Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri

Pendekar Batari Mahadewi: Perjalanan Menemukan Jati Diri
Episode 355 Pertarungan Penghabisan


__ADS_3

Kalapati memandang heran ke arah Nala. Lalu makhluk itu dengan cepat meluncur dan dalam sekejap saja telah ada di depan Nala.


“Kau jelas bukan perempuan dewa itu, kan?” tanya Kalapati.


“Tentu saja bukan. Kau tertarik dengan benda ini?” Nala menunjukkan perisai Batari Mahadewi yang menyatu pada lengannya itu.


“Di mana perempuan itu? Aku hanya ingin bertarung dengannya, bukan yang lain!”


“Lawan kami semua dulu!” ucap Nala.


Kalapati mendengus kesal, “baiklah jika itu maumu!”


Raksasa itu dengan begitu cepat mencengkeram leher Nala dan melemparkan lelaki itu sejauh-jauhnya. Namun Nala masih bisa menguasai keadaan. Ia langsung lenyap menjadi partikel energi dan berniat  akan membalas serangan itu ketika Kalapati lengah.


Selebihnya, para dewa kembali menyerang sang raksasa itu. Mengeroyok lebih tepatnya. Pertarungan berlangsung lama dan sengit. Langit terus menerus diwarnai oleh cahaya ledakan dan asap hitam. Sementara, aliran udara menjadi kacau. Hawa panas yang ditimbulkan dari pertarungan itu menciptakan banyak sekali angin topan yang bergerak ke seluruh penjuru dunia. Dewa angin benar-benar dibuat repot untuk segera membubarkan pergerakan udara itu.


Nala yang tak terlihat itu benar-benar menjadi gangguan bagi Kalapati. Ketika Nala menghambat gerakan sang raksasa itu, dewa-dewa lain terus menerus mengerahkan serangan. Tubuh Kalapati terlihat kusam dan hitam oleh berbagai pukulan energi yang menghantamnya. Namun demikian, raja raksasa itu tak pernah terluka sedikitpun.


Sebaliknya, ia semakin membuat para dewa semakin lama semakin terkuras kekuatannya.


“Membosankan sekali! Di mana raja dewa? Aku mau membuat perhitungan dengannya!” kata Kalapati.


Tak ada yang menjawab. Para dewa itu beruntung, Kalapati hanya bermain-main dan belum berniat membunuh mereka semua sekalipun ia kesal dengan mereka.


“Oh, tentu saja. Dia pasti menungguku di khayangan!” ujar raksasa itu.


Sontak, para dewa mulai panik. Namun apa daya, mereka tak memiliki kekuatan memadai untuk menahan Kalapati.


Raja raksasa itu melesat ke angkasa. Namun para dewa dengan sekuat tenaga menghalanginya. Nala pun tak mau ketinggalan. Sedari tadi ia berfikir keras, bagaimana caranya menaklukkan raksasa itu. Namun pukulan terkuatnya bahkan sama sekali tak bisa menimbulkan goresan luka di tubuh Kalapati.


Apa boleh buat, lelaki itu hanya bisa melawan semampunya. Ia melesat ke arah Kalapati dan memukul raksasa yang sedang sibuk itu dari belakang dengan menggunakan perisai di lengan kanannya yang berubah menjadi sebuah mata tombak. Nala tak mau Kalapati mencapai khayangan dan menggagalkan Batari Mahadewi yang sedang memulihkan kekuatan di sana bersama raja dewa.


Kalapati tidak terluka. Namun ia berteriak dan menyeringai kesakitan. Sebagai gantinya, ia berbalik dan menghantam Nala dengan kecepatan tinggi sehingga lelaki itu tak bisa menghindar. Tubuhnya meluncur deras dan menghantam laut.


Kalapati yang kesal itu menyusulnya. Ia mencari Nala ke dalam laut, mencengkeram kakinya dan menghempaskannya kembali ke angkasa.

__ADS_1


Nala tak berdaya. Ia tak bisa mengendalikan tubuhnya yang membumbung tinggi di langit itu. Dari bawah, Kalapati menyusul Nala dan hendak mengenyahkan lelaki itu dengan satu pukulan telak.


Tetapi belum sampat tinju Kalapati mengenai tubuh Nala, tiba-tiba seberkas cahaya keemasan datang dan menghantam raksasa itu. Mendorongnya hingga jauh sekali. Kalapati dan cahaya itu menabrak sebuah gunung di pulau yang lain. Seketika gunung itu hancur.


Kalapati bangun dan mengumpat kesal. Terlihat di depannya sosok perempuan yang ia cari. Hanya saja penampilan sosok itu sudah lain dari sebelumnya.


Batari Mahadewi telah pulih. Dengan kekuatannya yang baru, ia bisa menjadi sosok apapun yang ia mau. Kini ia hadir dengan delapan lengan dan sepasang sayap di punggungnya.


“Kau mencariku kan?!”


“Hahaha, bagus! Akhirnya kau datang juga. Padahal aku sudah berniat menghabisi para dewa yang mengesalkan itu! Tapi kenapa bentukmu menjadi seperti itu?” Kalapati menatap heran wujud Batari Mahadewi yang aneh itu.


“Aku bisa berubah wujud menjadi apapun. Maka kau harus lebih berhati-hati kali ini. Yang pasti, aku akan mengakhirimu!” balas Batari Mahadewi.


“Tak ada yang bisa membunuhku! Tetapi kau boleh mencobanya!”


“Jangan lupa, aku bukanlah manusia, bukan dewa, bukan iblis atau raksasa sepertimu. Aku adalah senjata dewa yang bernyawa. Maka aku bisa membunuhmu!” ucap Batari Mahadewi dengan nada dingin.


“Oh, begitukan? Sepertinya ini memang menarik. Aku akan senang jika kau bisa membunuhku. Tetapi jangan lupa, aku juga ingin mengalahkanmu!”


Kalapati ternganga. Baru kali ini ia bisa melihat tubuhnya mengucurkan darah setelah beberapa cakaran sang pusaka dewa itu berhasil menggores kulitnya.


Kini raksasa itu baru mempercayai bahwa mungkin saja ia bisa mati, sebab lawannya itu bisa melukainya. Kalapati menjadi lebih berhati-hati. Ia tidak akan bertarung dengan asal-asalan seperti sebelumnya. Dengan kekuatannya, ia menutup kembali goresan luka di kulitnya itu.


“Apa yang kau pikirkan, Kalapati?”


“Mungkin kau benar. Tapi sekarang lihat ini!” Kalapati mulai mengerahkan pancaran tenaganya. Dengan para dewa, ia memang tak perlu melakukan hal itu. Tapi berhadapan dengan Batari Mahadewi adalah hal lain.


Pancaran energi Kalapati itu membungkus seluruh tubuhnya dan sekaligus menjadi perisai yang membuatnya tak akan terluka.


Sang raja raksasa itu juga mengubah ukuran tubuhnya sebesar ukuran raksasa normal; ukuran aslinya.


Batari Mahadewi menjadi terlihat kecil. Dengan kecepatan kilat, ia melesat dan menghujamkan pukulan berkali-kali ke tubuh Kalapati.


Raksasa itu bisa menahan pukulan sang pusaka dewa. Dengan cepat, kedua tangannya menyambar tubuh Batari Mahadewi dan mencengkeramnya kuat-kuat. Tiba-tiba Batari Mahadewi lenyap menjadi udara.

__ADS_1


Kalapati mengumpat kesal. Tangkapannya lepas lagi. Namun tak lama kemudian, Kalapati merasa tubuhnya tak bisa digerakkan. Lebih parah dari itu, ia merasakan tekanan yang kuat dari segala arah. Seolah-olah udara memadat mengelilinginya, menghimpitnya, hingga ia merasakan nyeri.


Kalapati menyadari, Batari Mahadewi telah menjelma menjadi udara. Raksasa itu tak mau tinggal diam. Ia mengerahkan kembali kekuatannya untuk melawan dan membebaskan diri dari tekanan itu.


Kalapati menghentakkan kekuatannya dan menciptakan ledakan hebat di sekelilingnya. Ledakan itu membuat para dewa dan Nala yang baru saja datang itu kembali terpental jauh.


Batari Mahadewi kembali menampakkan wujudnya. Kini ia terlihat seperti sediakala; sosok yang diselimuti oleh perisai emas.


“Hei makhluk! Bertarunglah secara jantan!” ujar Kalapati gusar.


“Aku bukan pejantan. Baiklah, ayo kita bertarung lagi. Tapi tentunya, aku akan mengimbangi ukuran tubuhmu!” Batari Mahadewi membesar seukuran Kalapati.


Keduanya melanjutkan pertarungan. Tiap-tiap pukulan selalu menghasilkan ledakan hebat. Mereka semakin intens bertukar serangan. Kini para dewa kembali dibikin susah untuk menjaga agar kekuatan yang mengerikan itu tak menimbulkan bencana di tempat lain.


Sang raja dewa turun dari khayangan. Ia menciptakan perisai tak kasat mata yang menjadi pembatas arena pertarungan Kalapati dan Batari Mahadewi.


Setidaknya, perisai itu tak akan membiarkan pukulan-pukulan energi dari dua makhluk berukuran besar itu lolos dan menghantam pulau-pulau lain yang jauh dari sana.


Bukan pekerjaan mudah untuk mengerahkan kekuatan agar perisai itu tidak hancur. Maka seluruh dewa kembali menciptakan formasi mengelilingi perisai itu, dan membantu sang raja dewa untuk menjaga perisai arena itu agar tidak pecah.


Kalapati sungguh marah dengan adanya perisai itu yang membuat ruang geraknya menjadi sangat terbatas. Maka ia kembali mengerahkan tenaganya sekuat mungkin dan menghentakkannya dengan keras.


Hentakan itu tak hanya membuat Batari Mahadewi terhempas, namun juga mampu menghancurkan perisai yang ditahan oleh para dewa itu.


“Kalian jangan ikut campur!” bentak Kalapati marah. Ia bertambah marah ketika melihat sosok raja dewa yang ada di sana.


“Kau! Sungguh memalukan! Kau mengingkari janjimu sendiri! Dasar dewa licik!” Kalapati kembali menyerang para dewa. Kali ini tak tanggung-tanggung. Ia memukul para dewa itu dengan kekuatan yang lebih besar dari sebelumnya.


Beberapa dewa telah gugur. Mereka hancur menjadi butir-butir cahaya saat pukulan Kalapati dengan tepat menghantam tubuh mereka.


Dalam satu kedipan mata, Batari Mahadewi yang telah bangkit kembali setelah terpental itu langsung menahan Kalapati.


“Jangan lupa, akulah lawanmu!” sang pusaka dewa itu menghadiahkan serangan petir dengan kekuatan penuh yang membuat Kalapati terlempar jauh dengan tubuh terbakar.


 

__ADS_1


 


__ADS_2