukik tajam ke bawah, melumpuhkan lawan tanpa mereka sadari siapa pelakunya, lalu melesat lagi ke angkasa untuk mencari mangsa baru.


Maka lambat laun, Bara dan Canu menyadari aliran energi yang tak asing bagi mereka. Energi yang berasal dari masa lalu yang pernah mengurung mereka hingga lebih dari seribu tahun. Energi para dewa yang melebur menjadi satu. Dendam mereka berdua diasa lalu kembali tersulut. Keduanya tak takut kepada dewa. Hanya saja energi yang mereka rasakan kali ini sedikit berbeda dan membuat keduanya sangat penasaran.


Bara dan Canu melesat ke angkasa untuk mencari tahu siapakah sosok yang sedang melesat dengan kecepatan tak kasat mata itu.

__ADS_1


Batari Mahadewi menangkap kehadiran dua sosok makhluk iblis yang sedang menunggunya di depan. Ia merasa was-was. Bisa jadi kali ini lawannya lebih tangguh dari sebelum-sebelumnya.


Dua sosok makhluk jelek itu menyeringai ketika Batari Mahadewi telah berada di depan mereka berdua, melayang di angkasa. Mereka tak menyangka energi dewa yang mereka kenali itu berwujud perempuan berparas ayu, bukan beberapa dewa yang gagah yang telah mengeroyok masing-masing dari mereka dan memenjarakan dalam kesakitan abadi hingga sang ratu membebaskan mereka.


Tubuh Bara sepenuhnya berwarna hitam yang terlihat seperti daging tanpa kulit. Kepala dan wajahnya setengah seperti kepala manusia yang baru saja direbus. Kira-kira seperti itu wujudnya. Sementara Canu adalah makhluk iblis yang memiliki wujud perpaduan antara manusia dengan ikan lampu yang hidup di dasar laut. Kepalanya lebih besar dari tubuhnya dengan mulut yang sanggup menelan seekor sapi dewasa secara utuh.


Pemandangan dua sosok iblis itu membuat mual dalam artian yang sesungguhnya. Bau amis dan busuk menguap dari tubuh mereka yang memancarkan hawa kematian khas iblis.


“Kau kah yang membunuh Buma?” tanya Bara dengan suara serak.


“Maksudmu iblis lemah bermulut banyak itu?” jawab Batari Mahadewi dalam bentuk pertanyaan.


Kata-kata Canu membuat Batari Mahadewi ingin segera menyelesaikan pertarungan dan bergegas kembali ke Mahabhumi untuk memastikan bahwa Nala ada di sana dan melumpuhkan dua makhluk iblis yang disebut oleh Canu itu.


“Kenapa nona, sepertinya kau terlihat khawatir dengan kampung halamanmu itu?! Hahaha…” Belum selesai Bara tertawa, Batari Mahadewi tiba-tiba telah ada di depannya, menghadiahkan sebuah tinju super keras tepat di perutnya, dan tendangan dahsyat untuk kepala Canu. Cara praktis untuk membuat mereka berhenti tertawa dan terlalu banyak membual. Bau mulut mereka berdua sungguh mencemari udara.


Dua makhluk sombong itu terpental jauh dan menghujam bumi. Keduanya mengumpat kasar. Tanpa menunggu lama, mereka berdua memancarkan kekuatan penuh yang mereka miliki, lalu melesat cepat ke arah Batari Mahadewi.

__ADS_1


Pertarungan super cepat terjadi di angkasa. Dua makhluk iblis itu sangat liar dan buas. Keduanya terus menyerang Batari Mahadewi tanpa jeda seolah sangat haus dan ingin segera menenggak darah dari gadis jelmaan pusaka dewa itu.


Tubuh Batari Mahadewi meluncur deras menghujam bumi setelah Bara behasil mengayunkan pukulan keras yang menghujam leher gadis cantik itu. Tak hanya Batari Mahadewi yang merasakan sakit, makhluk itu juga mengumpat kesakitan karena tangannya patah. Dengan segera makhuk itu mematahkah tangannya sekalian, lalu menumbuhkan lengan yang baru dalam waktu singkat. Canu sempat tertawa terbahak-bahak menyaksikan kesialan yang dialami oleh temannya itu.


“Bodoh, apa yang kamu tertawakan! Cepat habisi gadis itu sebelum ia berbalik menyerang kita kembali!” bentak Bara. Canu meluncur cepat seperti bola besi yang dijatuhkan dari angkasa dan dengan tepat menghantam Batari Mahadewi yang baru saja bangkit itu.


Ledakan besar sekali lagi terjadi. Tubuh Batari Mahadewi melesak ke dalam tanah dengan posisi menelungkup.


Belum sempat gadis jelmaan pusaka dewa itu bangun, Bara dari angkasa telah melontarkan pukulan-pukulan cahaya berkekuatan tinggi tepat di tubuh Batari Mahadewi dan membuat gadis cantik itu semakin dalam melesak di tanah.


Bara dan Canu semakin kesal karena mendapati tubuh Batari Mahadewi tidak hancur seperti yang mereka harapkan meski serangan Bara sesaat yang lalu bisa saja menghancurkan sebuah gunung.


“Bagaimana ini, tampaknya gadis itu masih baik-baik saja!” kata Canu.


“Artinya, kita tak boleh setengah-setengah menyerangnya. Dia bukan dewa di masa lalu. Dia jauh lebih kuat!” kata Bara.


Tak lama kemudian, Bara dan Canu menangkap pancaran energi yang luar biasa dari dalam tanah tempat Batari Mahadewi terperosok. Gadis jelmaan pusaka dewa itu muncul dalam sosok yang sedikit berbeda, memancarkan sinar keemasan khas para dewa, tubuh yang lebih berotot, serta kuku tangan yang memanjang. Setidaknya itulah yang terlihat dari jauh.

__ADS_1


Belum lama mereka mengamati Batari Mahadewi dari angkasa, tiba-tiba gadis itu menghilang dan dalam satu kedipan mata telah ada di belakang mereka berdua, menebaskan kuku-kukunya yang lebih tajam dari senjata manapun ke punggung kedua makhluk iblis itu. Keduanya mengerang kesakitan dan mengumpat sejadi-jadinya. Hampir saja tubuh mereka berdua putus. Namun dalam waktu singkat, luka yang sangat dalam itu kembali menutup. Batari Mahadewi sudah menduganya.


Apakah Bara dan Canu akan bergabung menjadi makhluk yang lain dengan nama gabungan ‘Baca’, 'Banu', 'Raca', 'Ranu', atau entahlah untuk mengimbangi kekuatan Batari Mahadewi? Setidaknya gabungan nama itu jauh lebih baik dari 'Jasil'.


__ADS_2