Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 231 Mustika Siluman Lipan


__ADS_3

Siluman lipan itu terus membesarkan dan memanjangkan tubuhnya hingga sepanjang beberapa puluh pohon kelapa. Dengan tubuhnya yang panjang itu, siluman lipan bisa mengelilingi Batari mahadewi beberapa kali putaran. Ratusan kakinya yang masing-masing sebesar kaki manusia itu membentuk anyaman silang-menyilang sehingga sulit bagi siapapun juga untuk lolos dari kepungannya.


Batari Mahadewi masih terlihat santai. Ia melayang diangkasa dalam posisi bersila.


“Siluman lipan, tak sadarkah kau bahwa ajalmu sudah dekat?” kata Batari Mahadewi.


“Jangan bermimpi, nona cantik! Dengan cara ini, aku akan segera menguasai tubuhmu!” bantah siluman lipan itu.


“Ternyata ratu kegelapan itu tak hanya merusak wajahmu, tapi juga otakmu. Itupun kalau kau punya otak, atau apapun itu yang membuatmu bisa berfikir. Tapi tenang saja, kali ini aku tak akan benar-benar memusnahkanmu. Aku akan mengambil mustika dalam tubuhmu dan dengan begitu, jiwamu masih akan tetap utuh,” kata Batari Mahadewi.


“Sombong sekali kau nona cantik. Coba tahan seranganku ini kalau bisa!” siluman lipan itu mengeluarkan hawa beracun melalui ujung-ujung kakinya. Sayang sekali ia tidak tahu kalau segala jenis racun tak akan mampu melumpuhkan Batari Mahadewi.


“Hanya ini saja serangan andalanmu? Atau kau masih ingin mencoba yang lain? Jika masih ada, akan aku tunggu sampai kau berhenti penasaran melawanku!” kata Batari Mahadewi.


“Kurang ajar, kenapa kau bisa menahan serangan racunku?! Ilmu apa yang kau pelajari?” siluman lipan itu sangat geram.


“Tubuhku bisa menyerap racun dan mengubahnya menjadi kekutanku, asal kau tahu saja. Jika kau memaksakan diri memiliki tubuhku, jiwamu akan hancur. Apakah itu yang kau inginkan? Sebaiknya kau menyerah saja. Aku bisa melumpuhkanmu tanpa rasa sakit!” gertak Batari Mahadewi.

__ADS_1


“Baiklah, ini cara terkahir yang akan aku lakukan. Bersiaplah!” siluman lipan itu memperingatkan. Pertarungan itu sungguh tak terlihat seperti pertarungan, namun uji coba kesaktian, atau ujian kemampuan layaknya di perguruan-perguruan beladiri. Besar kemungkinan siluman jelek itu tidak lulus!


Yang dilakukan oleh siluman lipan itu selanjutnya adalah merapatkan lilitannya. Bentuknya terlihat seperti bola di angkasa yang di dalamnya terdapat Batari Mahadewi yang masih dalam posisi bersila. Tak cukup sampai di sana, siluman lipan itu berniat menghancurkan tubuh Batari Mahadewi dengan mengerahkan seluruh kekuatannya.


Pada puncak kekuatan yang dikerahkan oleh siluman lipan itu, dentuman besar tercipta di angkasa. Bukan Batari Mahadewi yang hancur menjadi debu, melainkan tubuh siluman lipan itulah yang terpotong-potong menjadi beberapa bagian.


Batari Mahadewi begegas mengejar bagian kepala siluman lipan yang hendak kabur itu. Siluman jelek itu masih hidup setelah kehilangan bagian tubuhnya. Hanya saja ia tertangkap oleh Batari Mahadewi. Jika tidak, ia masih memiliki kesempatan untuk memulihkan tubuhnya dalam beberapa tahun, atau beberapa puluh hingga ratus tahun, tergantung seberapa parah luka yang ia miliki. Namun, tubuhnya tak akan berbentuk seperti semula, sebagaimana wajahnya yang dulu cantik menjadi buruk rupa. Meski ribuan pangeran dari negeri dongeng menciumnya sampai hancur bibir mereka, wajah siluman itu tak akan pernah kembali cantik. Sungguh kasihan!


“Seperti yang kujanjikan, aku tak akan memusnahkanmu, siluman lipan! Aku akan mengambil mustika di dalam kepalamu!” Kuku-kuku tajam Batari Mahadewi mengoyak kulit kepala lipan yang keras itu, lalu tangannya merogoh ke dalam, dan mengambil mustika siluman sebesar kepala orang yang berwarna merah kehitaman. Selebihnya, Batari Mahadewi menjatuhkan kepala lipan itu ke laut bersama dengan bagian-bagian tubuhnya yang lain yang telah terpotong-potong sebagai nutrisi tambahan bagi para penghuni laut.


Mustika itu masih terlalu pekat dengan aura siluman dan ukurannya masih terlalu besar. Batari Mahadewi mencoba untuk memurnikan mustika itu, membuang energi jahat, memadatkan bentuknya hingga sebesar bawang merah. Batari Mahadewi berfikir untuk memanfaatkan mustika siluman kuat sebagai senjata. Sebagaimana yang diceritakan oleh pendekar Mata Langit, senjata-senjata sakti semacam itu sangat membantu untuk melawan para pendekar hitam atau bahkan para iblis. Namun tak menutup kemungkinan, jika pusaka itu jatuh ke tangan yang salah, dampaknya juga bisa berbahaya.


Tak sulit menemukan pendekar Mata Langit setelah Batari Mahadewi mengenali auranya. Lelaki itu sedang memancing ikan di teluk kecil, tak jauh dari pelabuhan. Di sana tak ada siapapun. Anehnya, warga pulau mandaraloka juga tak ada yang berminat menjadi nelayan. Alasannya adalah, jaminan kehidupan dari kerajaan lebih dari cukup untuk jumlah warga yang tak terlalu banyak itu. Terlebih, aliran dana dari kerajaan Tirayamani mengalir deras, sebab kerajaan itu tak butuh harta hasil rampasan atas kemenangan menjajah kerajaan-kerajaan lain.


Kenapa Mandaraloka aman dari kebuasan kerajaan Tirayamani? Jawabannya adalah, karena kerajaan itu bisa memproduksi candu yang sangat digemari oleh orang-orang Tirayamani.


“Paman ada di sini ternyata,” Batari Mahadewi muncul tiba-tiba di belakang pendekar Mata Langit. Pendekar tua itu sedikit terkejut karena sama sekali tak menyadari kehadiran Batari Mahadewi sebelumnya.

__ADS_1


“Sejujurnya aku kaget kau tiba-tiba muncul di belakangku. Apakah kau ingin menyampaikan berita bagus?” tanya pendekar Mata Langit.


“Maaf paman, aku mengejutkanmu. Aku belum menemukan pusaka yang paman ceritakan. Tapi aku ingin bertanya satu hal, apakah paman kenal seseorang yang bisa menciptakan pusaka sakti, yang kurang lebih setara dengan pusaka kuno yang paman ceritakan tempo hari itu?” tanya Batari Mahadewi.


“Ya, aku kenal beberapa ahli senjata. Kenapa kau menanyakan hal itu?” tanya pendekat Mata Langit.


Batari mahadewi menunjukkan mustika siluman yang baru saja ia dapatkan itu. Pendekar Mata Langit terbelalak melihat mustika langka semacam itu sebab siluman yang memiliki mustika dengan kekuatan tinggi hanyalah siluman berumur ribuan tahun. Untuk mendapatkannya sangat sulit karena harus bertarung dahulu dengan siluman yang memilikinya.


“Bagaimana kau bisa mendapatkannya?” tanya pendekar Mata Langit.


“Itu tidak penting paman. Tetapi, dengan mustika semacam itu, apakah kita bisa memiliki senjata kuat yang bisa membantu mengalahkan para pasukan iblis?” tanya Batari Mahadewi.


“Hanya jika senjata ini dipergunakan oleh pendekar berkemampuan tinggi, maka bisa saja. tapi, untuk mengalahkan iblis yang kuat, tentu butuh senjata yang lebih baik lagi. Senjata dengan mustika dewa. Setidaknya, dengan senjata berkekuatan mustika ini, melawan pasukan Tirayamani bukanlah hal sulit.” Kata pendekar Mata Langit.


“Lalu apa jadinya jika pendekar biasa yang menggunakan senjata dengan kekuatan ini?” tanya Batari Mahadewi.


“Pada dasarnya, senjata hanyalah perpanjangan tubuh kita. Sebagus apapun senjata itu, tak akan berguna jika yang menggunakannya tak memiliki kemampuan yang memadai. Jangankan menggunakannya, memegangnya saja sudah melelahkan. Kau tak mengalami hal itu karena kau memiliki kemampuan yang tinggi, sehingga bisa memegang mustika ini layaknya memegang kerikil. Ini yang membuatku heran, bagaimana kau mendapatkannya?” tanya pendekar Mata Langit. Ia tak lagi memandang Batari Mahadewi sebagai pendekar sakti biasa, melainkan pendekar mengerikan yang penuh misteri.

__ADS_1


 


 


__ADS_2